Kumpulan Cerita Seram

Kumpulan Cerita Seram
episode 48 ( bunga anggrek dari pohon beringin tua part 1 )


__ADS_3

Pohon beringin tua itu sudah ratusan tahun tegak berdiri kokoh di seberang jalan depan kantor tempat aku bekerja sebagai penjaga malam. Dahannya yang besar serta daunnya yang rimbun tumbuh melebar menaungi sebagian jalan dari jilatan sang mentari di siang hari. Menurut cerita orangtuaku yang merupakan penduduk asli Kota Pangkalpinang, pohan beringin itu sudah ada sejak Bangka Belitung berstatus daerah keresidenan pada masa kolonial Belanda. Kala itu yang menjabat sebagai residen ialah A. J. N. Engelenberg.


Masih menurut cerita dari mulut orangtua aku juga. Dulu kantor instansi pemerintah tempat aku bekerja sebagai penjaga malam merupakan alun-alun bagian belakang dari rumah sang residen. Sekarang rumah itu tentu saja sudah mengalami beberapa kali renovasi dan berubah status menjadi rumah dinas walikota.


Masih menurut cerita dari mulut orangtua aku juga. Dulu kantor instansi pemerintah tempat aku bekerja sebagai penjaga malam merupakan alun-alun bagian belakang dari rumah sang residen. Sekarang rumah itu tentu saja sudah mengalami beberapa kali renovasi dan berubah status menjadi rumah dinas walikota.


Saat awal-awal aku bertugas sebagai penjaga malam, sering aku dengar tentang cerita-cerita ganjil berbau mistik tentang pohon beringin tua itu. Namun semua cerita itu hanya aku anggap angin lalu.


Pernah seorang tukang bakso angkringan yang warungnya terletak tidak jauh dari pohon itu bercerita kepadaku. Kala itu aku sedang nongkrong di warungnya untuk sekedar mengusir rasa bosan berada di dalam kantor. Aku juga menikmati semangkok bakso untuk mengusir rasa lapar yang menyerang rongga perutku. Kala itu udara malam terasa dingin merayapi kulitku, karena dari sore hingga menjelang malam tadi hujan lebat mengguyur bumi.

__ADS_1


Tukang bakso itu mengatakan kepadaku, bahwa dia pernah melihat seorang gadis berambut merah tembaga mirip gadis Belanda duduk menangis di bawah pohon itu. Sambil menangis gadis itu menutupi kedua matanya dengan tangan yang ditumpanginya di atas kedua lutut, sehingga tidak jelas bentuk dan rupa wajahnya.


Cerita tukang bakso itu hanya aku jawab sambil lalu, “Ooooh..,” sambil memasukkan pentol bakso ke mulutku. Aku tidak terlalu menggubris kata-katanya. Selain aku tidak terlalu tertarik dengan kisah semacam itu, karena menurutku cerita semacam itu hanya cocok untuk menakuti anak-anak agar tidak keluyuran di malam hari.


Di lain waktu, pernah juga seorang petugas Dinas Kebersihan yang sering menyapu jalan di depan kantorku pada saat menjelang fajar menampakkan wajahnya, bercerita kepadaku. Dia pernah melihat ular pyton besar melingkari pohon itu dari akar hingga ke ujung pohon yang paling tinggi. Sama halnya dengan cerita tukang bakso, cerita tukang sapu itu pun hanya aku jawab sambil lalu. Aku anggap cerita tukang sapu itu hanya untuk melemahkan nyaliku saja. Dia hanya ingin menakuti aku karena aku baru bekerja sebagai penjaga malam di situ.


Saat ini sudah sepuluh tahun aku bekerja sebagai petugas keamanan di kantor instansi pemerintah kota itu. Selama itu juga tidak sekali pun hal-hal ganjil yang aku alami berkaitan dengan pohon beringin tua itu. Padahal setiap pergi di malam hari dan pulang menjelang fajar aku selalu melewati pohon beringin tua itu. Hal itu pula yang menambah aku yakin, bahwa semua cerita horor tentang pohon itu hanya isapan jempol belaka.


