Lakon

Lakon
AKU BUKAN TUMBAL - Sepotong Ayam Busuk


__ADS_3

Hari demi hari. Aku lalui dengan biasanya. Aku rajin dalam pekerjaanku. Selain gaji besar yang aku terima. Penghuni di sini begitu sangat sopan dan ramah. Itu semua membuatu segan untuk bermalas-malasan.


"Pak," Hormatku melihat Pak Bambang.


Tak lama, majikan perempuanku pun keluar menyusul suaminya. Dia bertubuh sedikit gemuk. Selalu tersenyum, dengan kulit putih dan wajah yang teduh.


"Mbak, nanti kamarku tolong di bersihkan," pinta Ajeng, majikan perempuanku.


"Jeh, Bu,"


"Makan dulu sana. Biar ada tenaga,"


"Jeh, Bu. Martun suwun."


Minggu berganti begitu cepat. Aku tak menemukan keanehan selama di sini. Sampai, aku mulai merasa terganggu dengan celotehan Klara. Aku seperti terbanyang-banyang dengan sosok yang Klara ceritakan. Ah sial! Cerita Klara menganggu sugestiku.


"Klara. Ehh, dengerin Mbak. Semua itu gak nyata. Semua itu bohong. Jadi Klara jangan percaya, okay," Aku mencoba menghentikan celotehan Klara tentang khayalannya itu. "Mending kenalan sama Doraemon, atau Dora yang bikin pusing,"


"Itu kartun, Mbak. Ini temen Papa sama Mama. Katanya kita keluarga."


"boong,"


"Ah embak nih! Nanti aku bilang Papa biar ketemu sama Mbak," Klara berlari menjauhiku.


Sejak saat itu Klara tak lagi mengangguku dengan celotehan konyolnya. Aku menjadi tenang. Walau sebenarnya, aku kangen dia ganggu. Siang itu aku mencoba mencari Klara. Aku melihat Pak Bambang turun dari lantai tiga.


"Pa, cari apa?!" Klara mengagetkanku yang ntah dari mana dia. Tetiba saja muncul di hadapanku.


"Benerin Antena,"


"Ohhh,"


"Klara, kita mandi yuk." selaku.


Aku pun pergi bersama Klara untuk memandikannya. Beberapa hari berikutnya. Aku mencari Klara karna di minta oleh Bu Ajeng.


"Klara..." panggilku coba mencari. "Klaar-"


"Hi hi.."

__ADS_1


Aku melihat Klara lari naik ke tangga lantai 3. Terdengar suara pintu tertutup dari atas sana. Aku yang takut jika Klara bermain di sisi tembok pun merasa panik. Aku langsung berlari menyusul Klara.


"Klara!"


JEGLEKKKK! (pintu tertutup)


"Ya ampun Klara. Klaraaaa!!! Buka pintunya, Klaraaa!!" Aku mencoba membuka pintu yang terkunci itu. Aku melihat ada kunci yang di gantung di sisi tembok. Aku langsung meraih dan membuka pintu itu. Belum selesai aku memutar kunci pintu itu. Aku di kagetkan dengan sergaha Klara.


"Mbak, ha ha ha. Orang aku di sini, aku laper," tutur Klara yang berada di bawah lantai dua.


Aku melihat Pak Bambang sudah berdiri di sebelah Klara. "Ngapain Mbak!?"


"Tadi Klara naik ke atas Pak, karna panik aku susul. Gak taunya udah di sini lho," Aku mengusap kepala Klara.


"Hi hi hi, Mbak ketipu," Klara meledek.


"Uwes, kono gek madang. Gak boleh main ke atas lagi ya Klara. Nanti tak jatoh." titah Pak Bambang.


"Tu dengerin. Ayok makan. Makan apa?!" Aku mengajak Klara turun ke lantai bawah.


Aku tak merasa aneh dengan kejadian itu. Aku hanya pusing. Rumah ini benar-benar seperti labirin. Masuk sana, keluar sini. Sebenarnya ada berapa tangga di sini. Ah mungkin Klara melewati tangga darurat. Dari pada aku, Klara lebih tau seluk buluk rumah ini.


"Mbak, istirahat dulu. Sini makan kuenya," tutur Bu Ajeng.


"Jeh, Bu."


Aku mengiyakan walau tak melakukannya. Sungkan rasanya, pekerjaan saja belum selesai, aku sudah enak-enakan makan.


