
"Aikha, Aikha.. kamu kenapa?!" Karin mendekati Aikha yang terbaring.
"Hiks hi hi hiks.." Aikha terlihat menangis mendengar suara karin. "Karin, karinnn.."
"Iya, ini aku, ini aku.." Karin menenangkan Aikha.
Tak lama Dokter pun datang. Dia menjelaskan apa yang terjadi kepada Aikha. "Pasien ini melukai kedua matanya. Bahkan setelah dia di rawat di sini. Dia terus teriak dan berusaha melukai matanya. Jadi kami harus terpaksa mengikat tangannya." jelas Dokter itu. "Tapi tenang saja. Tak terjadi apa-apa pada matanya. Hanya luka ringan. Mungkin jika kondisi mentalnya sudah stabil. Dia boleh langsung pulang,"
"Makasih, Dok."
Karin mengajak Aikha pulang ke rumahnya. Aikha terlihat murung. Tak banyak yang dia katakan. Terlihat jelas bahwa dia sedang depresi berat. Karin menghampiri Aikha yang terlihat murung. Aikha menatap Karin penuh harap.
"Kau percaya padaku?" Aikha meneteskan air matanya.
"Aku di sini untukmu. Aku pasti percaya padamu," jawan Karin menenangkan.
"Aku ingin mengembalikan mata ini. Dia terus mengangguku," Aikha menangis di depan Karin.
"Apa aku boleh melihatnya?" Karin tak melepaskan pandangannya dari mata Aikha yang seolah menyambut Karin.
Karin mendekatkan tubuhnya ke arah Aikha. Karin mencoba melihat lebih dekat ke dalam mata itu. Tetiba Aikha meraih leher Karin dan mencekiknya dengan kuat. Karin jatuh terbaring bersama Aikha yang tak melepaskan cengkramannya. Karin meronta kesakitan. Dia tak bisa bernafas. Kakinya terus menendang. Namun Aikha terus mencekiknya dengan kuat. Pandangannya begitu kosong dan tajam. Sebuah bayangan memori melintas di ingatan Karin. Dia melihat seorang wanita yang tercekik sama persis seperti dirinya. Kakinya menendang. Tangannya berusaha melepaskan cekikan itu. Terus, terus, terus, dan terus menendang berusaha bertahan untuk hidup.
"KARIN!!!" Kong yang baru masuk ke dalam kamar itu bergegas menolong Karin. "Apa yang kau lakukan?!!"
Kong menarik badan Aikha namun tak mebuahkan hasil. Kong berusaha melepas tangan Aikha yang mencengkram leher Karin. Namun dia kesusahan. Tenaga Aikha seperti tangan lelaki yang penuh amarah. Kong dengan panik berusaha mencari cara untuk menghentikan Aikha. Dia tak ingin Karin mati sia-sia karna itu. Tanpa pikir panjang Kong mengambil sebuah fas bunga dan memukulkannya ke pundak Aikha. Yang mengakibatkan dia jatuh tersungkur dan pingsan. Karin pun tak sadarkan diri karna cekikan itu. Kong meraih tubuh Karin dan membaringkannya di atas ranjang. Kong mengecek, apa Karin masih hidup.
"Syukurlah,"
Kong kembali dan mengangkat tubuh Aikha. Dia membaringkannya persis di sebelah Karin. Kong begitu bingung dengan apa yang terjadi. Saksi mata diri yang dia cari selama ini dan gadis yang menolongnya sama-sama terbaring tak sadarkan diri di belakangnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Kong merasa bingung.
......................
Kong menunggu lama mereka sadar. Karin berusaha bangun dari tidurnya. Dia begitu sangat pusing. Karin menatap Kong dengan kosong. Kong bangkit dan mengambil air putih untuk Karin. Karin melihat sahabatnya masih terbaring di sebelahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Karin.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi?! Kenapa dia bisa mencekikmu sekuat itu?" tanya Kong.
__ADS_1
"Ahh, benar. Tadi ... kepalaku," keluh Karin.
Karin memegang kepalanya yang begitu pusing. Dia mencoba mengingat sesuatu. Karin melihat Kong dengan serius. Dia merasa curiga dengan Kong. Kong seperti menyembunyikan sesuatu dari Karin.
"Aku akan jujur padamu. Tapi kau pun harus jujur denganku,"
"Apa maksudmu?!"
"Ada hubungan apa kau dengan semua ini?! Maksudku kasus ini,"
Kong memandang Karin dengan serius. Dia mengambil map dalam ranselnya. Dia menceritakan semua kepada Karin. Satu per satu Kong ceritakan dengan detail.
