
Pras tersenyum melihat Ana yang begitu telaten mengajari dan menelateni anak-anak mereka.
"Pras? Kamu di sini juga?"
Bukan hanya Pras yang menoleh. Ana, Bi Siti dan kedua buah hatinya ikut menoleh. Ana menatap intens wanita di depannya karena merasa tidak mengenalnya. Sementara Pras, sedikit terkejut mendapati wanita itu ada di depannya.
"Ya," jawab Pras setelah terdiam beberapa lamanya.
"Dalam rangka apa?" tanya wanita itu tersenyum.
"Aku ... sedang liburan bersama keluargaku." Pras balas tersenyum. Dia menoleh ke arah Ana. "Kenalkan, ini Ana, istriku. Dan dua balita itu anak-anakku, Arzanka dan Arzetta." Pras memperkenalkan keluarganya.
Ana tersenyum pada wanita itu, berdiri di samping suaminya. "Ana," sebut Ana memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya pada wanita itu.
Wanita itu balas tersenyum tetapi senyuman sinis. "Tika, gadis yang sangat dipuja Pras waktu SMA," ucapnya seraya mengangkat dagu angkuh.
"Itu dulu," balas Pras seketika khawatir Ana sedih.
"O ya? Apa sekarang sudah tidak?" tanya wanita bernama Tika percaya diri.
Sebelah tangan Pras merangkul pinggang Ana posesif. "Sekarang aku sudah memiliki wanita yang kupuja hingga memutuskan untuk menikahinya," jawab Pras tersenyum bangga.
Ana merasa bingung, apakah dia harus merasa bangga mendengar pengakuan Pras, ataukah curiga dengan prasangka bahwa suaminya hanya ingin terlihat tidak menyedihkan di depan wanita itu.
"Aku terburu-buru, klienku sudah menunggu. Permisi," pamit Tika lalu pergi dengan raut wajah kesal.
"Kenapa dia, Mas?" tanya Ana yang heran dengan sikap Tika.
Pras mengendikkan kedua bahunya. "Tidak tau. Biarkan saja."
Mereka pun melanjutkan makan mereka, setelah itu ke pantai menanti sang surya tenggelam. Mereka berlari kecil di sepanjang bibir pantai. Arzanka dan Arzetta selalu tertawa bahagia hingga terkikik dan tak jarang terbahak.
__ADS_1
...🌹...
Ana ke luar dari kamar yang ditempati kedua buah hatinya serta Bi Siti. Dia lalu masuk ke kamar yang ditempatinya dengan Pras. Masuk ke kamar mandi hanya untuk mencuci muka.
"Mereka sudah tidur?" tanya Pras saat Ana ke luar dari kamar mandi.
"Sudah, Mas," jawab Ana.
Pras tersenyum sembari mendekati Sang istri. "Kita kencan yuk," ajak Pras.
"Kencan? Ini sudah malam, Mas."
"Kalau siang dan Arzanka serta Arzetta ikut, bukan kencan namanya, An. Tapi family time."
Ana pun akhirnya mengikuti langkah suaminya keluar kamar. Mereka kini menyusuri jalanan kota Denpasar berjalan kaki dengan tangan saling bergandengan. Sesekali mereka berhenti dan membeli jajanan yang dijajakan pedagang pimggir jalan yang lumayan ramai.
Malam semakin larut, tapi Pras masih enggan kembali ke hotel. Beberapa kali Ana meminta agar segera kembali, tetapi Pras menolaknya. Mereka berjalan di bibir pantai dengan tetap bergandengan tangam layaknya remaja yang sedang kasmaran.
"Apa?" Ana sempat terkaget, tidak percaya dengan permintaan suaminya.
"Naik ke punggungku," ucap Pras memperjelas permintaannya. "Kita akan mengenang masa pacaran dulu."
"Tapi aku sekarang lebih berat dari pada dulu."
"Tidak masalah."
Ana perlahan mendekati Pras lalu naik ke punggung laki-laki itu. Dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Pras dari belakang. Sementara Pras menahan kaki Ana dengan kedua tangannya.
"Berat apanya? Ini masih terlalu ringan, An," ucap Pras lalu memutar tubuhnya hingga tubuh Ana pun ikut berputar.
"Aaa ...." pekik Ana terkejut dengan tindakan Pras.
__ADS_1
Pras menggendong Ana menyusuri pasir pantai yang lembut. Sesekali dia memutar tubuh hingga Ana tertawa bahagia. Tanpa mereka ketahui, ada dua pasang mata yang menatap tajam ke arah mereka.
**Cirebon, 20 April 2022
Baca juga karya teman Emak yaa. Judulnya MASA LALU SANG PRESDIR karya author ENIS SUDRAJAT.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya**.
__ADS_1