
Pandangan Ana menggelap, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Tubuhnya sangat lemah dan rapuh.
Bugh!! Bugh!!
Alan menghentikan Pras yang memukul Niko dengan membabi buta. "Sudah, Pras! Hentikan! Kamu bisa membunuhnya!" seru Alan mencegah Pras berbuat lebih jauh.
"Dia sudah menculik istriku! Dia juga berniat menodai istriku! Jika itu menimpa istrimu bagaimna? Hah?" Pras balas berseru.
"Laporkan saja ke polisi dan biarkan dia menerima hukumannya." saran Alan.
Sementara Deby mendekati Ana yang sudah tak sadarkan diri, dan langsung menutup bagian depan tubuh Ana yang sudah tak berlapis pakaian. Dia juga melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Ana.
"Kalau mau main ya main saja, jangan beris--" Una tak melanjutkan ucapannya saat melihat keadaan kamar.
"Kamu lagi! Kalian lagi! Kenapa kalian ingin sekali menghancurkan rumah tanggaku!?" geram Pras pada Una.
Pras langsung memegang tangan Una dan mengikatnya dengan tali bekas ikatan Ana. "Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada Ana!"
"Bukan aku! Tapi--" Una berusaha melepaskan diri dari cekalan Pras.
"Kalian berdua! Aku akan melaporkan kalian pada polisi!"
Setelah berucap, Pras segera mengambil ponselnya dan menelepon polisi. Pras sudah tidak bisa menolelir perbuatan Una lagi. Wanita itu pernah berencana jahat pada Ana untuk memisahkan dirinya dan istrinya, wanita itu juga pernah merusak alat-alat kantor.
Pras juga mengikat Niko dengan bantuan Alan. Niko berontak, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Pras dan Alan. Tapi semua sia-sia belaka.
"Kamu itu temanku, Lan! Tapi kenapa kamu malah membantunya?" seru Niko.
"Maaf, Nik. Aku memang temanmu, tapi aku tidak mau terlibat dalam kejahatanmu. Aku ingin kamu sadar, jika mencintai itu tidak harus memiliki." nasihat Alan pada Niko.
"Bulshit!"
Pras sudah menggendong Ana untuk segera membawanya ke rumah sakit karena istrinya itu pucat dan lemah. Bertepatan dengan itu polisi datang dan langsung meringkus Niko dan Una.
Setelah dua makhluk jahat itu dibawa polisi, Alan dan Deby mengantar Pras membawa Ana ke rumah sakit. Ana langsung mendapat pertolongan di IGD rumah sakit. Dia mengalami dehidrasi karena tidak makan sejak kemarin, akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
Pras mengabari Ibu dan Ibu mertuanya jika Ana sudah ditemukan dan kini berada di rumah sakit. Tak lama, keluarga besar mereka tiba di rumah sakit. Kedua anaknya langsung menghambur ke brankar di mana Ana terbaring.
Ana masih belum sadar, mungkin karena tak ada asupan makanan hingga membuatnya sangat lemah. Dia bagaikan putri tidur dengan wajah cantiknya yang pucat dan bibir keringnya.
"Mama..." panggil Arzanka mengguncang lengan Ana.
"Mama... Nen..." si kecil Arzetta pun ikut memanggil sang ibu yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Mama bawa baju Ana agar dia bisa ganti pakaian." ucap Bu Maya.
"Biar aku yang ganti pakaiannya, Ma." ucap Pras.
Akhirnya mereka semua keluar dari kamar rawat Ana, menyisakan Pras yang dengan telaten mengelap tubuh Ana dengan air hangat lalu mengganti pakaiannya yang robek dengan pakaian yang dibawa Ibunya.
Pras merasa bersyukur karena tidak ada jejak merah peninggalan laki-laki itu di tubuh istrinya. Jika saja ada, dia yakin istrinya akan terguncang. Dia menyelimuti tubuh istrinya lalu mencium keningnya lama.
"Jangan sentuh aku! Jangan lakukan ini!" teriak Ana mendorong tubuh Pras.
"Ini aku, An. Pras, suamimu." Pras memegang bahu Ana agar istrinya itu mau menatapnya.
Ana terdiam menatap lekat laki-laki yang ada di depannya. Otaknya memindai jika laki-laki itu benar suaminya, laki-laki yang dicintainya.
