
"Maaf jika kedatanganku mengganggumu," ucap Rafka saat memasuki ruangan Pras.
"Tidak. Silakan duduk." Pras menunjuk sofa yang ada di sudut ruang kerjanya. Mereka pun duduk di sofa itu.
"Ada apa Anda menemui Saya?" tanya Pras formal.
"Tidak perlu terlalu formal, biasa saja. Anggap saja Aku temanmu juga, seperti Ana." Rafka tersenyum.
"Baiklah. Jadi, ada perlu apa kamu menemuiku?" Pras mengulang pertanyaannya dengan bahasa yang santai.
Rafka masih mengulas senyumnya. "Aku ingin minta maaf atas kejadian seminggu yang lalu. Aku, mewakili Yuna, meminta maaf padamu dan Ana karena kelakuan istriku."
"Oh, itu sudah berlalu jadi lupakan."
"Tapi aku tidak enak hati padamu dan Ana."
"Tidak perlu terlalu dipikirkan."
Pras dan Rafka pun mengobrol dengan santai ditemani secangkir kopi panas dan camilan yang dibawakan OB. Rafka sebenarnya sangat ingin menemui Pras sejak kejadian itu, tapi dia mendadak ada keperluan di Pontianak. Berbicara lewat telepon pun dia merasa tidak sopan.
***
Deby berkunjung ke rumah Ana bersama anaknya. Anak-anak mereka berlarian di halaman depan, jadi mereka memilih berbincang di kursi teras sembari mengawasi anak-anak. Bi Siti sudah menyajikan kue dan minum untuk majikan dan tamunya.
Ana dan Deby dikejutkan oleh suara gerbang yang digoyang-goyang dengan keras lalu dibuka dari luar. Seorang wanita masuk ke halaman rumah Ana dengan langkah lebar. Matanya menyorot tidak bersahabat.
Ana dan Deby langsung berdiri dari duduknya. Mereka menatap heran pada tamu tak diundang itu. Wanita itu mendekati Ana dan langsung mencengkeram lengan Ana hingga Ana meringis.
"Mana suamiku? Jangan berpura-pura alim tapi ternyata menyembunyikan suami orang!" bentaknya penuh emosi.
"Lepas! Sakit!" Ana berontak sambil meringis karena wanita itu mencengkeram lengannya sangat kuat. Untung Ana bisa melepaskan diri dari cekalan wanita itu.
"Yuna! Kenapa kamu cari ribut lagi? Kemarin saja kamu tidak minta maaf pada Ana, sekarang kamu buat keributan lagi," omel Deby.
"Karena dia pelakor! Buat apa minta maaf pada pelakor!" seru wanita itu, Yuna.
Ana berang saat dirinya disebut sebagai pelakor oleh teman sekolahnya sendiri. "Jaga bicara kamu ya! Aku bukan pelakor! Aku tidak pernah menggoda suamimu. Aku punya suami sendiri kalau mau menggoda," geram Ana pada Yuna.
"Sejak makan malam di sini, dia pergi dari rumah malam itu juga. Tidak ada kabar dan susah dihubungi. Pasti kamu menyembunyikan dia!" tuduh Yuna.
__ADS_1
"Untuk apa aku menyembunyikan dia! Kurang kerjaan sekali!" sangkal Ana.
"Ya karena kamu masih menginginkan Rafka!"
"Aku dan Rafka hanya masa lalu, aku sudah bilang 'kan? Aku mencintai Mas Pras!" aku Ana. "Dudklah, Yuna. Kita bisa bicara baik-baik."
Meski dengan wajah masam, Yuna ikut duduk juga di kursi teras bersama Ana dan Deby. Ana meminta Bi Siti membawakan minum untuk Yuna. Mereka kemudian berbincang di sana.
"Apa kamu sedang diabaikan oleh Rafka?" tanya Ana dengan nada lembut.
"Bukan sedang, tapi selalu. Rafka tidak pernah romantis padaku. Dia selalu menomorsatukan kerja, kerja dan kerja!" aku Yuna kesal.
"Apa mungkin kamu pernah melakukan kesalahan padanya hingga dia bersikap seperti itu? Karena Rafka yang kukenal tidak seperti itu," tanya Deby.
"Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun!" sangkal Yuna.
"Mungkin kesalahan yang tidak kamu sadari, seperti aku dulu," ucap Ana.
"Kamu pernah melakukan kesalahan?" tanya Yuna tidak percaya.
"Ya, yang tanpa aku sadari. Dulu aku pikir, aku sudah melakukan tugasku sebagai seorang istri dan seorang ibu dengan baik. Tapi ternyata itu salah di mata Mas Pras. Sibuk mengurus anak dan rumah membuatku mengabaikan penampilanku. Aku tidak terurus dan kumal, membuat Mas Pras mengabaikanku bahkan pernah berpaling pada wanita lain," cerita Ana.
