Lakon

Lakon
HELP (Mencarinya)


__ADS_3

...(Yogyakarta)...


...----------------...


"Selamat datang untuk penumpang Garuda Indonesia ...," (suara announcer bandara).


Riuk pikuk bandara menyambut kedatangan para pendatang. Ntah dari turis asing, warga luar kota, atau warga lokal yang sedang bekerja atau hanya menjemput dan mengantar sanak kerabat mereka.


"Hello Sir, you need a Taxi?" (Halo Tuan, Anda butuh Taksi?) seru seorang Driver.


"No. Thank you." sahut Kong.


Kong mengeluarkan ponsel dan kartu nama yang dia dapatkan dari sahabatnya itu. Kong mencoba menghubungi nomor yang terteda di kartu itu. Berkali-kali ia hubungi tapi tak ada jawaban juga. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang langsung ke alamat yang tertera jelas di kartu nama itu.


"TAKSI!" seru Kong.


Dia langsung bergegas masuk kedalam taksi. Kong berharap, orang yang di tujunya dapat membantu dia menemukan orang yang dia cari. Karna orang itu adalah satu-satunya harapan Kong.


"Hi sir, what country are you from?" (Hai Tuan, Anda dari negara mana?) tanya Driver Taksi itu.


"China." jawab Kong.


"Ohh China. Hai!" sergah Driver itu. "You, You can, speak, Indonesian?" (Anda, Anda bisa, berbicara, Indonesia?).


"Sedikit." jawab Kong.


"Bisa!! Alhamdulillah." sergah Driver itu merasa lega. "Jadi kita mau kemana Pak?!"


"Ini." Kong menunjukan secarik kartu nama ke Driver Taksi itu.


"OKAY SIAP PAK!!" seru driver itu penuh semangat. "Silahkan ambil posisi duduk yang nyaman. Jangan lupa sabuk pengaman. Di depan anda ada tisu, permen, dan kantong plastik jika penumpang mabuk kendaraan. Buat diri Anda senyaman mungkin, jangan takut untuk saya kecewakan. Karna saya driver taksi yang siap mengantarkan, bukan doi yang cuman asal kasih harapan tanpa sebuah kepastian. ANDA SUDAH SIAP?! MARI KITA JALAN!!!" tutur driver taksi itu memberi sambutan kepada Kong.

__ADS_1


Kong di buat tertawa kagum oleh sambutan yang driver itu berikan. Dia merasa kagum dengan keramahan orang Indonesia. Ini adalah kali kedua dia datang ke Indonesia setelah 3 Tahun lalu dia datang ke Bali bersama Jia kekasihnya.


Hiruk pikuk kota Yogyakarta membuat Kong tertarik dengan daerah ini. Dia merasa ingin tau, sebesar dan seindah apa itu Indonesia. Kong meraih camera di ranselnya, dan tak ingin mengabaikan setiap pemandangan yang dia temui dari balik jendela mobil yang dia tumpangi itu.


Cukup lama Kong berada di dalam taksi itu. Hari pun juga sudah mulai gelap. Semakin lama, jalanan yang mereka lalui semakin sepi. Kong di bawa masuk ke sebuah perumahan yang terlihat begitu besar dan elit. Dua patung kuda besar menyambut mereka di pintu masuk utama.


Sebuah gerbang besar berwarna hitam berlahan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Setelah gerbang itu terbuka lebar, dengan berlahan mobil itu melesat masuk ke aera perumahan. Terlihat rumah-rumah megah yang berdiri begitu kokohnya. Tak berapa lama berhentilah mereka di sebuah rumah besar yang berdominan warna hitam dan emas itu.


"Okay Sir. Sudah sampai." ucap Driver Taksi itu.


"Oh okay." jawab Kong.


"Berapa? Tarif." tanya Kong.


"Empat ratus tiga puluh dua ribu." tutur driver itu.


Kong mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Dia memeberikan 4 lembar uang kertas merah dan 1 lembar uang kertas biru. Driver itu dengan sopan menerima uang tersebut.


"Sirr kembaliannya." seru Driver itu turun dari dalam mobil menghampiri Kong.


"Ambil saja." ucap Kong.


"Serius Sir?" tanya Driver itu.


