
"Kau gila?! Kau yakin akan pergi ke Indonesia?!" seru Wan Su. "Kong. Ayolah! Lupakan semua, Okay." bujuk Wan Su.
Kong tak mengrubris ocehan sahabatnya itu. Dia memasukan baju dan barang-barang miliknya yang ingin dia bawa. Tak lupa Kong memasukan map besar berwarna biru itu ke dalam tas ransel besarnya.
"Come On, Brooo!!" seru Wan Su terus membujuk Kong. "Sudahlah. Terserah kau saja. Jika kau mau pergi, pergilah!!" hardik Wan Su sudah menyerah.
Kong menggendong tas ransel besarnya itu dan bergegas keluar dari kamarnya. "Wan, kau boleh pakai barang-barang ku. Bilang ke Bos aku ada pekerjaan di luar Negri. Titip ibu dan adikku." ucap Kong bergegas pergi meninggalkan Wan Su sendiri di kamarnya.
Wan Su hanya diam duduk di dekat jendela rumah susun bertingkat itu. Dia tak menghiraukan ucapan Kong karna dia merasa kesal denganya. Wan Su dengan kesalnya menghisap rokok di tangannya. Dia tetiba bergegas berlari keluar untuk menyusul Kong.
"Konggg!! Konggg!!!" sergah Wan Su berlari menyusul Kong.
Kong yang hampir masuk ke dalam taksi itu pun berhenti menunggu sahabatnya yang terlihat berlari menyusulnya.
"Ini untuk mu." Wan Su memberikan sebuah kartu nama kepada Kong. "Dia temanku. Aku yakin kau butuh bantuannya. Dia bisa memberimu kendaraan dan guide. Aku tau kau belum fasik Bahasa Indonesia." ucap Wan Su dengan nafas terengga-engga. "Kau hati-hati di sana ya. Kabari aku jika ada sesuatu." Wan Su menonjok lahan pundak Kong.
"Thank you Bro." ucap Kong memeluk sahabatnya itu.
Kong langsung bergegas masuk ke dalam taksi. Berlahan mobil itu melesat pergi hilang dari pandangan Wan Su. Di dalam mobil Kong membaca secarik kartu nama itu lalu mengantonginya.
"Pak, kita ke Bandara ya." ucap Kong.
"Siap Tuan." sahut driver itu.
......................
...(Jakarta)...
...----------------...
"Matamu baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu proses penyembuhan. Jangan terlalu stres, ya. Itu bisa mempengaruhi pola pikir dan penglihatan. Jika pikiran mu terganggu kau akan melihat hal-hal yang aneh. Padahalnya nyatanya tidak ada. Itu semua hanya karna sugestimu yang terganggu." tutur seorang dokter.
"Iya dok. Terimakasih." ucap Aikha.
Tak berapa lama Aikha keluar dari ruangan dokter dengan penuh kecewa. Itu sudah yang kesekian kalinya dia mendapatkan jawaban yang sama dari Dokter itu. Aikha merasa bahwa apa yang dia lihat itu benar nyatanya. Bukan karna sugesti yang terganggu karna stres belaka.
Lagi dan lagi Aikha harus mengkonsumsi obat penenang agar dia dapat tertidur lelap. Sudah sangat muak baginya mengalami hal tersebut.
__ADS_1
Oh wait til' I do what I do,, Hit you with that,, ddu-du ddu-du du,, Aye aye. (bunyi rintong Hp)
"Halo. Iya, Saya lagi di rumah sakit. Baik, saya akan segera kesana." ucap Aikha berbicara dengan seseorang di ujung telepon.
Aikha pun bergegas menuju ke suatu tempat. Tak berapa lama dia sampai di tempat yang hampir setiap minggu dia kunjungi. Tempat yang selalu membuatnya sedih dan menyesal. Tempat di mana dia merasa menjadi anak yang gagal.
Dengan berlahan Aikha masuk ke dalam. Baru sampai dia di halaman. Aikha sudah di sambut dengan beberapa pasien di sana.
"Cilup baa!! Pok ame ame.."
"Dorr dorrr dorrr."
"AKU GAK MAU, AKU GAK MAU."
Suara gaduh dari pasien rumah sakit jiwa itu menyambut Aikha dari ujung halaman hingga di ruang dalam. Ya benar, Aikha ke rumah sakit ini karna ingin menemui seseorang. Yang tak lain adalah ibu Aikha sendiri. Beliau mengalami gangguan jiwa karna terguncang jiwanya dengan musibah yang menimpa putri semata wayangnya itu.
