Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
Penyakit Felix.


__ADS_3

Setelah sampai di depan kamar Felix, Austin berteriak dengan kencang.


"Felix, Jangan lakukan itu!" Teriak Austin.


Austin mengetuk pintu kamarnya dengan sekeras-kerasnya. Austin hampir menyerah tapi Frank tiba-tiba datang dan melihat pipi ibunya dibasahi air mata.


"Frankk" Austin merengek.


"Tidak apa ibunda" Frank tersenyum dan menepuk perlahan pundak Austin.


"Felix, buka pintunya!" Frank mengetuk pintunya dengan sangat keras.


Tapi, Felix tidak menjawab sepatah kata pun. Frank sangat panik dan tanpa isyarat apapun dia mendobrak pintu kamar Felix.


"Felix! Dimana kau nak?" Austin cemas dan mencari anaknya.


Kamarnya berantakan. Kaca dan vas bunga pecah berkeping-keping. Tirai jendelanya terpotong seperti bekas potongan dari pedang.


Frank langsung membuka pintu almari Felix. Seperti dugaannya, Felix mengurung dirinya di almari seperti waktu kecil.


"Dasar adikku yang bodoh" Frank langsung memeluknya dengan erat.


"K-kakak maafkan aku a-ayahanda tiada kare-" Felix menangis terisak-isak.


"Sekali lagi kau bicara seperti itu, jangan anggap aku kakakmu lagi" Frank mendorong pundaknya perlahan.


Felix hanya bisa memeluk kakaknya lagi. Perlahan, pundak Frank terasa basah karena air mata hangat Felix.


"Menangislah, keluarkan saja" Frank menepuk punggung Felix perlahan.


"K-kakak maafkan aku, ka-kak" Felix memeluk lebih erat dan merengek seperti bayi.


"Ini bukan salahmu. Sudah, jangan kau pikirkan lagi" Frank mencoba menenangkan Felix.


Austin hanya bisa menangis terharu melihat Frank yang selalu bisa memberikan perhatian pada Felix melebihi perhatian yang diberikan Austin sendiri.


Tidak lama, Felix melepas pelukannya dan merangkak menuju ibunya dengan pipi yang di basahi air mata.


"I-ibunda, maafkan Felix. A-ayahanda" Felix menangis terisak-isak seperti meminta pelukan hangat ibunya.


"Sudah cukup, ini pasti adalah ujian kita semua dari Tuhan juga takdir ayah kalian yang sudah ditentukan." Austin memeluk Felix dan perlahan mengeluarkan air mata.


Frank yang melihatnya hanya bisa tersenyum tegar dan mengendalikan dirinya untuk tidak menangis dihadapan Felix.


"Felix, ayo kita ke bawah yang lain pasti sedang menunggu kita." Austin menepuk punggungnya perlahan dan mengajaknya.


Felix menggelengkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di pelukan ibunya. Frank juga berusaha mengajak Felix untuk ke bawah tapi kondisi mental Felix tidak bisa bersahabat.


"Adikku Felix, ayo kita damaikan ayahanda" Ajak Frank.


Felix semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan ibunya. Karena banyaknya tekanan, Felix mulai depresi dan menjerit kesakitan.


...Austin juga memahami penyakit mental yang dimiliki Felix sejak kecil. Austin berusaha menenangkannya tapi itu memang percuma....


"Frank, minta obat penenang di ruangan Geffrey!" Austin panik.


"Baik,ibunda" Frank yang juga cemas melihat kondisi Felix.

__ADS_1


Frank berlari dari kamar Felix ke ruang penelitian Geffrey. Di lantai bawah , sudah di adakan upacara terakhir Rery.


"Gary, kau ke kamar adik Felix gantikan ibunda cepat!" Ujar Frank.


"Ada apa dengan Felix kak?" Gary cemas.


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan!" Ujar Frank.


Gary langsung bergegas ke kamar Felix dan Frank bergegas ke ruangan Geffrey. Tidak disangka, Dalbert sedang berdiri disamping pintu menunggu operasi Allard selesai.


Tentunya, Dalbert terkejut melihat Frank yang lari tergesa-gesa.


"Tunggu Frank, apa yang terjadi ? Kenapa kau lari tergesa-gesa?" Dalbert sangat cemas.


"A-adik Felix" Frank terbantah-bantah.


"Tenanglah dan jelaskan apa yang terjadi" Dalbert cemas.


"Ada apa dengan Felix?" Geffrey tiba-tiba menyahut setelah keluar dari ruangannya.


"Kak Geffrey?!" Frank terkejut.


"Bagaimana keadaan Allard?" Dalbert cemas.


"Kak Allard sudah dapat ku pastikan telah terselamatkan dari masa kritis. Hanya saja, sekarang di sedang koma. Bila menurut prediksku, kak Allard akan siuman setelah 1 bulan kedepan" Geffrey menjelaskan diagnosa Allard.


"Syukurlah, kau memang hebat Geffrey." Dalbert menghela nafas panjang dengan perasaan yang lega.


