
...Bum!...
...Suara dentuman bom kecil yang terdengar di taman samping rumah keluarga Arthur....
Rery yang mendengarnya , langsung datang dengan beberapa pengawal untuk melihat kondisi di taman samping kediamannya.
"Kumohon berhati-hatilah" Austin yang khawatir memegang tangan suaminya.
"Aku akan baik-baik saja" Rery tersenyum sembari menepuk perlahan tangannya ,meyakinkan Austin untuk tidak khawatir dengan keadaannya.
"Ayahanda ,maaf atas kelancangan ku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Dalbert kebingungan.
"Kau akan mengetahuinya nanti" Rery mengelak.
"Ayahanda, izin Allard mendampingimu" Allard menyela.
"Bodoh! Siapa yang akan menjaga di sini?" Rery membentak.
"Tenang ayahanda, ada kami di sini " Geffrey yang tiba-tiba datang bersama Felix.
Tanpa berpikir panjang ,Rery menyetujuinya. Mereka berdua bergegas menuju taman samping kediaman Arthur.
"Kak Geffrey ,tetaplah di sini. Aku akan membantu kak Wriston di sana" Felix suram.
"B-baiklah" Geffrey ketakutan.
"Uwaa..ternyata adikku yang satu ini bisa seseram ini" Geffrey dalam hati.
"Tunggu, jelaskan apa yang terjadi?!" Dalbert menyela.
"Kak Dalbert, apakah situasi seperti ini pantas untuk menjelaskan?! . Saat ini yang terpenting adalah bertindak bukan berpikir." Felix membentak karena kesal.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ikut bersamamu untuk membantu senior" Ucap Dalbert.
"Apa kakak tidak bisa diam di sini saja?! Jagalah para wanita di sini bersama kak Geffrey!" Seru Felix dengan amarah yang meluap-luap.
"B-baiklah, semoga kau menang" Dalbert gugup karena bentakan Felix.
Tanpa sepatah kata, Felix segera pergi dari sana.
"Geffrey, apa yang terjadi? Felix sampai marah seperti itu" Dalbert berbisik.
"Ada penyusup dari kerajaan Slayer" Jawab Geffrey singkat.
"Bodoh! kenapa ka-" Kata Dalbert terpotong.
"Kakak, kumohon diam lah! "Geffrey menyahut.
Agatha yang ketakutan, memegang tangan Dalbert dengan gemetaran.
"Semoga semuanya selamat" Dalbert gelisah dalam hati.
Di sisi lain, Wriston terpesona melihat tarian dewa perang yang menari dengan pedangnya.
Suara gesekan pedangnya, berdenging di telinga Wriston.
"Kak Wriston, segeralah menyerang!" Teriak Felix.
"Kau benar!" Jawab Wriston.
Mereka berdua menyerang pasukan penyusup dan membuat pasukan itu tidak sadarkan diri.
Sesuai dengan perintah raja, mereka tidak di perbolehkan membunuh penyusup itu.
__ADS_1
"Felix,apa yang terjadi?!" Gery tiba-tiba datang menemui Felix yang sedang menahan serangan.
"Apa kau tidak bisa melihat?!" Felix kesal.
"Perlu di bantu?" Tanya Gery.
"Tidak aku ingin bersenang-senang, bantu saja kak Wriston!" Felix tersenyum jahat.
Gary seketika langsung berlari menuju Wriston.
"Wahai putra mahkota yang terhormat, apakah ada yang bisa saya bantu? hahaha.." Gary tertawa dengan jahat.
"Garyyyyy , apa kau buta? cepat ban-" Kata Wriston terpotong.
"Kalian berdua, tangani yang ada di sini!. Aku akan membantu ayahanda di taman samping." Felix dengan tatapannya yang tajam.
"B-baiklah Felix" Wriston bergemetar melihat tatapan Felix.
"Baik kapten, segera selesaikan tugasmu di sana." Gary tersenyum dengan melambaikan tangan dari kejauhan.
Felix tanpa berkata sepatah kata pun seketika langsung berlari ke taman samping dengan pedang di tangannya.
"Baiklah, kak Wriston. Ayo kita makan mereka!" Gary seperti anjing kelaparan.
"Ayo!" Wriston bersemangat.
Di saat mereka menyerang penyusup - penyusup itu, Felix berlari ke taman samping sekencang mungkin.
Setelah sampai di taman samping, Felix justru terkejut melihat keadaan Allard dan ayahnya.
"Ayahandaaaa" Teriak Felix.
__ADS_1