
Yuna berlari kecil menuju pintu depan agar bisa secepatnya membuka pintu dan menyambut Sang suami. Dia membuka pintu dengan tergesa. Matanya membesar melihat tamu yang datang.
Senyum yang semula menghiasi bibir Yuna sirna seketika. Laki-laki yang berdiri di depan pintu bukanlah suaminya, melainkan kembaran Sang suami. Kebahagiaan yang sempat hinggap di hatinya lenyap sudah tatkala harapannya pupus.
"Apa kedatanganku mengecewakanmu?" tanya Rifky dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Mau apa kamu ke sini?" balas bertanya Yuna dengan nada judes.
"Aku disuruh Rafka untuk mengambil berkas di meja kerjanya," jawab Rifky santai.
"Kenapa dia tidak datang sendiri?" tanya Yuna masih mode judes.
Tanpa permisi, Rifky masuk ke rumah saudara kembarnya dan langsung menuju ruang kerja Rafka. "Rafka sedang di Pontianak, jadi dia tidak bisa mengambil sendiri."
"Jadi benar dia ke Pontianak," lirih Yuna.
"Tentu saja. Apa kamu pikir suamimu itu pembohong? Sepertimu?" Rifky menatap lekat Yuna dengan senyuman miring.
Setelah mengambil berkas yang dipinta Rafka, Rifky hendak langsung pergi. Namun, panggilan Yuna menghentikan langkahnya. Rifky berbalik dan menatap wanita itu. Yuna sebenarnya wanita yang cantik, hanya saja kelakuannya kurang baik.
Yuna berdiri kaku dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling meremas karena gugup. Dia menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu, tetapi bibir yang paling bawah tidak bisa menahannya lagi.
Rifky tersenyum miring lalu mendekati saudara iparnya. Dia merendahkan kepalanya hingga hampir sejajar dengan kepala Yuna. "Sudah berapa lama? Kau sedang menginginkannya?" bisik Rifky tepat di telinga Yuna dengan suara rendah dan dalam.
Yuna merasa meremang bulu kuduknya mendengar bisikan saudara iparnya. Dia menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah yang menyerupai Sang suami. Susah payah dia menelan salivanya saat mendapati wajah itu begitu dekat dengannya.
Persetan dengan semuanya! Persetan dengan suami yang sudah mengabaikanku!
Yuna mengulurkan tangannya lalu merangkul leher Rufky. Dia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir laki-laki di depannya itu. Laki-laki yang memiliki wajah serupa dengan wajah suaminya.
***
Ana sedang membuat nasi goreng untuk sarapan keluarganya, sementara Bi Siti ke warung untuk belanja. Ana memakai dres selutut berlengan pendek. Rambutnya terurai dan terlihat masih basah. Dia berjengit saat sepasang tangan melingkar di perutnya, tetapi kemudian tersenyum setelah mengetahui siapa pemilik lengan itu.
Pras menyerukkan wajahnya pada ceruk leher Ana. Dia menghirup dalam-dalam aroma sampo istrinya. Ana yang merasa geli menggeliat lalu mematikan kompornya dan berbalik. Ana meletakkan kedua tangannya pada bahu suaminya.
"Apa semalam masih kurang, hum?" tanya Ana dengan senyum menggoda.
__ADS_1
"Selalu kurang, Sayang," jawab Pras. Dia lalu menyerang leher Ana bertubi-tubi.
"Dasar mesum kamu, Mas." Ana terkikik geli saat suaminya bergerilya di lehernya.
"Papa jangan sakiti Mama!" teriak suara anak kecil dari belakang Pras.
Pras dan Ana langsung melepaskan tautan bibir mereka. Ana langsung mendekati Arzanka yang sudah berdiri dengan wajah tidak suka. Digendongnya bocah 3 tahun itu. "Mama ga apa-apa kok, Kak," ucap Ana.
"Mama ga sakit, Kak. Enak malah," celetuk Pras. "Aduh!" ringisnya kemudian saat dihadiahi cubitan di pinggangnya karena ucapannya barusan.
"Jangan mengajari anak yang tidak-tidak, Mas," ucap Ana penuh peringatan.
"Siap, Nyonya," canda Pras.
***
Yuna bangun saat waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi. Dia tidak melihat kembaran suaminya itu di ranjangnya. Pakaian yang semalam dikenakan pria itu pun sudah tidak nampak di lantai. Dia semakin mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh lelahnya yang tanpa pelapis selain selimut.
