
Malam itu aku sengaja bangun dan menyeduh kopi yang telah kusiapkan sejak kemarin. Kuletakkan handphone dan kuberdirikan di lemari makan, agar kamera yang kunyalakan dapat merekam detik-detik terakhir dalam hidupku. Lalu aku duduk menekur di kursi di depan meja makan yang sunyi, menghadapi cangkir kopi yang telah kuseduh itu. Airmata berlinang di pipi dan rasa putus asa yang dalam menjepit dadaku. Aku memikirkan perjalanan hidupku yang nelangsa dan berniat untuk mengakhiri hidupku saat itu.
Aku merasa, istriku telah berselingkuh dengan seseorang. Hatiku sungguh-sungguh terasa sakit dan jiwaku benar-benar terluka. Aku tidak bisa memahami mengapa dia berbuat seperti itu. Kami telah mengarungi mahligai rumah tangga yang bahagia selama 15 tahun dan aku tak bisa menerima kenyataan dia pergi meninggalkanku begitu saja. Salahku apa?
Dan anakku, satu-satunya buah kasih sayang kami, anak lelaki yang aku banggakan dan sangat aku sayangi. Dia juga pergi. Entah ke mana. Sudah satu bulan dia tidak pulang dan tidak pernah satu kali pun memberi kabar. Sebagai seorang ayah, aku telah berusaha menjalin diskusi dan keterbukaan dengannya. Agar kami dekat, agar kami saling berbagi sebagai ayah dan anak. Aku berusaha mendidiknya dengan baik dan penuh cinta kasih. Demi Tuhan, aku tidak pernah bersikap kasar kepadanya. Aku bahkan tidak pernah mencaci atau memakinya walau dia melakukan kesalahan yang sangat besar sekali pun. Tapi mengapa dia tiba-tiba pergi dan menghilang seperti ditelan bumi. Mengapa?
Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti.
Sementara di kantor, aku sedang diproses untuk dipecat. Aku dituding telah melakukan korupsi dan penggelapan uang ratusan milyar rupiah. Aku telah menandatangani surat-surat keputusan yang isinya sangat merugikan perusahaan. Ya, Tuhan. Itu semua fitnah. Aku telah bekerja selama 20 tahun dengan jujur, dedikasi yang tinggi dan loyalitas nyaris tanpa batas demi kemajuan perusahan.
Aku tidak pernah menanda tangani semua surat-surat itu.
Tidak. Demi Tuhan yang tiada berawal dan tiada berakhir; yang telah menciptakan kehidupan, yang menciptakan kematian dan hari pembalasan; Aku tidak pernah melakukan hal yang sangat menjijikan itu. Tidak. Tidak mungkin. Pekerjaan itu adalah hidupku, aku tak mungkin menghianati pekerjaanku. Itu sama saja dengan berhianat terhadap diriku sendiri. Terhadap hati nuraniku.
Tapi faktanya, jaksa telah menetapkan aku sebagai tahanan rumah dan aku akan diseret ke pengadilan dalam waktu dekat ini.
Ya Tuhan, hidupku telah hancur. Masa depanku musnah. Aku tak berniat melanjutkan hidup yang penuh kepedihan seperti ini. Aku ingin bunuh diri. Aku ingin segera menghadap ke haribaanMU dan memprotes semua ketidakadilanMU.
Apabila tindakan bunuh diri ini adalah sebuah dosa... Wahai Tuhan, aku tidak peduli. Setidak-tidaknya jika aku nanti mati dan menghadap kepadaMU, berilah sedikit penjelasan, mengapa? Mengapa semua ini terjadi? Mengapa aku tidak bisa memahami semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan? Mengapaaaaaa????
***
Aku terus menatap cangkir kopi itu. Buihnya yang tipis kecoklatan sungguh menggoda. Aku ingin menyesapnya dan mengakhiri seluruh penderitaanku. Namun sebelum itu aku lakukan, tiba-tiba kurasakan sebuah besi yang dingin dan tajam menempel di leherku.
"Diam, jangan bergerak!" Suara itu menyentakku dengan nada keras mengancam. Aku menoleh ke arah pemilik suara itu namun seketika besi tajam itu --sedikit dan tipis-- mengiris leherku. Darah pun menetes. Rasanya pedih dan perih. Tapi tidak sepedih dan seperih penderitaan jiwaku. Satu kali aku tekan saja sedalam beberapa mili meter, besi tajam yang ternyata adalah sebilah pisau kualitas terbaik itu, akan langsung memutus urat leherku.
Dan apabila pisau itu kemudian ditarik ke samping --baik secepat kilat atau secara lambat pelahan-- itu akan melubangi leherku dan menyebabkan darah menyembur dari tenggorokanku. Aku akan menggelepar-gelepar sebentar dan kemudian mati.
Ah... syukurlah, aku tak perlu bunuh diri. Ini akan mengurangi sedikit dosa. Aku memang ingin segera mati. Tetapi biarlah perampok itu yang membunuhku saja.
