Lakon

Lakon
AKU BUKAN TUMBAL - Kucing Putih


__ADS_3

Aku beranjak dari tempatku berdiri saat melihat Bi Tumi pergi seolah ketakutan dengan sesuatu hal. Aku ingin tau, apa yang Bi Tumi lihat dari bawah sana. Tapi aku masih penasaran, di mana Klara.


"Klaraaaa!!!"


"Klaraaaa turun yuk.."


Aku memanggilnya beberapa kali tapi tak mendapatkan jawaban. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Baru selangkah aku menginjakan kaki di tangga. Aku mendengar suara dari dalam bangunan.


Grobyakkk!!


Emm, apa itu?! batinku. Karna penasaran aku kembali lagi ke lantai 3. Aku mencari tau dari mana suara itu berasal. Aku takut, jika Klara sembunyi di tempat berbahaya.


"Klaraaa,,"


"Klaraaaa kamu di mana sih??!"


Aku mulai panik saat tak dapat menemukan Klara. Aku takut jika Klara jatuh ke bawah sana. Aku dengan cepat menuruni tangga. Aku harus mencari bantuan. Jika terjadi apa-apa dengan Klara. Aku bisa di salahkan.


Tap tap tap tap!!


"Mas Bagass!!!! Mas Agungggg!!!!"


"Pakkkk, Bukkkkk!!"


Aku teriak dengan panik. Saat aku turun ke lantai bawah. Aku tertegun saat melihat mereka berkumpul di ruang keluarga. Dan di sana.. ada Klara.


"Klara itu lho! Kalau turun tu mbok bilang!! Aku panik setengah mati lho!" kesalku tanpa takut kepada Klara.


"Opow to Mbak?! Wong Klara dari tadi di sini kok," sahut Bu Ajeng dengan santai.


"Tapi tadi Bu-"


"Wes wes,, dahh sana. Kamu istirahat aja. Siang-siang kok nglindur."

__ADS_1


"Jeh, Bu. Maaf,"


Aku merasa bingung. Jantungku masih deg degan. Apa sebenarnya yang aku alami ini. Klara keterlaluan. Harusnya dia tak kerjai aku seperti ini. Aku jadi tak enak dengan Pak Bambang dan Bu Ajeng. Pasti Bi Tumi sudah mengadu kepada mereka.


......................


Kepalaku pusing, semalam aku tak dapat tidur nyenyak. Aku tak tau kenapa, kejadian kemaren lusa itu terus terbayang dalam mimpiku. Aku benar-benar terganggu.


Setelah aku selesai dengan pekerjaanku. Aku bingung dengan Bi Tumi yang memanggilku. Tatapannya masih aneh terhadapku. Aku tau, dia tak suka denganku. Tapi apa salahku.


Aku berjalan berlahan dengan tatapan sengit di belakang tubuh tua yang hampir bungkuk itu. Usia Bi Tumi emang masih 50han. Namun tubuhnya sudah mulai bungkuk seperti Mbah-Mbah tua yang harusnya sudah pengsiun.


"Tri, sini. Ayo makan ini. Klara ulang tahun hari ini. Kita rayakan kecil-kecil saja," tutur Bu Ajeng.


Aku terkejut melihat makanan yang lumayan banyak dan enak-enak itu. Kebetulan, dari pagi aku juga belum makan. Ini sepeti rejeki nomplok bagiku.


Aku melihat kue tart yang sudah terpotong. Ada beberapa makanan tradisional. Dan yang membuat perutku meronta adalah tumpeng nasi kuning berikut dengan ingkung ayam yang besar. Namun aku merasa heran, aku melihat ada kemeyan dan beberapa kelopak bunga. Mataku tak lepas dari beda yang tak sepatutnya di situ itu.


"Ohh, jeh." jawabku dengan ragu.


"Kenapa cuman berdiri saja?! Ayo sini, ambil makanannya. Ambil semua yang kamu mau," sela Pak Bambang.


"Jeh, Pak, suwun."


Aku masih berdiri terdiam, selain merasa tak enak. Aku juga bingung mau ambil apa. Semua makananya enak-enak, ingin rasanya mencicipi semuanya.