"Mas... Jangan biarkan Niko lakukan ini padaku, Mas. Aku tidak mau, Mas. Aku tidak mau!" Ana berteriak histeris.
Mendengar teriakan Ana, semua keluarga yang ada di luar kamar rawat langsung masuk. Mereka ingin melihat apa yang terjadi hingga Ana berteriak histeris. Saat mereka masuk, Ana sedang menangis dalam pelukan Pras.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, An. Tidak siapa pun." bisik Pras.
"Aku tidak mau, Mas. Aku tidak mau." ucap Ana disela isak tangisnya. "Apa aku sudah kotor, Mas? Apa kamu masih mau sama aku, Mas?"
Pras menangkup wajah Ana. "Kamu tidak kotor, dia tidak menyentuhmu lebih jauh. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Pras kembali memeluk Ana. Dibiarkan istrinya itu menangis sepuasnya.
"Mama..."
"Sini, Kak." ucap Ana pelan.
Arzanka menghambur ke pelukan Mamanya meski wanita itu masih terbaring miring. "Mama kenapa?"
"Mama tidak apa-apa, Sayang." Ana menciumi wajah Arzanka.
Ana meminta agar Arzetta diletakkan disampingnya, dia sangat merindukan kedua anaknya. Saat masih disekap Niko, yang pertama terlintas dipikirannya hanya anak-anaknya, baru suaminya.
🌹🌹🌹
TIGA hari Ana mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan hari ini sudah diperbolehkan pulang. Ana terpaksa menyapih si kecil karena lebih dari 24 jam tidak diberikan ASI kepada Arzetta, hingga membuat Ana khawatir jika memberikannya pada putri kecilnya yang baru berusia satu setengah tahun.
Ana sangat bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarganya, melihat canda tawa kedua buah hatinya dan suara imut mereka. Ana merasa, jika kejadian empat hari lalu adalah mimpi buruk. Dan berharap mimpi buruk itu tidak akan terulang kembali.
"Saat kamu menghilang, mereka berdua selalu mencarimu, An." ungkap Bu Maya yang diangguki oleh Bu Lili.
__ADS_1
Pras duduk di samping Ana dan merangkul bahunya. "Ceritakan bagaimana awal kejadiannya."
"Aku mau belanja kebutuhan dapur di supermarket, baru turun dari taksi kamu telepon, Mas. Setelah selesai telepon kamu, aku masukin ponsel dalam tas. Tiba-tiba ada yang membekap mulut dan hidungku hingga aku tak sadarkan diri." Ana menjeda ceritanya.
"Saat aku sadar, aku sudah berada di sebuah kamar dalam keadaan tangan dan kaki terikat..." Ana menceritakan hingga tuntas dan dirinya berakhir di rumah sakit.
"Mama sangat bersyukur kamu tidak luka-luka, Nak." pungkas Bu Maya.
"Seandainya Pras datang terlambat, Mama tidak bisa membayangkan." timpal Bu Lili.
"Sudah, semuanya sudah berakhir. Kita sudah berkumpul lagi." Pras mencium kening Ana. Ana pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Di depan ada tamu, Pak." beri tahu Bi Siti.
"Siapa?" tanya Pras.
"Saya tidak tahu, Pak. Ditanya jawabnya, tinggal panggilkan saja Pak Pras. Seperti itu." jawab Bi Siti.
"Oh seperti itu?" seloroh Bu Maya.
"Ah, Ibu." Bi Siti tersipu.
"Ya udah, Mas. Kamu temuin aja dulu, siapa tahu tamu penting kamu, Mas." perintah Ana.
"Baiklah, aku ke depan dulu ya."
Pras bangkit dari duduknya dan menuju ruang tamu. Di sana sudah ada seorang laki-laki yang berdiri membelakanginya. Dia merasa tidak mengenali laki-laki itu. Atau mungkin karena belum melihat wajahnya?
"Selamat siang. Anda mencari saya?" sapa Pras.
Tamu laki-laki itu berbalik hingga membuat mata Pras membelalak saat melihat siapa tamunya. "Anda!"
**Kasih laike dan komen dong, bila berkenan kasih hadiah juga yaa buat menyemangati Emak 😄🌹😘😘
Emak rekomendasiin karya teman Emak nih yang seru dan bikin greget nih.
Judul : Hei Gadis Berkacamata
Author: Putri Nilam Sari
Blurb
Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.
__ADS_1
Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.
Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia**??