
Malam itu kami berempat berkendara menuju rumah Alex. Aku dan Toni duduk di belakang. Ginting duduk di depan menemani Alex menyetir. Sisa-sisa pengaruh tuak masih belum hilang dari kepala kami ketika mobil melaju menyusuri jalanan Kota Bandung yang mulai sepi. Sepanjang perjalanan, kami berkelakar dan bercengkrama serta tertawa-tawa sama seperti dulu ketika kami masih remaja.
Hari itu kami merasa surprise karena bertemu tanpa disangka-sangka.
Semuanya sungguh suatu kebetulan! Setelah bertahun-tahun berpisah dan tak pernah sempat mengadakan reuni, kami dipertemukan dalam suatu resepsi pernikahan seorang teman masa SMA. Kami merasa senang dan suprise. Lalu saling meledek satu sama lain karena masih jomblo dan belum ada yang berani menikah.
Usai menghadiri resepsi, tiba-tiba terbersit gagasan untuk nongkrong di belakang rumah Alex. Gintinglah yang pertama kali mengusulkan. Halaman belakang rumah Alex memang luas dan nyaman. Sangat cocok dipakai nongkrong. Dulu, hampir setiap pulang sekolah kami nongkrong di situ. Mengerjakan tugas kelompok atau membuat PR, tapi kami lebih sering menggunakan halaman belakang itu untuk bermain kartu atau main game. Terkadang sambil minum, merokok dan menonton film porno.
Di antara kami, kondisi ekonomi Alex memang yang terbaik. Kedua orangtuanya bekerja di Instansi Pemerintah Pusat dan menduduki suatu jabatan walau bukan jabatan tinggi. Sedangkan Alex adalah anak tunggal. Mereka memilki tabungan yang cukup banyak serta beberapa investasi yang sangat menguntungkan. Oleh karena itu, meskipun kini kedua orang tuanya sudah meninggal, tapi Alex masih hidup berkecukupan walaupun dia sudah 2 bulan menganggur.
Kami pun sepakat, setelah selesai menghadiri resepsi kami berencana pulang ke rumah Alex.
Kami tidak memiliki masalah apa pun yang disebabkan oleh kendaraan ketika meninggalkan gedung tempat resepsi. Aku dan Ginting menuju tempat resepsi menggunakan angkot. Sedangkan Toni, karena tidak mau ribet, dia naik ojeg online. Walau pun dia sebenarnya punya mobil sendiri.
Sebelum pulang menuju rumah Alex, kami sengaja mampir ke sekolah kami dulu, memandangnya dari kejauhan dan terbawa romantisme masa lalu yang penuh kejayaan. Sementara suasana sentimentil para jomblo yang tinggi hati, yang selalu gagal dalam menemukan cewek yang tepat, demikian kental mempengaruhi kami. Ketika kami menemukan kedai tuak yang menyempil di sudut jalan itu, kami sungguh tidak tahan untuk mampir.
Kami duduk-duduk di situ dan menenggak gelas demi gelas tuak sambil bertukar cerita-serita bodoh yang membuat kami ngakak bersama.
Sejak berseragam abu-abu, kami sering bolos untuk mampir di kedai itu. Mabuk lalu mencari gara-gara di sekolah. Alex kadang menjad bos dan mentraktir kami. Kadang dia boke, tidak punya uang.
Kami ingat, jika Alex kekurangan uang untuk membeli tuak, kami selalu mencari sasaran anak-anak sekolah yang lemah yang bisa kami palak. Korban kami cukup banyak. Tetapi hanya satu orang korban saja yang menurut kami paling berkesan.
Kami tidak tahu nama anak itu. Orangnya kurus, kecil dan pendek. Memakai kacamata dan selalu ketakutan jika melihat kami. Dia memiliki uang jajan yang sangat banyak yang bisa kami sita dengan mudah. Kami juga dua kali merampas handphonenya yang selalu merupakan ke luaran terbaru. Walau dia merengek-rengek memohon agar handphonenya tidak kami rampas, tapi dia punya daya apa? Setelah kami tendangi dan pukuli, barulah dia mau pergi dalam keadaan babak belur dan merelakan handphonenya kami ambil --lalu kami jual dengan harga murah.
