
"Felix, ayo kita diskusikan hal itu sekarang!" Bisik Alfred.
"Baiklah" Felix menganggukkan kepalanya.
"Shania, bisa tolong panggil Gary kemari?" Felix dengan serius.
"Tidak perlu, aku sudah di sini" Gary tersenyum jahat. Dan Gary berjalan selangkah demi selangkah menuju Felix.
"Aduh!" Teriak Gary karena Alfred melemparinya papan kayu.
"Hey, kacamata! Apa maksudmu?!" Gary kesal.
"Gayamu yang sok-sokan benar-benar menjijikkan. Lalu, kau tadi memanggilku apa?!" Alfred marah seperti monster. ni
"Al..Alfred aku janji tidak akan mengulanginya" Mata Gary berkaca-kaca.
"Terserah" Alfred memalingkan wajahnya.
"Ah... Gary. Kau sangat lucu. Aku ingin mencubit pipi mu" Batin Alfred.
"Tsundere" Zane dengan polos menatap Alfred.
"Zane, apa maksudmu?!" Teriak Alfred.
Zane berlari ke belakang tubuh Gedion yang gagah karena di kejar Alfred.
"Alfred!" Gedion tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Hmmm"Alfred langsung murung karena perintah Gedion. Bagaimana lagi? Gedion adalah sosok yang sangat di idolakan Alfred sejak kecil.
"Sudahlah, kau itu kan memang tsundere" Myra berterus-terang.
"My...Myra" Felix mencoba menegur Myra.
"Myra!"Teriak Alfred dengan pipinya yang merona.
"Lihat pipimu itu! Sangat merona bukan, Kenneth?" Myra merangkul adiknya itu.
"Hmm..biar kulihat... Hahahaha... sangat merah" Kenneth ikut menggodanya.
"Kalian!" Kemarahan Alfred semakin memuncak.
"Ya ampun dua bersaudara ini." Batin Gary menggelengkan kepalanya.
"Kak Gideon, kumohon hentikan mereka" Batin Felix dengan mata yang berkaca-kaca.
"Huh.."Gideon menghela nafas panjang.
"Alfred, hentikan ini. Kau sudah dewasa bukan?" Gideon menepuk bahu Alfred perlahan.
"Baik,kak" Alfred kembali menunduk lesu.
"Hey Felix, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Gideon semakin penasaran.
"Ya, dari tadi aku menunggunya" Kenneth seketika cemberut.
Mendengar itu, Felix tiba-tiba membuang mukanya. Dia mencoba menenangkan dirinya karena konflik yang akan di bahas.
"Felix.." Myra cemas.
"Kau tidak apa?" Gary menepuk perlahan bahu Felix dengan gelisah.
"Aku tidak apa-apa" Felix menepuk tangan Gary dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kak Felix?" Victor tiba-tiba menyela.
"Hm.. kenapa kita tidak pindah ke kamarku saja? Kita bisa sambil minum di sana" Felix mengajak mereka dengan senyumannya.
"Apa-apaan kak Felix ini-"Kenneth ingin memprotes Felix. Tapi, Myra menutup mulut Kenneth untuk menghentikannya.
"Ada apa, Kenneth?" Tanya Felix.
"Dia tidak apa-apa. Kau pergilah ke kamarmu dulu dengan Gary. Kami akan menyusul."Myra dengan tampang serius.
"Akan kutunggu. Shania, Victor kalian juga ikut aku cepat" Felix tegas.
"Baik,tuanku" Mereka berdua serentak menjawabnya.
Setelah Felix lumayan lama turun dari teras atas, Kenneth mengibaskan tangan kakaknya. Dan mulai memberontak.
"Kakak ini tanganmu itu bau tahu!" Kenneth mencoba menggoda kakaknya.
"Kenneth, diam!" Myra dengan tampang serius.
"Hmm.. kau tidak terima?"Kenneth masih tidak mengerti situasinya.
"Kak Kenneth, bukankah kak Myra sudah menyuruhmu untuk diam!" Zane membentaknya.
"Z..Zane, ada apa ini? Aku tidak paham." Kenneth kebingungan.
"Bukankah kau melihat keadaan kak Felix tadi?" Zane semakin suram.
"Ma.. maafkan aku" Kenneth merasa bersalah.
"Aku yakin dia masih belum sembuh sepenuhnya." Alfred menyela.
"Ya, penyakit mentalnya mungkin masih cacat akibat kecelakaan di waktu kecil." Gideon ikut menyela.
"Kak Gideon, darimana kau tahu itu?" Myra kebingungan, saat tahu Gideon mengerti tentang penyakit Felix.
"Ada apa dengan kak Felix?" Tanya Kenneth dengan wajah polosnya.
"Ya, aku juga tidak tahu. Tolong beritahu aku." Zane yang ikut bingung.
"Kalian berdua, tidak boleh mengetahuinya. Biarkan ini menjadi rahasia" Alfred tiba-tiba mengacak-acak rambut mereka berdua.
"Sebaiknya, sekarang kita segera menyusul Felix" Usul Myra.
"Ya" Gideon penuh semangat.
Mereka berlima bergegas ke kamar Felix, setelah sampai di kamar Felix. Mereka terkejut karena dalam beberapa menit kamar Felix sudah seperti perjamuan.