"Satu-satunya harapanku adalah temanmu. Aku harap dia tau siapa pelakukan. Dia sempat satu lift dengan pelaku itu," tutur Kong.
Karin melihat ke arah Aikha yang masih tak sadarkan diri. Dia memandangnya dengan serius. "Aku tak yakin, tapi aku percaya. Mata Aikha adalah milik Jia. Tunanganmu," ungkap Karin.
"Apa maksudmu?! Itu tidak mungkin." Kong tak percaya.
Karin menatap memungut selembar foto dari map milik Kong.
"Saat Jia di temukan. Kondisi mayatnya masih utuh. Kau bisa lihat fotonya. Mana mungkin Jia mendonorkan matanya," tampik Kong. "Seorang mayat tidak bisa mendonorkan mata."
"Tato?! Dari mana kau tau soal tato itu?!" Kong terkejut. Dia tak percaya dengan apa yang Karin ungkapkan.
"Bayangan itu," tutur Karin.
"Bayangan?!"
"Hemm,"
Karin tertegun. Dia mengusap kepalanya karna pusingnya. Dia melihat Aikha yang tak kunjung siuman.
"Aku ...,"
Karin menceritakan semua apa yang dia lihat di pikirannya kepada Kong. Kong pun merasa tak percaya. Tapi, apa yang Karin katakan itu hampir tak ada yang meleset satu pun. Hanya saja, soal adegan ranjang dan pencekikkan itu. Kong tak pernah melakukannya. Lalu siapa?!
"Maksudmu Jia mati karna di bunuh?!" tanya Kong penasaran.
"Aku tidak yakin. Hanya dia yang bisa menjawabnya," Karin menatap Aikha.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?!"
"Menyatukan roh dan tubuhnya," jawab Karin dengan ragu.
"Caranya??"
"Aku tidak tau. Aku juga tidak yakin dengan apa yang harus aku lakukan. Hanya saja itu jalan satu-satunya." tutur Karin.
"Apa maksudmu??"
"Aku pernah di beritahu. Jika pun sudah mati, tapi tubuh seseorang dengan nyawanya ada sebuah ikatan yang kuat. Jika kita melakukan sebuah ritual dengan tubuh itu. Kita akan bisa berintetaksi dengan arwahnya," terang Karin. "Jika mayatnya kita pakai ritual. Kita bisa memanggil Jia. Jia akan yang akan mengungkap semuanya,"
"Abu?!" Kong mengingat abu kremasi Jia. "Tapi itu di Shanghai."
"Berapa biaya ke sana?!" ceketuk Karin.
......................
Kong, Karin dan Aikha memutuskan untuk terbang ke Shanghai. Karin terpaksa melakukan itu karna tak ingin terjadi apa-apa dengan Aikha. Aikha yang berkali-kali mencoba bunuh diri terlihat murung dengan tekanan depresi yang dia alami. Karin sampai mengikat tangan Aikha karna dia selalu mencoba melukai kedua matanya.
"Kau akan baik-baik saja okay. Tenanglah," bujuk Karin.
Aikha terlihat tenang mengikuti Karin. Mereka pergi ke rumah Kong. Di sana ada Wan Su yang terlihat bersantai di rumah Kong. Dia terkejud dengan kedatangan Kong.
"Kong!!! Akhirnya kau pulang juga. Bagaimana?!" Wan Su terkejut dengan masuknya Aikha dan Karin ke rumah Kong.
"Masuklah. Duduk di sini," tutur Kong kepada Karin.
"Siapa mereka," tanya Wan Su.
Karin yang berpasan dengan Wan Su merasakan sebuah aura yang berbeda. Dia menatap Wan Su dengan penuh penasaran. Mata yang seakan penah Karin lihat. Tapi di mana.
"Dia Karin, dan ini sahabatnya Aikha. Dia salah satu korban selamat," jelas Kong.
"Ouu," sahut Wan Su.
Wan Su duduk di hadapan Aikha. Dia memperhatikan Aikha dari unjung kaki hingga kepala. Aikha melempar senyuman menggoda ke arah Wan Su.
"Aku pulang sebentar. Nanti aku main lagi," Wan Su bergegas keluar. "Oh, ya Kong. Pulang lah sebentar. Ibu dan adik mu menunggumu," Wan Su melihat ke arah Aikha sebelum dia pergi dan lenyap dari pandangan mereka.
__ADS_1
...****************...