Kugoda Lagi Suamiku

Kugoda Lagi Suamiku
Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Selamat siang. Anda mencari saya?" sapa Pras.


Tamu laki-laki itu berbalik hingga membuat mata Pras membelalak saat melihat siapa tamunya. "Anda?"


"Ya, Pak Pras," sahut laki-laki itu.


"Ada apa Anda datang ke rumah saya?"


"Apa kita bisa bicara sambil duduk?" tanya tamu itu.


"Silakan." Pras menunjuk sofa sebagai isyarat mempersilakan tamunya duduk. Dia sendiri duduk di sofa seberang tamunya.


"Saya datang kesini bukan untuk masalah pekerjaan, tapi ada masalah lain," ucap tamu itu.


"Maaf, baru selesai telepon," sela seorang wanita yang baru saja masuk ke ruang tamu.


"Perkenalkan, ini istri saya, Widia." Tamu itu memperkenalkan istrinya.


Pras hanya mengangguk. "Lalu ada keperluan apa Pak Bayu datang kemari?"


"Saya ingin meminta Anda untuk mencabut tuntutan Anda pada Niko," jawab tamu bernama Bayu itu.


Pras mengerutkan keningnya hingga alisnya hampir bertaut. "Apa hubungan Anda dengan laki-laki itu?" tanya Pras tajam. Mendengar nama Niko membuat emosinya naik.


"Niko anak kami," jawab Widia. "Saya mohon Anda mau mencabut tuntutan Anda pada anak kami."


Pras mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal kuat. "Sekarang saya tanya kepada Anda, Pak Bayu. Jika istri Anda diculik dan hampir saja diperkosa, apakah Anda akan memaafkan orang yang sudah menculik dan berniat memperkosa istri Anda?"


Suara Pras tidak tinggi, tapi sangat tajam hingga menusuk uluhati kedua tamunya. Sampai kedua tamu yang duduk di hadapannya tak mampu mengeluarkan kata-kata. Mereka hanya mampu menelan ludah mereka sendiri dengam susah payah. Pras tersenyum miring menatap keduanya.


"Jika Anda mampu menjawab pertanyaan saya tanpa merasa bersalah dan berdosa, mungkin saya bisa pertimbangkan," ucap Pras. "Jika kalian tidak bisa menjawab, silakan, pintu rumah saya masih terbuka."


Pras merentangkan tangannya ke arah pintu. Isyarat itu membuat pasangan suami istri itu diam dan saling tatap. "Tapi, Pak. Apa tidak ada jalan lain agar anak kami bisa bebas?" tanya Bu Widia.

__ADS_1


"Tanyakan pada suami Anda.Jika Anda menjadi korban seperti istri saya, apakah dia akan memaafkan dengan ihlas pelaku penculikan dan percobaan pemerkosaan terhadap Anda tanpa rasa marah dan dendam?"


"Ma, ayo kita pulang," ajak Pak Bayu.


"Tapi, Pa. Aku tidak mau Niko dipenjara," lirih Bu Widia. "Saya mohon, Pak," pintanya seraya menangkupkan kedua tangan di depan Pras.


"Anda seorang istri, mungkin tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan. Anda memiliki anak perempuan?" Bu Widya mengangguk pelan. "Jika anak perempuan Anda berada diposisi istri saya, apakah Anda akan memaafkan pelakunya?"


Bu Widia mematung, tak mampu menjawab pertanyaan Pras. Pak Bayu meraih tangan istrinya. "Ayo, Ma. Kita pulang." Kembali Pak Bayu mengajak istrinya. Dengan terpaksa, Bu Widia mengikuti langkah suaminya keluar dari rumah Pras.


Pras ke ruang keluarga setelah menutup pintu. Dia melihat Ana masih duduk di sofa dan dipangkuannya tergeletak kepala kedua buah hatinya yang tertidur. Dia memindahkan kedua buah hatinya ke kamar agar Ana bisa ikut istirahat.


"Siapa tadi?" tanya Ana saat Pras sudah duduk di sampingnya.


"Orang tua bajingan itu," geram Pras menekan emosinya. "Ternyata dia anak Pak Bayu," lanjut Pras.


"Kamu kenal sama orang tuanya?"


"Dia pernah menolak kerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja," jawab Pras. "Sudahlah, istirahatlah di kamar. Kamu masih butuh banyak istirahat." Pras membimbing Ana masuk ke kamar.