" Jadi sekarang, kenapa dengan Felix?" Tanya Geffrey dengan muka datar seperti biasa.


"Ibunda menyuruhku untuk meminta obat penenang milik adik Felix, kak" Frank cemas.


Tak bisa mengatakan apapun Frank hanya menganggukkan kepalanya.


"Felix terlalu berfikir jauh tentang masalah ini " Dalbert menunduk lesu mendengar kondisi adik bungsunya.


"Tenanglah, kak." Geffrey menepuk perlahan pundak Dalbert.


Dalbert yang dalam posisi kebingungan hanya bisa memberi jawaban senyuman pada Geffrey.


"Baiklah, Kakak sulung. Ajaklah Frank untuk menemani ibunda" Pinta Geffrey.


"T-tapi, bagaimana dengan Fel-" Dalbert khawatir.


Geffrey menepuk pundak Dalbert perlahan lalu mengangguk dengan senyumannya yang lembut.


"Uwa..baru pertama aku melihat kak Geffrey tersenyum lembut seperti itu" Batin Frank.


"Baiklah, k-kuserahkan Felix p-padamu" Dalbert merona.


"Aku tidak kuat lagi menahan senyuman Geffrey" Batin Dalbert.


Frank tertawa kecil melihat reaksi Dalbert saat diberi senyuman lembut Geffrey yang sangat indah.


"Frank, siapa yang menjaga Felix sekarang?" Tanya Geffrey.


"Gary, kak" Frank menjawab dengan sangat singkat.

__ADS_1


"Baiklah, semangat!" Geffrey tersenyum lembut lagi dan segera berlari untuk menenangkan Felix.


"F-frank" Dalbert merona.


"Ya, kak?" Frank yang malah mimisan karena terpesona.


"A-aku ingin pingsan" Ucap Dalbert.


"T-tidak kak, sekarang belum saatnya" Frank berusaha menyadarkan diri.


"Kau benar juga. Sekarang kita harus segera menemani ibunda" Dalbert yang juga menyadarkan dirinya.


Frank menganggukkan kepalanya dan mengikuti Dalbert yang pergi untuk menemani Austin yang sedang kesepian. Sedangkan Geffrey, kini dia juga sedang bersusah payah menenangkan Felix yang kesakitan.


"Kenapa harus seperti ini lagi ,Felix" Batin Geffrey.


Geffrey menyadarkan diri dari lamunannya. Dan segera memberikan Felix obat dengan paksa. Dia sangat sedih melihat kondisi mental Felix.


"K-kakak maafkan a-aku hiks.." Felix merasa bersalah.


Setelah itu, dia tidak sadarkan diri karena efek dari obat yang di berikan Geffrey. Felix juga menitikkan air mata hingga pipinya basah.


"Felix yang malang" Gary menidurkan Felix dengan muka lesu.


"Kau benar ,sejak kecil dia memang seperti ini" Batin Geffrey sembari mengelus-elus kepala Felix.


Geffrey menunduk sedih. Air matanya perlahan keluar karena kondisi adiknya. Geffrey yang tidak pernah menangis sekarang dia sangat bersedih karena ketiga anggota keluarganya.


"K-kenapa kau selalu tersiksa seperti ini . D-dasar Felix . Hiks.." Batin Geffrey.


"Kak Geffrey bisa menangis seperti itu?! Ini keajaiban." Batin Gary yang melihat Geffrey menangis.


"K-kak" Gary memanggilnya dengan gugup.


"Ya?" Ujar Geffrey singkat.


"Aku terkejut. Ternyata kau bisa menangis,kak?" Tanya Gary dengan tampangnya yang bodoh.


"Aku manusia. Memangnya salah jika aku menangis" Geffrey mengusap air matanya.


"Lupakan itu. Ayo kita ke bawah."Ajak Geffrey.


"Tidak kak, kau pergilah dulu. Aku ingin menemani Felix lebih lama lagi." Gary tersenyum lesu.


"Baiklah. Jika seperti itu, jangan lupa bersihkan." Geffrey tersenyum.


"Akan kulakukan tenang saja kak" Gary yang ikut tersenyum karena tertular senyuman Geffrey.


Geffrey dengan riang pergi dari kamar Felix dengan lompat kegirangan.


"Eh.. tunggu sebentar" Batin Gary. Dia Ehtersadarkan dari senyuman hipnotis Geffrey.


"Kak Geffreyyyy... kenapa harus aku yang membersihkan semua ulah Felix?!" Gary merengek dengan keras.


"Heh? Kau yang menyetujuinya tadi. Jadi,itu harus kau lakukan haha..." Teriak Geffrey dengan tawanya yang terdengar manis.


"Huh, Ini semua karena ulahmu ! Dasar Felix bodoh!" Gary geram.

__ADS_1


"Berisik sekali mulutmu itu!" Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing menjawab kata-kata Gary.


"Felix?!" Gary terkejut melihat Felix yang masih sadar.


__ADS_2