
"Kalian bisa tinggal di sini sementara. Aku bisa tidur di rumah Wan Su. Rumahnya hanya di sebelah rumah ini. Jadi kau bisa kapan saja memanggilku." tutur Kong.
"Emm," sahut Karin.
Pagi buta Karin di ganggu dengan suara gaduh Aikha yang tengah menyiapkan diri. Karin terkejut saat melihat Aikha yang sudah berdandan cantik dengan senyum dan mata yang berbinar. Tak seperti hari-hari kemaren, yang terlihat murung dan begitu pucat.
"Ai-"
"Kau sudah bangun. Ayo bangun, kita jalan-jalan hari ini. Pumpung di Shanghai," tutur Aikha.
"Emmm," gumam Karin merasa heran.
Setelah selesai bersiap. Karin dan Aikha bergegas keluar. Tak di sangka di luar sudah ada Kong dan Wan Su yang ingin mengantarkan sarapan.
"Pagi King, pagi Wan," sapa Aikha dengan senyuman yang menawan.
"Haii, pagi," jawan Wan Su dengan ragu.
Kong bergeming memperhatikan Aikha.
"Namanya Samsul bukan King," jelas Karin.
"Namaku Kong. Lee Chen Kong." ceketuk Kong.
Karin melihat ke arah Aikha yang terus menebar pesona itu. Dia merasa aneh dengan sikap Aikha. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi bersama ke tempat kepemakaman tempat abu kremasin Jia di simpan. Sampai di sana Karin tak melepaskan perhatiannya dari Aikha. Aikha terlihat biasa saja, tak ada yang aneh saat melihat abu Jia. Hanya saja dia terlihat normal tak seperti sebelumnya.
"Ah, mungkin saja dia memang sudah sehat. Sudahlah, aku jadi pusing sendiri. Badanku juga akhir-akhir ini capek sekali. Lagi pula, yang jelas, aku terus menjaganya." batin Karin.
"Sini biar aku yang menbawanya," tutur Aikha.
"Tidak biar aku saja," tolak Kong.
"Sudah sini," Aikha memaksa.
"Ah sudah, biar aku saja, Okay." usul Wan Su mengambil guci dari tangan Aikha.
Wan Su melempar pandangan menggoda dengan Aikha. Aikha pun sebaliknya. Mereka pun akhirnya kembali ke rumah Kong. Di tengah perjalanan, Wan Su dan Aikha yang duduk di jog belakang saling menggoda satu sama lain. Aikha mengambil guci dari tangan Wan Su. Wan Su coba mengambilnya lagi. Namun hal itu membuat abunya terbuka dan mengotori pangkuan Aikha.
"Maaf, maaf aku tak sengaja," gelagap Wan Su.
"Apanya yang maaf?!" tanya Kong.
"Ah tidak, hanya tak sengaja menyenggol," jawab Wan Su.
"Hei, jangan mencoba mengoda temanku, ya. Dia sudah punya pacar." ancam Karin.
"Hei mana mungkin," sanggah Wan Su. "Sini aku bersihkan," bisik Wan Su kepada Aikha yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Aikha yang hanya mengenakan dress mini itu terlihat menggoda dengan paha yang putih bersih. Wan Su dengan nafsu lelakinya, dengan berlahan mengusap paha Aikha. Semakin lama semakin penuh perasaan. Aikha hanya diam saja seolah tak melarang Wan Su melakukan itu. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Melempar pandangan menggoda, menyambut satu sama lain.
"Apa saja yang kita butuhkan untuk nanti malam, selain catatan yang kau minta itu?" tanya Kong yang sibuk menyetir.
"Aku tidak yakin. Tapi aku butuh Biksu atau ahli Agama kalian yang lain untuk membantu. Kau tau, aku Ras Jawa, belum tentu metode yang aku gunakan berhasil untuk ini." tutur Karin.
Mereka berdua saling bertukar pendapat untuk menyelesaikan masalah mereka. Sedangkan Wan Su dan Aikha, masih asik dengan nafsu mereka sendiri-sendiri.
Malam pun tiba, Kong dan Karin sibuk merencanakan ritual yang akan dia lakukan. Aikha hanya duduk melihat apa yang mereka berikan. Sesekali, dia bersenandung dengan merdu. Ntah apa yang dia nyanyikan, Kong dan Karin tak menghiraukan hal itu. Tak lama Wan Su pun datang bersama seorang Biksu. Dia menawarkan makan malam untuk Karin dan Kong.