Aku melihat perampok itu mengenakan topeng masker kain berwarna hitam, sepasang matanya yang nyalang penuh kelicikan dan ketamakan menatapku dengan tajam.
"Sudah, jangan banyak cingcong. Bunuh saja aku." Kataku, pasrah.
Dari balik topengnya, dia tertawa menyeringai.
"Tidak secepat itu... he he he." Katanya. Dia dengan gesit menelikung tanganku ke belakang kursi dan mengikat kedua lenganku dengan menggunakan lakban. Lalu kedua pergelangan kakiku dililit juga dengan lakban hingga rapat dengan sangat keras ke kaki-kaki kursi.
Aku membiarkan kelakuan perampok itu tanpa melawan. Toh pada dasarnya aku ingin mati.
"Nah..." Kata Perampok itu. "Cepat atau lambat kau akan kubunuh mati. Sekarang kau katakan saja dengan terus terang dan sejujurnya, di mana kau simpan surat tanah warisan kakekmu seluas 10 hektar yang berlokasi di Jakarta Selatan?" Katanya.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu aku punya sertifikat tanah itu? Aku takkan menjualnya. Itu warisan turun temurun yang akan kupertahankan."
"Aku akan mencungkil matamu jika kau tak mengatakannya. Ayo, cepat. Di mana?"
"Ya, sudah. Toh cepat atau lambat aku akan mati. Kau jangan cungkil mataku, tapi tusuklah jantungku agar aku bisa mati dengan cepat."
"Aku janji aku akan membunumu dengan cepat jika kau mengatakan di mana sertifikat itu kau simpan." Perampok itu berkata dengan sedikit lunak. Mendengar suara itu, aku tiba-tiba teringat kepada sahabatku yang sekaligus rekan kerjaku di kantor. Nada suara dan intonasinya sangat mirip.
"Aku menyimpannya di dalam tas koper kulit warna coklat, di dalam lemari baju deretan paling bawah. Di bawah tumpukan selimut-selimut bekas."
Perampok itu bergerak dengan cepat dan masuk ke dalam kamarku. Beberapa saat kemudian dia ke luar dengan koper coklat itu.
"Berapa angka kombinasinya? Katakan dengan jujur."
"02-02-2002." Kataku.
Perampok itu tertawa. Suara tawanya benar-benar sangat familiar dengan telingaku. Mengapa suaranya sangat mirip dengan Hendra Budiman? Mana mungkin? Dia adalah sahabatku. Dia juga adalah rekan kerja sekantorku.
"Aku juga tahu kau memiliki emas batangan dan cincin berlian merah delima. Cepat katakan di mana kau menyimpannya?"
Aku menarik nafas berat. Mengapa aku semakin yakin dia adalah Hendra Budiman?
"Aku menyimpannya di dalam peti besi di atas loteng, kunci kombinasinya adalah 1234." Kataku menjawab dengan sejujurnya.
Sebelum duduk di sebrang meja di depanku, dia melepaskan tas ransel yang digendongnya. Meletakannya di meja. Dia memasukkan pisau yang tadi dipergunakan untuk mengancamku dan mengeluarkan pistol colt 1911. Dengan tenang dia memasang peredam pada ujung laras pistol lalu mengarahkannya tepat ke wajahku.
Sekarang aku yakin dia adalah Hendra Budiman. Sebab dialah satu-satunya orang yang pernah memintaku secara paksa menemaninya ke sebuah pasar gelap di wilayah Jakarta Timur untuk membeli pistol itu. Aku mengenal pistol itu dengan baik, aku pernah mengamatinya dari dekat dan secara seksama.
Waktu itu aku sempat bertanya kepada sahabatku, untuk apa kamu membeli pistol?
"Untuk menembak kening orang yang paling aku benci." Begitu jawabnya. Dulu.
Dari balik topeng maskernya, kulihat dengan jelas perampok itu tersenyum lebar. Dia mengurungkan niatnya untuk menembakku. Dia meletakan pistol itu di atas meja, memasukkan koper coklat dan emas batangan ke dalam tas ranselnya. Sedangkan cincin berlian merah delima itu dia kenakan di jari manisnya. Sejenak dia mengamat-amati cincin itu lalu terkekeh-kekeh tertawa.
Aku diam membeku. Tak bergerak. Aku terikat. Setelah ditinggalkan oleh keluargaku, dianggap penjahat oleh perusahaanku dan penegak hukum... sekarang sahabatku datang untuk merampok seluruh kekayaanku.
Tuhanku, alasan apalagi yang kuperlukan agar aku tak ingin mati. Agar aku tetap melanjutkan hidup sebagaimana orang-orang lain ingin melanjutkan hidup.
"Baiklah..." Katanya, "memakai atau tidak memakai topeng kau pasti sudah mengetahui siapa aku sebenarnya." Berkata begitu dia melepaskan topeng maskernya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Benar. Ternyata dia adalah Hendra Budiman.
