
Syamsudin mulai merasa khawatir ketika dia melangkah ke luar dari pintu gerbang sekolah. Awan mendung menggumpal-gumpal dan angin terasa kencang. Langit gelap. Suara halilintar meledak beberapa kali di langit yang mulai gelap. Wajah siswa SMP Negeri Cikoneng kelas 8 itu tampak kaget. Tapi cuma sekilas.
"Aku harus bergegas pulang." Bisiknya pada diri sendiri. Dia menyesali mengapa dia lupa mengambil kantung plastik besar itu. Padahal ibunya sudah menyiapkannya di atas meja dan bahkan mengingatkannya jangan sampai lupa.
"Bila hujan turun lebat, bagaimana nasib buku-bukumu? bisa kuyup dan tak berguna kan? Kamu harus selalu menyiapkan kantung plastik ini untuk melindunginya dari air. Sekarang ini musim hujannya lebih lebat dari musim-musim kemarin." kata ibunya sambil melipat kantung plastik besar itu dan meletakkannya di atas meja. "Nanti, kalau Mamah ada uang, kita akan beli jas hujan satu lagi." katanya. Raut wajah sang ibu tampak beriak-riak oleh kesedihan yang mendalam.
Syamsudin mengangguk-angguk sambil mengerjakan soal terakhir PR yang tak sempat dikerjakannya semalam.
Usai sarapan, mereka pun berangkat. Ketika Samsudin turun dari motor matik dan pamit untuk masuk ke dalam gerbang sekolah yang terbuka, barulah dia ingat kantung plastik itu belum dia masukkan ke dalam tas sekolahnya. "Belajar yang serius ya biar pinter." Kata Ibunya sambil mencoba mencium kepala Syamsudin. Tapi gagal. Syamsudin mengelak karena malu dilihat teman-temannya. Ibunya kemudian melajukan motornya dan meninggalkan Syamsudin untuk pergi bekerja ke pabrik tekstil di Rancaekek.
Sebuah ledakan petir yang sangat menggetarkan diikuti tetesan gerimis, menandai langkah Syamsudin yang semakin cepat. Dalam hatinya dia sudah memutuskan untuk mengambil jalan pintas melalui kuburan tua itu. Seorang temannya yang bertubuh tinggi besar, Amir, menjajari langkah Syamsudin. Amir membungkus tubuhnya dengan jas hujan hitam bergaris putih di beberapa bagiannya. Sangat keren, pikir Syamsudin. "Ibu nanti akan membelikan jas hujan yang seperti itu." kata Syamsudin dalam hati. Dia tersenyum kepada Amir.
"Aku akan lewat jalan pintas. Kamu mau ikut?" Kata Syamsudin. Sambil terus jalan bergegas, Amir memandang Syamsudin dengan tatapan heran.
"Aku tidak mau lewat jalan itu, Syam. Aku tidak suka. Jalannya licin."
"Tidak, jalannya tidak licin, banyak rumputnya dan lebih dekat. Lewat situ, yuk!" Ajak Syamsudin.
Amir tidak menjawab. Wajahnya terlihat kecut dan bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa Amir ketakutan.
Kuburan tua itu di mata teman-temannya merupakan tempat yang angker dan menyeramkan. Amir, Hendra dan Ujang adalah teman satu sekolahnya --walau tidak sekelas-- dan sekaligus juga tetangganya; mereka meyakini bahwa kuburan tua itu adalah tempat tinggal para hantu, dedemit dan mahluk-mahluk halus lainnya. Oleh sebab itu, tempat itu sangat berbahaya.
Syamsudin pernah menceritakan kepada teman-temannya bahwa dia beberapa kali melintasi kuburan tua itu sendirian dan tidak terjadi apa-apa. Namun reaksi teman-temannya justru menuduh Syamsudin sengaja membual untuk dikatakan sebagai anak pemberani.
"Aku tidak pernah ingin membuktikan kalau aku adalah anak paling pemberani sekampung Cikoneng!" Balas Syamsudin dengan sebal waktu itu. Tetapi teman-temannya tetap tidak ada yang percaya pada ceritanya. Sejak itu, jika teman-temannya menceritakan keangkeran kuburan tua itu, Syamsudin hanya diam saja. Dia tak pernah mau bercerita apa-apa lagi tentang kuburan Cikoneng itu kecuali kepada ibunya.
Gerimis bertambah deras ketika Amir dan Syamsudin serta beberapa anak lainnya yang pulang sekolah dengan berjalan kaki, tiba di persimpangan jalan desa Cikoneng dan Cileutik. Tanpa menoleh dan ucapan selamat jalan, Amir langsung berbelok ke arah jalan desa Cikoneng sedangkan Syamsudin melangkah lurus ke arah jalan desa Cileutik. Bersama puluhan siswa lainnya yang bergegas pulang, Syamsudin melihat Amir berjalan di bawah gerimis menyusuri jalan desa Cikoneng yang sudah dicor dan melingkar sangat jauh, yang berjalan lurus cuma dia sendiri.