Aku merapikan tirai jendela yang melambai-lambai dan kusut ditiup angin yang menyelusup lewat celah jendela yang sengaja aku buka sedikit. Suara hujan yang merambah atap kantor terdengar di liang telingaku bagaikan suara mesin pabrik pengolahan logam. Aku melongok ke arah halaman kantor melewati celah jendela yang kubuka sedikit. Di luar tampak hujan sangat lebat menghantam permukaan bumi beserta isinya. Angin bertiup kencang menyertai butir-butir bening yang menerjang gelapnya malam. Kilat menyambar-nyambar diiringi suara halilintar menggelegar. Sesekali kilatan cahayanya menerangi gelapnya malam. Dahan dan pohon beringin tua itu bergoyang ke sana kemari sehingga menimbulkan suara berderak. Daunnya yang rimbun dan sebagian sudah menguning, terbang berhamburan dan berserakan di atas jalan beraspal dan di halaman kantorku. Aku merasakan tempias air hujan menghantam kaca jendela kantor dan sebagian mengenai wajahku. Cepat cepat aku tutup jendela menguncinya rapat-rapat.

__ADS_1


aku matikan wifi karena aku khawatir jaringan internet akan terpengaruh oleh kilatan halilintar yang berkilauan mengerikan. Padahal aku juga tadi sedang asyik menyaksikan adegan film action dari layar laptop kepunyaan aku.


Tiba-tiba dari arah pohon beringin tua terdengar suara, Bummm…!” Suara itu terdengar keras, sekeras suara tembakan meriam di medan perang. Aku mengintip dari balik kaca jendela untuk memastikan apa yang terjadi di luar. Pandanganku aku arahkan ke tiga unit mobil dinas kantor yang terparkir di garasi. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan harta milik pemerintah daerah itu. Ternyata ketiga mobil dinas itu baik-baik saja.


Aku lihat ke arah pohon beringin tua. Sebagian dahan besar pohon beringin tua itu patah dan roboh di atas terotoar pinggir jalan. Untunglah robohnya sejajar dengan badan jalan, sehingga tidak menimpa bangunan atau pun pagar yang ada di dekatnya.


Adzan subuh berkumandang dari pengeras suara yang terpasang di menara masjid yang ada di kotaku. Aku meninggalkan kantor karena jam tugasku sebagai penjaga malam sudah usai. Udara dingin di luar kantor terasa nenusuk melalui pori-pori menembus daging dan tulangku. Tubuhku terasa menggigil. Aku merapatkan kancing jaketku hingga ke pangkal leher. Aku pulang dengan sepeda motor milikku satu-satunya.


Hujan semalam meninggalkan sampah plastik dan daun-daun yang berserakan di atas jalan yang beraspal. Sebagian pahlawan kebersihan sudah mulai beraktivitas menunaikan tugasnya membersihkan sampah-sampah yang berserakan itu. Sementara dahan besar pohon beringin tua yang roboh masih teronggok di tempatnya. Belum tampak adanya petugas dari Dinas Tata Kota untuk memberesinya dan memotong-motong dahannya, mungkin karena masih terlalu pagi.

__ADS_1


Saat sang surya sudah mulai menorehkan senyumnya di atas mayapada, aku kembali lagi ke tempat dahan besar pohon beringin tua yang roboh itu. Suasana jalan di bawah pohon beringin tua itu sudah tampak lebih terang dari hari-hari sebelumnya. Dengan robohnya salah satu dahan besar pohon itu, tidak bisa lagi menahan sebagian cahaya matahari yang menerobos. Ranting-ranting dan daun-daun rimbun dahan yang roboh itu, menyelimuti sebagian trotoar dan bibir jalan. Dahan dan ranting-ranting tua yang sudah rapuh, patah berserakan di sekitar tempat itu. Di tempat itu sudah tampak beberapa orang petugas dari Dinas Tata Kota dan satu unit mobil derek dan beberapa buah mesin senso. Mereka baru melakukan pengamatan di sekitar dahan besar yang patah itu, belum melaksanakan tindakan apa-apa untuk membereskan dahan pohon besar itu.


__ADS_2