Kong hanya mengangguk melempar sebuah senyuman tipis. Dia terpaku melihat rumah megah di hadapannya.


"Allahamdulillah, muach." seru Driver itu mencium lemaran uang di tangannya. "Sir, Sir, tunggu Sir." seru driver itu menahan Kong yang ingin masuk ke dalam rumah megah itu. Driver itu kembali masuk ke dalam mobil untuk mengambil sesuatu. "Ini. Ini kartu nama saya. Kalau Sir butuh tumpangan, bisa calling calling me, okay." Driver itu memberikan secarik kartu nama.


"Okay, terimakasih." ucap Kong.


"Okay! Permisi. Sampai jumpa lagi Sir." ucap driver itu sebelum dia pergi meminggalkan Kong.

__ADS_1


Berlum sempat Kong memencet bell rumah yang dia cari. Gerbang di depannya terbuka dengan sendirinya. Tak terlihat siapa-siapa di balik gerbang itu. Tak lama, pintu rumah yang besar berwarna hitam dengan ornamen naga emas itu terbuka dengan berlahan.


Terlihat seorang wanita yang mengenakan pakaian adat dengan berlahan menghampiri Kong yang masih berdiri di depan gerbang. Wanita itu terlihat sangat sopan dan santun dengan gaya dia berjalan. Dia tersenyum ramah ke pada Kong sebelum dia menyuruh Kong masuk ke dalam rumah besar itu.


"Monggooo.." ucap wanita itu mempersilahkan masuk.


Kong tanpa ragu masuk ke dalam rumah mengikuti wanita yang belum dia kenal itu. Dia memperhatikan setiap detail desain rumah yang megah itu. Terlihat jelas ornamen-ornamen naga yang hampir mengisi setiap desain perabotan rumah itu.


Kong di bawa kesebuah ruang tamu yang luas dengan lukisan naga yang besar menghiasi dinding ruang tamu itu. Ada juga beberapa patung naga yang terpajang indah di ruangan itu. Tak lama keluarlah seseorang pria menghampiri Kong dengan senyuman sumringah.


"Welcome to Indonesia ha ha ha! Aku tau kau yang bernama Lee Chen Kong bukan?! Aku sudah menunggu kedatangan mu." seru pria itu.


Pria dewasa berkepala 4 itu bertubuh tinggi besar. Kulitnya gelap ada gigi emas di salah satu rahang atasnya. Dia memakai banyak perhiasan emas di badannya. Terlihat, dia begitu menyukai kemewahan.


"Panggil aku Cou Yang. Aku sangat kenal sekali dengan Ayah dan Ibumu," tutur lelaki itu. "Bagaimana, apa yang bisa aku bantu?!"


"Aku butuh sebuah informasi," ungkap Kong.


Kong memberikan alamat kepada Cou. Dia menceritakan maksud dan kedatangannya. Cou tak bisa memberi banyak bantuan kepada Kong. Dia hanya memberikan sebuah mobil yang bisa Kong kendarai. Dia juga memberikan KTP palsu kepada Kong, jika nanti dia dapat masalah di dengan Polisi.


"Aku tidak bisa bantu banyak. Aku hanya bisa menyuruh anak buahku untuk mencari tau agensi ini. Tapi jika data pemerintah. Ahhhh kau tau ...," Cou menuang minuman ke dalam sebuah gelas lalu menikmatinya. "Tidak semua bisnisku legal. Kalau aku mengusik kepemerintahan. Mereka bisa mencium kebusukanku."


"Tidak apa-apa. Itu sudah cukup membantu."


Kong mengambil data dan mobil yang Cou berikan. Cou juga menyuruh salah satu anak buahnya yang fasik berbahasa Indonesia untuk menemani Kong. Kong pun sangat berterimakasih atas bantuan itu.


"Kau tenang saja. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengikutinya,"


Kong menuju ke sebuah alamat yang dia dapatkan dari Agensi penyalur tenaga kerja. Alamat yang mungkin saja adalah rumah dari salah satu korban yang dia cari. Sampai di sebuah Desa yang terletak di pedalaman. Kong kesana kemari mencari rumah yang di tuju. Sampailah dia di salah satu rumah yang terlihat kumuh tak terawat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2