Jalan desa Cileutik lebarnya mungkin hanya dua meter, belum dicor. Keadaan aspalnya sudah menggembung dan mengelupas hampir di seluruh permukaannya. Di sebelah kanan jalan itu, terdapat hamparan kebun jagung dan ubi. Sedangkan di sebelah kiri, di mana kuburan tua itu berada, berjajar tanaman berdaun hijau muda agak berbulu dan berbunga kuning. Tanaman sejenis ini adalah tanaman liar yang banyak dijumpai tumbuh di desa Cikoneng dan sekitarnya. Tingginya bisa mencapai 2 meter setengah untuk pohon yang paling tua. Setelah itu mengering dan mati dan digantikan oleh pohon muda yang baru. Di antara jajaran tanaman berbunga kuning yang rapat itu, Syamsudin melihat ada sebuah celah yang bisa diterobos dan dilaluinya. Dia langsung berbelok dan menembus celah itu. Sepatunya sempat mematahkan beberapa dahan pohon kuning yang sudah tua dan tumbuh rendah dekat tanah.
Setelah melewati pohon kuning itu, Syamsudin menemukan semak-semak setinggi lutut tumbuh sepanjang hampir tujuh meter. Dia menembusnya ditemani hujan yang semakin deras dan rasa khawatir pada buku-bukunya yang mungkin akan menjadi sangat basah. Dia terus melangkah menuju sebuah pohon yang rimbun dan berdiri sejenak di bawah kerimbunannya. Syamsudin tahu ini adalah pohon nangka yang sudah sangat tua, yang merupakan batas pinggir area kuburan Cikoneng. Ini bukan satu-satunya pohon berdaun rimbun di area kuburan tua ini. Ada sejumlah pohon lain yang tumbuh bertebaran di berbagai titik di area kuburan yang luasnya lebih besar dari lapangan sepakbola bertaraf internasional ini.
"Sekarang semuanya sudah terlambat untuk mengkhawatirkan buku-buku ini, yang harus aku lakukan adalah secepatnya tiba di rumah." kata Syamsudin dalam hati sambil melayangkan pandangan ke sekitar area kuburan tua itu. Dia berhitung, dari pohon nangka ini dia akan berlari menuju pohon karet itu; yang juga merupakan pohon yang sudah tua dan lebat; berhenti sejenak di situ dan kemudian menuju pohon beringin yang terletak di tengah-tengah area kuburan. Jika hujan semakin lebat, dia akan berteduh di situ secukupnya dan meneruskan perjalanan menuju ujung pinggiran area kuburan ini yang diberi batas pagar anyaman bilah bambu yang renggang oleh pemilik kebun sebelahnya. Setelah melewati kebun itu, dia akan menemukan jalan desa Cikoneng dan dengan setengah berlari, dia akan sampai di rumah dengan selamat bersama buku-buku sekolahnya.
"Aku harus berhati-hati dengan nisan-nisan tua itu, jangan sampai tersandung." katanya dalam hati. Syamsudin dengan cermat memperhatikan rute terbaik mana yang bisa dilaluinya. Ini bukan kali pertama dia melintasi kuburan tua ini dan menghemat waktu 25 menit lebih cepat dibanding melalui jalan Cikoneng yang jauh melingkar itu. Dalam keadaan normal dengan udara cerah, melintasi kuburan tua ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang jelek. Suasana yang hening dengan nisan-nisan tua yang tampak kesepian, memang terasa agak ganjil. Pepohonan yang bertebaran di area itu seperti membeku dan bersedih. Keseraman yang muncul sebenarnya berasal dugaan-dugaan yang bodoh saja. Sedangkan bayangan-bayangan hitam yang sering kali berkelebatan, itu hanyalah ilusi. Tipuan pandangan mata.
Dulu, ketika kelas 7, terutama di minggu-minggu akhir semester 2, Syamsudin selalu pulang melintasi kuburan tua itu. Waktu itu terjadi kemarau yang cukup panjang. Cuaca sangat panas jika berjalan menyusuri jalan Cikoneng. Melintasi kuburan itu menghemat waktu dan adem oleh angin semilir yang membawa keharuman aneh yang berasal dari bunga-bunga kemboja.
