Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
Rencana 3


__ADS_3

"Hei, cukup kalian berdua! Jangan bertengkar di saat malam!" Frank dengan api kemarahan di belakangnya.


"Baru kali ini aku melihat adik Frank marah" Batin Agatha tertegun.


"Matilah kami, kemarahan Frank yang sebenarnya bisa mengalahkan kemarahan Geffrey" Batin Dalbert ketakutan.


"Ah..sudahlah aku akan menemui adik Felix. Terlebih dahulu ya..." Api di belakang Frank tiba-tiba padam dan muncul bunga-bunga taman.


"Menakutkan" Batin Dalbert.


"Baiklah, Frank. Istirahatlah dikamar setelah itu." Geffrey berusaha menenangkan Frank.


"Sampai bertemu besok, adik Frank" Agatha melambaikan tangannya.


Frank kembali menuju ke kamar Felix untuk memeriksanya.


"Ah... sebaiknya aku akan menyusul nyonya Arthur. Aku akan beristirahat bersamanya." Agatha menguap.


"Ta-tapi, Aku.." Dalbert gugup.


Agatha langsung mengerti apa yang dimaksud dari tingkah laku calon suaminya. Dia tersenyum dengan manis.


"Giliran kita masih lama, bersabarlah sayang" Agatha mengedipkan mata dan lari sekencang-kencangnya karena malu.


Dalbert yang mendengarnya hanya bisa diam terpaku.


"Kakak, sebaiknya sekarang kau b


berguling-guling di kamarmu" "Geffrey menepuk bahu Dalbert perlahan dengan senyumannya.


Dalbert masuk ke kediaman seperti robot yang kekurangan oli.


"Huh..ini waktunya aku mengurus hal yang menyusahkan." Geffrey mengeluh pada dirinya sendiri. Dia memetik jarinya, seketika orang berjubah hitam datang dengan secepat kilat.


"Apakah tuan memiliki perintah?" Tanya orang berjubah hitam dengan berlutut.


"Tentu saja, untuk apalagi aku memanggil pengawal rahasiaku. Aku memiliki perintah untuk kau lakukan. Langsung pada intinya, saat-" Firasat Geffrey mengganggunya saat berbicara dengan pengawalnya.


Geffrey merasa ada yang melihatnya dari kejauhan. Dia menoleh ke arah jendela atas di kamar Felix yang terbuka untuk memastikannya. Tapi, Geffrey terlambat mengetahui siapa orang yang memantaunya itu.


"Siapa?!" Batin Geffrey.


Dia terus menatap jendela kamar Felix.


Di kamar Felix.


"Kenapa dia tiba-tiba menghindari jendela?" Batin Felix mencurigai tingkah laku Wriston.


"Kak Wriston, ada apa?" Felix meliriknya dengan kecurigaan yang besar. Wriston yang terlalu gugup tidak mendengar suara Felix yang memanggilnya.


"Kak Wriston?!" Felix membentak di telinganya.


"Ah.. Felix maaf aku melamun" Wriston menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kau-" Kata-kata Felix belum tersampaikan.


"Felix aku sangat lelah, boleh aku pinjam kamar tamu?" Wriston memotong kalimat yang akan di katakan Felix tadi.


"Hmm.. kakak mungkin sudah lelah, kakak turun saja dari tangga lalu minta pelayan menunjukkan kamarmu" Felix menawarkannya.


"Terimakasih, Felix" Senyum paksa Wriston mulai di keluarkan.

__ADS_1


"Ya, anggap rumah sendiri." Felix membalikkan badannya.


Wriston keluar dari kamar Felix dengan gugup. Gary yang melihat Wriston gugup sampai berkeringat dingin seperti itu, penasaran dengan apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi padanya?. Hmm... biarlah itu bukan urusanku." Batin Gary.


Kembali di aula utama. Geffrey dari tadi masih menatap jendela kamar Felix.


"Aku harus ke kamar Felix untuk memastikannya" Batin Geffrey dengan yakin.


"Tuanku, apa ada yang terjadi?" Tanya orang berjubah hitam itu.


"Louis, kembali temui aku di kamarku saat tengah malam! Sekarang aku masih ada urusan." Geffrey membalikkan badannya dan mengibaskan tangannya kebelakang.


"Baik, tuanku." Dalam sekejap Louis menghilang seperti bayangan.


Geffrey juga bergegas pergi ke kamar Felix. Dia sangat penasaran siapa yang melihatnya tadi.


Saat dia menaiki tangga utama kediaman, dia berpapasan dengan Wriston yang hendak pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.


"Umm... apa yang mulia putra mahkota akan kembali ke kastil?" Tanya Geffrey dengan spontan.


"Ah.. Geffrey, aku untuk malam ini akan beristirahat di kediamanmu ini. Apa tidak boleh?" Wriston tertawa paksa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Begitu ya.. aku harap pelayanan kami sesuai dengan seleramu" Geffrey membungkukkan badannya dengan segala hormat.


