
Meja Dalbert dan Agatha.
"Hormat kami untukmu,kakak ipar Agatha." Geffrey memberi hormat kepada Agatha dengan membungkukkan badannya sedikit ke depan. Begitu pula dengan Felix,Allard,dan Frank.
"Kalian, ayo duduk di sini!"Agatha mempersilahkan mereka untuk duduk dengan senyumannya yang ramah.
Mereka berempat duduk seperti layaknya seorang bangsawan. Sorotan mata para tamu undangan berbinar melihat mereka yang begitu sopan dan santun.
"Dewi penasehat bumi, hari ini kau begitu ramah kepada kami. Apa kau punya maksud tertentu?" Felix berbisik kepada Agatha dengan senyumannya yang jahil.
"Mana mungkin aku berkata kasar pada kalian saat ini. Dasar Felix bodoh!" Jawab Agatha dengan berbisik.
"Felix, jangan usil!" Dalbert menyela pembicaraan mereka.
"Baik,kak" Felix menjawab dengan cekatan.
"Putra mahkota, pangeran Wriston France dan istrinya, nyonya muda Violet France telah tiba" Suara pengawal gerbang yang begitu lantang sehingga para tamu undangan terkejut mendengarnya.
Para tamu undangan seketika dengan cepat berdiri dan memberi hormat untuk menyambut kedatangan putra mahkota dan istrinya.
"Hey..hey..kakak ipar, apa kau yang mengundang wanita jalang itu?" Allard berbisik.
"Tentu saja aku yang mengundangnya. Bagaimanapun dia adalah kakakku, Violet Alison" Jawab Agatha dengan tersenyum lesu.
"Violet Alison? Bukankah tadi pengawal gerbang memanggilnya dengan nama Violet France?." Frank bertanya karena kebingungan.
"Di kerajaan Peace, jika seorang gadis menikah maka sudah jelas dia akan mengikuti marga dari keluarga suaminya" Geffrey menjelaskan.
"Apa kalian tadi menyebutkan namaku?" Violet yang tiba-tiba datang.
"Ka-kakak?" Agatha gugup.
"Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu,dasar bunga layu!" Violet berbisik di dekat telinga Agatha.
Dalbert yang mendengar perkataan kasar Violet kepada Agatha sontak membuatnya marah.
"Hoho.. ternyata istri dari sang putra mahkota yang terhormat di sini. Apakah ada masalah yang bisa saya selesaikan untuk anda?" Tanya Felix yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
"Oh..Felix lama tak bertemu denganmu. Apakah kau bisa membuang bunga yang layu ini dari hadapanku?. Dia membuatku jijik." Violet memerintah Felix dengan wajahnya yang sombong.
"Hah? kau pikir aku pelayanmu. Menyuruhku dengan seenaknya" Felix kesal dalam hatinya.
" Tapi, sebelum itu tolong lihatlah gaun anda nyonya Violet France sepertinya ada yang salah" Felix menyindir.
"Gaunku?!" Violet melihat gaunnya dan terkejut karena gaunnya sobek karena paku.
Allard yang menyadari alur sandiwara yang Felix , langsung ikut dalam sandiwara itu.
"Maafkan saya karena menyela pembicaraan kalian. Aku hanya ingin bertanya padamu nyonya Violet. Apakah itu model baru, nyonya?" Allard menyindir dengan sedikit tawa di mulutnya.
"Gawat, martabat ku bisa hancur jika aku tetap berada di sini" Violet dalam hati kebingungan.
Violet yang panik berbisik kepada pengawalnya untuk memanggil Wriston yang sedang berbicara dengan Claressa Alison, ibu mertuanya.
__ADS_1
Claressa Alison adalah istri dari Vangance Alison , ayah dari ketiga anaknya. Anak-anak mereka tidak perlu diragukan lagi yaitu Violet Alison, Agatha Alison, dan Gary Alison.
Vangance Alison gugur dalam peperangan saat Violet berusia 4 tahun dan Agatha yang berusia 2 tahun. Sang putra bungsu , Gary lahir setelah 3 bulan kepergian ayahnya.
Setelah tidak lama kemudian, Wriston datang dengan panik.
"Violet, kau kenapa?" Wriston panik.
"Sayang,gaunku tergores paku dan sekarang gaunku sobek meskipun hanya sedikit saja. Apa kau ingin aku merusak citra keluarga kerajaan?" Violet berbisik.
"Tentu saja tidak, Violet. Bagaimana jika kau pulang saja dengan beberapa pengawal kita? Yang di sini akan ku urus" Wriston menjawab dengan berbisik juga.
"Ya.. sampai bertemu lagi di kastil, sayang". Violet mengecup pipi Wriston dengan sedikit terburu buru.
"Sampai bertemu lagi, Violet ku". Wriston melambaikan tangannya.
"Adikku , aku ada urusan di kastil kerajaan. Semoga saja kau sejahtera dengan keluarga barumu nanti". Violet dengan senyuman palsu.
"Hmph.. siapa juga yang ingin datang kemari" Violet dalam hatinya.
"Baik kak, terimakasih untuk kehadiran mu hari ini". Agatha tersenyum ramah.
"Ck..dasar bunga layu! Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu. Lihat saja nanti!" Violet kesal dalam hatinya.
"Ingat ya, ini hanya pertunangan. Jangan terburu-buru!" Violet berteriak dengan memperlihatkan senyum palsunya yang busuk itu.
