
Lolos moderasi pada: 20 November 2016
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna.
Kadang, jika aku punya masalah, kukatakan padanya. Dia selalu punya jawaban untuk semua persoalanku. Umurnya baru 18 tahun tapi dia bertindak seperti pria dewasa. Dia bagai ayah yang tak pernah kumiliki. Setiap hari aku membantunya bekerja sebagai buruh. Kami miskin tapi tetap bersyukur. Masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dari kami. Kakakku tidak bodoh. Tapi dia terpaksa bekerja dan putus sekolah. Empat tahun lalu, ayah dan ibu meninggal dalam kecelakaan motor. Kami kehilangan semuanya. Uang, cinta dan harapan. Satu satunya yang kami miliki adalah satu sama lain. Hubungan persaudaraan kami lebih erat dari apapun.
Sebenarnya aku tidak terima dengan semua yang menimpaku. Ayah dan Ibu tak seharusnya meninggal. Kami seharusnya hidup bahagia. Kakak tak perlu kerja membanting tulang. Tapi kemudian aku sadar dunia tak selamanya adil. Selalu ada yang harus direlakan.
Ibuku dahulunya bekerja sebagai penjahit. Sedang ayah asyik keluyuran dibanding memperhatikan kami. Tapi ibu bersikap bijak dengan mengatakan ayah mencari uang untuk kami. Memang beberapa bulan sekali ayah mengirim uang dalam jumlah besar tapi perhatiannya padaku tak sebanyak yang kuharapkan. Karena itu aku merasa seperti tak punya seorang ayah. Waktu orangtuaku meninggal umurku masih lima tahun. Tak banyak alasan bagiku untuk merasa sangat kehilangan. Ingatanku akan ayah dan ibu hanya sekilas saja. Selama empat tahun ini kakak yang mengurusku. Dia baik, tidak memperalatku dan selalu mengingatkanku untuk makan teratur. Dia sebaik baiknya kakak. Kadang aku berpikir apa dia pernah memikirkan dirinya sendiri.
Kakakku punya sifat unik. Dia pintar berbohong. Setidaknya itu yang kutahu. Tapi aku merasa hal itulah yang ingin ditunjukkannya. Bisa dikatakan dia tak mau aku tahu apakah dia sedang jujur atau bohong. Kau taulah intinya. Tidak ada yang tau apakah seseorang berbohong. Tapi itu malah membuatku merasa buruk. Aku tak pernah bisa membedakan apa dia sedang berbohong atau tidak. Dia selalu menunjukkan wajah itu. Datar, kadang dihiasi senyum. Aku rasa dia sedikit seperti cyborg.
Sore ini, seperti biasa aku merok*k sambil menunggu kakak selesai kerja. Dia akan membunuhku jika tau. Tapi aku bisa mengatasinya. Aku sudah sering melakukannya. Aku selamat sampai saat ini. Tapi kakak bisa datang kapan saja di hadapanku, merampas rok*kku dan menghukumku. Jika itu benar terjadi. Yah.. mau bagaimana lagi.
“brrr dingin”, kakak datang sambil menggosok tangannya. Dia terlihat kotor dan berantakan. Kulempar botol minuman padanya. “yah.., anginnya kencang sekali, ayo pulang”
Oh ya aku lupa memberi tahu nama kakakku, namanya…
“Elang!”
Kak Elang menoleh. Dia tersenyum lebar. Seorang berbadan tambun mendatanginya. Orang itu masih lengkap dengan baju kerja. Kak Elang bercakap-cakap dengannya beberapa saat. Aku menunggu.
“Aku dipromosikan!”, Kak Elang merangkul pundakku. “mereka akan membayarku lebih tinggi sekarang!”
“bagus”
Aku memikirkan hal lain. Tapi sepertinya Kak Elang tak memperhatikan. Dia masih senang dengan keberhasilannya. Selanjutnya, kuputuskan untuk jujur padanya.
“aku dapat beasiswa”
Kami berhenti berjalan. Kak elang menghentikan siulannya dan menatapku dengan mata melebar. “serius?”
Aku mengangguk. Kepala sekolah memberitahuku tadi siang.
