
"Maaf sebelumnya karena sudah mengganggu hari Minggu kalian." Rafka menjeda ucapannya. "Saya ingin menawarkan diri untuk menjadi pengacara Ana."
Ana dan Pras terdiam mendengar ucapan Rafka. Laki-laki itu terlihat bersungguh-sunguh. Ana menatap Pras, menyampaikan pesan lewat tatapannya. Apa pun keputusan suaminya, Ana akan menyetujui.
"Aku rasa kamu sudah tahu tentang aku dan Ana dulu." Pras mengangguk. "Izinkan aku untuk menjadi pengacara Ana. Aku janji akan membuat mereka bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan pada Ana."
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Pras.
"Aku ingin menebus kesalahanku dulu pada Ana. Aku tahu aku mungkin laki-laki bajingan dimata Ana, dan sekarang aku ingin menebus semua kesalahanku dimasa lalu," papar Rafka.
"Apa kamu tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tanya Pras curiga.
Rafka tersenyum tipis. "Jika maksudmu aku akan merebut Ana darimu, jangan khawatir. Aku tidak akan membuat Ana menangis karena kehilangan kamu. Aku harap kamu bisa membahagiakan dia karena dia pantas untuk bahagia."
Pras menoleh kepada istrinya, meminta pendapat wanita yang duduk di sampingnya itu. "Terserah kamu, Mas," jawab Ana.
Pras menatap Rafka, menimbang keputusan yang akan diambilnya. "Baiklah, tapi tidak ada pertemuan tanpa aku," putus Pras.
Rafka tersenyum. "Baik, jika aku ada perlu dengan Ana, kamu yang akan kuhubungi," ucapnya sungguh-sungguh.
Pras pun memberikan nomor ponselnya pada Rafka. Mereka berbincang sebentar di ruang tamu. Pras menanyakan banyak hal tentang masa lalu laki-laki itu dan Ana. "Kenapa dulu kamu meninggalkan Ana?" tanya Pras.
"Mas!" geram Ana saat suaminya menanyakan langsung hal itu pada mantan pacarnya. "Aku kan sudah cerita, Mas."
"Aku hanya ingin dengar versi dia," sahut Pras santai.
Rafka tersenyum sebelum menjawab. "Aku terlahir dari keluarga kurang mampu. Aku bercita-cita ingin menjadi pengacara agar bisa membela orang-orang yang benar tapi lemah dalam kasus hukum karena di sekitarku banyak kasus seperti itu. Dan orang tua Yuna menjanjikan akan membiayai kuliahku hingga selesai asal aku bersama Yuna karena Yuna menyukaiku. Akhirnya, aku memilih pendidikanku dan meninggalkan Ana," cerita Rafka. Tampak raut penuh sesal di wajahnya.
"Maafkan aku, An. Dulu aku hanya berpikir bagaimana caranya untuk menggapai cita-citaku, tanpa memikirkan ada hati yang tersakiti." Rafka tersenyum miris. "Tapi aku bahagia, kamu sudah bersama laki-laki yang mampu membahagiakanmu," lanjutnya.
"Aku bahagia dengan Mas Pras," ucap Ana yakin.
__ADS_1
"Aku tahu, aku bisa melihatnya dari tatapan kalian. Jika boleh tau, aku ingin bertanya. Siapa Niko dan bagaimana kronologi kejadiannya?" tanya Rafka.
Ana menatap Pras meminta persetujuan, dan laki-laki itu mengangguk. Ana menarik napas panjang. Dia malu jika harus menceritakan ada laki-laki lain selain suaminya yang sudah melihat tubuh bagian atasnya tanpa penutup. Tapi suaminya menguatkan dan mendukungnya dengan menggenggam erat tangannya dan mengangguk.
"Siang itu aku baru saja tiba di depan sebuah minimarket, Mas Pras menelepon menanyakan keberadaanku. Setelah itu, tiba-tiba ada yang membekap mulut dan hidungku dan aku tidak sadarkan diri. Saat sadar, aku sudah berada di dalam sebuah kamar dengan tangan dan kaki terikat. Lebih dari 24 jam Niko menyekapku dan berusaha me ...."
Pras langsung emeluk Ana saat istrinya itu tidak sanggup melanjutkan ceritanya. "Bajingan itu berusaha menodai Ana!" geramnya. "Niko teman kuliah Ana dan Deby. Sejak kuliah dia memang menyukai Ana, dia selalu berusaha untuk mendapatkan Ana meski dia tahu Ana sudah bersamaku." Pras bicara dengan mengatupkan rahangnya.
"Apa dia atau temannya yang menjadi terdakwa pernah melakukan kejahatan sebelum ini?" tanya Rafka.