Satu-satunya hal yang selalu mengurungkan Syamsudin pulang melalui jalan pintas itu adalah karena sepatunya akan cepat kotor. Jalan tanah yang dilaluinya di area kuburan dan kebun setelahnya, akan mewarnai sepatunya menjadi kecoklatan dan sebagian tanah itu menempel pada telapak sepatunya. Sebelum masuk rumah, dia harus menyikatnya terlebih dahulu sampai bersih. Kalau dia tidak melakukannya, makanya ibunyalah yang akan melakukannya. Ibu tidak akan mengomel atau mengatakan apa pun ketika membersihkan sepatunya. Tapi wajahnya yang letih dan helaan nafasnya yang berat ketika membersihkan sepatunya, membuat hati Syamsudin seperti teriris.
Sekarang, di bawah hujan, hamparan nisan-nisan tua dan rerumputan itu tampak segar, sama sekali tidak menyeramkan. Syamsudin segera berlari meninggalkan pohon nangka tua itu dengan cepat menuju pohon karet yang jaraknya berkisar 40 meter. Tapi ternyata, di bawah pohon karet itu ada seekor induk anjing kampung yang tengah menyusui tiga ekor anak-anaknya yang masih bayi. Induk anjing itu serentak berdiri, menggeram dan mengusir Syamsudin dengan gonggongannya. Sementara anak-anaknya menguik-nguik karena terlepas dari susu induknya. Mereka masih lapar.
Induk anjing itu menyalak dengan sangat keras. Posisi berdirinya siaga untuk menerkam sementara suara gonggongannya seperti membahana menembus hujan. Sepasang mata si induk anjing tampak nyalang menyala dan taring-taringnya tajam mengancam siapa pun yang datang mengganggu dirinya dan anak-anaknya.
Syamsudin terintimidasi oleh gonggongan itu. Raut wajah lelaki berumur 13 tahun setengah ini, beriak-riak antara takut dan kasihan. Dia tidak bermaksud mengganggu anjing-anjing itu tapi jika induk anjing itu menerkam, dia akan melawannya. Syamsudin berjanji tak akan melukainya. Dia merasa sangat kasihan sebenarnya. Induk anjing itu kelihatan sangat kurus dan kerempeng karena kekurangan makanan. Andai dia punya tulang bekas bakso yang dibeli ibunya di ujung desa, tentu Syamsudin sudah melemparkannya untuk induk anjing itu.
Syamsudin segera mengurungkan niatnya berhenti di pohon karet itu dan meneruskan langkahnya yang berlari ke arah pohon beringin. Kalau ada anjing kampung lain yang berteduh di situ, maka tidak ada jalan lain bagi Syamsudin untuk terus berlari hingga tiba di ujung pinggir area pekuburan, menembus kebun dan langsung pulang, baik hujannya semakin lebat atau pun tidak. Demikianlah Syamsudin memutuskan dalam hatinya.
Syamsudin berlari dengan cepat. Sepasang kakinya yang panjang, sangat lincah menghindari batu-batu nisan. Di antara guyuran hujan yang semakin deras, bayangan baju seragam putihnya nampak berkelebat melintasi nisan-nisan yang kaku tak bergerak.
Tiba di bawah pohon beringin itu Syamsudin merasa bersyukur. Tidak ada anjing kampung di situ yang sedang berteduh dan dia menghela nafasnya yang masih tersengal. Sekilas dia melihat berbagai kelebatan bayangan-bayangan hitam di antara derai hujan dan nisan-nisan yang kaku. Itu mungkin bayangan-bayangan anjing kampung yang berlarian mencari tempat berteduh. Mungkin. Tapi Syamsudin tidak merasa yakin.
Hujan ternyata semakin bertambah lebat dan deras. Syamsudin melepas tas sekolah ranselnya itu dari gendongan punggungnya. Tasnya basah. Tapi air belum tembus benar dan membasahi buku-bukunya. Dia kemudian menggendong tas itu dengan cara terbalik. Sambil berteduh, dia memeluk tasnya. Dia akan berlari sambil memeluk tasnya, dengan cara berlari agak membungkuk, dia yakin bisa melindungi buku-bukunya dari serbuan hujan. Setidak-tidaknya, dia bisa meminimalisasi kadar basahnya dengan cara seperti itu.
Sekejap Syamsudin mengawasi batang pohon beringin yang sangat besar dan tua itu. Panjang diameter batang pohon itu mungkin sekitar satu atau dua meter dan kelilingnya mungkin sekitar empat atau lima rentangan tangan orang dewasa yang melingkar. Batang pohon beringin ini sangat besar sekali. Saat Syamsudin menengadah, dahan-dahannya tampak berseliweran seperti tak teratur di mana daun-daun itu tumbuh dengan sangat rapat. Air hujan pun tak sanggup menembusnya. Jika dilihat dari kejauhan, batang pohon beringin yang besar dan kokoh serta dahan-dahannya yang ditumbuhi dedaunan yang lebat ini, tampak seperti membentuk payung raksasa.
