Lakon

Lakon
AKU BUKAN TUMBAL (Rumah Mewah)


__ADS_3

Namaku Sutrisni. Aku hanya seorang gadis biasa, yang terlahir di keluarga sederhana di sebuah Desa. Aku akan bekerja yang jaraknya tak jauh dari Desaku. Hanya butuh sekitar waktu 20 menit menggunakan kendaraan motor ke sana.


"Ngati-ati yo, Nduk," (hati-hati ya, Nak,).


"Jeh, Buk,"


Aku berangkat di antarkan oleh tetanggaku. Dia lah yang mencarikan ku pekerjaan di tempat ini. Ini bukan kali pertama aku kerja di sebuah perumahan menjadi seorang ART. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Mau bagaimana lagi. Hanya pekerjaan inilah, yang bisa di dapatkan orang yang tamatan SD sepertiku ini.


Tak berapa lama. Kami sampai di sebuah rumah mewah. Rumah yang seperti istana buatku. Awal aku pikir rumahnya kecil. Sederhana seperti rumah pada umumnya. Tapi pas aku masuk kedalam. Aku tercengang dengan bagasi luas yang tak muat di pandangan. Aku melihat ada dua buah mobil mewah terpakir rapi di ujung ruangan. Di sampingnya, ada deretan motor berbagai merek dan ukuran. Ada juga sepeda dengan berbagai gaya di sana. Ini terlihat seperti parkiran Mall yang dulu sering aku kunjungi saat di Jakarta. Sangat luas untuk parkiran pribadi seperti rumah biasa. Aku semakin penasaran ingin bergegas masuk ke dalam. Jika parkirannya seperti ini. Bagaimana dengan ruangan lainnya.


Aku di ajak masuk seorang wanita setelah baya. Dia memperkenalkan diri sebagai Tumiyem. Dia juga kerja di rumah ini. Hanya saja, kala sore dia harus pulang. Dia mengajakku masuk lebih jauh keluar dari parkiran itu. Baru selangkah aku menginjakan kaki di ruangan lain. Aku melihat sebuah mobil mewah yang terpakir tepat di hadapanku. Mobil lagi?! batinku. Gila, rumahnya besar sekali. Pekerjaanku pasti banyak. Aku mencoba mereka-reka pekerjaanku.


Aku mengikuti Tumiyem masuk ke sebuah ruangan terbuka. Ruangan luas tanpa atap yang terlihat itu sebuah taman. Atapnya tertutupi sebuah jaring yang membentang luas. Di dalamnya, ada banyak sekali berbagai jenis burung. Aku rasa dia pencinta burung. Majikanku orang yang beruntung. Kaya sekali dia. Aku jadi penasaran dengan mereka. Aku di ajak menembuas ke sebuah dapur yang terlihat mewah. Jauh masuk ke dalam, aku melewati sebuah ruang makan yang mewah pula. Di depan sana, aku melihat sebuah tangga yang menuju ke lantai atas. Barlahan aku menaiki anak tangga itu. Aku menoleh ke bawah. Ternyata di balik tangga ini, ada sebuah kamar mandi yang terlihat kumuh seperti kamar mandi pada umumnya. Tak terlihat bahwa itu adalah kamar mandi mewah seperti rumah ini.


Sampai di lantai dua, aku tercengang. Luas sekali rumah ini. Aku di ajak menuju ke sebuah kamar. Kamar yang cukup luas. Aku pikir, itu adalah kamar Manjikanku. Ternyata, itu yang akan menjadi kamarku.


"Barangnya di taroh sini aja, Mbak." tutur Tumiyem. "Ayo, tak ajak keliling. Sekalian tak kasih tau pekerjaannya."

__ADS_1


Aku menaruh tas ransel hitamku. Aku tak banyak bicara dan hanya mengikuti kemana Tumiyem mengajakku. Satu persatu, aku di tunjukan ruangan-ruangan yang terlihat besar. Banyak kamar kosong yang tak di pakai. Ada pula ruang belajar dan ruang bermain anak.


"Di sini, kamarnya besar-besar. Jadi jangan kaget. Cuman ya itu. Gak ada yang makai."


Aku di ajak jauh masuk ke dalam. Aku melewati sebuah tangga kecil yang menuju ke lantai atas. Apa masih ada lantai lagi di atas. Aku tertegun memandang ke lantai atas itu.


