Kugoda Lagi Suamiku

Kugoda Lagi Suamiku
Kehilangan Kesadaran


__ADS_3

Ana membelalakkan matanya seketika, setelah dia tahu siapa wanita itu. "K-kau..."


"Hai... Kamu nangis?" tanya wanita diambang pintu, tapi bukan nada iba yang terdengar, melainkan nada mengejek.


"Jadi ini ulah kalian? Lepaskan aku!" teriak Ana.


"Belum waktunya, Ana. Suamimu belum merasakan sakit yang kurasakan, jadi belum saatnya kamu lepas." ucap wanita itu.


"Apa maksud kamu!?"


Wanita itu melangkah perlahan mendekati Ana. "Kamu tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Atau memang suami tercintamu itu tidak memberi tahu?"


"Itu bukan urusanku!"


Wanita itu mendekatkan wajahnya pada wajah Ana dan berucap, "Suamimu itu, dia meninggalkanku setelah kamu tampil cantik. Dia juga memecatku setelah tahu aku dan Niko bersekongkol untuk memisahkan kalian."


Wanita itu mencengkeram rahang Ana dengan kuat hingga Ana meringis. "Dia juga harus menderita sepertiku." ucapnya tajam.


"Lepaskan aku! Masih banyak laki-laki di dunia yang tidak memiliki pasangan, kenapa kamu memilih yang sudah menikah?"


"Sudahlah, Na. Ayo kita habiskan malam ini dengan bersenang-senang." Niko menarik pinggang Una.


Ya, Una. Wanita yang mencengkeram rahang Ana, dan menatap Ana penuh kebencian dan dendam. Una dan Niko meninggalkan kamar yang ditempati Ana. Tenaga Ana sudah hampir habis karena tidak makan sejak siang hingga malam ini.


Tak lama, Ana mendengar suara menjijikkan dari kamar yang mungkin letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditempatinya. Suara penuh semangat dan kepuasan dari dua insan yang berlainan jenis.


Ana memejamkan kedua matanya, berharap tidak tidak mendengar suara auman mereka. Ingin menutup telinga tapi tak bisa.


🌹🌹🌹


PRAS membuka mata dan langsung meraba bagian tempat tidur di sampingnya, berharap kemarin hanya mimpi belaka. Tapi yang tersentuh oleh tangannya adalah sosok mungil berusia 1 tahun lebih.


Pras mendesah, diusapnya dengan sayang putri kecilnya yang masih tidur dengan menghisap ibu jarinya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara kecil yang mencari keberadaan Mamanya.


"Mama... Mama..."


Pras mengangkat tubuh-tubuh mungil yang bangun bersamaan. Dia mencium pipi kedua buah hatinya.


"Mama mana, Pa?" tanya si sulung.


"Mm... Mama sedang ke rumah nenek yang jauh dulu. Kakak sama adek jangan rewel ya?" jawab Pras bingung.


"Lama pulangnya?"

__ADS_1


"Mudah-mudahan nanti siang Mama pulang."


Pras memandikan kedua anaknya, memakaikan baju mereka serta menyisir rambut mereka. Dia merasa kewalahan mengurusi kedua buah hatinya yang sangat aktif.


Pras duduk di sofa dengan napas yang memburu setelah mendandani kedua anaknya. Kini dia sadar, kenapa dulu Ana tak sempat untuk memperhatikan dirinya. Karena mengurusi dua buah hatinya saja sudah sangat melelahkan, menguras waktu dan tenaganya. Belum lagi urusan rumah.


"Sarapannya sudah siap, Pak." beri tahu Bi Siti.


"Aku mandi dulu, Bi. Tolong jaga anak-anak."


"Baik, Pak." Bi Siti memandang iba pada Pras, lalu mendekati dua balita yang sedang bermain.


Pras sedang menyantap sarapannya saat Deby datang bersama seorang pria yang tak dikenalnya.


"Sudah ada kabar tentang Ana, Mas?" tanya Deby.


Pras menggeleng. "Belum."


"Kenalkan, Mas. Aku datang bersama Alan, dia cukup dekat dengan Niko." Deby memperkenalkan teman yang diajaknya.


"Maksud kamu memperkenalkan teman si bren*sek itu apa?" tanya Pras sedikit emosi.


Deby duduk di kursi makan di hadapan Pras. "Dia tahu tempat tinggal Niko. Jadi aku berencana mengajakmu ke sana, siapa tahu jika memang benar Niko pelakunya Ana ada di sana."


