Kumpulan Cerita Seram

Kumpulan Cerita Seram
episode 90 ( Gedung nomer 302 )


__ADS_3

Namaku Jessi, seorang mahasiswi di salah satu universitas yang ada di Seoul. Di umurku yang sudah menginjak 22 tahun ini aku memilih untuk tinggal terpisah dengan orangtuaku. Aku tinggal di sebuah apartemen yang berada tak jauh dari kampusku. Aku tinggal di gedung lantai 3 nomor 303. Tetanggaku, yaitu orang yang tinggal di gedung nomor 302 adalah seorang laki-laki paruh baya yang kerap sekali mengajak anak kecil untuk main ke apartemennya. Aku tak tahu siapa anak kecil itu, karena laki-laki itu belum menikah dan belum memiliki anak, mungkin saja keponakannya.


Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke kampus sekitar pukul 9 pagi. Saat aku mulai keluar, aku menjumpai tetanggaku yang tinggal di gedung nomor 302 itu juga keluar dengan memakai pakaian serba hitam dan mengenakan topi yang menutupi wajahnya. Sebagai tetangga yang baik, aku menyapa paman itu. “Halo paman, selamat pagi.” Tapi bukannya mengindahkan sapaanku, paman itu malah langsung berlalu dari hadapanku tanpa menggubris atau melirikku. Mungkin saja paman itu sedang terburu-buru, pikirku.

__ADS_1


Pulang dari kampus, saat aku melewati gedung nomor 302, aku seperti mendengar sebuah teriakan. Karena penasaran, aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu. Aku mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Ketika pintu terbuka, aku melihat paman itu yang memasang wajah tak suka kepadaku yang telah mengganggunya. “Ada apa hah!?” tanyanya dengan nada tinggi. Aku tersentak dan dengan refleks menggeleng. “Ah tidak ada paman, tadi saya mendengar suara teriakan dari dalam. Paman tidak apa-apa kan?” tanyaku. “Sana pergi!” oke fine, paman itu sudah mengusirku, saatnya aku pergi dari sini. “Maaf telah mengganggu Anda


Siang hari pukul 12.00, aku yang keluar untuk mengambil makanan pesananku tak sengaja melihat paman tetanggaku itu membawa anak kecil lagi ke dalam apartemennya. Dua orang anak laki-laki dan perempuan itu nampak senang dan bersemangat ketika memasuki gedung paman itu. Aku mengedikkan bahu dan menepis segala pikiran buruk yang tiba-tiba saja singgah di kepalaku. “Mungkin hanya perasaanku aja.” Pikirku. Namun saat aku sudah berada di dalam apartemenku sambil menikmati makananku, aku mendengar bunyi seperti sesuatu yang menghantam ke lantai dengan keras. Tapi ini lebih seperti sesuatu itu sengaja dihantamkan ke lantai. Setelah hantaman itu, terdengar suara tangisan. Karena tak nyaman dengan suara itu, aku langsung memanggil penjaga apartemen dan menyuruhnya mengecek gedung sebelah. Selang beberapa menit, penjaga apartemen itu mengabariku bahwa tidak ada apa-apa di gedung sebelah.

__ADS_1


Selama 3 hari aku selalu tak tenang. Telingaku selalu saja mendengar suara-suara seperti sesuatu hantaman, suara tangisan, pukulan, dan juga jeritan. Tapi setiap kali aku meminta penjaga apartemen atau seseorang untuk mengecek, semuanya selalu bilang tidak ada apa-apa. Dan selama 3 hari ini hidungku mencium bau-bau seperti sesuatu yang busuk. Makin lama aku biarkan, bau itu makin menyengat hidung. Karena sudah tak tahan lagi, aku mulai menelusuri darimana asal bau busuk itu.


Kriet, bruk!

__ADS_1


Aku jatuh terduduk di lantai. Badanku seketika gemetar hebat. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Segera aku menelepon 119 untuk meminta bantuan. Duk duk duk, terdengar suara langkah memasuki ruangan. Seketika jantungku berdetak kencang, aku ketakutan setelah mengetahui fakta paman tetanggaku itu. “Ada apa kamu kesini!?” glarr!


Suara paman itu membuatku membeku di tempat. Aku tak bisa bergerak dan berbicara, hanya bisa meneguk ludah. Paman itu menyeringai ke arahku sembari berkata, “Aku sudah tahu kau akan kesini. Jadi aku sudah siapkan sesuatu untuk menyambut dirimu.” Apa maksud ucapan paman itu? Paman itu mendekat ke arahku sambil masih tersenyum. Aku mundur selangkah demi selangkah menjauhi paman itu. “Nikmatilah penyambutanku, Jessi.”

__ADS_1


__ADS_2