"Tidak perlu formal seperti itu. Lagipula kita ini secara teori juga saudara bukan?" Dia menampakkan senyum dengan basa basi lalu meninggalkan Geffrey.


"Aneh" Batin Geffrey. Geffrey membalikkan badannya dan sesegera mungkin ke kamar Felix.


Di belakang Geffrey, Wriston mewaspadai Geffrey yang berjalan di tangga. Dia meminta pelayan untuk menunjukkan kamar tamu untuk tempatnya beristirahat.


Tok..tok... Geffrey mengetuk pintu kamar Felix.


"Aku!" Geffrey menjawabnya dengan tanggap.


"Masuk saja, kak Geffrey" Teriak Gary.


Geffrey masuk ke kamarnya.


"Sial, aku lupa di sini ada Gary" Geffrey kesal.


"Ada apa, kak Geffrey?" Tanya Gary dengan polosnya.


"Ah..tidak ada. Aku hanya ingin mengajak kalian minum wine bersama." Geffrey berusaha mengeluarkan senyum tulusnya.


"Minum? Aku ikut kak Geffrey" Gary langsung mengacungkan tangan seperti anak kecil.


"Felix?" Geffrey menawarkan.


"Hm.. aku ikut saja" Felix masih bingung dengan situasinya.


Pada akhirnya, Felix ikut dengan Geffrey untuk minum wine bersama di kamar Geffrey. Geffrey sengaja membuat Gary mabuk berat untuk tidak menyadarkannya.


"Pelayan!" teriak Felix.


"Ya, tuan muda?" Pelayan langsung siap siaga.


"Antar Gary ke kamar yang berada di sebelah kamarku!" Ucap Felix dengan nada marah.


"B-baik, tuan muda" Pelayan itu ketakutan.

__ADS_1


Pelayan itu tadi segera berlari mengantar Gary untuk berbaring di tempat istirahat Gary yang sudah disediakan Felix.


"Kenapa kau seperti itu?" Tanya Geffrey cemas.


"Kak Wriston hari ini sangat aneh" Felix memijat kepalanya yang pusing akan keaadan.


"Apa dia yang di jendela mu tadi?" Geffrey terkejut.


"Maksudmu?" Felix tidak mengerti dengan ucapan Geffrey.


"Tadi, aku melihat seseorang sedang memantau ku dari jendela kamarmu. Saat itu, aku sedang berbicara Louis." Geffrey menjelaskan apa yang tadi terjadi padanya.


"Apa kakak menatap jendelaku dengan tajam?" Felix dengan wajah bodohnya menatap Geffrey.


"I-iya" Jawab Geffrey dengan gugup karena wajah bodoh Felix.


Felix tetap menatap lurus Geffrey dengan serius. Bisa dikatakan juga serius untuk wajah bodohnya.


"Hentikan wajah bodohmu itu!" Geffrey mengeluh karena sudah tidak kuat dengan wajah bodohnya.


"Jadi, karenamu kak Wriston berkeringat dingin. Glek.." Felix meminum winenya.


"Ah..kukira ada sesuatu yang darurat" Geffrey merasa lega.


"Tapi, kakak harus tetap mewaspadainya" Bisik Felix di telinga kakaknya.


"Apa katamu tadi?" Geffrey terkejut dengan bisikan Felix.


"Ah.. sudahlah kak. Aku besok pagi-pagi harus menemani kak Frank minum teh" Felix berdiri dari tempat duduknya.


"Apa tadi dia menemui mu?" Tanya Geffrey yang masih menikmati winenya.


"Ya, dia hanya mengundangku dengan senyum manisnya." Felix dengan wajah membosankan miliknya.


"Sudah dulu kak, aku akan istirahat. Selamat tidur" Felix memutar badannya dan melambaikan tangannya.


"Dia sudah tumbuh" Batin Geffrey dengan senyuman bangga.


...****************...


"Shania!" Nama yang tiba-tiba keluar dari mulut Felix.


"Shania, siap melayani tuanku" Wanita samurai berpakaian merah tiba-tiba berlutut di hadapan Felix.


"Panggil 9 bulan merah untuk menemui ku di teras atas, sekarang!" Felix dengan nada kemarahan.


"Siap, tuanku" Shania membalasnya dengan tegas.


Dia tiba-tiba menghilang dari hadapan Felix. Dan Felix setelah itu menuju teras atas untuk menemui bawahannya.


Saat Felix baru saja menginjakkan kakinya di teras atas, para anggota 9 bulan merah sudah berbaris untuk berlutut di hadapan Felix. Begitu juga Shania, seorang komando pasukan 9.


"Selamat malam, Jendral" Ucap 9 orang itu dengan serentak.


"Malam" Jawab Felix dengan sinis.


"Aku memiliki sebuah misi untuk kalian lakukan" Felix dengan tatapannya yang tajam.


......................


9 bulan merah? Siapa orang-orang itu?

__ADS_1


Di episode selanjutnya akan terungkap.


__ADS_2