Menurut cerita orang-orang tua kampung Cikoneng, pohon beringin yang sangat besar ini sudah ada bahkan sebelum kampung Cikoneng dihuni oleh penduduk pertama yang menetap; yaitu mereka yang pindah dari berbagai kampung sekitar dan tinggal di daerah Cikoneng sejak zaman sebelum perang kemerdekaan.
Para orang tua kampung itu menceritakan bahwa sebelum dijadikan area kuburan, tanah seluas 5 Hektar itu asalnya adalah padang ilalang yang sangat tinggi. Tidak ada sesuatu pepohonan pun di sana kecuali pohon beringin itu. Ia berdiri dengan sangat gagah dan kokoh; dan apabila angin gunung bertiup kencang, seluruh hamparan ilalang melambai menari-nari; seakan-akan mereka sedang menyembah pohon beringin tersebut dengan riang gembira dan khusuk.
Sebagian orang-orang tua zaman dulu pernah mencoba menjadikan area kuburan ini menjadi kebun jagung; mereka sangat aneh karena tak ada satu pun pohon jagung yang tumbuh dengan baik. Demikian juga ketika ditanami singkong. Konon, singkong yang dihasilkan kecil-kecil dan beracun.
Kemudian ketika penduduk sekitar semakin bertambah banyak dan membentuk kampung-kampung kecil yang berkembang mengelilingi area kuburan ini, banyak peristiwa menyeramkan yang terjadi di area kuburan ini. Seperti pembuangan mayat orang yang tak dikenal, pembunuhan-pembunuhan misterius tak terpecahkan, pemerkosaan dan beberapa kasus gantung diri. Semuanya terjadi sejak tahun 1980-an; jauh sebelum Syamsudin dilahirkan.
Syamsudin sendiri dilahirkan di penghujung bulan Desember. Tahun 1998.
Hujan deras tampaknya tidak akan segera reda, bahkan mungkin akan bertambah lebat. Halilintar yang meledak-ledak menciutkan hati Syamsudin, ditambah lagi dengan pikiran liar tentang cerita-cerita seram yang sering diumbar teman-temannya; menari-nari di dalam kepalanya seperti tak bisa dihentikan; membuat Syamsudin merasa gelisah dan akal sehatnya memutuskan untuk segera bersiap-siap berlari menembus hujan.
Jantung Syamsudin tiba-tiba berdebar keras ketika perasaannya mengatakan sepertinya ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
"Ini cuma perasaanku saja." Katanya menghibur diri. "Tidak ada apa pun di sini selain nisan-nisan yang tak bergerak... dan angin yang berkesiur resah di kejauhan..."
Tubuh Syamsudin gemetar. Mungkin karena kedinginan. Dia telah merasa cukup beristirahat dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk berlari... tiba-tiba terdengar suara orang berbicara dengan sangat jelas. Hatinya langsung mencelos dan lututnya lunglai.
"Masa kamu tidak dengar suara gonggongan anjing tadi?" Terdengar suara dalam bahasa Sunda yang kasar. Suara itu terdengar keras.
__ADS_1
"Ah... itu pasti suara manusia." Kata Syamsudin dalam hatinya. Keberaniannya bangkit kembali dan dia mengurungkan niatnya untuk berlari. Syamsudin menoleh ke arah samping kiri dari mana sumber suara iu berasal. Terlihat oleh Syamsudin ada dua orang lelaki sedang berjalan berendengan menuju pohon beringin ini. Mereka masing-masing membawa sebuah buntalan sarung. Buntalan itu diikatkan pada sebilah bambu utuh sepanjang kurang lebih satu meter dan dipanggul di atas pundaknya masing-masing.
Deg!
Syamsudin mengenal ke dua orang laki-laki itu. Yang satu bernama Mang Oding, tukang Ojek yang biasa mangkal di Pangkalan Cikoneng, yang satunya lagi Pak Kodir. Mereka adalah menantu dan mertua. Mereka tinggal di RT 5. Syamsudin sendiri tinggal di RT 2.
"Ya, tapi bapak juga tidak percaya aku tadi melihat bayangan putih berkelebat." Kata Mang Oding dalam bahasa Sunda yang sama kasarnya.
Syamsudin memepetkan badannya pada batang pohon beringin yang besar itu dan menahan nafas. Dia tidak menyukai ke dua orang itu. Mereka adalah para penjahat. Mereka adalah sampah masyarakat. Semua penduduk Kampung Cikoneng, Cileutik, Ciloa dan kampung-kampung lainnya juga tahu. Kedua orang menantu dan mertua itu adalah para kriminal yang menjadi buah bibir karena sering berurusan dengan polisi. Mereka adalah para pelaku tindak kejahatan. "Mau apa mereka ke sini?" Bisik Syamsudin dalam hatinya.
