Lakon

Lakon
AKU BUKAN TUMBAL - Last


__ADS_3

Aku membuka mataku lebar-lebar. Melihat dengan jelas di mana aku saat ini. Ini, ini, tempat yang aku mimpikan waktu itu. Tunggu, kalau aku mimpi, kenapa aku ingat kalau aku pernah mimpi di sini. Ada apa?! Apa yang sebenarnya terjadi.


Aku meronta, aku coba menggerakkan badanku, namun aku tak bisa. Rasanya badanku seperti di ikat. Namun tak ada satu tali pun yang mengikatku. Aku, ini kenapa?!


Ngekkkkkk!!


Aku melihat pintu sisi kiriku terbuka. Pintu seng yang usang di makan karat itu, berlahan terbuka menimbulkan gesekan yang menarik perhatianku.


Aku ternyalang saat melihat sesuatu yang hitam berlahan timbul dari balik pintu itu. Apa itu?! Seperti rambut. Tapi siapa?! Aku meronta, aku ingin bangun dan melihatnya. Aku jadi takut dengan rasa penasaranku yang tak penuhi.


Berlahan ada sesuatu yang merayap di atas daun pintu usang itu. Apa itu?! Itu seperti kuku. Tapi hitam. Makin lama makin terlihat kuku hitam yang panjang itu. Tunggu! ternyata bukan cuman kukunya saja. Tangan hitam dengan berlahan merayap di daun pintu itu. Seraya dengan itu, sebuah kepala muncul dari atas daun pintu. Dia seakan mengintip penuh penasaran. Sosoknya terlihat sangat tinggi, rambutnya panjang terurai berantakan, hampir menutupi seluruh mukanya. Terlihat sorot mata mengerikan dari balik rambut itu. Mata merah yang meloto, dengan kulit muka gelap yang hancur. Semakin lama, aku semakin jelas melihat senyum lebar mengerikan itu. Seakan dia puas melihatku. Aku terpaku melihat sosok itu. Berlahan dia keluar menunjukan tubuh kurus yang tinggi hingga menyentuh langit-langit rumah.


Dia siapa?! Mahluk apa itu?! Aku sebenarnya di mana?!


Senyumnya semakin lama semakin lebar. Dia menunjukan gigi tajam bagai gergaji, yang berlumuran cairan merah kental yang menetes dari mulutnya. Makin dia keluar, makin busuk bauk yang aku cium.


Aku meronta berusaha membangunkan diri. Namun aku tak bisa. Tubuhku yang berasa di ikat itu, tak bisa aku lepaskan dengan kedua tanganku yang bisa aku gerakan hingga sebatas siku. Tak ada tali yang bisa aku lepas. Aku tak bisa bergerak. Dia aman aku?! Kenapa diriku?! Apa ini mimpi?!


Aku melihat pintu kayu tua itu berlahan terbuka. Masuklah Bu Ajeng dan Pak Bambang dengan baju adat Jawa yang Kas. Aku merasa bingung, kenapa ada mereka di dalam mimpiku. Tunggu dulu! Apa aku ini sedang mimpi?! Jika bukan, apa yang sebenarnya terjadi?!


Sorot mata mereka tajam. Mereka tersenyum puas ke arahku. Tak lama Bi Tumi datang membawa sebuah tamber yang berisi sajen kemenyan. Apa itu?! Apa ini nyata?! Jadi mereka kaya karna memuja?! Apa sosok ini yang mereka puja?! Tapi ini sosok apa?!


Aku mengalihkan pandanganku ke satu dan satu lainnya. Memperhatikan apa yang mereka lalukan. Aku semakin yakin mereka memuja saat Pak Bambang bersujud dengan kedua tangan dia satukan di atas kepalanya. Bibirnya komat-kamit seakan membaca mantra. Setiap Pak Bambang meniup asap dupa di hadapannya. Sosok itu semakin tersenyum lebar mendekat ke arahku.