“hebat Deni, aku tau kau punya masa depan yang cerah!”, Kak Elang tersenyum. “tak sia-sia aku membiayaimu”
“aku rasa begitu”
Kami tiba di rumah. Sebelum aku masuk kamar Kak Elang memanggilku. “Deni!”
“ya?”
Kak Elang menunjukkan ekspresi yang hanya bisa kulihat beberapa kali dalam hidupku.
“jangan merok*k seperti itu lagi di hadapanku”
Aku nyengir. Sudah kubilang, Kakak pintar berbohong. Dia tau sejak tadi. Aku telah kalah.
Tentang beasiswa itu, tak kukira aku mendapatkannya. Tapi nasib ternyata berkehendak. Aku dapat juara satu dan keringanan biaya. Kak Elang menerimanya sebagai sebuah berkah. Dia selalu berpikir aku perubah garis ekonomi keluarga. Kami merayakannya. Makan besar untuk berdua. Namun kemudian kami memutuskan untuk mengundang beberapa teman. Saat itulah aku bertemu seorang gadis paling cantik yang pernah ada.
“Ria…”, aku bersalaman dengannya. Telapak tangannya sehalus satin. Seketika, rongga kepalaku dipenuhi namanya. Dalam benakku, senyum manisnya mengganda.
“dia sepupuku… Ria”, Roi, teman SD kak Elang membuyarkan fantasiku. “dia tinggal di rumahku sementara ini”
“salam kenal…”, gadis itu tersenyum simpul. Aku terpana. Dia manis sekali.
“kau menyihirnya… hati-hati” Arya, teman satu kerja kak elang menyahut. Aku meninjunya pelan.
Kak Elang datang membawa makanan. Aku lega karena sudah kelaparan.
“kau terlihat pucat sekali Kak” benar. Kak Elang bagai baru saja melihat hantu.
“Cuma sedikit capek” dia kembali ke dapur.
“kakakmu terlalu senang sampai pucat begitu”, Kak Arya berkelakar. Dia terbahak.
Aku di sisi lain merasa tak enak. Seharusnya Kak Elang istirahat bukannya memasak untuk kami.
Gadis itu memandang sekeliling. Dia terlihat santai dan menawan. Sesekali tertawa mendengar lelucon kami. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.
“jadi, dari mana asalmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Gadis itu tersenyum dan menyebutkan nama salah satu kota besar. Kak Elang datang dari dapur membawa softdrink.
“sepertinya adikku tertarik denganmu”, Kak Elang mengambil sebuah softdrink lalu meneguknya. Ia tersedak. Aku tertawa. Tau rasa dia.
“yeah, adik kecil kita sudah besar”, Roi berkata. Di antara mereka aku memang yang paling muda. Mereka suka mengejekku dan menjadikanku bantal tinju.
Pipiku merona. Semoga gadis itu tak memandang rendah diriku.
pergi malam ini?”, Arya bertanya. Ah ya…, pesta billiar.
“entahlah…” kak elang menunduk murung. “aku harus kerja… mungkin lain kali”.
“aku ikut”, aku tak punya kerjaan lain. Pekerjaan rumah bisa kuselesaikan di pagi hari.
“oke, kau, Roi, siapa lagi?”, Arya bermaksud mengundang Ria. Gadis itu mengangguk. Yes.
Setelahnya kami menonton video. Aku tak terlalu suka menonton film, tapi setidaknya yang satu ini cukup bagus. Cerita tentang penyihir bernama Howl. Menurutku Howl sedikit mirip Kak Elang. Yeah, dia tampan dan sedikit aneh. Kak Elang sendiri tertidur. Sepertinya dia capek sekali. Lagipula dia ada shift malam ini di bengkel.
Selanjutnya, kami mengobrol tak tentu arah. Tapi, saat telingat Ria mulai memerah kami putuskan untuk menyudahinya. Sebelum Ria pergi dia menjabat tanganku.
“selamat sekali lagi atas beasiswanya ya”
“makasih”
Dia tersenyum. “sampai nanti di sekolah”
Aku terbelalak. Dia akan bersekolah di tempat yang sama denganku?. Aku tak tau apakah harus senang atau sedih. Reputasiku di sekolah tak terlalu bagus. Terlepas aku sering juara. Guru BP sudah menjadi teman baikku.
“mereka sudah pulang?”, Kak Elang datang sambil memegang kepalanya.