"Kurasa itu ada benarnya, apa kau dengar kak Dalbert?". Frank menggodanya.
"Di-diamlah Frank!". Dalbert yang justru merona mendengar godaan dari Frank.
"Apakah sudah selesai sandiwara mu, putra mahkota?" Dalbert menyinggung dengan senyum kecil.
"Hahaha...bagaimana sandiwara tadi?" Wriston tertawa lega.
"Bagus , seperti biasa" Puji Dalbert.
"Tentu saja, ini semua pantas untuk calon suami adik iparku". Wriston tersenyum bangga.
Mereka berdua berbincang-bincang cukup lama tentang kehidupan mereka setelah tak pernah bertemu begitu lama, yang membuat putra Arthur lainnya dan Agatha merasa bosan.
"Kakak, bagaimana jika kita mulai saja pertunanganmu?" Geffrey kesal karena bosan.
"Haha...lihatlah, kak Dalbert yang bertunangan tapi kak Geffrey yang terburu-buru untuk memulainya." Frank tertawa manis.
"Bukan begitu, aku hanya ingin mempercepat waktu saja" Geffrey mengelak.
"Ya, kalau begitu ayo kita segera ke aula pertunangannya". Wriston menengahi pembicaraan mereka.
Wriston,Agatha dan kelima putra Arthur pergi ke aula pertunangan Dalbert dan Agatha. Saat menuju ke aula pertunangannya Dalbert yang dari tadi mencurigai sikap adik-adiknya juga penampilan Allard dan Felix.
"Kalian berempat !" Dalbert mengejutkan mereka.
"Dalbert?" Agatha yang ikut terkejut dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Agatha, kau kesana lah dulu bersama kak Wriston"
Dalbert tersenyum.
"Nona Agatha, mari" Wriston mempersilahkan Agatha untuk menggandeng tangannya.
"Baiklah, Dalbert aku pergi ke sana dulu"
Agatha khawatir.
"Hati-hati" Dalbert melambaikan tangan dengan tersenyum, meyakinkan Agatha untuk tidak khawatir.
Agatha membalikkan badannya dan menggandeng tangan Wriston untuk menuju aula pertunangannya.
Setelah Agatha pergi dari tempat kelima putra Arthur. Dalbert menoleh ke belakang , seketika senyumannya menjadi sinis.
"Gawat, kak Dalbert marah" Allard dalam hatinya.
"Kalian ini kenapa? Ha?" Dalbert dengan senyum kemarahannya.
"M-maksud mu kak?" Geffrey gugup dengan tersenyum.
"Maksudku? Apa kalian ini sengaja membuatku bingung?" Dalbert bertanya dengan sinis nya .
"Kalian ini membuatku bingung, buku Geffrey yang dibawa kemana mana sekarang tidak kau bawa, Allard dan Felix kenapa harus membawa pedang seperti itu?. Lalu, Frank membawa busur. Setelah itu, jubah ini?" Dalbert bertutur kata dengan panjang.
"Hebat sekali kak Dalbert bisa mencurigai kami" Frank dalam hati terkejut.
"Aku tidak membawa buku karena aku hanya ingin fokus pada acara mu kak Dalbert, Kak Allard dan Felix kau harusnya tahu kak mereka suka pamer dan Frank akan menunjukkan aksi saat selesai acara nanti." Geffrey menjawab seluruh pertanyaan Dalbert.
"Lalu, jubah ini?" Dalbert yang mulai tenang karena jawaban Geffrey memperlihatkan jubah yang diberikan Geffrey tadi.
"Jubah itu aku buat bersama kak Geffrey, agar kita terlihat seperti keluarga bahagia" Frank berusaha mencari alasan.
"Itu benar kak" Felix meyakinkan Dalbert.
"Lalu, kenapa kak Wriston ikut memakai nya?" Dalbert penasaran.
"Selalu saja ada pertanyaan,Tuhan tolonglah kami" Felix mengeluh dalam hati.
"Apa salahnya kak Wriston memakainya? Dia adalah kakak ipar kak Agatha. Jadi, dia adalah anggota keluarga Arthur juga." Allard menjawab dengan alasan yang tiba tiba terlewat di pikirannya.
"Sudahlah, kak mari kita ke sana dan memulai acaranya" Ajak Allard
"Baiklah, aku akan ke sana. Tapi, jika kau dan adik-adik kita merahasiakan sesuatu dari ku maka aku akan marah besar pada kalian" Dalbert sinis.
" Baiklah, kakakku" Allard tersenyum untuk meyakinkan kakaknya itu.
" Ini semua demi kebaikanmu ,kak " Allard dalam hatinya yang juga ikut tersenyum.
Setelah perbincangan mereka yang cukup panjang, mereka pergi ke aula pertunangan Dalbert dan Agatha bersama-sama. Sesampainya mereka di sana, acara pertunangan pun langsung diselenggarakan untuk mempersingkat waktu. Sementara itu, Wriston dan keempat putra Arthur lainnya sedang mempersiapkan dirinya masing-masing.
Tidak lama, pertunangan Dalbert dan Agatha telah selesai dilakukan dan mereka sekarang juga resmi bertunangan. Mereka terlihat gembira dengan pertunangan itu. Keempat putra Arthur lainnya juga senang melihat kakak pertamanya bisa gembira seperti itu.
__ADS_1
...Bum!...
...Suara dentuman bom kecil yang terdengar di taman samping rumah keluarga Arthur....