Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
Rencana 1


__ADS_3

"Felix?!" Gary terkejut melihat Felix yang masih bisa sadar.


"K-kenapa kau masih bisa sadar? Padahal tadi kak Gef-" Gary panik.


"Berisik!" Bentak Felix.


Gary hanya mengangguk. Dia bisa memahami hati Felix sedang terguncang.


"Gary, aku ingin merobohkan kerajaan Slayer. Dan merobek-robek kulit Alexander" Felix geram.


"Kali ini aku setuju denganmu. Tapi, aku harus selalu di sisimu saat kau keluar dari kerajaan ini" Gary tersenyum manis.


"Terimakasih, Gary." Felix ikut tersenyum bangga karena kesetiaan Gary.


"Santai saja" Gary menepuk perlahan pundak Felix.


"Baiklah, tolong pikirkan rencana nya sampai pernikahan kak Dalbert" Felix serius.


"Pernikahan kak Dalbert bukannya itu masih lama? " Tanya Gary.


"Tidak, kupikir akhir pekan ini. Untuk masalah ini, aku akan mengurusnya" Felix membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hangatnya.


"Ya, kau memang akan mengurusnya. Tapi , siapa yang bilang kalau kau harus istirahat sekarang?!" Bentak Gary.


"Lalu, apa yang harus kulakukan?!" Felix membentaknya kembali.


Gary senyum dengan terpaksa karena kemarahannya.


"Apa kau buta?! Lihat ulahmu! Cepat bersihkan bodoh!" Gary melotot.


"Kak Geffrey menyuruhmu bukan aku." Felix menarik lagi selimut hangatnya untuk menutupi tubuhnya.


"Dasar bocah!" Gary geram.


...****************...


Sudah 3 hari berlalu sejak pemakaman Rery. Tapi, kediaman Arthur saat ini sangat sepi dari candaan yang biasa dibuat Felix dan Allard.


Allard masih belum terbangun dari koma nya. Sedangkan Felix, masih di kamarnya karena menuruti rencana dari Gary.


Tapi, di hari keempat setelah pemakan ayahandanya. Felix harus menjalankan perannya.


Felix yang sudah lama tidak keluar dari kamarnya akhirnya keluar juga.


"Akhirnya kau turun juga" Dalbert sinis.


"M-maafkan aku k-kakak" Felix takut mendengar kata-kata Dalbert yang sinis.


Hmmm


Dalbert tersenyum.


"Kau masih sama seperti waktu kecil ,ya. Dasar cengeng!" Dalbert memeluk Felix dan mengelus-elus kepala Felix.


"K-kakak.. hiks" Rengek Felix yang menenggelamkan wajahnya di pelukan kakaknya.


"Sudah ya, lupakan semua itu. Itu bukan salah mu aku mengerti" Dalbert berusaha menghentikan tangisan Felix yang tersedu-sedu.


"B-bagaimana keadaan kak Allard?" Tanya Felix.


"Dia masih belum siuman, Geffrey mengatakan dia akan siuman sekitar 2 Minggu ke depan" Austin menepuk pundak Felix perlahan.


"Terimakasih, ibunda" Felix memegang lembut tangan ibunya.


"Hm.. Felix? Kau sudah keluar ya..." Agatha yang terkejut.


"Ya, kak . Tapi, kenapa kau di sini? Ah- tidak maksudku kapan kau datang?" Felix kebingungan.


"Bodoh! Besok hari pernikahan ku" Dalbert menyela.


"Begitu ya...Kalau begitu aku pergi dulu" Felix acuh tak acuh.


"Mukjizat, sifatnya benar-benar berubah" Batin Agatha.


...****************...


Saat Dalbert melamun, Austin berusaha mengkode nya dengan kedipan mata.


Dalbert juga mengetahui nya.


"Mm.. Felix" Panggil Dalbert.


"Iya ?" Felix menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin di temani oleh kakak mu?" Dalbert merayu.