Aku ingat persis saat itu, saat anak itu pergi meninggalkan kami dalam keadaan babak belur dan perasaan sakit hati, bagaimana tatapan matanya bersinar terang penuh dendam.
Tapi bodo amat! Dia anak orang kaya dan orangtuanya takkan jatuh miskin gara-gara anaknya kehilangan uang jajan dan handphone.
Beberapa minggu kemudian, kami tak pernah lagi melihat anak itu. Belakangan kami mendengar bahwa anak itu tewas. Dia jatuh dari lantai 2 rumahnya. Menurut gosip selentingan teman-teman sekelasnya, konon dia jatuh karena sengaja meloncat dari balkon. Dia bunuh diri.
Mendengar berita itu, kami agak sedih juga. Bukan karena tidak ada lagi orang yang bisa dipalak dengan jumlah uang yang cukup banyak. Tapi Anak itu sebenarnya lumayan juga bisa sebrengsek kami jika dia mau. Dia bisa saja bergabung menjadi teman sekaligus kelompok kami andai saja dia tidak selalu ketakutan setiap kali bertemu dengan kami.
***
__ADS_1
Malam beranjak larut ketika kami meninggalkan kedai tuak itu. Tidak lupa, kami patungan membeli beberapa botol lagi sebagai bekal. Kami berencana akan menghabiskan malam hingga pagi dengan berteman kenangan dan minuman di halaman belakang yang luas dan nyaman itu.
Kami segera menembus jalanan kota Bandung yang mulai sepi sambil bernyanyi-nyanyi seperti burung beo. Setelah melewati terminal Cicaheum, mobil berbelok ke kiri menaiki jalan yang menanjak dan curam menuju rumah Alex.
Alex tinggal di sebuah kompleks perumahan elit yang terletak di puncak bukit. Aku ingat, untuk menuju ke kompleks itu, banyak jalan-jalan yang pinggirnya dihalangi dengan pagar bambu oleh warga setempat. Itu maksudnya agar para pengendara yang melintas terhindar dari tergelincir ke jurang. Selama beberapa tahun sejak kompleks itu dibangun, sudah banyak korban yang terjungkal ke jurang. Pada siang hari, kalian bisa melihat bangkai-bangkal mobil dan motor di dasar jurang dalam kondisi mengenaskan. Para pemulung dan tukang loak banyak yang pernah mencoba turun ke jurang dan memunguti serpihan mobil atau motor yang laku di pasar barang bekas, namun mereka jarang yang benar-benar berhasil mendapatkannya. Mereka sering pergi cepat-cepat dan terburu-buru dari jurang tersebut dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran.
Namun Alex hapal betul jalanan di daerah itu. Dia setiap hari melakukannya selama bertahun-tahun tanpa mengalami satu kali pun terpeleset atau tergelincir. Lagi pula dia adalah seorang pengemudi yang terampil. Dia bahkan secara jumawa, mengklaim pernah melewati jalan itu dengan setengah tertidur dan sampai di rumahnya dalam keadaan selamat.
Jadi, aku dan dua teman yang lain sama sekali tidak punya alasan untuk merasa khawatir walau kini dia menyetir dengan setengah mabuk.
Alex melajukan kendaraannya dalam kecepatan rata-rata yang tenang dan stabil. Dia memang setengah mabuk, namun tangan dan kakinya sangat cekatan dalam mengemudikan kendaraan berroda empat ini. Sambil menyetir, dia ikut bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa bersama.
Kami menembus kabut tebal yang sudah biasa turun di daerah ini.
Pada saat kami tertawa-tawa dan bernyanyi-nyanyi, tenggelam dalam euforia kegembiraan yang absurd, tiba-tiba dari balik kabut, sebuah bayangan seorang anak SMA berkacamata muncul. Dia berdiri beberapa meter di depan moncong mobil persis di tengah-tengah jalan. Tubuhnya kurus, kecil dan pendek. Kedua tangannya yang putih pias memberi tanda stop. Menyuruh berhenti.
