Kugoda Lagi Suamiku

Kugoda Lagi Suamiku
Kedatangan Rafka


__ADS_3

"Boleh aku bergabung?"


Semua menoleh ke asal suara. Mata Yuna membola melihat siapa yang baru saja datang. Wajahnya pucat saat mendapati suaminya ada di depannya.


Sementara Rifky terlihat lebih santai. Dia sepertinya tidak merasa bersalah pada saudara kembarnya itu. "Tentu saja boleh. Apa urusanmu sudah selesai?" tanyanya santai.


"Sudah, dan kebetulan Pras mengundangku untuk makan siang," jawab Rafka. "Sejak kapan kamu berada di Bali?" tanya Rafka pada istrinya. Dia menatap tajam Yuna.


Ana terlihat bingung dengan pertanyaan Rafka pada Yuna. Dia hendak mengajukan pertanyaan tetapi ditahan oleh Pras. Pras memberi isyarat dengan gelengan kepala. Ana pun hanya bisa menarik napas panjang.


"E ... sejak ... d-dua hari yang lalu," jawab Yuna terbata dan gugup. Bola matanya berkeliaran ke sana-kemari saking gugupnya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau akan ke Bali?" tanya Rafka lagi.


"A-aku ... aku sudah coba hubungi kamu kok, tapi tidak diangkat," dalih Yuna.


Rafka hanya berdehem seraya duduk di samping Pras. Dia memilih diam dan bersiap untuk makan siang. Dia tidak ingin ribut di tempat terbuka dan menjadi tontonan orang.


...🌹...

__ADS_1


"Mas, apa sebenarnya Yuna ke Bali tidak bersama Rafka?" tanya Ana saat mereka sudah berada di kamar hotel.


"Ya. Rafka masih di Pontianak karena kemarin sidang terakhir kliennya dan malamnya diajak makan malam oleh kliennya," jawab Pras.


"Jadi Mas tahu?"


"Saat lihat Yuna bersama Rifky, Mas langsung telepon Rafka. Apa dia sedang di Bali atau tidak, dan dia jawab tidak. Mas tidak bilang jika Mas lihat Yuna di sini," jelas Pras.


"Apa ... Yuna dan Rifky selingkuh?" gumam Ana yang masih didengar oleh Pras.


Pras duduk di samping Ana lalu memeluk istrinya itu. "Itu bukan urusan kita, Sayang," bisiknya.


🌹


Ana dan Pras serta kedua anak mereka juga Bi Siti sudah berada di lobi hotel. Mereka berencana pergi ke Sunset Point di Uluwatu. Ana sangat ingin menyaksikan matahari terbenam di langit Uluwatu. Pras sudah menyewa mobil hotel untuk ke sana.


Sementara di kamar hotel yang ditempati Yuna, wanita itu terlihat panik mondar-mandir di kamarnya sementara Rafka sedang menutup pintu kamar hotel itu.


Bagaimana kalau Rafka tau ada pakaian Rifky di dalam lemari itu? Aku harus mencari akal, bagaimana caranya agar Rafka tidak tau saat aku memindahkan pakaian Rifky, batin Yuna terus mencari akal.

__ADS_1


Yuna menggigit bibir bawahnya karena terlalu gugup. Beberapa saat kemudian dia tersenyum karena menemukan ide. Dia segera mengambil handuk dari dalam lemari.


"Kamu mandi dulu gih, pasti capek kan? Biar seger," ucap Yuna seraya menyerahkan handuk itu pada Rafka.


Rafka menerima handuk itu tanpa mengatakan sepatah kata pun lalu masuk ke kamar mandi. Sebagai seorang pengacara, dia mengetahui jika istrinya menyembunyikan sesuatu. Sesuatu itu apa? Itu yang Rafka tidak tahu. Namun Rafka pasti akan mencari tahu.


Saat Rafka sedang berada di dalam kamar mandi, Yuna memasukkan pakaian Rifky ke dalam tas dengan terburu-buru. Setelah semuanya masuk, dia segera memasukkan tas itu ke dalam kolong tempat tidur. Kemudian dia merapikan kembali seprei yang sempat berantakan karena dia terburi-buru memasukkan tas yang berisi pakaian Rifky.


Yuna memindahkan pakaian Rafka dari koper pria itu ke dalam lemari. Dia menata serapi mungkin pakaian itu karena Rafka tidak suka melihat sesuatu yang berantakan. Yuna memperhatikan letak pakaian suaminya dengan seksama.


Setelah dirasa cukup rapi dan posisi tempat tidur sudah seperti semula, Yuna kini duduk di depan meja rias untuk membenahi penampilannya. Bulir keringat yang muncul di pelipis serta lehernya dilap menggunakan tisu. Dia mengoleskan bedak lagi pada wajahnya yang sempat memucat karena tegang.


Rafka keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Yuna mendekati suaminya itu dengan tatapan menggoda. Dia menelusuri bagian tubuh Rafka dengam ujung jari telunjuknya dari mulai pelipis, rahang, dagu, leher hingga dada bidang Sang suami dengan gerakan perlahan.


"Aku merindukanmu," bisiknya tepat di telinga kanan Rafka.


"Merindukanku?" Rafka menaikkan sebelah alisnya. Dia lalu menarik napas dalam-dalam. "Tapi kenapa ada aroma lain di kamar ini?"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2