🌹🌹🌹


Ana sudah bersiap berangkat ke pengadilan. Pras, Deby dan Alan pun dipanggil sebagai saksi. Ana menitipkan kedua anaknya kepada Ibunya. Ana merasa gugup, tangannya dingin dan gemetar. Dia tidak ingin melihat wajah Niko, tapi kesaksiannya dibutuhkan demi kelancaran proses hukum.


Pras menggenggam kedua tangan Ana selama berada di ruang tunggu persidangan. Dia selalu memberikan kekuatan pada istrinya untuk menghadapi semua bersama. Pras tahu jika Ana sedikit trauma bertemu dengan Niko. Tapi Ana harus menghadapinya, tidak bisa terus-menerus membiarkan rasa takutnya pada laki-laki itu tetap ada.


"Kamu bisa, Sayang. Kamu pasti bisa, mungkin dengan dipenjara dia akan jera." Pras terus menyemangati istrinya.


Deby masuk ke ruangan tunggu di mana Ana berada. Dia tahu Ana sangat gugup, terlihat jelas di wajah sahabatnya itu. "Kamu pasti bisa, An. Harusnya mereka yang gugup karena akan menghadapi hukuman, bukan kamu."


"Aku tidak ingin melihat wajah mereka, Deb. Aku muak dan benci pada mereka," ucap Ana.


"Maka dari itu, kamu harus lawan mereka dipersidangan. Mereka harus dihukum berat atas apa yang mereka lakukan padamu, pada keluarga kalian," tegas Deby.

__ADS_1


"Ana..."


Sebuah panggilan mengalihkan fokus mereka bertiga. Tak jauh dari mereka, berdiri seorang laki-laki menggunakan setelan jas berwarna hitam. Ana menatap laki-laki itu tajam, memastikan apakah dia benar laki-laki yang dikenalnya.


"Apa kamu sudah lupa padaku, An?" tanya laki-laki itu. "Hai, Deb," sapanya pada Deby.


"Hai," balas Deby.


"Rifky?" sebut Ana tak yakin.


"Ternyata kamu masih mengingatku," ucap laki-laki itu tersenyum. "Kamu sedang apa di sini?"


"Aku ,,, aku ,,, akan menghadapi persidangan," jawab Ana terbata karena rasa gugupnya.


Laki-laki bernama Rifky terkejut. "Kasus apa?"


Sebelum Ana sempat menjawab, seorang perempuan membisikkan sesuatu pada Rifky dan mengharuskannya pamit. "Maaf, aku harus pergi. Aku harap kita bisa bertemu lagi, An." Rifky menganggukkan kepalanya pada mereka bertiga lalu pergi.


"Siapa dia?" tanya Pras tajam.


"Dia teman SMA-ku, Mas," jawab Ana.


"Hanya teman?" tanya Pras lagi, kali ini penuh selidik.


Deby yang merasa tidak enak memilih keluar ruangan. Pras menatap tajam Ana yang terlihat gugup. "Benar hanya teman, An?" Ana masih belum membuka suara saat panggilan pihak pengadilan berkumandang. Ana yang merasa tatapan Pras berbeda akhirnya bercerita tentang siapa Rifky.


🌹🌹🌹


RUANGAN sidang sudah ramai. Kedua orang tua Pras dan Ayah Ana turut hadir dalam persidangan. Ana memasuki persidangan bersama Pras. Suaminya itu selalu berada di sampingnya, memegangi bahu untuk memberikan kekuatan pada sang istri.


Ana menundukkan kepalanya, tak berani menatap semua orang. Ayah dan kedua mertuanya memberikan pelukan sebelum Ana duduk di kursi saksi korban. Dia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya tajam tak berkedip. Pras yang berada di belakangnya balas menatap pemilik mata itu.


Hakim Ketua sudah mengetuk palu tanda sidang dimulai. Setelah dipersilakan oleh Hakim Ketua, pengacara terdakwa berdiri di depan Ana untuk mengajukan pertanyaan. Ana mendongak, matanya terbelalak melihat siapa yang berdiri di depannya.

__ADS_1


**Cirebon, 22 Maret 2022


Minta like, komen, vote dan hadiahnya juga dooong untuk menyemangati Emak. Karya ini baru aja lulus kontrak loh. Jadi dukung Emak biar tambah semangat ya 🤗🤗🤗**


__ADS_2