Pras segera menyelesaikan makannya lalu bergegas untuk mencari Ana.


"Papa mau ke mana?" tanya Arzanka.


"Papa mau jemput Mama. Kakak sama adek sama Bi Siti dulu ya. Jangan nakal."


"Yeeeeyy Mama pulang!" sorak bocah 3 tahun itu diikuti oleh adiknya yang terlihat sangat bahagia.


Pras tersenyum miris pada kedua buah hatinya. Dia bertekad jika dia harus bisa membawa Ana pulang hari ini juga.


Mereka pun berangkat menggunakan mobil Alan. Mereka menyusuri jalanan ibu kota.


"Aku Pras. Maaf tadi belum sempat kenalan." ucap Pras pada Alan.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kamu pasti sedang kalut dengan hilangnya istrimu." balas Alan.


Pras hanya mendesah panjang.


Mereka mendatangi apartemen milik Niko, tempat yang biasa ditempari oleh laki-laki itu untuk tinggal. Tapi sudah berulang kali mereka mengetuk bahkan menggedor pintu itu tak juga terbuka.

__ADS_1


"Apa mungkin Niko tidak di sini?" tanya Deby.


Mereka bertiga berpikir keras. Pras tampak emosi dan hendak menendang pintu di depannya kalau saja tidak ditahan oleh Alan.


"Aku tahu satu lagi tempat tinggal Niko, sebuah rumah di pinggiran kota." ucap Alan.


"Ayo kita ke sana! Siapa tahu Ana ada di sana!" seru Deby bersemangat.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pinggiran kota Jakarta.


Di sebuah desa di pinggiran Jakarta. Rumah itu tampak sepi dan sedikit jauh dari tetangga. Di sekelilingnya tampak sawah yang mulai menguning dan hamparan kebun kelapa.


Alan memarkirkan mobilnya di tepi jalan seberang rumah milik Niko. Mereka bertiga mengendap-endap menuju rumah itu. Beruntung pintu rumah itu tidak terkunci. Entah mereka lupa atau bagaimana hingga pintunya hanya tertutup saja.


Mereka mengendap masuk ke rumah itu, mencari apakah ada orang di dalamnya. Sayup mereka mendengar suara di lantai atas. Dengan langkah cepat tapi hati-hati mereka naik ke lantai atas.


"Kumohon jangan lakukan itu, Nik. Ini kehormatanku, jika kamu melakukannya, bagaimana aku bisa menengadahkan wajahku di depan suamiku?" suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Pras dan Deby terdengar dari kamar yang berada di ujung.


Di dalam kamar, Niko sedang berusaha untuk merebut kehormatan Ana sebagai seorang istri. Kedua tangan Ana terikat ke kepala ranjang. Tenaga Ana semakin lemah karena tidak mau makan.


"Itu yang aku mau. Kamu merasa kotor dan Prasetya akan membuangmu. Dan setelah itu, kamu akan datang padaku." Niko menyeringai menjijikkan.


Ana sudah berurai air mata, suaranya semakin lemah. "Kumohon... Ingatlah jika Ibumu juga perempuan. Atau jika kamu memiliki adik perempuan, ingatlah mereka sebelum kamu menodai perempuan. Bagaimana jika yang menjadi korban pelecehan itu Ibu atau adik perempuanmu?"


"Tutup mulutmu! Karena aku sedang tidak ingin mendengarkan ceramah!"


"Aaa!!" pekik Ana saat Niko merobek pakaian bagian depannya hingga menampilkan dua gunung kembarnya.


Niko menciumi dada Ana yang sudah terpampang di depannya. Ana meronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya sambil menangis. Saat perlawanannya sudah diambang batas, Ana hanya mampu berdoa dalam hati. Berharap Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya.


Saat kesadarannya mulai menipis, Ana mendengar suara pintu terbuka. Sesaat kemudian, suara teriakan perempuan dan pukulan memasuki indra pendengarannya.


Pandangan Ana menggelap, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Tubuhnya sangat lemah dan rapuh.


**Cirebon, 18 Maret 2022


Emak mau merekomendasikan karya teman Emak ya. Seru dan menegangkan bagi kalian para pecinta mafia. Cuss lah ke akun milik teman Emak.


Author : Warnyi


Novel : MAFIA STORY Kembalinya Anak Tak Berguna**


__ADS_1


__ADS_2