"Hah, sudahlah!" Pak Kodir berkata dengan setengah membentak. "Cepat atau lambat polisi-polisi itu akan menyatroni dan menggerebek rumah kita." Tambah Pak Kodir dengan suara getas.
Mereka akhirnya tiba di bawah pohon beringin dan menurunkan bebannya masing-masing. Jantung Syamsudin berdetak kencang. Kedua orang itu tidak menyadari kehadirannya di depan punggung mereka, di balik batang pohon beringin.
"Kita sembunyikan dulu semuanya di sini, sampai tiba waktu yang aman." Kata Pak Kodir.
"Uangnya juga Pak?" Tanya Mang Oding.
"Semuanya!"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapi. Kamu jangan bersikap *****. Sudah, nurut saja!" Pak Kodir berkata tegas. "Tidak akan ada seorang pun yang tahu kita menyembunyikan semuanya di sini. Kecuali kita berdua... ha ha ha." Pak Kodir tertawa bekakahan. "Sekarang ayo kita ke kuburan itu."
Pak Kodir kemudian melangkah menembus hujan dan mendekati sebuah kuburan yang terletak tidak jauh dari pohon beringin, diikuti oleh Mang Oding.
Syamsudin dengan jantung terus berdegup kencang, mengawasi mereka. Dia melihat Pak Kodir dan Mang Oding mencongkel tembok nisan kuburan itu dengan bambu yang mereka bawa. Lempengan tembok nisan itu pun terangkat miring. Kedua bilah bambu utuh itu digunakan untuk menahan lempengan tembok nisan itu agar tidak jatuh dan menangkup lagi ke tanah. Begitu tembok nisan itu terangkat, berloncatanlah tikus-tikus dari dalam tanah karena terkejut. Kedua orang anak menantu dan mertua itu mengeluarkan cacian dan makian yang belum pernah didengar Syamsudin selama hidupnya.
"Tuh kamu lihat sendiri kan, hasil curian kita yang di toko emas itu masih ada di sini... he he he...kamu jangan khawatir... ini tempat terbaik untuk menyembunyikan hasil pekerjaan kita." Kata Pak Kodir dengan suara gembira.
Mereka kemudian menggunakan bambu itu sebagai pengungkit untuk memperbesar celah tembok nisan, di antara keremangan deras hujan, Syamsudin bisa melihat bahwa di bawah tembok nisan itu terdapat suatu lubang yang cukup besar. Mereka kemudian memasukkan ke dua buntalan itu ke dalam lubang di bawah lempengan tembok nisan itu. Menjejalkannya dengan kuat karena ternyata kedua buntalan itu cukup besar sehingga memenuhi lubang itu. Tangan-tangan mereka dengan cekatan merapikan kedua buntalan itu hingga masuk seluruhnya dan rata dengan permukaan tanah. Kemudian mereka secara bersamaan menarik ke dua bilah bambu itu sehingga lempengan tembok nisan itu menangkup kembali seperti semula.
Seperti tidak puas, Pak Kodir dan Mang Oding kemudian memperbaiki rumput-rumput liar yang tumbuh di sekeliling tembok nisan itu sehingga tampak seakan-akan rumput-rumput liar itu tidak pernah tersentuh oleh tangan-tangan manusia mana pun.
Syamsudin terpana.
Ternyata penjahat-penjahat itu menyembunyikan hasil kejahatannya di dalam kuburan!
Merasa puas dengan hasil pekerjaannya, Pak Kodir dan Mang Oding kemudian melangkah menuju ke bawah pohon beringin.
"Sebulan dua bulan... atau mungkin juga setahun... siapa yang tahu, kalau polisi-polisi itu sudah tidak mencurigai kita... kita akan bagi dua secara adil. Kamu dengar, Oding? Kita akan bagi secara adil."
"Tidak Bisa!!!" Teriak Pak Kodir. "Aku pernah berbuat ***** dengan sikap tidak sabar seperti itu... Tidak. Aku tidak mau masuk bui lagi. Ingat Oding, kesabaran adalah kunci segalanya. Kita harus lebih cerdik dari polisi-polisi itu... mereka adalah orang-orang pintar. Jangan anggap remeh!" Kata Pak Kodir. "Cepat atau lambat, bila waktunya tiba, kita akan menjadi orang kaya. Tapi tidak di kampung ini... ha ha ha... kita pindah ke Garut Selatan dan menjadi orang terpandang di sana... ha ha ha... Ayo, sekarang kita pulang!"