Seperti sebelumnya, pria itu akan meninggalkannya tanpa pamit atau pesan apa pun. Dan Yuna tidak bisa menuntut apa pun pada pria itu. Hubungan mereka hanya sebatas saling memuaskan, tanpa ada cinta atau ikatan apa pun. Mungkin hanya hubungan saudara ipar.
Yuna sadar apa yang dilakukannya ini salah. Dia tidak bisa mendapatkan nafkah batin dari suaminya sendiri, selalu memuaskan dirinya dengan bermasturbbasi. Bisa dihitung dengan jari berapa kali Rafka menyentuh dirinya selama tujuh bulan pernikahan mereka.
Itulah bedanya Rafka dan Rifky. Rafka pria baik-baik yang tidak akan sembarangan menyentuh wanita. Sementara Rifky, dia menganut gaya hidup bebas layaknya orang barat. Persamaan mereka hanya satu, sama-sama profesional dan bisa diandalkan dalam profesinya.
Yuna juga bukan wanita penganut gaya hidup bebas. Hanya dua kembar bersaudara itu yang pernah menyentuhnya. Itu pun karena dia tidak mendapatkannya dari Sang suami. Jika dia bisa mendapatkan nafkah batin itu dari suaminya, dia tidak akan pernah membiarkan laki-laki lain selain suaminya menyentuh dirinya.
***
Rafka sedang menunggu kedatangan saudara kembarnya di salah satu restoran di kota khatulistiwa. Dia meminta kembarannya itu untuk mengambil dokumen yang tertinggal di rumahnya. Beberapa kali dia melihat jam tangan yang melingkar dengan elegan di tangan kirinya.
"Maaf, aku terlambat," ucap Rifky yang baru saja datang dan langsung duduk di depan Rafka.
"Pasti karena wanita," celetuk Rafka yang sudah mengetahui kelakuan kembarannya. "Sebaiknya kau menikah saja, agar bisa melakukannya kapan pun dengan istrimu," nasihat Rafka.
"Tidak perlu mengguruiku. Kau sendiri, apakah kau sudah menggauli istrimu dengan baik?" tanya Rifky dengan senyum sinisnya.
"Mana berkasnya?" pinta Rafka mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Rifky mendengus. Kembarannya selalu seperti itu jika membahas istrinya. Padahal servis istrinya memuaskan. Dia tersenyum miring mengingatnya.
Rifky memberikan berkas yang diminta Rafka. "Jangan katakan kalau kau masih menginginkan Ana."
"Bukan urusanmu," balas Rafka dingin dengan mata yang masih fokus pada berkas yang diberikan Rifky.
"Setidaknya kau jangan mengabaikannya. Dia istrimu, tanggung jawab dan kewajibanmu. Dia juga membutuhkan nafkah batin, bukan hanya lahir," ucap Rifky bijak.
"Tidak perlu berlagak menjadi orang suci. Sebelum menjadi penasihat spiritual, perbaiki dulu hidupmu," tukas Rafka.
"Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis. Aku, kau, begitu pun Yuna. Dengan apa kau memenuhi kebutuhan biologismu jika kau menyentuhnya hanya dalam hitungan jari. Apakah kau melakukannya dengan wa ...."
"Aku bukan kau yang akan melakukan hubungan badan dengan sembarang wanita," geram Rafka memotong ucapan Rifky.
Rafka kembali tersenyum miring. "Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau memenuhi kebutuhan biologismu."
"Tidak perlu memikirkannya karena aku punya cara sendiri," balas Rafka.
***
Ana dan Pras sedang bermain bersama kedua buah hati mereka di teras rumah. Mereka terlihat sangat bahagia, seperti keluarga yang harmonis pada umumnya. Semua cobaan rumah tangga sudah mereka lewati bersama. Tinggal bagaimana mereka harus mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.
"Selamat sore."
**Cirebon, 6 April 2022
Emak ada karya yang rekomended nih punya teman Emak. Punya kakak author EMY yang berjudul KEMBALI CANTIK SI GADIS CACAT. Karya ini sebelumnya berjudul It's Me. Cuss langsung ke milik kak Emy aja ya**.
**Judul : Kembali Cantik Si Gadis Cacat
Napen : Emy
Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian wajahnya terluka.
Semenjak saat itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semya orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.
__ADS_1
Namun diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice. Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya? Apakah pria itu akan menampakkan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya**?