“ya…, cewek yang menarik”, pipiku merona. Pasti setelah ini kak elang mengejekku. Tapi ternyata tidak. “kau baik baik saja?”
“ya, ya aku baik-baik saja cuma sedikit pusing dan mual, mungkin maag” kak elang mengulurkan tangannya ke rak atas P3K. Diambilnya pil aspirin lima butir lalu ditelannya sekaligus.
“aku ke luar dulu”
“jangan melewati makan malam”
“kita baru saja makan!”
“pokoknya jangan!”
“oke!”, aku memakai sepatu ketsku dan melesat pergi.
“Deni, apa yang terjadi?”
Siapa? Kak elang?. Kenapa kak elang punya banyak wajah?. Kenapa mulutnya mengeluarkan darah? Kenapa kepalaku terasa seperti telah dihantam palu? Apa yang dikatakannya? Kenapa aku tak bisa mendengar apapun?
“Deni! Kau bisa mendengarku?”
Aku mengangguk. Akhirnya. Aku bangkit dan mulai muntah. Kak Elang berlutut di sampingku sambil memijit tengkukku.
“demi tuhan Deni, apa kau gila?, seharusnya kau memanggilku lebih awal!, apa yang terjadi?, mereka membullymu?”
Lalu kuingat. Ria.
“Ri… ria..?”
Kak Elang mengelus dadanya, mengatur napas. “yah… dia baik baik saja.. dia pingsan karena syok, Roi membawanya ke rumah sakit”
Kuusap telingaku. Kulihat telapak tanganku berlumuran darah segar yang berkilauan di bawah lampu jalan. “Kau menghabisi mereka?”
“sudah kuberi pelajaran, mereka tak akan mengganggu kalian lagi”
Kak Elang menggendongku. Ia terbatuk beberapa kali.
“kau tak apa-apa?”
“ya…, mereka lumayan juga, isi perutku hampir keluar semua”, Kak Elang tertawa.
“kau kehilangan berat badan” kurasakan tulang punggungnya yang menonjol.
“ya, aku nggak napsu makan akhir-akhir ini”
Kami tiba di rumah tepat pukul sembilan. “diam disini, kuambilkan es balok”
Aku berbaring. Tubuhku seketika gemetar. Aku mengingat kejadian tadi.
“kau tak perlu mengatakan padaku kalau belum siap”
Aku mengangguk. Kak Elang mengusap kakiku perlahan dengan handuk basah.
“tidurlah.. besok kau tak perlu masuk dulu”
Aku kembali mengangguk. Merasa tolol karena tak mengucapkan sepatah kata pun sejak tiba di rumah. Kak Elang mematikan lampu kamarku. Perlahan aku terlelap.
Aku dapat mimpi buruk. Ayah datang kepadaku sambil membawa pisau, beri aku uang!, teriaknya. Roi tertawa sambil menghampiriku. Kepalanya membesar, diiikuti jari-jarinya, lengannya, perutnya dan seluruh badannya. lalu semuanya meledak bagai otak yang berceceran. Ria muncul dari tumpukan tubuh roi. Kemarilah!, ujarnya, menggodaku. lalu dia hangus terbakar. Arya berlari di hadapanku, berputar seperti gasing. Kak Elang berada di tengahnya, kehabisan napas.
__ADS_1
Saat aku membuka mata, tubuhku terasa banjir keringat. Kak Elang datang membawakan sup.
“kau harus sakit untuk bangun pagi ya…”
“jam berapa sekarang?”, kepalaku masih terasa pusing.
“dua dini hari”, Kak Elang berbaring di sampingku. “kau demam dan mengigau”
“benarkah?”, pantas saja. “kau terjaga selama aku demam?”
“iya, kukira kau akan butuh sesuatu”
Itulah Kak Elang. Dia rela tidak tidur untuk menjagaku. Aku heran kapan dia merasa benar-benar capek.
“makanlah sedikit”
“ok”, aku benar-benar kelaparan.
Rasa supnya enak. Kalau saja kak elang bukan bekerja di perusahaan konstruksi dia sudah menjadi koki sekarang. Tiba-tiba aku teringat ibu. Beliau biasa membuatkan sup ini kalau kami sedang sakit.
