Kumpulan Cerita Seram

Kumpulan Cerita Seram
FIRASAT TARGET KE-13


__ADS_3

Setelah berhari-hari melakukan pencarian, akhirnya aku menemukan gadis itu di sebuah kafe. Dia sempurna. Memiliki wajah oriental yang manis, keibuan dan tampak rapuh. Rambutnya lurus dipotong pendek setengkuk, kulitnya putih dengan bulu-bulu halus tumbuh di kuduk dan kedua lengannya. Hidungnya runcing dengan sepasang mata bulat yang bening. Persis seperti yang dikatakan oleh klienku.


Di kafe itu dia sedang menunggu seseorang. Aku tahu.


Dari ekspresi wajahnya, dia terlihat duduk dengan kesal dan gelisah di meja paling ujung itu. Sambil memainkan smartphone, berkali-kali wajahnya menoleh ke arah pintu kafe. Dia memesan meja couple itu sejak satu jam yang lalu dan telah menghabiskan hidangan pembuka berupa segelas besar jus alpukat.


Sebelum akhirnya dia memesan hidangan utama, aku telah duduk manis di meja yang terletak persis di depannya dan langsung mendapatkan pemandangan wajahnya yang bening itu secara berhadapan.


Ketika pertama kali aku duduk menghenyakkan diri di kursi, dia sekilas saja menatapku. Tatapannya lembut tapi sadis. Ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba menyelusup ke dalam hatiku tapi tidak aku pedulikan.


Sejak awal aku memang berusaha berkomunikasi dengannya dan karena itu aku secepatnya mengangguk secara sopan saat itu. Namun dia melengoskan wajah, melempar pandangan ke arah pintu masuk kafe dan tak menggubrisku sama sekali.


Dalam hati aku tersenyum. Cepat atau lambat aku pasti bisa segera menjeratnya dalam perangkap yang telah kusiapkan.


Dia masih belum memesan hidangan utama saat hidangan pembukaku datang. Secara atraktif, aku mengambil gambar-gambar hidangan pembuka itu dengan smartphone dan membiarkan gadis itu secara diam-diam mengawasiku. Mungkin dia merasa aneh atau menganggapku sok bersosmed ria. Tapi aku berharap dia menganggapku sebagai orang yang kesepian dan butuh teman.


Ketika kemudian hidangan utamaku datang dan aku memainkan smartphone dengan berbagai gaya, gadis itu tampak tidak merasa aneh lagi dan tidak begitu mempedulikan aku. Oleh sebab itulah aku secara diam-diam berhasil mengambil gambarnya beberapa kali.


Gambar yang pertama dia sedang menunduk memainkan smartphone. Gambar kedua dia mendongak tapi wajahnya kabur. Gambar ketiga, akhirnya, dia sedang menatap kosong ke arah hidangan pembukanya yang sudah habis.


Foto terbaik langsung aku kirim ke klien melalui suatu aplikasi chatting.


"Ya, benar. Dia orangnya." Jawab klienku, "kapan kau akan membereskannya?"


"Secepatnya." Jawabku.


Orang yang ditunggu gadis itu yakni bosnya, tidak akan pernah muncul; ketika gadis itu pulang, aku menguntitnya sampai dia masuk ke dalam kamar apartemennya. Aku kemudian berbalik pergi dan menyusun sejumlah rencana.


***


Aku menekuni profesi ini belum lama. Baru sekitar 5 tahun. Aku ingat persis, klien pertamaku adalah seorang politisi nasional, wajahnya sering muncul di berita televisi dan sejumlah talkshow. Dia memintaku membereskan seorang preman yang juga sekaligus bandar narkoba di Tanjung Priuk. Bayarannya waktu itu 150 juta. Politisi itu membaca iklan yang kupasang di darkweb dan menghubungiku melalui email dengan mencantumkan data mengenai orang yang ingin dilenyapkan.

__ADS_1


Sesuai petunjuk, dia membayar seluruh harganya secara kontan di muka dan meletakkan uang yang dibawanya secara langsung di tempat yang aku tentukan. Dua bulan kemudian aku mengirim print out foto mayat si preman dalam beberapa pose ke rumah pribadinya di Jakarta Selatan.


Tugas pertama selesai dengan baik.