"Kamu sudah tahu, pistol ini sangat mematikan. Colt 1911. Pistol legenda. Selama lebih dari 10 dekade dia menjadi salah satu mesin pembunuh manusia yang paling efektif. Dengan kecepatan 375 meter per detik, dalam jarak seperti ini --satu koma 2 meter-- peluru yang dimuntahkannya akan langsung melubangi keningmu hingga tembus melewati batok kepalamu dan kau akan mati dengan cara yang sangat cepat, tidak akan terasa sakitnya... he he he." Katanya dengan seringai yang licik.
__ADS_1
Dia mengeluarkan kemasan sebuah rokok filter, menjumput isinya satu batang. Dan menyalakannya. Dia lalu mengisapnya dengan kuat dan penuh kenikmatan. Dia menyemburkan asapnya ke wajahku.
"No no no... kau tidak perlu menatapku dengan keheranan seperti itu... jangan pula bertanya mengapa aku melakukan semua ini... no no no... kita telah bersahabat sejak SMA... kau selalu membantuku, selalu menolongku. Kau setia kawan. Kau selalu membelaku dengan cara yang bijak, padahal kau tahu aku dalam posisi bersalah...
Sahabatku, kau orang baik. Bahkan sangat baik. Bahkan aku bisa masuk kerja di perusahaan ini pun semua adalah karena jerih payahmu... kau... kau... sempurna!
*******!!!
Selama bertahun-tahun aku memendam kebencian ini karena kau tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan! Kau mengerti? Kau tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku ingin kau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu.
Ya, dan aku menjadi jijik kepadamu setelah kau menikahi perempuan itu. Pancaran wajahmu yang bahagia itu membuat aku semakin ingin membunuhmu. Aku ingin merenggut semua kebahagianmu.Dan juga kekayaanmu.
Kuhasut istrimu agar tak mematuhi laranganmu pergi ke luar malam, lalu kusekap dia di sebuah gudang tua yang terlupakan hingga akhirnya mati.
Kuculik anakmu dan kubunuh, lalu kukubur di halaman belakang rumahku.
Aku juga yang memalsukan tanda tanganmu sehingga perusahaan menjadi rugi ratusan milyar... ha ha ha... aku sekarang merasa bahagia. Aku bahagia bisa menyengsarakanmu sebagaimana kamu telah menyengsarakan hidupku selama bertahun-tahun.
Kamu tahu, aku lelaki sepenuhnya ketika kunyatakan cintaku kepadamu bertahun-tahun lalu di belakang sekolah. Tapi kau malah mentertawakanku. Kau katakan jiwaku sakit dan otakku tidak waras.
Tidak, jiwaku tidak sakit dan otakku waras, sangat waras.
Kau tahu aku mencintaimu dan kau sengaja menolakku. Dan karena itu kau harus mati. Kenapa? Karena aku tahu semua kebaikan yang kau lakukan kepadaku semata-mata hanyalah untuk menutupi kejijikanmu terhadapku.
Betul kan? Akui saja secara jujur bahwa kau memang jijik kepadaku. Ya, kau memang jijik kepadaku.
Sekarang baiklah, mari kita akhiri semuanya malam ini juga secara tuntas." Dia berkata dengan panjang lebar, lalu mengisap filternya kuat-kuat.
"Aku akan menembakmu di kening dan itu adalah kematian yang sangat cepat dan tidak menyakitkan." Katanya lagi.
Aku memejamkan mata. Pasrah. Harapanku cuma satu, seandainya aku mati, dia tak menemukan HP itu dan menghapus rekaman video yang sedang berlangsung saat itu. Aku berharap polisi akan menemukan HPku dan mengungkap semua kejahatan yang dilakukan oleh sahabatku.
"Di atas segala-galanya, kau sebenarnya adalah teman yang baik." Katanya dengan nada yang dingin dan penuh percaya diri. "Sebagai pengingat atas semua kebaikanmu selama hidupku serta derita dan rasa benci yang kau timbulkan dalam hatiku... aku akan mengangkat cangkir kopi ini untukmu." Katanya sambil meraih cangkir kopi yang berada di hadapanku.
Aku tiba-tiba gemetar menyadari apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Terimakasih aku ucapkan atas ratusan bahkan mungkin ribuan cangkir yang telah kau seduhkan untukku. Aku akan selalu mengingatmu sebagai penyeduh kopi terbaik di dunia." Katanya dengan senyum menyeringai penuh kemenangan. Dia kemudian menenggak kopi yang suhunya sudah menjadi hangat itu secara sekaligus.
Hanya dalam beberapa saat saja tiba-tiba matanya menjadi melotot, seakan-akan hendak meloncat ke luar. Tubuhnya kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan buih. Lalu dia tergeletak mati dalam keadaan sangat mengenaskan.
Dia tidak tahu, sejak awal aku berniat bunuh diri dengan meminum kopi yang telah kucampur dengan sianida itu. Ya, aku telah benar-benar berniat bunuh diri dengan meminum racun yang kuseduh ke dalam kopi.
__ADS_1
Tapi niat itu kini hilang sirna. Aku ingin hidup dan membawa rekaman itu ke polisi.***