"Ah..Zane kemarilah! Ada cake kesukaanmu."Felix dengan senyumannya yang manis.
Mata Zane langsung di penuhi dengan bintang yang berkilauan. Zane langsung memanjakan dirinya kepada Felix. Dia langsung duduk di sebelah Felix. Dan Felix segera menyuapinya cake.
"Astaga, apa-apaan sikapmu itu, Zane?" Alfred menopang dahinya.
"Hmph" Zane menatap Alfred dengan kedua pipinya yang mengembung.
"E...eh" Alfred tidak tergerak.
"Zane... Astaga ini baru pertama kalinya untukku" Batin Alfred.
"Lebih baik kalian segera masuk, kita harus cepat membahasnya."Gary dengan tatapan sinis.
"Siap, wakil ketua" Mary dan lainnya serentak memberi hormat.
__ADS_1
Gary adalah pengganti Felix untuk menjalankan pasukan pedang berdarah dan 9 bulan merah. Tidak perlu di tanyakan lagi. Gary adalah teman masa kecil Felix. Sebenarnya, Myra dan Alfred bisa menduduki posisi yang sedang di tempati Gary. Tapi, mereka memberikannya kepada Gary karena merasa bahwa dia lebih pantas.
"Silahkan duduk dan mari kita mulai, diskusinya" Ucap Felix tegas sembari mengelus kepala Zane yang tidur di pangkuannya.
"Gary, tolong bacakan perinciannya" Felix dengan tegas mempersilahkan Gary membacakannya. Tapi, tangannya masih mengelus-elus kepala Zane.•́ ‿ ,•̀
"Huh..seperti yang kalian tahu, Felix akan memberangkatkan kita ke kerajaan Slayer. Tujuan kita kesana adalah menyelidiki tentang pemberontakan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Gary.
"Hmm..sekarang duduklah Gary, mari kita bicara dengan santai" Sahut Felix.
Gary langsung duduk dengan sedikit kekhawatiran di pikirannya.
"Seperti yang kalian tau, Alexander dari kerajaan Slayer telah menyerang 2 orang yang sangat berharga bagiku. Aku datang kesana untuk alasan pribadi dan juga alasan bersama." Felix dengan sedikit wibawanya menjelaskan rencananya.
"Sebenarnya, aku ke sana juga ingin meremukkan tulang Alexander dan mengulitinya" Felix mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Felix?" Batin Gary terkejut melihat kondisi Felix perlahan semakin memburuk.
"Felix, tenanglah!" Gary cemas.
Tapi, Felix tetap mencoba melukai dirinya dengan tangannya sendiri. Felix terus memukul meja dengan keras. Tapi, Zane yang tertidur masih ada di pangkuannya.
"Ya, aku harus membunuhnya sekarang." Felix semakin tidak terkendali.
"Membunuh?!" Kenneth terkejut.
"Tunggu Kak Felix! Apa maksudnya dengan membunuh?" Kenneth dengan spontan protes pada Felix.
"Hah? Lalu kenapa? Siapa kau berani mengaturku?" Felix semakin hilang kendali.
"Kak...Kak Felix?" Kenneth ketakutan mendengarnya karena dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu.
"Felix, kendalikan dirimu!" Alfred membentaknya.
Felix menghiraukan bentakan dari Alfred dan akan membenturkan kepalanya ke meja. Tapi, Gideon dengan cekatan langsung mencegahnya.
"Apa kau tidak bisa mengendalikan dirimu?!" Gideon berusaha menyadarkan Felix. Tapi, Felix mengibaskan tangan Gideon.
...Pyarr......
Felix memecahkan sebuah gelas dan menggunakan serpihan kaca gelas untuk melukai dirinya. Tapi, Zane yang tertidur di pangkuannya segera mengulurkan tangannya untuk menghentikan Felix.
Dengan sekuat tenaga Zane membuang serpihan itu dari genggaman tangannya.
"Siapa kau?!" Bentak Felix.
"Lupakan itu kak, adik sepupumu ada di sini" Zane memeluk Felix dengan erat.
"A..adik sepupu?" Tangan Felix yang berlumuran darah seketika bergemetar mendengarnya.
"Ya, aku adalah keluargamu. Sekarang, aku ada di sini." Zane semakin erat memeluknya.
Perlahan tangan Felix juga memeluk Zane. Dia menangis terisak-isak sampai menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Zane.
Zane berusaha menenangkannya. Dia juga menuntun Felix untuk tidur di tempat tidurnya.
Selama beberapa menit, suasana menjadi hening karena Felix.
"Kurasa kak Felix sudah tidur" Zane tiba-tiba menghidupkan kembali suasana.
"Sebenarnya, ada apa dengan kak Felix" Kenneth gemetar ketakutan.
"Ini hanya kisah lampau. Shania, Victor, Kenneth. Kuharap kalian bisa merahasiakannya" Gary tersenyum.
__ADS_1
"Baik" ucap mereka bertiga dengan serentak.
"Ya... karena Felix mengalami ini. Aku akan mewakilinya untuk mengatakan bahwa kemungkinan besar kita akan pergi ke kerajaan Slayer 2 Minggu setelah kompetisi wanita itu selesai" Ucap Gary dengan tegas.