"Udah to, kok diam saja. Sini duduk, ngobrol sini."


"Jeh, Bu,"


Aku pun akhirnya menuruti perintah majikan perempuanku itu. Karna sungkan, aku duduk di lantai tepat di hadapan Bu Ajeng.


"Kok lunggoh kono. Duduk sini, wong ada kurisi. Kursi itu tak beli buat duduk,"


"Jeh, Bu. Ngapunten."


Aku menuruti semua perintah Bu Ajeng. Bu Ajeng bertanya banyak hal tentangku. Mulai dari sekolah, pengalaman pekerjaan, sampai ke hal pribadi seperti anak ke berapa dan lahir pada hari apa.

__ADS_1


"Seloso, Bu."


"Selasa apa?!"


"Kurang tau, Bu. Pernah di kasih tau cuman lupa. Seingat saya malam selasa. Sampai banyak orang yang nungguin." jawabku tak merasa aneh.


"Oh, yo wes. Ini di habiskan. Makan kok cimat-cimit. Makan tu yang banyak, biar ada tenaga," tuturnya. "Kamu kalau ada makanan, apa aja. Mau makan ya makan. Gak usah takut."


"Jeh, Bu. Martun Suwun."


Perlakuan mereka begitu baik kepadaku. Tak ada satu sikap pun yang membuat hatiku sakit atau membenci mereka. Mereka orang-orang baik dan ramah.


"Mbak, iki di pangan," Bu Ajeng memberikan sepotong ayam kepadaku.


"Jeh, Bu. Martun suwun,"


Karna perutku terasa masih kenyang. Aku menyimpan makanan itu di meja kamarku. Aku kembali menyelesaikan setlikaanku. Setelah selesai membereskan baju setelikaanku. Perutku terasa lapar. Ahh ini efek aku bekerja, isi perutku jadi tercerna dengan cepat. Aku kembali untuk menyantap ayam goreng yang Bu Ajeng berikan. Nasi hangat yang wangi sudah aku siapkan untuk menemani gurihnya ayam goreng memuaskan lidahku.


"Bauk apa nih," gumamku.


Saat masuk ke kamarku, aku mencium bauk yang kurang enak. Aku terkejut saat melihat ayam goreng yang aku simpan di meja, sudah di penuhi dengan belatung. Aku merasa jijik dan mual seketika. Bagaimana bisa itu terjadi?! Padahal, belum ada 3 jam aku meninggalkan sepotong ayam itu. Apa ini ulah seseorang?! Tapi siapa yang tega mengerjaiku seperti itu?!


"Huekkk!"


Dengan cepat aku membuang ayam itu berikut dengan piringnya ke tong sampah. Aku begitu geli. Belatung itu menggeliat keluar masuk di sepotong ayam yang berbauk busuk itu.


Hampir 2 hari nafsu makanku berkurang. Rasanya mual jika mengingat sepotong ayam itu. Bauk busuk yang menusuk hidung, masih berasa di otakku. Hiii aku begitu geli.


Srek srek srekkk!


Aku melihat Bi Tumiyem yang sedang menyapu taman dari lantai atas. Apa dia yang mengerjaiku?! Tapi kenapa?! Apa dia iri?!


Aku terkejut saat Bi Tumi melihat ke arahku. Dia melihatku yang sedang memperhatikannya. Aku tak tau, akhir-akhir ini Bi Tumi kedapatan sedang mengawasiku. Ada apa sebenarnya?! Apa aku berbuat kesalahan?! Perasaan aku melakukan pekerjaanku dengan baik.


Malam berganti malam. Aku mulai tak tenang. Pikiranku kemana-mana. Aku merasa ada seseorang uang terus mengawasiku. Tapi siapa?!


Aku dengan hati-hati melihat ke setiap sudut dinding rumah. Siapa tau ada CCTV yang terpasang. Perasaanku selalu ada yang mengawasi. Aku jadi tak tenang. Tapi, tak ada alat atau CCTV yang terpasang. Tapi kenapa aku tak tenang?!


Malamnya, aku terbayang dengan apa yang Klara ceritakan. Seakan sosok itu berdiri di luar jendela mengawasiku. Tapi setiap aku melihat ke jendela. Tak ada siapapun di sana. Ntah kenapa, perasaan tak tenangku, selalu membuatku ingin sekali melihat ke arah jendela. Bayang-bayang cerita Klara sampai terbawa ke mimpiku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2