
Haruskah aku putar balik dan menemuinya?
Kebimbangan melanda hati Rafka. Dia masih terus berputar-putar di jalanan. Akhirnya dia memutuskan ke tempat yang membuatnya tenang dan melupakan wanita yang dinikahinya itu meski sejenak.
Ting tong!
Tidak lama kemudian pintu di depannya terbuka. Sesosok wajah keluar dari balik pintu dengan senyuman miring. Tanpa dipersilakan Rafka langsung masuk dengan menarik kopernya.
"Minggat?" tanya pemilik tempat itu.
Rafka mendudukkan pantatnya di sofa depan televisi. Dia menghembuskan napas berat seraya memejamkan matanya. "Aku ngantuk," ucapnya lalu menuju salah satu kamar yang ada di apartemen itu.
"Benar 'kan dugaanku? Singa betina itu pasti akan mengaum di rumah," ucap Rifky.
Rafka memilih pergi ke apartemen kembarannya dari pada ke rumah wanita itu. Dia tidak ingin menambah masalah dengan datang ke rumah wanita itu tengah malam begini. Wanita itu pasti akan terkena imbasnya juga.
"Dia pasti sedang mengoceh bagai kaset rusak. Itu sebabnya kamu ke sini 'kan?" Rifky menyodorkan minuman kaleng bersoda pada kembarannya lalu duduk di samping Rafka.
Rafka meminum minumannya lalu menghembuskan napas lelah seraya bersandar pada kepala ranjang. "Aku mungkin laki-laki paling bodoh di dunia. Melepaskan wanita yang kucintai dan memilih terjebak dengan wanita gila yang didukung keluarganya." Rafka meremas rambutnya frustasi.
"Menyesal sekarang juga sudah tidak berguna. Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Rifky.
"Entahlah." Rafka kembali menghembuskan napas berat, frustasi. "Aku sudah berusaha mencoba untuk menerimanya. Berusaha mencintainya, tapi sikap dan perbuatannya selalu membuatku gagal untuk mencintainya."
Rifky menepuk bahu Rafka. "Sudah dini hari. Sebaiknya kita tidur," ucapnya.
***
Ana menggeliatkan tubuhnya, berusaha bangun diwaktu yang sama setiap harinya. Tapi tak jarang, dia susah bangun krena ulah suaminya. Seperti saat ini.
Pras memeluknya dari belakang. Saat Ana berusaha memindahkan tangan suaminy, Pras malah mengeratkan pelukannya serta menelusupkan wajahnya di ceruk leher Sang istri. Ana hanya bisa pasrah jika suami tercintanya sudah seperti ini.
"Masih pagi buta 'kan? Tidur lagi saja," bisik Pras di telinga Ana.
Ana hanya diam. Menikmati usapan lembut tangan Sang suami di perut ratanya yang hanya tertutup selimut. Ana tersenyum dengan mata terpejam.
"Mas, semalam kan sudah," ucap Ana saat tangan Pras mulai nakal. Bibir Pras pun sudah mulai bergerilya ke seluruh tubuh Ana yang dapat dijangkaunya.
***
__ADS_1
Seminggu sudah berlalu. Ana dan Pras menjalani kehidupan mereka dengan normal. Ana sudah melupakan kejadian yang sudah membuatnya trauma. Dia tidak ingin terus-menerus terkungkung dalam traumanya karena merasa malu dan kotor untuk suaminya.
Untung Pras sangat pengertian dan sabar menghadapinya. Ana selalu berharap, semoga cobaan dalam rumah tangganya sudah berakhir. Ana yang sedang bermain bersama kedua buah hatinya di ruang keluarga beranjak ke depan karena mendengar suara gedoran di pintu.
"Mana suamiku?"
Suara bentakan langsung menyapa indera pendengarannya sesaat setelah dia membuka pintu. Tanpa permisi, wanita itu masuk ke rumah Ana. Wanita itu terlihat sangat marah dengan mata yang berkelana ke setiap penjuru rumah Ana.
"Mana suamiku? Kamu pasti menyembunyikannya 'kan?" Kembali wanita itu bertanya dengan bentakan menanyakan suaminya.
"Apa maksud kamu, Yuna?" tanya Ana yang masih linglung kenapa Yuna, wanita itu, mencari suaminya ke rumahnya.
"Tidak perlu berpura-pura bodoh! Kamu menyembunyikan Rafka 'kan? Kamu masih menginginkan dia 'kan?" tuduh Yuna seraya menunjuk-nunjuk Ana. "Ingat! Rafka itu milikku! Hanya milikku!"
Ana mulai terpancing emosinya. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah yang tertindas. Menjadi baik bukan berarti harus merelakan harga dirinya terinjak-injak bukan? Dan saat ini, Ana merasa harga dirinya sebagai seorang wanita bersuami sedang diinjak-injak oleh teman sekolahnya itu.