"Kong, ini Biksu yang kau minta. Namanya Won San,"
"Amitabha," salam Biksu itu.
"Silahkan duduk," titah Kong.
"Kong, kalaian belum makan kan?! Akan aku belikan makanan, bagaimana?!" usul Wan Su.
"Boleh," sahutnya.
Karin tengah sibuk menunjukan alat-alat ritual yang dia siapkan. Dia juga menceritakan dan menjelaskan semua yang terjadi. Terlihat Biksu itu merasa bingung. Beberapa kali Karin bertanya, namun Won San tak mampu menjawabnya.
"Bukankah, kalian suka melakukan ritual itu. Bakar dupa dan uang. Aku tak tau mantra/bacaannya," tutur Karin.
"Ah, iya. Bisa-bisa, nanti akan aku lakukan." jawan Won San.
Karin merasa curiga dengan Biksu itu. Terlihat ada sesuatu yang aneh dengannya. Karin menghampiri Kong. Dia mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Kau tak curiga?! Kau yakin dia Biksu??" tanya Karin.
"Ya, kenapa memang??" tanya Kong.
"Tidak, aku hanya merasa dia tak paham dengan ritual ini," tutur Karin.
"Tenanglah, itu hanya perasaan mu. Kita pasti akan berhasil," tutur Kong.
"Ya, Okay."
Mereka kembali ke ruangan bersama Biksu itu. Biksu itu terlihat sedang melakukan sesuatu. Karin terkejut saat menyadari sesuatu yang kurang.
"Dimana Aikha?!" tanya Karin.
"Bukannya bersamamu tadi," jawab Kong.
"Hah?!"
"Oh, Nona. Muda itu, dia pergi bersama Wan Su untuk membeli makanan." sela Biksu itu.
__ADS_1
"Kenapa ikut?! Kau yang ijinkan?" tanya Karin.
"Tidak. Aku tak tau," jawab Kong.
"Sudahlah jangan bertengkar. Lebih baik kita lakukan segera ritualnya," sela Biksu itu.
"Bagaimana kita bisa mulai ritual. Jika orang utamanya tidak ada di sini," jelas Karin.
"Wan Su?!" tanya Biksu itu.
"Bukan. Aikha," jawab Karin.
"Jadi Nona itu yang di rasuki setan?!" ceketuk Biksu itu.
"Lebih baik kita tunggu," usul Kong.
Mereka pun menunggu Wan Su datang. Karin Dan Kong saling bertukar pandangan. Serasa ada sesuatu yang menggangu pikiran mereka. Karin pun dengan ragu mendekat ke arah Kong.
"Bisa kita berbicara sebentar?" tanya Karin.
Kong melihat ke arah Biksu itu.
"Hanya berdua," sambung Karin.
"Hemm," Kong bangkit dari duduknya, mereka keluar dari rumah bersama.
Dia luar rumah, Karin berdiri di samping Kong yang sedang bersender di pagar penghalang bangunan. Udara yang dingin nan sunyi. Rembulan terlihat sendu malu-malu bersembunyi di tebalnya awan hitam. Karin dengan ragu membuka suara.
"Aku tau kau sangat mencintai Jia. Aku turut berduka," tutur Karin.
Kong tersenyum tipis ke arah Karin. "Terimakasih,"
"Tapi maaf. Aku harus tanya sesuatu yang intim kepadamu," ceketuk Karin.
"Apa maksudmu?!"
"Apa kau punya tato naga di perut bagian kanan ba-wah pe-rut-mu," ucap Karin hati-hati.
"Tato?! Apa hubungannya?!" Kong tertawa kecil. Baginya itu adalah pertanyaan yang konyol. "Kau membicarakan tato milik Wan Su. Aku tak pernah suka tato," ungkap Kong terlihat kecewa. "Kau suka dengan Wan Su, hah?! Ha ha,"
"Apa maksudmu!! Bukan itu ...," sanggah Karin terkejut. "Wan Su! Kau yakin Wan Su memilikinya?!" kaget Karin.
"Ya. Aku sendiri yang mengantarnya ke menato bagian perutnya itu, hem hem," Kong tersenyum meledek ke arah Karin.
"Wan Su,," Karin terlihat memikirkan sesuatu. "ASTAGA!! Wan Su!!" panik Karin.
...****************...
__ADS_1