
Sering aku memilih untuk tersenyum dan tidak menangis, sebenarnya hanya karena aku tak dapat menjelaskan mengapa aku ingin menangis. Tak jarang aku memilih untuk diam dan tak bercerita, hanya karena aku tak yakin kalau masih ada alasan bagiku untuk dapat sekedar berbisik meski hanya dalam hati. Kadang aku bertanya dalam hati, mestikah deretan alasan menyertai tiap sikap dan tindakan? Haruskah kujelaskan semua yang telah, sedang dan hendak kulakukan dengan alasan-alasan tertentu?
Hari ini, aku ingin melakukan apa yang sunguh menjadi dorongam hatiku. Tak lebih. Tanpa mesti memberi penjelasan mengapa kulakukan hal tersebut.
Diam-diam aku pergi membuka ruang kosong itu lagi. Awalnya agak sulit, sebab kunci pintunya sudah mulai berkarat. Beberapa kali kucoba, namun selalu gagal. Pintu itu baru terbuka ketika aku sedikit menggunakan kekuatanku. Dari pintu yang telah terbuka, samar-samar, cahaya merambat masuk ke dalam ruang kosong itu. Sedang dari dalam, udara pengap bercampur debu menyembul ke luar menerpa tubuhku. Aku sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruang itu.
Kurang ajar! Tiba-tiba saja kawanan kelelawar melesat keluar dari dalam ruangan. Jantungku berdetak kencang. Bunyi kepakannya bergaung di sepanjang koridor. Aku menunggu, kalau-kalau masih ada kawanan kelelawar yang menyusul keluar.
__ADS_1
Tidak ada. Kuayunkan langkah masuk ke dalam ruang kosong itu.
Walau tak begitu percaya diri, aku terus masuk semakin ke dalam. Udara lembab menyambutku. Aku membisu, pasrah pada apa yang bakal terjadi. Kulayangkan pandangan sejauh yang dapat kujangkau. Dengan perhatian lebih, kujejaki tiap-tiap sisi dan sudut ruang kosong itu. Mataku terus mengawasi keadaan di sekitarku. Ruang kosong itu masih sama seperti ketika kutinggalkan dulu. Hanya saja kini begitu lambab, pengap dan berdebu. Di sudut-sudutnya pun telah bersarang laba-laba dan serangga-serangga lainnya. Beberapa serangga terbang, mungkin ketakutan mengetahui kedatanganku. Namun itu justru membuat jantungku berdetak semakin kencang. Aku makin cemas.
Sampailah aku di tengah ruang kosong itu. Kupejamkan mata, coba menenangkan batin. Kucoba nikmati detik demi detik dalam hening dan tanpa pikiran. Kosong. Lama kelamaan aku mulai merasa seperti ada kepakan sayap di sekelilingku. Mula-mula satu kepakan, lalu dua kepakan, kemudian tiga… enam… sepuluh… semakin banyak, hingga aku sendiri tak tahu berapa persisnya. Yang kutahu hanyalah, aku sungguh merasakan sayap-sayap itu beterbangan mengitariku. Terasa begitu dekat, bahkan beberapa kali seperti menyentuh kulitku. Begitu nyata.
Semakin lama, kepakan sayap-sayap itu bahkan mampu membangkitkan hawa yang tak biasa; hawa dingin, namun menenangkan. Hawa kenangan yang beterbangan. Kuhirup hawa itu. Satu per satu kenangan yang telah lama terkubur bangkit lagi.
__ADS_1
Alasan itu ada di ruang kosong itu…!
Kubuka mataku. Ku cari di sekelilingku.
Ke jendela, aku berlari. Kusibakkan tirainya. Sekejap, sinar mentari berhamburan masuk memenuhi ruang kosong itu. Debu beterbangan tak terhindarkan. Cepat-cepat, dengan lengan kulindungi mataku dari sinar mentari yang menyilaukan serta debu yang beterbangan. Pandanganku sedikit kabur. Baru setelah beberapa saat, aku dapat melihat kembali dengan jelas.
Ternyata masih ada. Masih seperti yang dulu. Alasan itu masih tertulis di sana, di jendela kaca yang berdebu. Aku terpana memandangnya. Sekonyong-konyong, kenangan tentang dia muncul kembali, beterbangan mengitari diriku. Aku diam tertegun.
__ADS_1
Hari ini, sebelum beranjak pergi, dengan telunjukku kuperjelas lagi tulisan pada jendela kaca berdebu itu. Kuputuskan untuk tidak menutup tirai jendela, agar suatu saat nanti, jika kukembali lagi, alasan itulah yang pertama kutemukan.
Pada jendela kaca yang berdebu, ada tertulis namanya