Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
Kepala keluarga


__ADS_3

"Ayahandaaaa" Teriak Felix.


Felix langsung memangku kepala ayah nya yang tergeletak di tanah dengan bercucuran darah. Dia menangis melihat ayahnya yang sudah tidak bernafas.


"Hoho...sekarang si bungsu yang datang?" Tiba tiba terdengar suara seorang laki laki.


"Siapa kau?!" Felix marah dan melihat ke arah suara laki - laki tadi berasal.


Setelah melihat ke samping kiri nya, Felix melihat kepala Allard di injak seorang laki-laki yang angkuh yang asing bagi Felix.


" Siapa kau? Apa kau yang melakukan ini semua?" Tanya Felix dengan nada yang amat marah.


" Dengan senang hati saya akan memperkenalkan diri saya. Perkenalkan saya adalah Alexander Lemos." Alexander membungkukkan badan dengan sombong.


"Lemos? bukannya itu marga yang terkenal di kerajaan Slayer." Felix dalam hati dan melotot karena terkejut.


"Apa kau mulai takut?" Alexander dengan sombongnya.


"Jawab aku! Siapa yang membuat ayah ku seperti ini?!" Felix marah besar.


"C-cukup Feli-lix" Sahut Allard yang dadanya penuh dengan darah.


"Sialan kau!" Teriak Felix dan berlari ke Alexander.


"Haha..Allard, sepertinya adikmu juga ingin bermain denganku" Alexander tertawa kecil.


Felix menyerangnya dengan pedang, tapi Alexander bisa menghindari semua serangannya. Felix tidak tepat pada sasarannya karena kini pikirannya sedang penuh dengan emosi yang meluap-luap.


Allard terus mencoba untuk bernafas. Dia sangat susah untuk bernafas karena Alexander menusuk paru-parunya.


"Kejarlah aku bungsu! Hahaha..." Alexander tertawa sombong.


"Dasar iblisss-" Felix terhenti karena Allard.


"Ja-ngan-terla-lu-terpancing-bo-doh uhuk.." Allard yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Haha.. rawat kakakmu yah bungsu" Alexander pergi dengan tawa jahatnya.


Felix hanya terdiam karena melihat kondisi kakak dan ayahnya. Felix seketika merasa sangat lemah karena kehilangan ayahnya. Dia tidak bisa menguatkan kakinya lagi untuk berdiri. Felix menangis dengan keras.


"Lama sekali Felix. Apakah terjadi sesuatu?" Gary cemas.


"Kak Wriston, apa kau bisa menangani di sini?" Tanya Gary.


"Bisa, di sini memang sudah kita selesaikan. Hanya perlu mengumpulkan pengawal kerajaan kita. Memangnya kenapa?" Tanya Wriston kembali.


"Aku cemas, Felix lama sekali." Gary semakin cemas.


"Gary, pergilah akan ku tangani masalah di sini" Wriston menepuk pundak Gary perlahan.


"Terimakasih kak" Gary tersenyum lega.


Gary pergi dari tempat Wriston. Di perjalanan menuju taman samping , ada sedikit yang mengganjal di pikiran Gary.


"Aku harus mengajak kak Geffrey, mungkin saja Felix terluka" Gary semakin cemas.


Gary kembali mengajak Geffrey berlari ke taman samping, meskipun susah sekali untuk mengajaknya di hadapan Dalbert karena dia menanyakan banyak hal yang terjadi. Gary hanya tersenyum untuk semua pertanyaan Dalbert.

__ADS_1


Setelah sampai di taman samping, tentu saja Gary dan Geffrey terkejut melihat Tuan Arthur dan Allard.


"Apa yang terjadi?!" Teriak Gary.


" Gary, cepat periksa kondisi ayahanda! Aku akan pergi menemui Felix" Geffrey marah


Geffrey bergegas menemui Felix yang ekspresinya terlihat kosong.


"Felix,Jelaskan semua ini!"Geffrey marah sembari menarik kerah baju Felix.


"Maafkan aku kakak...hiks" Felix menangis secara perlahan.


"Dasar bod-" Geffrey terhenti menampar Felix.


"G-Geffrey...jangan salahkan Fe-Felix uhuk.." Allard menengahi pertengkaran mereka dengan darah yang masih keluar dari mulutnya.


"Kak Allard"Geffrey terkejut.


"Ada apa denganmu kak? hiks... " Geffrey menangis tersedu-sedu.


Geffrey membalikkan badan Allard yang tengkurap. Tapi, Geffrey terkejut dengan luka Allard.


"Tusukan paru-paru! Selebar ini?! Aku harus segera menanganinya jika tidak, aku akan kehilangan nyawa kak Allard" Geffrey cemas dalam hati.