Syamsudin menyaksikan kedua orang anak menantu dan mertua itu berjalan di bawah hujan ke arah dari mana mereka tadi datang. Setelah agak jauh, Syamsudin sempat melihat kedua orang itu melemparkan bambu secara sembarangan ke semak-semak.
Syamsudin terdiam. Dia kini benar-benar tidak merasakan ketakutan apa-apa lagi. Kepala lelaki kecil itu kini dipenuhi keyakinan bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan dengan akal sehat. Di kuburan itu tidak ada hantu apa pun, yang ada adalah kejahatan manusia.
Ketika hujan benar-benar reda dan matahari bersinar terang tanpa terhalang awan hitam, Syamsudin meninggalkan pohon beringin itu dengan langkah tenang menyusuri jalan pulang dengan hati ringan.
Begitu sampai di rumah, dia segera menyikat sepatunya yang kotor serta mencuci seragamnya yang basah lalu mengeringkannya di dapur. Sore hari, saat Ibunya pulang, Syamsudin sudah menduga ibunya akan mengomel.
"Kamu pasti lupa membawa plastik besar yang Mamah siapkan, ya kan?" Katanya usai memarkir motor di teras. "Tasnya disikat saja luarnya dan ini bajunya, kenapa sih kamu sukanya menggantung baju basah di dapur?"
"Biar cepet kering, Mah."
"Kamu tadi lewat kuburan ya? Sepatumu masih kotor. Sikat lagi bagian bawahnya!"
"Mah, waktu lewat kuburan tadi Syam lihat Pak Kodir sama mang Oding menyembunyikan hasil curian mereka di bawah kuburan." Kata Syamsudin sambil menyikat bagian bawah sepatunya yang masih menyisakan kotoran tanah berwarna kecoklatan. "Syam melihatnya dari balik pohon beringin besar itu," katanya lagi sambil menunduk memperhatikan telapak sepatunya yang ternyata memang masih kotor.
Syamsudin tidak melihat bagaimana ekspresi wajah ibunya yang sangat terkejut dengan sepasang matanya membelalak lebar. Tapi hanya sebentar.
"Mereka mencongkel tembok nisan dengan bambu, Mah. Terus memasukkan buntalan curian itu ke dalam lubang yang ada di bawahnya."
"Bodo amat." Kata Mamah. "Ngapain juga kamu ngintip orang dari balik pohon."
"Syam enggak sengaja ngelihatin, Mah. Hujannya lebat sekali, Syam berteduh menunggu reda... tapi mereka enggak tahu kok kalau Syam ngelihatin kelakuan mereka."
"Kalau mereka tau, kamu enggak akan pulang dalam keadaan selamat. Mereka itu penjahat, ngerti enggak Syam? Kamu bisa saja digebukin pake bambu sampai mati dan mayatmu dimasukkan ke dalam lubang kuburan yang nganggur. Mamah enggak suka kamu pulang lewat kuburan itu lagi." Kata Mamah dengan raut wajah datar namun nada kerasnya tidak terdengar marah.
"Kamu harus janji, mulai besok kamu tidak akan lewat kuburan itu lagi." Kata Mamah.
"Kenapa, Mah?"
"Pokoknya kamu harus janji."
__ADS_1
"Iya kenapa? Mamah takut Syam digondol hantu?" Tanya Syamsudin dengan nada tidak terima.
Mamah diam saja lalu pergi ke kamarnya dan menutupkan pintu dengan keras. Beberapa detik kemudian Syamsudin mendengar suara isak tangis dari dalam kamar.
Syamsudin merasa bersalah. Dia mendekati pintu dan mengetuknya perlahan.
"Mah... mamah..."
"Enggak usah ketuk-ketuk... seandainya ayahmu masih ada, tentu kamu tidak akan berani membantah Mamah... kamu dengar, Syam... setiap kali kamu membantah, hati Mamah sakiiiittt sekali. Sudahlah. Mamah terima nasib ini dengan ikhlas...." Terdengar suara Mamah dari dalam kamar sambil terisak-isak.
"Mah... Jangan nangis, Mah. Syam janji tidak akan lewat kuburan itu lagi."
"Kamu juga harus janji tidak menceritakan apa pun yang kamu lihat di sana."
"I ya, Mah. Syam janji. Tapi Mamah jangan nangis terus."
Hening.
Tidak ada jawaban.
Syamsudin menempelkan telinganya pada daun pintu, setelah yakin Mamah tidak menangis, Syam masuk ke kamarnya sendiri dan berjanji dalam hati untuk tidak lewat kuburan itu lagi.
Sementara itu, di dalam kamar, Mamah tidak sedang menangis. Dia hanya berpura-pura terisak-isak dengan keras sementara sepasang matanya bersinar terang dengan senyum menyeringai.