Alex dengan sangat gesit menginjak pedal rem dan menghentikan kendaraan secara mendadak. Namun ketika mobil berhenti, bayangan anak berkacamata itu tiba-tiba saja menghilang.
"Aku tidak mungkin menabraknya." Kata Alex.
Toni yang merupakan orang paling penakut di antara kami, tubuhnya mendadak gemetaran sehingga mobil menjadi bergoyang ke depan dan ke belakang.
"I... itu hantu anak itu... Lex... aku ingat kacamatanya" Katanya dengan nada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
Saat itu kami semua berada di bawah pengaruh tuak, tapi itu tidak berarti kami tidak paham apa yang ditakutkan Toni. Kami perlu beberapa gelas tegukan tuak lagi agar nyali kami tidak menjadi ciut.
"Sudah diam kau." Kata Ginting. "Memangnya kalau dia hantu, bisa apa dia... kau berhentilah gemetar... mobil ini jadi goyang-goyang..."
Tiba-tiba Alex mengangkat ke dua lengannya, melepaskan diri dari pegangan stir.
"Hey... tunggu sebentar..." Kata Alex, suaranya kini yang paling gemetar. Dia menyadari sesuatu.
"Mobil ini bergoyang-goyang karena bagian depan rodanya melewati batas jalan... kita hampir jatuh ke jurang!" Kata Alex dengan nada terkejut.
__ADS_1
Aku, Ginting dan Toni terperangah. Kami melongok ke depan dan melihat kedalaman jurang yang mengerikan melalui kaca depan mobil. Cahaya bulan yang semula disembunyikan awan, muncul secara mendadak dan menyinari dasar jurang yang sangat curam. Batu-batu yang tajam dan bangkai-bangkai mobil seperti bergerak melambai-lambai kepada kami.
"Hey kalian semua mundur... mundur semua mundur." Kata Alex ketika mobil terasa menjadi semakin condong ke depan.
"Hantu anak itu telah mencegah kita meloncat ke jurang... ha ha ha... ayo mundur, kita ke luar lewat pintu belakang." Kata Alex dengan gembira membuat kami semua merasa lega.
"Ternyata dia hantu yang baik." Seru Ginting ikut gembira "Tenang saja kalian semua tenang." Katanya sambil merayap menaiki sandaran jok mobil untuk pindah ke belakang. "Kita pasti selamat."
Alex menyusul Ginting dan akhirnya kami berempat berdesak-desakan di kursi belakang. Kini kami merasakan ban belakang mobil menapak ke tanah.
Kami semua merasa lega.
Namun aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sejak tadi aku berusaha membuka pintu belakang ini namun macet. Demikian juga dengan Toni. Usaha Ginting dan Alex untuk ikut bantu membuka juga sia-sia.
Alex memaki-maki sambil terus mencoba membuka pintu. Namun gagal. Sementara itu kabut mulai pergi dan di jendela kaca belakang itu kulihat dengan jelas si anak berkacamata tengah menyeringai.
Sepasang matanya menyala penuh dendam.
"Kalian harus matiiiiii!!!!"
Kami semua mendengar suara yang mengerikan itu.
Mobil pun bergetar digoyang-goyang dari luar. Kami menjadi sangat panik dan histeris, didera oleh rasa takut jatuh yang semakin mencekam. Kami berteriak dan saling mencaci serta melakukan gerakan-gerakan sia-sia untuk membuka pintu mobil yang macet.
Sementara si anak berkacamata itu tertawa-tawa dengan suara tawa yang melengking sambil terus menggoyang-goyangkan bagian belakang mobil.
Aku katakan sejujurnya kepada kalian, kepanikan itulah sebenarnya yang mempercepat proses tergulingnya mobil ini melayang jatuh.
Jurang itu sangat curam dan dalam. Penuh dengan batu-batu tajam.
Sebelum akhirnya kami mendengar suara ledakan yang sangat keras, aku masih sempat mendengar suara tawa si anak kacamata yang mengerikan.
BLAMMMM!!!!
__ADS_1
Semuanya pun berakhir. Tapi maut bukan akhir cerita, aku juga memiliki beberapa dendam yang harus kutuntaskan.***