Aku mengambil piringku, tatapanku tak lepas dari susunan makanan itu. Aku beberapa kali menelan ludah. Tak sabar rasanya lidahku mengunyah makanan-makanan itu.


Aku terkejut saat Bu Ajeng merebut piringku. Dia memotong sebuah paha ayam dan mengambil nasi kuning berikut lauknya untukku.


"Ini makan, gitu aja kok sungkan. Di habisin, nanti ambil lagi." tutur Bu Ajeng kembali ke tempat duduknya.


"Suwun, Bu,"

__ADS_1


Aku merasa lega, menerima makanan di tanganku. Perutku seketika meronta saat mencium bauk wangi nasi kuning yang menusuk ke dalam hidungku. Wangi sekali, rasa laparku seakan tak tertahan. Aku melihat bongkahan daging di piringku. Merah, segar, tebal, emm pasti gurih dan lezat.


Aku mencari tempat duduk kosong. Berlahan aku duduk di kursi dekat pagar burung di taman. Ya acara ini mereka rayakan di taman burung. Hanya saja, kenapa hanya keluarga di rumah ini saja. Di mana teman-teman Klara dan para tetangga.


Aku melihat Bi Tumi yang berdiri di ujung pintu dalam. Dia tak menikmati makanan satu pun. Bi Tumi terlihat salah tingkah melihatku. Kenapa dia?! Ah, sudahlah, dia kan memang tak suka denganku. Wajar kalau tatapannya seperti itu padaku.


Baru aku mengambil sedok dalam piringku. Aku terkejut saat ada seekor kucing jatuh ke pangkuanku.


Pryanggg!!!


"Ahh!!"


"Ngeonggg..."


Kucing anggora putih bersih ntah dari mana jatuhnya. Tanpa takut dia menyantap ayam di piringku. Aku melihat ke atas, memperhatikan dari mana kucing ini melompat. Sepertinya tak ada cela atau tempat untuk kucing berkeliaran. Tapi dari mana kucing ini.


Kucing yang terlihat mahal ini menginjak-injak makananku. Aku tak bisa marah, walau sebenarnya kesal. Kucing malah seperti ini, kalau aku usir bisa kena marah. Aku mengusap lembut bulu kucing itu. Dia dengan lahap menyantap makananku. Aku menelan ludahku beberapa kali. Sial, harusnya aku yang menyantap ayam itu.


Aku melihat ke Bu Agung. Dia terlihat begitu kesal. Aku tertarik saat melihat kelebatan Bi Tumi yang membawa nasi kuning berikut ingkungnya ke dalam rumah. Kenapa di masukan?! Bukannya acara belum selesai.


Aku merasa tak enak. Pak Bambang dan Bu Ajeng terlihat kesal melihatku. Aku jadi sungkan mengambil makanan-makanan itu. Ujungnya, aku hanya menahan laparku.


......................


Malam hari aku begitu lapar. Aku mengambil mie instan di lemari kamarku. Memakannya mentah-mentah untuk gajal perutku. Ya, aku membeli beberapa makanan cadangan sendiri, yang aku simpan di kamarku. Aku tak enak, saat aku ingin nyemil, mengambil makanan dari dapur.


Kepalaku pusing dan ngantuk malam itu, padahal itu baru jam 8. Biasanya aku tidur jam 9 malam. Ah sial, mana mie instannya belum habis. Aku menyimpannya kembali ke dalam lemari. Meminum air putih dan berbaring dalam selimutku.


Aku sangat ngantuk, tapi ntah kenapa aku tak bisa tidur. Palaku pusing, badanku berat dan lemas, malas sekali rasanya. Bahkan hanya sekedar ganti posisi tidur pun, sangat malas bagiku. Tubuhku berat dan seperti melayang, berlahan aku memejamkan mataku. Aku tertelap dalam sekejap.


Aku tersadar berbaring dalam kasurku. Rasanya ngantuk sekali. Aku tak dapat gerakan badanku. Hanya tangan bagian siku kebawah yang bisa aku gerakan. Susah payah aku mencoba meraih ponselku yang ntah di mana. Namun aku terkejut saat melihat, itu bukan ruangan kamarku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2