***
Kurang lebih satu bulan setelah peristiwa itu, Syamsudin mendengar kabar bahwa Mang Oding mati gantung diri di pohon nangka di kuburan tua Cikoneng. Pohon di mana dia pernah berteduh dulu ketika hujan.
Menurut desas desus warga, Mang Oding gantung diri karena sering bertengkar dengan mertuanya dan istrinya menginginkan untuk bercerai. Selain itu, Mang Oding juga diduga oleh polisi sebagai salah satu pelaku perampokan bersenjata di rumah pegadaian terbesar di Bandung Timur serta di sejumlah toko emas di sekitar Cileunyi dan Ujungberung. Sampai dengan saat ini, kasus perampokan itu belum terpecahkan.
Konon, polisi kesulitan memecahkan kasus perampokan itu karena orang-orang yang diduga menjadi pelakunya satu demi satu mati dengan cara mengenaskan. Bahkan seminggu setelah Mang Oding gantung diri, orang yang diduga keras sebagai otak perampokan itu, Pak Kodir, juga ditemukan mati tergeletak di jalan desa Cikoneng. Menurut hasil autopsi dokter, katanya, pria nahas berumur 51 tahun itu secara tiba-tiba mendapat serangan jantung hebat setelah berjalan-jalan di kuburan tua itu. Sedangkan menurut kesaksian warga, selama beberapa hari sebelum kematiannya, Pak Kodir bolak-balik masuk ke dalam kuburan sambil membawa golok. Dia berteriak-teriak di bawah pohon beringin dan menantang hantu-hantu yang ada di tempat itu untuk berkelahi.
Dalam teriakannya yang sompral ketika menantang hantu-hantu itu berkelahi, Pak Kodir menuntut agar hantu-hantu itu mengembalikan harta kekayaan miliknya. Warga yang menyaksikan kelakuan Pak Kodir berkesimpulan bahwa lelaki setengah baya itu berubah menjadi tidak waras alias gila.
Syamsudin sendiri sejak berjanji kepada ibunya, dia tidak pernah lagi melewati kuburan itu sebagai jalan pintas. Dia juga tidak berkomentar apa pun ketika teman-temannya menceritakan bahwa kuburan Cikoneng itu kini menjadi semakin angker dan seram.
Setelah kematian Pak Kodir, ibunya memutuskan menerima PHK dari pabrik tekstil di mana dia telah bekerja selama kurang lebih 10 tahun. Ibunya mendapat pesangon yang cukup besar dan membuka warung sembako (sembilan bahan pokok) yang terbilang lengkap untuk ukuran sebuah desa.
Warung sembako itu kemudian terkenal dengan nama Warung Mamah Udin. Warung itu sangat laku diserbu pembeli karena harga barang-barangnya lebih murah dari warung-warung sejenis yang telah ada sebelumnya. Selain itu, untuk sejumlah alasan yang kuat, Warung Mamah Udin memperbolehkan para tetangga dan pembeli yang berasal dari berbagai kampung sekitar untuk mengutang.
Semua utang piutang itu dicatat dan diadministrasikan dengan baik oleh Mamah Udin, sehingga sangat jarang terjadi perselisihan.
Setelah Syamsudin lulus dari SMP Cikoneng dan meneruskan ke SMA Negeri Cileunyi, Mamah mengembangkan usahanya dengan menambah beberapa barang perabot dapur yang bisa dibeli dengan cara dicicil.
Meskipun Syamsudin kagum akan kecerdikan ibunya dan kejeliannya terhadap peluang usaha, namun secara diam-diam Syamsudin mempertanyakan dari mana ibunya mendapat suntikan modal yang cukup besar itu. Sistem jual beli dengan cara kredit membutuhkan dukungan dana yang besar, kuat dan stabil. Kalau tidak, bisa bangkrut. Namun apabila Syamsudin menanyakan hal itu, Mamah malah tertawa.
"Syam, coba kamu hitung." Kata Mamah, "berapa Mamah punya tambahan modal setiap bulan jika ada 150 orang pelanggan membayar utang mereka yang rata-rata sebesar 500 ribu rupiah? Hayo, coba tebak?"
"Mm... anu Mah, tapi...modal itu kan dari mana?" Kata Syamsudin setengah gugup.
"Jangan pake anu atau tapi...Mamah mendapatkan 75 juta rupiah per bulan! Hebat kan? Kalau kamu enggak percaya coba kamu cek dan lihat sendiri buku catatan neraca rugi laba Warung kita ... kamu pasti terkejut." Kata Ibunya dengan tersenyum. "Mamah tahu kamu tidak berbakat dalam hitungan dan akuntansi... sejak dulu kamu ingin mempelajari Antropologi. Mamah tau. Sudah, enggak perlu khawatir. Kamu jangan pikirin warung... pikirin saja mengapa orang-orang di kampung kita sangat percaya dengan hantu!" Kata Mamah sambil tertawa kecil.