“kau masih belum mau memberitahuku apa yang baru saja menimpamu?”
Kugelengkan kepalaku. Benar-benar tidak ingin. Aku bertindak seperti penakut tapi segala sesuatu pasti ada waktunya.
“aku tau, kau tak perlu memberitahuku”
Aku kaget. Ternyata kak elang hanya menginginkanku jujur. “bagaimana bisa?”
“kau pikir aku memukul mereka tanpa alasan? Setelah aku berhasil mematahkan gigi salah seorang dari mereka baru dia mau bicara”
Kak Elang mematahkan gigi orang?. Itu baru buatku. Kenapa dia bertindak sejauh itu?. Lalu kuingat, bahkan mereka pantas mati.
“apa Ria baik-baik saja?” gadis malang. Seharusnya aku melindunginya.
“aku tak tahu…, Roi meneleponku saat kau tidur, mereka akan memeriksa gadis itu”
“Deni..”
“hmm?”
“jangan berbuat seperti ini lagi. Aku sendiri jika kau benar benar menghilang”
Setelah tiga hari berbaring di tempat tidur, tubuhku terasa kaku semua. Aku heran kenapa aku sakit dengan mudah. Biasanya aku kuat seperti kuda. Saat kesadaranku mulai pulih dan tak lagi mengigau, aku mulai berpikir tentang keadaan Ria. Dia benar-benar telah mengalami malam yang buruk.
“dia nggak hamil bukan?”
Kak elang tertawa keras sekali sampai aku berpikir ia akan mematahkan rusuknya.
“darimana kau tau tentang itu? Aku belum memberitahumu satu kalipun tentang pubertas” Kak Elang meletakkan bukunya di atas meja belajarku. Dia menungguiku sambil membaca.
“aku baca buku, aku tidak bodoh”
“ok, anak sok pintar…, tenang saja… mereka berkata hasilnya negatif”
“negatif?”
“ya”, Kak Elang menggosok rambutku. “artinya tidak…, dia nggak akan punya bayi…, orang orang itu tak sampai berbuat sejauh itu…”
“tapi kalau kau tak cepat datang…”
Kami berdua terdiam.
“sudah.., tidur lagi. Kau harus istirahat cukup. Besok kau harus masuk. Aku tak mengizinkanmu ketinggalan pelajaran satu hari lagi”
Tipikal Kak Elang. Dia tidak akan membiarkanku berleha-leha. Apalagi urusan sekolah. Sepertinya hari hariku yang membosankan akan segera dimulai. Apalagi Ria pasti belum masuk setelah kejadian yang menimpanya.
“gimana perasaanmu?, apa kau sekarang berpikir jelek tentangku?”, Ria bertanya. Aku tak tau harus menjawab apa. Dia pasti masih sedikit syok. Aku tak mau mengingatkannya pada kejadian itu.
Jadi aku hanya menutup mulutku rapat rapat.
“jangan katakan pada siapapun di sekolah”
Untuk gadis yang hampir kehilangan virginitas, dia cenderung sangat tenang. Aku bertanya tanya apakah dia pernah mengalami kejadian lebih buruk.
“bagaimana keadaan kakakmu?” dia menghela napas. “aku harus berterima kasih padanya”
“dia baik baik saja, kakakku kuat seperti kuda”
“bagus kalau begitu”
Ria menunduk. Sesuatu seperti mengganggunya. Dia tampak berat memutuskan untuk mengatakannya atau tidak.
“bagus, kita akan bertemu di sekolah”
“tidak, aku akan kembali ke kota asalku”
Aku terperangah
“kau bercanda kan?”, aku terlalu kaget untuk mengatakan kata-kata yang lebih pantas.
“tidak, aku sudah memutuskan. Akan buruk kalau aku masih disini. Rumor akan menyebar”
Sepertinya dia tak punya pilihan lain.
“sampai jumpa kalau gitu” aku ke luar dari ruangan.
Aku merasa sedikit kacau. Tiba-tiba terasa ada balon besar di kerongkonganku.
Saat aku tiba di rumah. Kuceritakan rencana ria pada kak elang.
“iya, itu yang terbaik”, jawabnya. Dia terlihat tak fokus.
“kau baru dari rumah sakit”, kulihat struk bertuliskan nama salah satu rumah sakit menyembul dari kantong celananya.