"Heh! Ngalamun. Ayo sini." Tumiyem menatapku begitu aneh. "Itu lantai atas. Gak udah di bersihin. Cuman Tuan dan Nyonya yang suka duduk di atas cari angin. Kalau enggak, tukang benerin antena." tuturnya.


"Oh,"


Rasa penasaranku hilang. Aku kembali di ajak masuk dari ruangan ke ruangan. Aku bingung walau sudah dengan jelas di terangkan. Rumah ini seperti labirin buatku. Banyak ruangan yang sambung menyambung antara satu dan satu lainnya. Aku jadi bingung.


Aku di ajak mulai bekerja. Aku di berikan sapu, kain lap, dan sulak untuk membersihkan ruangan. Satu demi satu ruangan besar itu kami selusuri. Begitu lelah rasanya walau tak banyak yang aku kerjakan. Tapi besar dan luas rumah yang harus aku bereskan.


Ngekkkkkk!!


Aku membuka salah satu jendela ruangan tengah. Aku begitu nyaman saat melihat bentangan taman hijau yang terselimuti kelambu jaring yang kuas itu. Kicau burung menyambutku pagi itu. Aku melihat bentangan tembok panjang yang menjadi dinding rumah ini. Kalau di ukur, satu rumah ini berukuran 6 warga di sini. Padahal rumah warga di sini sudah cukup besar. Seperti ukuran rumah pada umumnya. Aku pandanganku tertegun saat melihat lantai 3 dari rumah ini. Aku pikir hanya sebuah ruang kecil untuk bersantai menaruh toren dan antena tv. Ternyata lantai atas itu terlihat seperti rumah besar yang ada beberapa ruangan di dalamnya. Aku jadi penasaran. Rumah inikan milik 1 orang. Tapi kenapa lantai atas itu tak terjamah. Apa ada tangga lain menuju lantai itu. Siapa pemiliknya? Di kontrakinkah seperti 1 ruangan sebelah ini? Atau emang tak terpakai?! Ah sudahlah, itu bukan urusanku.

__ADS_1


Aku melanjutkan pekerjaanku. Hari demi hari aku kewati dengan kerja seperti semestinya. Aku melihat anak lelaki berusia 18 Tahunan. Ada juga anak lelaki berusia 12 Tahunan. Dan yang paling kecil usia 4 Tahunan. Dia satu-satunya perempuan dari ke dua sodara lelakinya. Namanya Klara. Dia begitu ramah, tepatnya crewet. Dia bertanya banyak hal tentangku. Menceritakan bahak hal yang dia pelajari dan tau. Mulai dari mainan bagus, tempat yang pernah dia kunjungi, hingga hal yang tidak aku pahami.


"Mbak dulu di kamar ini ada ular lho. Puanjangggg bangetttt kaya naga. Kepalanya serem kaya manusia. Trus ada perempuan seremmm bangettt. Dia kalau malam suka ketuk jendela. Nanti kaya gini,, Sutri, Sutri, Sutriiiiii, hi hi hi hi ha ha Mbak takut gak nanti??" celotehnya.


"Ha ha ha ha mana ada kaya gituan. Itu kan jendela tinggi. Kalau perempuannya kepleset jatuh gimana?!"


"Lha kan dia terbang! Syuttttt... gitu,"


"Kalau gejedot gimana?! Di rumahkan banyak tembok. Kalau pas terbang gejedot, Aduhhhh sakittttt! Nanti kepalanya benjol,"


"Ha ha ha benjol! Tapi dia bisa ilang,"


"Hebat dong kaya di tipi-tipi," Aku terus timpali celotehan Klara dengan santai. Aku anggap itu hanya celotehan anak kecil biasa.


Hari berganti hari, aku mulai mengenal semua penghuni rumah ini. Majikan lelakiku bernama Bambang. Dia berpawakan layaknya seorang bapak-bapak yang berisi dan berperut sedikit buncit. Kulitnya hitam ke abuan. Pandangannya teduh dan terlihat cuek. Tapi dia orang yang ramah. Sering dia menyapaku saat bertemu denganku yang sedang sibuk bekerja.


"Leren sek, Mbak. Madang kono, gen ono tenogo," (Istirahat dulu, Mbak. Makan sana, biar ada tenaga,) tuturnya dengan ramah.

__ADS_1


"Jeh, Pak. Martun Suwun."


...****...


__ADS_2