Sebelum menutup pembicaraan itu, Mamah berkata dengan nada riang, "Syam, dengarlah! Setiap orang memiliki bakatnya masing-masing, ada yang pandai berhitung seperti Mamah, ada yang jago melukis, ada yang pandai mengarang, ada yang bakatnya dalam bidang olahraga... nah, kamu, bakatmu itu di bidang kebudayaan atau bahkan mungkin di bidang psikologi. Kamu fokus saja di situ, kembangkanlah kelebihanmu... jika itu kamu lakukan Mamah yakin kamu pasti akan jadi orang hebat."
Syamsudin pun terdiam. Mulai sejak itu dia tidak lagi mengungkit-ungkit soal dari mana Mamah mendapatkan modal.
***
Syamsudin memang tidak tahu, setelah dia menceritakan peristiwa yang dilihatnya di balik pohon beringin itu, Mamah menjadi sangat gelisah. Sebab Mamah tahu Oding dan Kodir itu adalah penjahat busuk. Benar-benar busuk. Mamah selalu teringat ketika berada di rumah sakit; saat dia menunggui Kang Ujang --suaminya-- dalam kondisi sangat kritis, berkali-kali Kang Ujang berbisik ke telinganya bahwa Oding dan Kodirlah pelakunya. Merekalah yang mencegat Kang Ujang malam itu di pengkolan jalan Cikoneng yang gelap dan sepi ketika Kang Ujang pulang dari lembur, merampas motornya dan menyabetnya dengan golok di bagian perut. Walau sempat dilarikan ke rumah sakit Ujung Berung oleh warga yang kebetulan lewat, namun kang Ujang gagal selamat dari maut.
Mamah tidak mungkin melupakan apa yang diucapkan sang suami di penghujung hidupnya. Mamah sudah melaporkan hal itu kepada polisi, tapi para polisi tidak menemukan bukti apa pun. Tidak juga saksi.
Syamsudin juga tidak tahu, ketika sore tenggelam digantikan malam, dan hujan turun lagi dengan lebih deras; Mamah membuatkan teh manis hangat untuk Syam --dicampur obat tidur. Sehingga Syamsudin terlelap sampai pagi, bahkan bangun kesiangan.
Saat Syam terlelap itu, Mamah mengenakan jas hujan sambil membawa linggis dan senter kecil. Secara diam-diam Mamah menembus hujan dan menyusuri pinggiran jalan yang sunyi secara berhati-hati agar tidak ketahuan oleh warga. Lalu menembus kebun dan memasuki area kuburan yang gelap menuju pohon beringin itu.
Pada siang hari, kuburan itu terasa seram dan angker. Tetapi pada malam hari dan kondisi hujan lebat, suasana kuburan itu benar-benar mengerikan dan tak terduga. Seribu satu kemungkinan selalu bisa terjadi di dalam kegelapan.
Apakah Mamah takut? Ya. Dia ketakutan setengah mati. Berkali-kali dia pipis di celana. Tetapi hati seorang perempuan yang penuh dendam itu, ternyata mampu mengalahkan segala jenis ketakutan.
Dengan berpatokan pada pohon beringin itu, Mamah akhirnya berhasil menemukan kuburan di mana harta curian itu disembunyikan. Mendongkel tembok nisan dengan mengerahkan seluruh tenaga menggunakan linggis dan mengambil semua harta hasil rampokan itu.
Entah dari mana datangnya semua kekuatan untuk mendongkel tembok nisan yang beratnya paling sedikit 100 kg. Mamah juga tidak tahu. Setelah dengan susah payah mengembalikan tembok nisan itu pada tempatnya semula, Mamah pun pulang.
Mamah tersenyum puas melihat harta hasil rampokan itu: uang ratusan juta dan ratusan perhiasan emas aneka jenis berupa gelang, cincin, kalung dan anting.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa membalaskan sakit hati kematian suamiku!" Katanya dalam hati sambil merapikan dan menyembunyikan semua harta hasil curian itu di dalam lemari baju. "Aku akan menemukan cara yang paling cerdik untuk menggunakan semua harta kekayaan ini sehingga orang tidak akan curiga. Aku pasti menemukan caranya." Kata Mamah dengan penuh keyakinan.
Namun Mamah juga tidak tahu bahwa sejak dia memutuskan pergi ke kuburan itu, Kang Ujang selalu berada bersamanya. Bahkan dia kini sedang terkekeh-kekeh disudut kamar. Sayangnya, hanya Cicak dan Tokek saja yang bisa mendengarkan suara kekehan tawa itu dengan jelas.***