"Ya. Mereka pernah bersekongkol untuk memisahkan kami. Niko mendekati Ana dan Una menggodaku dengan memasukkan obat perangsang pada kopiku. Una dulu sekretarisku," jawab Pras.
"Berarti ini kejahatan mereka yang kedua?"
"Ya."
"Oke, aku sudah merekam semua keteranganmu dan akan kujadikan berkas untuk menuntut mereka." Rafka mengutak-atik ponselnya. "Aku permisi, nanti jika aku butuh keterangan lagi aku akan menghubungimu."
Pras dan Rafka berjabat tangan. Pras dan Ana mengantar Rafka hingga pintu gerbang. Setelah tamunya pergi, mereka duduk di sofa depan televisi. Kedua anak mereka sudah tidur beberapa menit yang lalu.
"Memangnya kenapa?"
"Kamu tidak marah?"
"Kenapa harus marah? Sepertinya dia tulus ingin membantumu," jawab Pras yakin. Ana hanya mengangguk mengerti.
***
Ana membuka pintu saat mendengar suara ketukan di pintu depan. Saat membuka pintu, dilihatnya sepasang suami istri yang diketahuinya sebagai orang tua Niko. "Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Ana tajam.
Bu Widia langsung mendekati Ana dengan menangkup kedua tangannya di depan dada. "Aku mohon bebaskan anakku. Cabut tuntutanmu pada Niko dan kami berjanji Niko tidak akan mengganggumu lagi."
__ADS_1
"Niko tidak menyusu pada Anda, kan? Tapi Anda memohon padaku dan suamiku untuk membebaskan Niko. Bagaimana anakku yang masih berusia satu tahun setengah dan masih menyusu padaku? Aku harus menahan sakit di area dadaku karena ASI yang tidak dikeluarkan serta tangisan anakku saat menginginkan ASI tapi tidak bisa mendapatkannya. Hingga aku terpaksa harus menyapih putriku karena kejadian itu!" papar Ana geram menahan emosi.
"Anda seorang ibu, jadi Anda pasti tahu bagaimana sakitnya saat ASI tidak dikeluarkan." Ana menyambung ucapannya.
"Sudahlah, Ma. Ayo kita pulang," ajak Pak Bayu pada istrinya.
"Tapi, Pa. Mama tidak tega melihat Niko di penjara, Pa," rengek Bu Widia.
"Biarkan Niko mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Pak Bayu. "Maaf sudah menggangu waktu Anda. Kami permisi," pamit Pak Bayu.
***
Hari persidangan telah tiba. Ana belum mau memasuki ruang sidang karena gugup. Pras yang selalu berusaha menenangkan istrinya, dengan setia merangkul bahu Ana. Tangan Ana terasa dingin saat Pras menggenggamnya.
Sementara di ruang sidang, Niko dan Una sudah duduk di kursi pesakitan. Ada empat orang polisi yang sigap menjaga dua tersangka itu. Kedua orang tua Niko duduk di belakang laki-laki itu. Sedangkan ibu Una yang baru datang dari luar kota memeluk anaknya sambil menangis.
Ana memasuki ruang sidang bersama Pras. Sementara Rafka dan Deby berjalan di belakang mereka. Awalnya suasana masih hening, tetapi berubah setelah kedua orang tua Niko melihat siapa yang menjadi kuasa hukum Ana.
"Apa pun yang terjadi nanti, apa pun yang akan mereka katakan, tetaplah tenang. Jangan dengarkan apa kata mereka. Tetap fokus untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh kuasa hukum mereka atau pun jaksa," pesan Rafka sebelum mereka memasuki ruang sidang.
Sorot kebencian terpancar dari mata kedua terdakwa dan kedua orang tua Niko. Mereka tidak menyangka jika Rafka, pengacara terkenal yang sedang naik daun itu mengundurkan diri menjadi kuasa hukum anak mereka dan sekarang menjadi kuasa hukum lawan mereka. Bu Widia berdiri dan menghadap Rafka dan Ana, begitu pun Pak Bayu.
"Jadi ini yang membuat Anda mengundurkan diri menjadi kuasa hukum anak saya? Apa mereka sanggup membayar lebih tinggi dari kami? Atau Anda mendapat bayaran berupa hal lain?" Pak Bayu melontarkan pertanyaan dengan suara lantang hingga didengar oleh semua orang yang ada di ruang sidang itu.
Tidak hanya Pras, Rafka pun langsung menoleh menatap Pak Bayu dengan tatapan yang sangat tajam dan kedua tangan terkepal serta rahang yang mengeras!
**Cirebon, 26 Maret 2022
Emak mau merekomendasikan karya teman Emak nih. Ceritanya seru dan bikin geregetan loh. Yuk baca ya karya teman Emak 👇
Author : Hilmiath_
__ADS_1
Novel : Atmosphere**