Berikutnya klien ke dua dan ke tiga, yang masing-masing meminta menghabisi pesaing-pesaing bisnisnya. Harga kunaikkan menjadi 250 juta per kepala. Mereka setuju dan tugas pun kuselesaikan dalam tempo 3 minggu. Untuk klien ke empat, karena meminta agar kematian target sama sekali tidak mencurigakan maka aku meminta bayaran sebesar 2 Milyar dengan tempo 5 bulan. Target akhirnya dapat kuracun dengan menggunakan sianida yang kumasukkan dalam air mineral kemasan. Dia meminumnya dalam keadaan santai ketika duduk di kursi di dalam pesawat, kira-kira 15 menit setelah pesawat lepas landas. Target keempat ini adalah seorang akademisi yang akan melanjutkan studi S3nya tentang hukum di Belanda.


Menghabisi target ke-4 adalah salah satu prestasi terbaikku. Sampai dengan saat ini, kasus matinya target yang juga merupakan aktivis kemanusiaan, tak pernah terungkap dengan jelas. Aku selalu tersenyum puas bila melihat pemberitaan media akan kasus tersebut. Soalnya, semakin lama isi beritanya semakin ngawur, kabur dan menjauh dariku atau dari klienku.


Satu-satunya kegagalanku adalah target yang ke 9, yaitu seorang ustadz yang soleh, jujur dan ilmunya sangat tinggi. Dia dengan secara mengejutkan menemuiku di dalam mimpi ketika aku tidur di rumah pribadiku yang sangat rahasia dan tersembunyi, yang tidak diketahui oleh siapa pun. Ustadz tersenyum dan mengucapkan salam.


"Aku tahu kau adalah pembunuh bayaran." Katanya, "aku juga tahu siapa yang menyuruhmu. Tapi kau takkan berhasil membunuhku." Dia berkata dengan senyum bijak yang menyeluruh dan wajahnya menyemburkan cahaya kegembiraan.


Saat itu aku sangat terkejut. Aku terbangun dan langsung mendatangi rumahnya untuk membunuh ustadz tersebut. Tapi ternyata aku terlambat, dia telah lebih dahulu dibawa oleh ambulans ke rumah sakit dan meninggal di perjalanan. Menurut keterangan dokter, Pak Ustad meninggal karena serangan jantung yang mendadak.


Saat itu aku merasa sedikit penasaran oleh keterangan dokter yang terlalu sederhana. Lalu, dengan sedikit riset akhirnya aku menduga kalau klienku yang ke-9 ini ternyata menyuruh orang lain selain aku untuk membunuh ustadz itu. Aku merasa tersinggung sebenarnya. Tapi bagaimana pun toh Ustadz itu sudah meninggal dan aku tidak kehilangan satu rupiah pun upahnya. Hanya saja, aku punya sedikit janji. Suatu saat, jika waktunya tepat, aku akan membunuh klien ke-9 ini secara cuma-cuma.


***


Aku telah mempelajari riwayat hidupnya secara seksama. Karirnya yang meningkat pesat di perusahaan BUMN itu membuatku sedikit heran walau tidak mengejutkan. Dari berbagai data yang berhasil kulacak, Lena memiliki koneksi tingkat tinggi dengan sejumlah pejabat tinggi di berbagai kementrian. Dia juga memiliki hubungan baik dengan orang-orang terkaya di negri ini. Namun satu hal yang aku garis bawahi dengan spidol merah, yakni : dia adalah seorang penyendiri sejati. Walau dia berselingkuh dengan lebih dari satu orang yang memiliki kedudukan penting dan strategis di pemerintahan pusat, tapi sesungguhnya dia tidak memiliki satu pun kekasih. Di sangat mirip dengan aku, seorang yang benar-benar sangat kesepian, yang hidup dengan prinsip mengutamakan bisnis di atas segalanya.


Untuk melenyapkan Lena, aku mendapat bayaran 3 Milyar dari klienku.


Semenjak aku menguntitnya dari kafe hingga ke apartemennya, sampai dengan saat ini sudah berlangsung satu bulan. Selama itu, aku berusaha keras mendekatinya dan mengambil hati serta kepercayaannya. Dengan bermodalkan tinggi badan 179 cm, wajah ganteng --aku yakin aku ganteng-- rayuan bucin (budak cinta) dan lain-lain; akhirnya aku bisa mendekati dan memikat hatinya.


Aku yakin dia jatuh hati kepadaku. Dia sama sekali tidak curiga jika tujuan aku mendekatinya adalah untuk membunuhnya.


Secara diam-diam, sebetulnya aku juga menyukainya. Alih-alih, bahkan mungkin aku juga jatuh hati kepada gadis itu. Dia memiliki wajah oriental yang sempurna dan suaranya pun sangat lembut. Tapi sayangnya prinsipku sangat tegas, yakni: bisnis tetaplah bisnis. Jika dia nanti mati, aku pasti akan sangat merindukannya. Dan jika dia memiliki nasib baik dikuburkan di suatu tempat, aku akan selalu mengirimkan seikat bunga ke kuburannya sebagai tanda simpati.