"Jaga bicara dan sikap kamu, Yuna! Ini rumahku! Kamu tidak berhak masuk sesukamu ke rumahku! Aku seorang wanita bersuami dan aku bahagia dengan pernikahanku! Rafka hanya bagian kecil dari masa laluku. Masa sekarang dan masa depanku adalah Mas Pras!"
"Jangan munafik, Ana! Kamu meminta bantuan Rafka pada kasusmu pasti karena kamu tahu sekarang Rafka pengacara handal dan terkenal! Iya 'kan?" Yuna mengangkat dagunya dengan angkuh seraya menatap remeh Ana.
"Suamimu yang datang menawarkan diri padaku dan Mas Pras untuk membantu kasusku," ucap Ana percaya diri.
"Pasti ada imbalan embel-embel yang kamu janjikan 'kan? Rafka tidak pernah sembarangan menerima klien! Kamu pasti mena ...."
"Apa maksudmu?" tanya Yuna tajam.
Ana tersenyum miring. "Laki-laki tidak suka dikekang dan dicemburui yang berlebihan. Beri dia kepercayaan agar dia juga mempercayaimu. Ikat dia dengan tali yang tidak terlalu kuat dan juga tidak terlalu longgar. Jika dia merasakan dua hal itu, maka dia akan kabur. Pergi meninggalkan wanitanya."
"Tidak perku sok menasehati! Aku bisa menjaga suamiku dengan baik!"
"Oh ya? Kalau kamu bisa menjaga suamimu dengan baik, lalu kenapa Rafka kabur?" tanya Ana yang tersimpan nada ejekan. "Mungkin saja Rafka sedang mencari wanita lain di luar sana yang lebih pengertian dan lemah lembut dibandingkan dirimu."
"Itu tidak akan terjadi! Karena Rafka mempunyai hutang budi pada keluargaku!"
"Oh begitu? Mungkin karena kamu selalu mengungkit hal itu yang membuat Rafka pergi darimu."
Yuna mendengus marah. "Jika sampai aku tahu Rafka menemuimu, bersiaplah! Karena aku akan menghancurkanmu!" ancamnya.
"Jika Rafka menemuiku, bukan aku yang menemuinya. Itu berarti kamu yang tidak bisa menjaga suamimu," tukas Ana penuh perlawanan.
__ADS_1
"Aku akan membuat perhitungan denganmu jika kau bertemu lagi dengan Rafka! Camkan itu!" gertak Yuna lalu pergi dari rumah Ana.
"Suami sendiri kabur malah mencari ke rumah orang. Dasar aneh," gerutu Ana.
***
Pras sedang berkutat dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Akhir bulan seperti ini memang banyak sekali laporan-laporan yang harus ditandatangani olehnya. Dengan teliti dia melihat desain-desain produk yang akan diproduksi oleh perusahaannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran-lembaran di meja. Pintu terbuka lalu menampilkan seorang laki-lali muda. Ilham, sekretarisnya masuk dari balik pintu.
"Ada yang mencari Anda, Pak," ucap Ilham memberi tahu.
"Siapa?" tanya Pras masih belum mengalihkan pandangannya dari lembaran yang dipegangnya.
"Pak Rafka Wijaya."
"Rafka?" ulang Pras mengalihkan pandangannya yang kini tertuju pada sekretarisnya.
"Iya, Pak."
"Untuk apa Rafka ke sini?" gumam Pras.
"Apa Pak Rafka boleh masuk?" tanya Ilham.
"Persilakan dia masuk," putus Pras.
"Baik, Pak." Ilham pun keluar.
Selang berapa detik, Rafka memasuki ruangan Pras. "Maaf jika kedatanganku mengganggumu."
**Cirebon, 3 April 2022
Sambil menunggu apa yang akan dibicarakan Rafka pada Pras, yuk kepoin karya teman author Emak. Karyanya keren abis loh punya kak INDAH WU berjudul AKU MAFIA BUKAN BIDADARI**
**Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai kehidupan baru setelah dikhianati suaminya. Tak pernah disangka setelah tiba di negara tersebut dia mendapat musibah yang membuatnya menjadi seorang ketua mafia.
__ADS_1
Terjun ke dunia gelap selama beberapa tahun membuatnya menemukan fakta yang mengejutkan tentang masa lalunya. Velia memutuskan kembali ke negaranya untuk mengungkap kebenarannya.
Deon Alexander yang terkenal sangat perfectsionis dan gila kerja memiliki saingan di yang tidak bisa dikalahkannya dengan mudah karena memiliki klan mafia yang cukup kuat. Pertemuannya dengan Velia Selkova membuat Deon Alexander ingin membuat kesepakatan**.