Lakon

Lakon
HELP (Mata-mata)


__ADS_3

"Kalian siapa?!" Seorang gadis menghampiri Kong dengan ragu.


Belum Kong menjawab pertanyaan gadis itu. Gadis itu terlihat terkejut melihat sesuatu dari arah Kong. Dia membuang mukanya seolah tak ingin melihat sesuatu itu. Kong yang merasa penasaran mencari tau apa yang gadis itu lihat.


"Sorry," Kong mendekat ke gadis itu dengan hati-hati.


Gadis itu berlahan melihat ke arah Kong. Dia seakan mencari sesuatu di sekitar situ.


"Kau, cari apa?" tanya Kong.


"Ahh, maaf. Aku tau yang kau cari." tutur Gadis itu. "Tapi dia tak ada di rumah ini. Dia sudah pindah ke Jakarta bersama Ibunya. Kau harus cepat, sebelum terlambat. Kalau tidak. Apa yang kau cari tak akan pernah kau temukan,"


"Apa maksudmu?"


Gadis itu menarik tangan Kong. Kong berusaha menahannya. Tapi, gadis itu seolah ingin menunjukan sesuatu. Kong yang penasaran. Akhirnya mengikuti kemana gadis itu mengajaknya. Kong di ajak ke sebuah rumah yang terlihat bersih. Rumah yang nyaman dengan bunga-bunga di halamannya.


"Bu, Bosku datang. Aku harus berangkat. Soalnya keburu malam. Aku pamit ya Bu, Salam buat Bapak kalau pulang nanti." tutur gadis itu.


"Lho Ka. Gak tungguin Bapakmu dulu to, Nduk." Seorang ibu datang dari dalam menyusul gadis itu yang keluar menggendong tas ransel di punggungnya.


"Duh, Buk. Bos ku ini gak lama di Indonesia. Setiap detik berharga. Biasanya juga gak pamit gak apa-apa. Doanya aja, Buk. Salim," tutur gadis itu.


"Iyo, Nduk. Aamiin. Walahhh Bos mu kok ganteng temen lho. Seneng aku," tutur Ibu itu melihat anak gadisnya pergi bersama Kong.


Namanya adalah Karin. Dia adalah teman kecil dari Aikha. Dia juga seorang guide di daerah Yogyakarta. Karna dia dapat menguasai beberapa bahasa. Dia memilih membuka jasa guide untuk membantu turis mengenal budaya Indonesia.


"Dia temanmu?" tanya Karin kepada Kong.


"Bukan, dia guide yang di minta membantuku."


"Oh, padahal aku juga ingin meminta bayaran padamu," Karin tak melepaskan pandangannya dari lelaki yang berdiri di samping mobil itu.


"Hah?!" Kong terlihat bingung.


"Untuk menutup mulut Ibuku. Aku berbohong soal pekerjaan. Sudahlah, ayo jalan. Kita harus bergegas ke stasiun agar tak ketinggalan kereta."


"Kereta?!"


"Lihat ini," Karin memberikan selembar foto.


Kong semakin bingung dengan apa yang Karin maksud. Stasiun, Karin bergegas mengantri untuk pembelian tiket.


"Mereka akan ke Jakarta, Bos. Saya yakin. Saya sedang di stasiun saat ini. Baik, Bos,"


"Selamat siang, Bu," sapa seorang pegawai.

__ADS_1


"Saya butuh tiket ke Jakarta untuk hari ini. Yang berangkat lebih cepat ada?" tanya Karin.


"Sebentar saya cek dulu ya, Bu " Pegawai itu sibuk dengan komputernya. "Ada, Bu. Untuk berapa orang?"


"Du-,"


"Tiga!" sergah lelaki yang sudah berdiri di belakang Karin.


Karin merasa aneh dengan lelaki itu. Lelaki itu memberikan KTP miliknya. Dia menatap Karin penuh dengan curiga. Karin pun juga demikian.


"Untuk yang dua lagi, Bu. KTPnya,"


"Oh, Ya sebentar. Ini yang satu dan yang satu tunggu sebentar." Karin menghampiri Kong. Dia meminta KTP milik Kong. Kong pun bangkit dan mengikuti Karin.


"Ini," Karin memberikan KTP kepada Pegawai itu.


"Dengan Ibu Karin, Pak Jaka, dan Pak Samsul, ya?" Pegawai itu terseyum ke arah Kong.


Karin yang melihat itu pun tak heran dengan apa yang pegawai itu sikapkan. "Cewek lihat yang bening dikit, langsung deh. Emang sih. Ganteng." batin Karin.