“ya, untuk formulir kenaikkan pangkat”
“oh”
“kau mau makan apa malam ini? Kita pergi ke luar”, Kak Elang nyengir. “merayakannya”
“yakin pengeluaran kita nggak jebol? Dua kali perayaan dalam satu minggu!”
Seseorang mengirimku sms.
Maaf deni. Aku benar benar minta maaf. Kukira kita akan cocok. Aku nggak tau kejadiannya bakal kayak gini. Aku sungguh menyesal.
Dari Ria.
Ini bukan salahmu. Kau tak perlu minta maaf. Cepat baikan.
Tanganku bergerak untuk menghapus nomornya. Aku berlari ke ke luar rumah dan air mata keluar dari kedua mataku.
Ok, mungkin aku terlalu berlebihan menyikapi kepergian Ria. Tapi dia seperti orang menyebutnya: cinta pertama. Kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi.
“berapa skornya?”
“2:1”
“ah, aku meleset!, selamat tinggal seratus ribuku…”
“kau bertaruh lagi?”
“ya, karena itu menyenangkan. Hal paling menyenangkan adalah melakukan sesuatu yang dilarang tanpa sepengetahuan orangtua”, Bayu terkekeh.
Aku tersenyum lemah.
Sudah seminggu aku tidak melihat Ria. Aku masih memikirkannya di beberapa kesempatan. Dia seperti pelangi. Hilang saat langit kembali mendung.
Seseorang mengetuk pintu rumahku.
“buka pintunya Den!” Kak Elang berteriak dari kamarnya. Aku melangkah malas ke pintu.
“Mas Deni?”, seorang pengantar pos memberiku sebuah paket. Aku sudah bertanya tanya apa itu paket dari Ria.
Aku mengangguk dan menerimanya.
“tanda tangan disini dan disini”, ujarnya monoton seperti kepada puluhan penerima surat dan paket yang diantarkannya hari itu.
Hanya ada alamat rumahku tanpa identitas pengirim.
“siapa yang memberimu paket?”, Kak Elang bertanya.
“nggak tau”
“mungkin isinya nark*ba”, Bayu menggosok kedua tangannya. “cepat buka!”
“omonganmu bayu…! ini… uang!”
__ADS_1
Kuhitung jumlahnya sepuluh juta, terbungkus kresek hitam tebal.
Kak Elang terbelalak. Bayu bersiul takjub.
“mungkin kau menang undian” ujar Kak Elang tak yakin.
“aku tak percaya undian”
“jangan terima, berbahaya… pasti kau mau bilang begitu Kak Elang”, Bayu menyeringai. “kau kaya sekarang, pakai saja, jangan dengarkan kakakmu, aku boleh minta bagianku?”
“diam kau Bay… Deni, sebaiknya kau cepat-cepat memberikannya ke polisi”, Kak Elang memperingatkanku.
“ok” dari segala sesuatu, pendapat kak Elang paling masuk akal. Bayu mengerang kecewa. Sahabatku itu memang punya otak kriminal. Tapi aku mengenalnya sejak TK, jadi sudah terbiasa.
Jadi aku membawanya ke kantor polisi. Tapi di tengah jalan sebuah sepeda menabrakku.
“maaf, aku tak sengaja”, ujar pria itu. Umurnya mungkin tiga puluhan.
Uangku terbang kemana-mana. Saat aku berusaha mengumpulkan uang tersebut bersama pria itu, Bayu memanggil.
“hei kemarilah!”
Aku menoleh. Pria itu merampas semua uang di tanganku kecuali beberapa yang masih berceceran di jalan. Aku mengejarnya. Itu bukan uangku tapi kurasa sebaiknya aku mendapatkannya kembali. Tapi dia sudah terlampau jauh untuk kukejar.
“uang siapa itu? Bikin repot saja!” aku benar-benar kesal.
“deni, aku rasa kau ingin membaca ini” bayu menyerahkan secarik kertas padaku.
Kubaca isinya:
Ini uang untukmu deni. Jangan beri tau kejadian percobaan pemerk*saan Ria pada polisi. Kami tak mau keluarga kami dalam masalah. Lelaki itu anak atasan bos ayah Ria. Bersikaplah bijak dengan keadaan kami.