Membunuh itu cuma satu dari 1001 jenis pekerjaan. Sejauh yang aku tahu, tidak ada satu jenis pekerjaan pun yang sanggup menghalangi seseorang untuk jatuh hati. Bahkan, termasuk juga pekerjaan sebagai seorang pembunuh bayaran.


Akhirnya, rencana yang telah kusiapkan siang itu dapat kulaksanakan. Aku mengundang Lena ke apartemenku dan memberinya minuman wine yang kucampur dengan amphetamin. Dia langsung pingsan dan tertidur. Aku kemudian memotretnya beberapa pose dan mengirimkannya kepada klienku.

__ADS_1


Klienku merasa sangat senang. Katanya, walau sekarang dia sedang diproses hukum tapi setahun dua tahun ke depan bila bebas, dia akan memiliki tabungan 1,5 Triliun. Kata klienku, dia dan Lena telah melakukan semacam kesepakatan bersama dalam hal pengelolaan rekening sehingga klienku punya akses penuh terhadap rekening Lena.


"Sekarang cepat habisi dia." Kata klienku.


"Siap." Kataku.


Aku lalu menghampiri Lena yang tengah terbaring di sofa, aku akan mencekiknya hingga tulang lehernya putus. Ini adalah cara membunuh paling konvensional yang dilakukan oleh seorang manusia. Sangat efektif dan tidak menimbulkan kekotoran percikan darah. Sedangkan tanganku memiliki jari jemari yang lebar, kuat dan terlatih. Aku bisa melenyapkannya dalam waktu tiga menit dan aku merasa yakin dia tidak akan terlalu lama merasa kesakitan.


Aku sempat berpikir mengurungkan niat membunuhnya saat melihat bagaimana dia dengan tenang dan damai tertidur dalam pengaruh amphetamin. Dia terlihat sangat cantik. Sayangnya dia harus mati.


Aku segera mengulurkan kedua tanganku ke lehernya, mengelusnya sejenak dengan rasa sayang. Lalu, ketika seluruh jari jemariku sudah melingkari lehernya, aku segera mengerahkan tenaga dan mencekiknya.


Namun ada sesuatu yang salah. Tenagaku hilang secara tiba-tiba dan dadaku terasa sangat sakit. Benar-benar sakit sehingga aku menjerit dengan sangat keras. Aku katakan padamu, jika kau pernah merasakan denyutan sakit gigi, rasa sakit di dadaku yang tiba-tiba ini rasanya adalah seribu kali denyutan sakit gigi dipangkat dua.


Grrrrr....


Aku menggeram menahan rasa sakit yang sangat luar biasa ini.


Aku melepaskan cekikan pada lehernya dan berdiri, dengan berjalan terhuyung-huyung aku melangkah menuju ke depan cermin. Di situ, aku melihat sebilah belati menancap persis di dada kiriku dan tembus hingga ke punggung. Tampak olehku ujung belati itu yang runcing berkilauan diterpa sinar matahari siang yang datang dari arah jendela balkon.


Aku terpana saat melihat Lena bangun dari tidurnya. Bajunya di bagian dada dan perut tampak kuyup oleh darah. Ya, itu adalah darahku.


Dia kemudian menghampiriku dengan tenang dan penuh senyum, mencabut belati dari dadaku dan menusukkannya kembali di tempat yang berbeda. Di dada sebelah kanan. Darah pun menyembur lagi, kali ini menyemprot ke arah wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis.


Saat aku akhirnya menggelosor di lantai sambil menahan sakit yang amat sangat, Lena mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil tersenyum dengan rasa puas.


"Kamu ganteng dan baik, aku suka kamu. Tapi kamu adalah targetku yang ke 13... aku tidak boleh gagal." Katanya sambil membersihkan belati yang berlumuran darah itu dengan ujung bajunya yang masih bersih. Kulihat tatapan matanya yang lembut dan sadis. Aku tak bisa menjerit atau melakukan apapun selain hanya diam dan ternganga. Di saat-saat terakhir itu, aku ingat aku pernah merasakan firasat aneh tentang gadis itu. Tapi aku menafikannya.


Kini aku aku tahu ternyata firasatku tidak keliru.


"Aku akan menguburkanmu di pusat taman Kota di Bandung... dan aku akan mengirimmu bunga setiap tahun... tapi enggak janji ya."

__ADS_1


Itulah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum semuanya menjadi gelap dan hitam.***


__ADS_2