Selain mendengar Aikha menjadi salah satu korban dalam sebuah tragedi ledakan yang menggemparkan dunia. Dia juga harus kehilangan hampir semua hartanya karna untuk membayar denda ke pada agensi yang mengikat Aikha.
"Suster, di mana ibu saya." ucap Aikha.
"Dia sedang di kamarnya. Kami sudah memberi obat penenang. Silahkan." ucap Suster itu.
"Ayahh." seru Aikha menangis di pelukan Ayahnya.
"Sudah Nak, sudah. Maafkan Ayah, ya." ucap Lelaki itu.
"Maaf, saya permisi dulu." sela Suster itu undur diri.
"Iya, terimakasih Suster." ucap Aikha. "Ayah kenapa gak bilang mau ke sini?".
"Ayah hanya ingin menengok ibu mu sebentar. Bolehkan?!" tanya lelaki itu.
Ayah Aikha dengan ibunya memang sudah bercerai saat Aikha masih SMP. Aikha selama ini tinggal bersama Ibunya. Walau begitu, hubungan Aikha begitu sangat dekat dengan Ayahnya. Seperti tidak ada sebuah kebencian di antara Ibu dan Ayah Aikha. Itu karna mereka berpisah sesuai keinginan masing-masing, tanpa sebuah paksaan dan tuntutan.
"Bukk. Aikha di sini." ucap Aikha memeluk ibunya yang terbaring karna obat penenang. "Maafin Aikha ya Buk." Aikha meneteskan air matanya.
Aikha merasa bersalah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Jika dia tak menjadi TKW di China. Mungkin dia tidak akan mengalami semua kejadian ini. Tragedi itu benar-benar merenggut semua kebahagiaan Aikha. Bukan cuman hampir merenggut nyawanya. Tapi merenggut semua hartanya bahkan kesadaran ibunya.
__ADS_1
"Aikhaaa,, Aihkaaa..." ucap wanita yang terbaring tak berdaya itu sedang mengigau.
"Ibukkkk.." seru Aikha larut dalam kesedihan.
...(Bandara Soekarno-Hatta)...
...----------------...
Kong akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dia bergegas ke sebuah loket untuk menanyakan informasi kepada petugas bandara. Kong tidak tau kemana dia harus pergi. Dia tidak banyak informasi tentang korban yang ingin dia temui. Terlebih lagi, Kong belum fasik berbahasa Indonesia.
...(Sanghai)...
...----------------...
"Halo Mama, I am home." seru Wan Su masuk ke ruang makan yang penuh dengan hidangan mewah.
"Pelayan! Siapa yang menyuruh gelandangan ini masuk." ucap seorang wanita yang duduk di ujung meja panjang itu.
"Mama, kenapa seperti itu?! Hai Bebie." Wang Su ikut bergabung di meja makan. Dia duduk di sebelah seorang gadis muda.
"Sejak kapan aku punya anak seperti mu!" hardik wanita itu. "Di mana Kong? Kenapa dia tidak masuk?!"
"Ohh dia. Dia sedang ada pekerjaan. Aku yakin setelah dia selesai. Dia akan pulang kemari." jelas Wan Su.
BRAKKK! (bunyi meja di pukul).
Wanita itu dengan emosi menggebrakkan tangannya ke atas meja. Hal itu membuat Wan Su dan seorang wanita muda yang duduk di sebelah Wan Su tersentak kaget.
"Aku sudah bilang kepadamu. Jangan pernah datang kemari jika tidak membawa dia pulang ke rumah ini!!" hardik wanita itu.
"Mama. Kau tau sendiri, Kong itu keras kepala. Bukan hal mudah membujuknya untuk pulang." timpal Wan Su.
Wanita itu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat makan itu. Wan Su tak menghiraukan hal itu, dia tetap santai menikmati makanan di hadapannya. Wanita muda itu ikut terlihat kesal karna makan malamnya seakan terganggu.
"Kakak!! Semua karna kau. Lihat Mama marah kan!!" serunya bangkit dari duduknya dan pergi dari tempat makan itu.
"Ahh dasar! Kenapa semua menyalahkanku. Kalau mau pergi, pergi sana, hah dasar. Orang tua sama anak, sama aja." seru Wan Su sembari menikmati hidangan di depannya.
__ADS_1
...****************...