“sialan! Siapa yang mengirimkannya?”
“kurasa keluarga Ria sendiri”, Kak Elang datang sambil mengatur napasnya.
“aku akan cari mereka! Aku akan beri pelajaran ayah yang tega itu!”
Bayu mencegahku. “kau gila? Mereka keluarga kaya! Roi sendiri yang bilang!”
“aku tak peduli, Kak Elang akan ikut denganku”
Kak Elang memberi tatapan seakan dia tak ingin terlibat masalah ini.
“dengar Deni…”
Aku berlari ke rumah. Tak kupedulikan panggilan Kak Elang dan Bayu. Aku hanya berpikir mungkin di kertas pembungkus paket itu ada petunjuk.
Ternyata kertas itu sudah tidak ada.
“aku membakarnya”, Bayu berkata. “jangan salahkan aku! Kak Elang yang menyuruhku”
Aku menatap Kak Elang dengan sorot kebencian. “Ria temanku!”
“aku melakukan ini untukmu!, Bayu, sebaiknya kau saja yang menerima uang di tanganmu itu, kau lebih membutuhkannya”
Bayu terkekeh. “kau memang punya mata yang jeli Kak, kukira tak ada seorangpun yang menyadarinya”
“aku membencimu!”, aku berteriak kepada kak elang.
Malamnya aku menelepon Roi. Aku ingin tau dimana Ria tinggal.
“maaf Deni, aku nggak bisa memberi tahumu, ibuku tergantung sepenuhnya dari uang paman”
“kumohon beri tau aku”, aku mulai putus asa. Roi satu-satunya jalan keluarku.
“maaf”, dia memutuskan sambungan teleponnya. Sial.
Aku melewatkan makan malam dan mengunci diri di kamar. Aku tak peduli pada kak elang lagi.
“Deni, jangan bersikap kekanakan!”, Kak Elang menggedor pintu kamarku.
“tinggalkan aku sendiri”
Aku tak percaya Kak Elang mendobrak pintuku.
“kau gila?” aku kaget setengah mati.
“aku ketakutan, kukira kau akan bunuh diri” Kak Elang menyeringai.
“masalah apapun tak membuatku mampu berbuat seperti itu”, kukatakan dengan gigi terkatup.
“makan adik kecilku!”, dia menggosok rambutku sambil menyodorkan makanan. Kutepis tangannya dengan kasar. Dia hanya tertawa lalu ke luar kamar.
Aku makan sambil merasa ketakutan bahwa aku benar-benar tak bisa bertemu dengan Ria sampai kapanpun.
“dia hanya masih kecil”
Aku tak bisa tidur. Aku mendengar suara Arya dari ruang tamu. Sepertinya Kak Elang dan Arya berbincang sampai larut malam.
“memang, makanya aku khawatir”
“kau sudah menemuinya?”
“sudah, tidak baik” kak elang tertawa.
Hening. Aku ke luar kamar agar terdengar lebih jelas.
“kau butuh uang kan? Untuk biaya…” suara Arya kembali terdengar, namun ia tak menyelesaikan kalimatnya.
“semua orang butuh uang”
“kau tau maksudku”
“tak apa, aku lakukan semua ini untuk Deni”
“kau tau keadaanmu…”
“tak apa…, aku masih bisa bekerja lebih keras”
Kurasa tak ada yang perlu kudengar lagi. Aku kembali ke kamar.
Aku kembali berpikir tentang ria. Tentang rambut ikalnya. Tentang pendapatnya bahwa kami akan cocok. Tentang senyumnya. Astaga, aku tergila-gila padanya. Aku tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Apa itu yang dimaksud Kak Elang?. Pubertas?
Aku tau apa yang dimaksud Kak Elang. Kami miskin. Kak elang tak mau mengambil resiko bermasalah dengan orang kaya seperti ayah Ria. Dari percakapannya tadi aku tahu dia mengkhawatirkan tentang biaya hidup kami. Walau aku dapat beasiswa tetap saja kami tak makan daun. Kurasa aku harus membantunya. Selama ini aku jarang memikirkan darimana uang makan. Aku akan bekerja.