"Memangnya kalian punya waktu? Kak Geffrey sedang asik membuat ramuan tidak jelas ,Kak Frank pasti sibuk dengan busur nya dan kak Dalbert sibuk dengan kak Agatha" Oceh Felix.


"A-aku tidak sibuk" Dalbert dengan pipi yang merona.


"Bagaimana jika ibunda menemanimu?" Tawar Austin.


"Ibunda pasti sedang mengurus dokumen para bangsawan kan?" Tebak Felix.


"B-bagaimana kau tau itu nak?" Tubuh Austin kaku.


"Sudahlah, apa yang ingin kalian katakan?" Tanya Felix.


"T-tidak kami hanya mengundangmu makan malam seperti biasa" Dalbert berusaha menutupi.


"Aku akan datang. Baiklah, sampai nanti aku akan ke villa ku" Pamit Felix.


"Apa yang akan kau lakukan di sana?" Tanya Agatha.


"Bermain pedang dengan Gary" Sahut Felix.


"Baiklah sampai nanti" Felix melambaikan tangannya.


Setelah Felix meninggalkan kediaman Arthur, Dalbert dan Agatha menghela nafas yang begitu panjang. Austin juga menghela nafas yang sangat panjang.


"Allard, Geffrey,dan Frank sudah mendapat calon tunangan. Hanya tersisa si bungsu saja" Austin mengeluh.


"Kita akan pertemukan Felix dengan mereka nanti" Sahut Dalbert.


"Itu benar ibunda jadi tenanglah" Agatha mencoba menenangkan Austin.


Dalbert dan Austin hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak tahu harus berbuat apa.


...****************...


Di Villa milik Felix.


Felix,Gary dan Wriston sedang membangun rencana untuk menyerang kerajaan Slayer.


"Baiklah, agen yang penting dari rencana awal kita adalah kau, kak" Gary menunjuk Wriston.


"K-kenapa aku?" Tanya Wriston kebingungan.


"Ya, dengan adanya kakak sebagai tiket keluar masuk kami." Gary yang ikut menyahut.


" Dengan kata lain, aku tidak akan ikut dalam perang diam-diam ini?" Tanya Wriston.


"Ya" Jawab Gary dan Felix serentak.


"Tapi, aku ingin ikut bersama kalian" Wriston mengeluh.


"Tidak" Jawab Gary.


"Tapi-" Wriston mengeluh.


"Tidak" Felix menyahut.


" Ta-" Kata Wriston terpotong.


"Tidak" Jawab Gary dan Felix serentak.


"Baiklah aku akan menunggu kemenangan kalian di sini" Wriston kecewa.


"Sepertinya sudah hampir malam, aku harus kembali ke kediaman ku" Gary menyela.


"Aku juga akan kembali ke kastil" Wriston yang ikut menyahut.


"Tunggu, makan malam lah di kediaman ku. Sepertinya keluarga ku mengadakan makan malam besar-besaran" Ajak Felix.


" Oke, aku datang." Wriston dan Gary bersamaan.


Mereka bertiga tertawa karena hal sepele seperti itu.


"Sudah, ayo kita berangkat ke kediaman Arthur!" Ajak Wriston.


Gary dan Felix menganggukkan kepalanya.


...****************...


Kediaman Arthur.


Setelah tiba di kediaman Arthur,mereka bertiga bingung karena ada keluarga bangsawan lain yang hadir dalam makan malam itu.

__ADS_1


Seperti biasa, para bangsawan itu memberikan salam hormat yang terutama ditujukan kepada putra mahkota.


"Apa ini?" Bisik Gary.


"Aku juga tidak tahu" Jawab Felix dengan bisikan.


"Baiklah, para bangsawan. Karena Jendral Felix Arthur anak bungsu di keluarga ini telah hadir, semuanya di persilahkan duduk di meja makan."


Frank yang membawa acara.


Mereka bertiga mengikuti instruktur dari Frank meskipun otak mereka kini sedang berputar.


