
Ini kuncinya, Mas.”
Aku langsung mengambil kunci yang berada di genggaman resepsionis. Tubuhku terasa lelah setelah sehari berpergian.
Kubuka pintu kamar hotel dengan tergesa-gesa dan masuk ke dalam. Kasur lembut plus selimut tebal semakin membuatku nyaman.
Malam ini adalah malam pertama aku pulang ke Indonesia, sepertinya sudah 3 tahun lebih aku bersekolah di Jerman.
“Cerita horor?” tanyaku pada diri sendiri saat aku membuka aplikasi berlogo ‘f’ milik Asep Zuckerberg.
Jariku men-scroll beranda hingga menemukan satu cerita horor yang mengisahkan tentang Daruma-san. Nama hantu itu sangat familiar di telingaku.
__ADS_1
“Bermain petak umpet dengan Daruma-san?” Lagi-lagi aku bertanya sendiri.
menaruh handphone di atas nakas, lalu memikirkan cerita yang kubaca tadi.
“Layak dicoba,” gumamku dalam hati.
Tepat pukul 00.00, aku pergi ke kamar mandi menyiapkan air untuk berendam di bath tub. Sesuai rencanaku tadi, aku akan mencoba bermain petak umpet dengan hantu asal Jepang.
Semua ini sudah kupikirkan matang-matang, tak lupa juga untuk membaca setiap instruksi yang telah dijelaskan oleh salah satu author di grup.
Mantra sudah kuucapkan, tinggal tahap terakhir. Aku melangkah bergemetar menuju kasur, masih dengan mata terpejam dan kedua tangan menutupi wajah. Itu memang sesuai instruksi.
__ADS_1
Aku berusaha agar tertidur lelap. Menurut penuturan author tadi, katanya sih tunggu saja sampai esok pagi, pasti Daruma-san akan datang. Jadi, ya sudahlah aku pasrah menunggu meski tak ada kepastian, eakk.
Keesokan paginya…
“Mas Aldi! Ini ada surat dari seseorang, saya ga tau siapa yang kirim.”
Kepalaku menoleh seketika kala seorang wanita mengejarku yang baru saja ingin memasuki mobil.
Aku membuka amplop pemberian wanita tadi, di dalamnya terdapat secarik kertas.
“Hei bro! Maaf ga bisa dateng nih, sekarang gue lagi liburan sama Mbak Sadako dan Teteh Kayako. Lumayan mumpung di Bali, jadi mampir ke pantai deh. Kemarin malam lu manggil gue ‘kan? Sorry banget ya bro.” Aku mencoba mencerna setiap kata yang tertulis di kertas.
__ADS_1
Mataku terbelalak membaca nama pengirim di bagian paling bawah, “Salam manis untuk lu dari Daruma-san.”
Hanya penulis amatir yang suka berkhayal. Quotes hari ini: “Jangan berharap ceritamu akan terkenal. Berharap lah semoga ceritamu bisa menghibur, walau hanya sedikit yang membacanya.”