Aku berpikir tentang tindakkanku tadi. Aku berkata aku membencinya. Kurasa itu terlalu berlebihan. Aku mencoba menekan harga diriku. Sepertinya aku harus minta maaf pada Kak Elang. Aku turun dari kasur dan ke luar kamar.
Aku mendengar suara dari kamar mandi. Suara pancuran. Aku duduk menonton TV di ruang tamu sementara menunggu kak elang ke luar. Arya sepertinya sudah pulang.
“Deni?, tak bisa tidur?” Kak Elang muncul. Dia penuh keringat. Aku tersenyum.
“kau mast*rbasi ya?”
“hush, jaga omonganmu!” dia memukul kepalaku. Kami berdua tertawa.
Keadaan tak setegang tadi siang. Kurasa ini saatnya aku minta maaf.
“maaf”
“untuk apa?”
“yang kukatakan tadi siang”
Kak elang menatapku. dia menjentikkan jarinya ke dahiku.
“bodoh!” kak elang berlalu dari ruang tamu. “tidurlah!”
Sabtu, 14 juli
Adikku Deni berhasil mendapat beasiswa. Dia memang hebat. Aku bangga padanya. Aku buat makanan spesial untuknya. Kami juga mengundang beberapa teman. Aku merasa sedikit sakit tapi tak apa. Kebahagiaan yang diberi oleh Deni menghapus rasa sakitku. Aku benar-benar senang.
Senin, 16 juli
Deni terbaring sakit. Aku menangis semalaman disampingnya. Dia terlihat menderita. Semoga cuma demam biasa. Dia benar-benar mengalami malam yang buruk. Dua hari yang lalu sesuatu terjadi pada Ria, sepupu Roi. Seseorang mencoba memperkosa gadis itu saat ia berjalan pulang dari pesta billiar. Aku tak bisa menyalahkan Roi yang tak sengaja menempatkan adik sepupunya di ambang bahaya karena dia sendiri sedang tanding billiar dan tak mengira seseorang menyerang sepupunya. Jarak tempat biliar ke rumah Roi hanya beberapa puluh meter saja. Benar-benar kejahatan yang berani. Tapi Deni segera menyadari Ria dalam bahaya. Adikku memang hebat. Mereka menyerangnya. Aku kesakitan di rumah karena maagku kambuh tapi sayup-sayup kudengar di telingaku suara deni memanggil. Padahal jaraknya cukup jauh. Aku segera berhambur ke luar. Menyerang semua orang yang berani menyakiti adikku satu satunya. Untung aku masih sempat.
Rabu, 18 juli
Hasil tes keluar. Sesuai dugaan dokter. Aku positif mengidap kanker stadium IV. Kanker lambung. Kata kata itu terasa aneh di lidahku sendiri. Bagaimana kalau deni sampai tau. Aku tak mau meninggalkannya sendiri. Untung atasanku mau mengadopsinya. Deni belum tau. Tapi saat waktunya datang aku harap dia memaafkanku. Tentang semua kebohongan yang kukatakan.
Kamis, 19 juli
Keadaan sedang kacau. Deni marah padaku. Dia berkata ia membenciku. Kukatakan hal ini pada Arya. Dia menghiburku berkata Deni masih kecil. Kurasa dia benar. Aku tak mau adikku sendiri membenciku. Aku menyayanginya.
Aku kaget saat Deni menungguku di ruang tamu. Aku harap dia tidak mendengarku muntah di kamar mandi. Ternyata Deni minta maaf padaku. Aku cepat cepat pergi dari ruang tamu sebelum air mataku tak terbendung lagi. Maafkan aku Deni. Kau tak akan bisa bertengkar denganku lagi setelah ini, adik kecilku..
Itu diari terakhir kakakku. Dia meninggal dua minggu kemudian. Ya tuhan, dia masih 18 tahun. Aku tak bisa membayangkan seseorang meninggal di umur semuda itu. Aku ingin menyalahkan seseorang tapi tak bisa. Kakakku telah pergi dan takkan kembali.
__ADS_1
Kadang di tengah malam aku terbangun dan menangis. Aku sendiri di dunia ini. Bahkan kasih sayang kakakku yang dititipkannya pada waliku kini tak sebanding dengan dirinya. Kak Elang, aku merindukan kebohongan-kebohonganmu. Selamat jalan Kak.