Apa?! Apa ini?!! Jadi aku mau di jadikan tumbal?!! Enggak. Enggak!! Aku tak mau jadi tumbal! Aku bukan tumbal. Aku tak mau!! Aku tak mau!!!


Aku menghentak-hentakan tanganku di tempatku berbaring seraya beristiqhfar dan menyebut Tuhanku. Aku tak mau menjadi tumbal mereka. Aku terus melawan dan terus melawan.


"Astaghfirullah!!"


"La ilaha illallah!!"


"Allahu Akbar,"


Aku terus menyerukan kalimat itu. Semakin aku menyerukannya, semakin berani aku menatap mahluk itu. Aku melihat Bu Ajeng dan Pak Bambang terngaga memuntahkan darah hitam kental dari mulutnya. Mahluk itu berlahan masuk kembali ke dalam ruangan yang entah apa isi di dalamnya.


Aku terbangun mendengar suara hentakan tanganku sendiri di kasurku. Aku melihat ke arah jendela yang benderang. Aku termangu dengan apa yang aku mimpikan barusan. Seperti nyata, tapi syukurlah hanya mimpi. Aku berusaha menggerakan badanku. Rasanya berat, semutan, pegal sekali rasanya.


Aku meraih ponselku dan melihat itu baru pulul 3:47 pagi. Subuh pun belum berkumandang. Aku menjalani aktivitasku seperti biasa. Aku menganggap semua itu hanya bunga tidur semata. Ahh, paling aku hanya kepikiran soal apa yang aku alami akhir-akhir ini di sini.

__ADS_1


Saat aku mengangkat baju di jemuran. Aku terganggu dengan bauk busuk yang menyengat. Bauk apa ini?! Bauknya sangat menusuk hidung. Aku mencoba mencari sumber bauk itu. Aku terkejut, saat aku melihat ke atap, ternyata ada kucing yang terkapar di atas seng rumah majikanku. Kucing itu terlihat sudah tak bernyawa. Yang paling mengejutkan lagi. Itu adalah kucing yang merebut makananku kemaren. Tapi bagaimana bisa dia membusuk di sini. Bukankah baru kemaren malam dia mencuri makananku?! Mana mungkin hanya dalam 1 malam kucing itu bisa mati dan berbauk busuk seperti ini. Ahh mungkin saja itu kucing yang berbeda. Tapi lihat kaling yang dia kenakan, sama persis dengan kucing itu. Aku terheran-heran di buatnya. Dengan kasihan, aku mengubur kucing itu di kebon depan rumah besar majikanku.


......................


Aku sedang memberekan pekerjaanku seperti biasa. Aku merasa aneh dengan Bi Tumi. Dia seolah senang melihatku, dia melempar senyuman tipis dan tatapam yang teduh. Tak seperti sebelumnya. Tapi ...


Ntah kenapa, sikap Bu Ajeng dan Pak Bambang menjadi jutek denganku. Walau mereka masih melempar senyuman, tapi sorot mata mereka menunjukan senyuman itu adalah sebuah keterpaksaan.


"Tri, kamu di panggil sama Doro. Suruh menghadap sekarang." tutur Bi Tumi.


"Jeh, Bu Lek,"


Aku mencari di mana Bu Ajeng dan Pak Bambang berada. Mereka menungguku di sofa depan kamar mereka. Mereka menatapku dengan serius. Apa aku melakukan kesalahan?! Tapi apa?! Agaknya aku sudah melakukan pekerjaanku dengan baik.


"Tri, duduk," titah Pak Bambang.


"Jeh, Pak."


"Bapak, Ibumu semalam ngabari. Katanya kamu di suruh pulang. Jadi maaf, Bapak dan Ibu harus memulangkanmu."


"Oh,"


"Ini uang gajimu. Aku bayar full. Dan ini uang pesangonmu." Pak Bambang menyodorkan uang kepadaku yang tidak sedikit.


"Tapi Pak,"


"Kenapa? Kurang?!"