"Keberangkatannya sekitar 45 Menit lagi ya, Bu. Ini KTPnya. Dan ini tiketnya." tutur Pegawai itu.


"Terimakasih," Karin mengambil ketiga KTP itu dan bergegas ke ruang tunggu penumpang.


Karin duduk di ruang tunggu dengan di susul oleh Kong dan lelaki itu. Karin melihat KTP lelaki asing yang duduk di sebelahnya. Namun lelaki itu langsung menyaut KTP miliknya dari tangan Karin.


"SAMSOL?!!" pekik Karin.


Semua mata melihat Karin yang tetiba teriak. Karin begitu sangat malu. Dia berlahan melihat kembali KTP di tangannya. Dia berlahan tertawa saat membaca dengan jelas Nama yang tertera di KTP itu.


"Ha ha HA HA HA HA!!!!!!" Tawa Karin yang kantang memecah kesunyian di sana. Karin benar-benar tak bisa menahan tawanyan. "Samsul Miyanto," Karin menepuk pundak Kong.


Karim tertawa melihat Kong yang tak paham dengan apa yang Karin ketawakan. Sedangkan Jaka, hanya tersenyum tipis berusaha tak urus campur di samping mereka.


"Kenapa?!" tanya Kong.


"Kau tidak bisa memilih Nama yang lebih keren sedikit?!" tanya Karin berbisik kepada Kong.


"Apa maksudmu?"


"Kau tak usah sok polos. Aku tau ini KTP palsu. Tapi apa tidak bisa memilih Nama yang bagus. Minimal yang sesuai dengan tampangmu." bisik Karin.


"Aku tidak tau menau soal itu. Temanku yang menyiapkan semuanya."


"Ah sudahlah. Samsol. Ini KTP mu." Karin memberikan KTP itu kepada Kong. Kong lalu mengantonginya.

__ADS_1


Saat mereka berada di dalam kereta. Karin dan Jaka saling melempar tatapan yang tajam. Kong yang melihat itu merasa tak enak dengan mereka berdua. Tak berapa lama, Jaka memuntahkan sebuah darah dari mulutnya. Darah segar keluar dari mulut Jaka. Kong pun terkejut melihat hal itu.


"Bagaimana?! Masih mau lawan?" celetuk Karin.


"Hebat juga kamu," sahut Jaka mengusap darah di mulutnya.


"Jadi, kenapa kamu mengikuti kami?" tanya Karin.


"Aku ghor di kongkon. Aku ghor kerjo," (Aku hanya di suruh. Aku hanya bekerja.) jawab Jaka.


"Gak ada kerjaan lain apa?!"


"Apa urusanmu!" cetus Jaka.


"Lebih baik pulang. Jangan ikuti kami. Aku tau kau di suruh mata-matai Samsol kan?!" ungkap Karin.


"Apa?!" Kong terkejut.


Jaka salah tingkah. "Aku cuman kerja. Aku punya anak dan istri,"


"Ya udah. Gak apa-apa deh kamu ikut. Toh siapa tau aku butuh qodammu itu," ucap Karin.


Jaka terlihat tak suka dengan apa yang Karin ucapkan. Namun dia harus mengikuti kemana mereka harus pergi.


Sesampai di Jakarta. Karin langsung menghubungi sahabatnya itu. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Duh, kemana sih dia?!" cemas Karin.


"Kenapa tidak langsung kerumahnya?" tanya Jaka.


"Kalau aku tau kita bisa langsung ke sana." jawab Karin. "Kamu bawa uang gak? Cari penginapan yuk. Aku udah capek banget." usul Karin.


"Biar aku yang membayar semuanya." ucap Kong.


Mereka memutuskan untuk menginap di salah satu Hotel di dekat tempat itu. Mereka memesan sebuah kamar untuk mereka menghilangkan lelah. Menunggu Kong yang sedang mandi. Karin dan Jaka sesekali melempar tatapan sengit.


"Kamu lihat gak?!" Karin mendekati Jaka yang duduk bertopang lutut di lantai.


"Opow?!" (Apa?!)


"Demet kui," (Setan itu)


Jaka hanya diam. Dia tak menjawab pertanyaan Karin. "Seng penteng aku kerjo," (Yang penting aku kerja,)


"Kerja, Kerja. Sok alim," Karin duduk tepat di sebelah Jaka.

__ADS_1


Jaka menatap Karin yang duduk tepat di sampingnya. Mereka pun saling bertatap-tatapan satu sama lain.


...****************...


__ADS_2