Saat mereka duduk dan makan bersama dengan tamu undangan, Gary mulai curiga dengan sikap Kakaknya.


"Hmm.. kenapa kak Agatha berbeda dari biasanya? Kak Dalbert dan bibi Austin juga bertingkah aneh. Sebenarnya ada apa ini? " Batin Gary sembari melirik tajam kakaknya Agatha.


"E-eh, apa Gary mulai curiga? Gawat ini belum waktu nya. Aku harus bagaimana ini. Hmm... mungkin aku tersenyum saja padanya." Batin Agatha.


Agatha melihat adiknya dengan senyuman manis tapi Gary malah menatap Agatha dengan suram. Gary semakin curiga dan menatap kakaknya semakin serius.


Tapi, Agatha tetap tersenyum manis meskipun dalam hatinya sedang ketakutan setengah mati.


"Hm.. mungkin hanya firasat ku saja. Mana mungkin kakak bodohku merencanakan hal yang bisa mengagetkanku. Ya... mana mungkin" Batin Gary dengan sombong sembari mengangkat kedua bahunya.


Agatha masih takut jika adiknya mulai curiga.


Tapi, saat melihat senyuman manis dari Gary dia mulai tenang karena Gary tidak terlihat curiga lagi padanya.


"Baiklah, para tamu undangan yang kami hormati. Pertama terimalah salam hormat kami dari keluarga Arthur. Silahkan tamu undangan pergi ke aula utama karena kami sekeluarga ingin mengumumkan sesuatu yang penting." Suara Frank yang terdengar dari ruang makan.


"Hmm...Ayo kita segera ke sana!" Ajak Wriston.


"Aywo" Felix dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.


"Tunggu, apakah kalian tidak sadar?" Tanya Gary.


"Sadar apa?" Tanya Wriston.


"Iywa, apakwah adwa yang menggangguw pwikiranmwu?" Felix yang mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Ya ampun ,Felix. Pertama kunyah dan telanlah makanan yang ada di mulutmu itu!" Ujar Gary.


"Hmm okweh" Felix mematuhinya.


"Uhuk uhuk.. tenggorokan ku" Felix tersedak makananya.


"B-bodoh, cepat minum ini!" Wriston memberikan segelas air.


"Brupptt... asin sekali." Felix menyemprotkan air di mulutnya ke muka Wriston.


"Hei, aku ini putra mahkota!" Bentak Wriston.


"Memangnya kenapa? Kau membuat air minum jendralmu menjadi mengerikan" Bentak Felix.


"KALIAN INII, APA KALIAN INI ANJING DAN KUCING BERTENGKAR SEENAKNYA. SUDAH CUKUP BERHENTI!" Bentak Gary.


"B-baik" Felix dan Wriston bersamaan menundukkan kepalanya.


"Ah.. sudahlah. Minumlah ini Felix!" Gary memberikan jus kesukaan Felix.


"Wah, terimakasih" Felix seperti kucing yang manja pada tuannya.


"Oh,iya kau tadi ingin bicara apa, Gary?" Tanya Wriston.


"Aku tadi ingin me-" Kalimat Gary terpotong.


"Semua tamu undangan harap segera ke aula utama" Suara Geffrey dari aula utama.


"Hm..Nanti saja kau bicarakan dengan kami. Sekarang Geffrey sedang memanggil kita. Jangan sampai membuat mereka curiga sedikit pun!" Ujar Wriston.


"Baiklah, tuanku yang maha bijaksana." Puji Felix.


"Kau meledekku?" Wriston menyipitkan matanya.


"Pft..mana mungkin ,tuanku" Felix berusaha tidak tertawa.


"Ayo kita kesana!" Ajak Felix.


"Ta-tapi ini sangat penting" Gary semakin resah.


"Eh, sejak kapan sahabatku ini jadi orang penting?" Felix menggodanya.


"Oy, Tapi ini sangat pen-" Kalimat Gary terpotong.

__ADS_1


__ADS_2