Ana tersenyum tulus. "Aku mulai memperhatikan penampilanku dan juga ... menggoda Mas Pras," jawab Ana, suaranya memelan pada kalimat terakhirnya.
"Menggoda? Maksudmu?" tanya Yuna tidak mengerti.
"Berdandan cantik, berpakaian seksi dan merayu suamimu agar mau menghabiskan waktu bersamamu," jawab Deby.
Yuna menganga. "Benarkah?"
Ana mengangguk yakin. "Aku juga melakukannya atas saran Deby, meski pun itu bukan seperti diriku yang biasanya. Tapi hasilnya, Mas Pras kembali padaku." Ana tersenyum bangga.
"Lalu, apa aku harus melakukannya juga?" tanya Yuna ragu.
"Jika kamu ingin mendapat perhatian suamimu, lakukanlah," saran Ana.
Yuna menggigit bibirnya, bimbang. Apa dia bisa melakukannya? Selama ini, dia tidak pernah menggoda Rafka. Selama ini, dia menahan Rafka dengan perihal hutang budi pada orang tuanya.
"Oh ya, Yuna. Jangan lagi menekan Rafka dengan segala hutang budi pada keluargamu," saran Ana lagi.
__ADS_1
"Tapi itu memang benar 'kan? Rafka berhutang budi pada Papaku dan dia harus membayarnya dengan selalu berada di sisiku!" tekan Yuna.
"Mungkin itu yang membuat Rafka pergi darimu. Kamu dan keluargamu yang selalu menekan dia dengan segala hutang budi masa lalu. Itu akan membuat Rafka merasa hilang harga dirinya, merasa ditindas dan ditekan," ujar Deby bijak.
Yuna terdiam, mencoba mengartikan kata-kata Deby. Berpikir apakah sikapnya pada Rafka sudah benar? Apa jika dia berubah Rafka masih mau memaafkannya?
***
"Menggodaku lagi, hum?" tanya Pras saat pulang kerja sampai malam karena lembur dan mendapati istrinya menyambutnya dengan memakai lingeri seksi.
Ana mendekati suaminya. Dia memainkan jarinya di atas kemeja abu Sang suami, tepat di bagian dadanya. "Kalau iya, kenapa?" tanya Ana dengan senyum menggoda.
Pras langsung menyambar pinggang Ana dan merapatkan pada tubuhnya. "Kebetulan sekali karena aku sangat lapar." Pras langsung melahap bibir istrinya dengan rakus.
***
Beberapa hari ini Yuna selalu memakai pakaian yang seksi, berharap suami yang sangat dicintainya itu akan pulang. Yuna sudah memutuskan untuk merubah sikapnya pada Rafka karena tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Dia semakin gelisah karena hingga hari kelima, suaminya itu tak kunjung pulang.
Berkali-kali Yuna menghubungi Sang suami, tetapi teleponnya tidak pernah dijawab. Setiap kali dia kirim pesan, hanya tanda telah dibaca tanpa dibalas. Yuna semakin curiga, apa mungkin suaminya memiliki wanita lain di luar sana?
Yuna menyesali perbuatannya dulu pada Sang suami. Dia yang selalu merendahkan Rafka. Dia yang selalu mengungkit perihal hutang budi suaminya pada keluarganya untuk menahan Sang suami agar tidak meninggalkannya.
Hatinya mulai semakin ketakutan jika apa yang dipikirkannya, bahwa suaminya memiliki wanita lain, menjadi nyata. Ini sudah hari ke-11 suaminya tidak pulang. Apa suaminya benar-benar memiliki wanita lain hingga tidak merindukannya?
Yuna menitikkan air mata, khawatir jika apa yang dipikirkannya itu menjadi kenyataan. Dia segera menghapus air matanya saat mendengar ketukan di pintu. Matanya kembali berbinar penuh harap, berharap suaminya pulang.
Berlari kecil menuju pintu depan agar bisa secepatnya membuka pintu dan menyambut Sang suami. Dia membuka pintu dengan tergesa. Matanya membesar melihat tamu yang datang.
**Cirebon, 4 April 2022
Ana balik lagi, jangan lupa like, komen dan hadiahnya yaaa 😘😘
Emak mau rekomendasikan karya teman Emak lagi nih. Kali ini karya IBN MUCHSIN yang berjudul ANTARA JERITAN DAN HARAPAN. Dijamin seru dan akan menguras emosi jiwa raga dan empatimu. Yuk langsung baca karya teman Emak 😉**
**NB : novel ini masih dalam tahap revisi
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya**
__ADS_1