"Gary, bagaimana keadaan ayahanda? Cepat kemari dan bantu aku membawa Kak Allard ke ruangku!" Tanya Geffrey.


Gary tidak menjawab pertanyaan dari Geffrey. Dia hanya duduk diam di depan mayat Rery.


"Garyy, Jawab pertanyaanku!. Apa yang terjadi pada ayahanda?!" Geffrey marah besar.


"A-ayahanda? hiks.." Geffrey terkejut dan air mata kembali membasahi pipinya.


"Tidak! Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa kak Allard" Batin Geffrey.


"Gary, bantu Felix membopong tubuh ayahanda!" Geffrey tegas.


Tanpa berpikir panjang, Gary dan Felix langsung membopong mayat Rery. Sedangkan Geffrey membantu Allard berdiri dan berjalan.


Mereka bertiga membawa Allard dan Rery masuk ke dalam kediaman Arthur. Allard yang tidak sadarkan diri dilarikan ke ruang peneliti milik Geffrey.


"Felix, aku akan memanggil yang lainnya. Kau istirahatlah sebentar" Gary menempuk perlahan pundak Felix.


Felix membisu dan hanya menganggukkan kepala kepada Gary.


"Sial, andai saja aku sampai lebih cepat" Baton Gary kesal.


...----------------...


Aula pertunangan.


Gary berlari tergesa-gesa. Frank pun terasa ada yang mengganjal karena Gary adalah orang yang tidak pernah tergesa-gesa dalam hal apapun.


"Ada apa, Gary?" Tanya Frank.


"Gary? Dimana Geffrey dan yang lain?" Agatha cemas.


"Itu..." Gary menunduk lesu.

__ADS_1


"Hmm..Gary? Dimana Felix?" Tanya Wriston singkat.


Tidak berkata sepatah kata pun Gary tetap terdiam dan terus membisu.


"Nak, apa yang terjadi?" Claressa tiba-tiba menepuk perlahan pundak Gary.


"Ibundaaa" Gary menangis dengan keras di pelukan ibunya.


"Ada apa? Coba jelaskan kepadaku, Gary" Claressa tersenyum dan mengusap air mata anaknya.


" K-kak Allard sedang s-sekarat d-dan paman Rery telah..hiks" Gary menangis tersedu-sedu.


"Ada apa dengan ayahanda?!" Dalbert panik.


"Beliau telah t-tiada" Gary yang masih menangis tersedu-sedu.


" Hey, Gary apa yang kau katakan?!" Dalbert langsung menarik kerah baju Gary.


"I-itu benar kak, maafkan aku karena terlambat menyelamatkan mereka hiks.."Gary yang pipinya masih Ter basahi air matanya.


Austin menangis dengan keras karena dia kehilangan orang yang sangat di cintai.


"T-tidak mungkin..hiks..hiks" Austin terkejut.


Austin duduk bersimpuh karena kakinya tidak kuat untuk berdiri lagi. Semua itu, karena dia tidak menduga hal ini akan terjadi.


"Bibi!" Agatha terkejut melihat Austin yang tiba-tiba duduk bersimpuh.


"Austin, kau tidak apa?" Claressa cemas.


"Gary? Dimana Allard?" Austin panik.


"Kak Geffrey sedang berusaha menyelamatkan nya" Gary menunduk lesu.


"Felix?" Austin bertanya kembali.


"Dia ku suruh untuk beristirahat sejenak di sana. Dia begitu depresi karena kejadian tadi. Kurasa dia melihat kejadian" Jawab Gary.


Austin terkejut mendengar kabar dari Gary. Tanpa berkata sepatah kata pun, Austin berlari ke dalam kediamannya.


"Ibunda? kenapa berlari seperti itu?" Dalbert terkejut.


Tapi, Austin tak menghiraukan perkataan Dalbert dan tetap berlari.


"Apa yang dilakukan ibunda? Apa Felix? Oh tidak, Felix." Batin Frank


Frank ikut menyusul Austin. Frank mengingat sesuatu yang sangat berbahaya pada Felix.


"Ayo, kita semua juga harus menyusul nya" Ajak Dalbert.


Di dalam kamar nya Felix telah mengunci pintu kamarnya dia mengacak-acak rambut dan seisi kamarnya. Dia merasa sangat bersalah atas kematian ayahnya.


Di sisi lain, Austin sudah sampai di pintu utama. Dia membuka pintu dengan cepat dan segera berlari menuju kamar Felix. Dia berlari dengan cepat karena panik. Anak per anak tangga di lewati dengan tergesa-gesa.


Setelah sampai di depan kamar Felix, Austin berteriak dengan kencang.


"Felix, Jangan lakukan itu!" Teriak Austin.

__ADS_1


__ADS_2