"Bukan Pak. Ini banyak sekali,"


"Itu uang gaji dan pesangon. Udah ambil saja. Trus kamu mau pulang hari ini atau besok?"


"Sekarang aja Pak," Aku menjawab dengan ragu. "Makasih banyak ya, Pak,"


Aku mengambil uang gepokan itu. Kembali ke kamar dan membereskan semua barangku. Kenapa Bapak dam Ibu tidak menelponku?! Ada apa sebenarnya?! Jangan sampai aku di jodohkan dengan Supri lagi. Aku tak mau di jodohkan.


Aku pulang dengan gunda. Aku bingung dengan semua yang aku alami. Ada apa sebenarnya?! Lihat saja nanti, kalau aku sampai di jodohkan dengan Supri atau yang lebih parah lagi. Aku akan pergi dari rumah.


Sampai di rumah, aku melihat rumahku terkunci. Aku menunggu di teras rumahku dengan sabar. Ini sudah sore, kemana Bapak dan Ibu?! Aku semakin khawatir. Tetangga pun tidak ada yang lewat. Apa yang sebenarnya terjadi?!

__ADS_1


Tak lama aku menunggu. Bapak dan Ibu pun pulang. Jika di lihat, sepertinya mereka dari sawah. Ibu dan Bapak dari kejauhan menyambutku dengan heran. Aku pun juga heran dengan sikap mereka.


"Ya Allah, Nduk. Kok gak bilang mau pulang?! Ada apa?! Bos mu liburan?! Kok libur pulang tu?!" sergah Ibu menghampiri dan memelukku.


"Lho pie tow Buk?! Kata Pak Bambang, Ibu sama Bapak semalam ngabarin, suruh aku pulang,"


"Lho! Ngabari pie tow, Nduk?!" kaget mereka. "Lha wong HP Bapak aja rusak. Yo to Bu?"


"Ho o, Nduk. Wes ayo mlebu, di dalam aja ceritanya,"


Aku masuk ke dalam rumahku. Aku menujukan uang yang Pak Bambang berikan. Aku menceritakan apa yang Pak Bambang tuturkan.


"Lho, aku gak ngabari ke sana lho," tutur Bapak.


"Nduk, kamu gak buat kesalahan kan, Nduk?! Kamu gak bikin mereka marah?" tanya Ibuku.


"Enggak, Bu. Mereka baik, gak pernah negur aku atau yang lainnya,"


"Yo wes kalau gitu. Itu sama saja kamu di pecat secara baik-baik. Dah, kamu di rumah aja. Uang ini di simpan untuk biaya makan selama kamu belum kerja," tutur Bapak.


"Jeh, Pak,"


Aku merasa bingung. Kenapa Pak Bambang harus berbohong?! Tapi aku lega, aku di pecat dengan cara yang hormat.


Berjalan waktu, satu bulan aku di rumah, aku tak kunjung mendapatkan kerjaan. Tetiba, aku mendengar kabar yang mengejutkan.


"Tri, layat gak?!" tegur tetangga depan rumahku.


"Kemana Yu," sahut Ibuku.


"Ke rumahnya Sukiman, yang rumahnya pinggir jalan deket lapangan sana. Anaknya yang cewek itu. Dia kerja di tempat Sutrisni kerja dulu. Yang rumahnya gede. Dia meninggal jatuh dari lantai tiga pas Ulang Tahun anak bosnya paling kecil, kemaren."


Anak bos?! Klara?!! Bukannya dia ulang tahun bulan kemaren?!


Aku tak menceritakan kejadian aneh yang aku alami di sana kepada ibu dan ayahku. Namun karna belum ada kurung 2 bulan aku dengar sudah ada 2 orang yang meninggal di sana. Aku ceritakan semua kepada bapak dan ibu.


Mereka begitu terkejut. Mereka bersyukur aku baik-baik saja. Aku terus di ingatkan untuk terus dekat dan mengingat Tuhan. Kami yakin Allah akan selalu melindungi Hambanya yang bertaqwa. Jangan sampai kita menjadi korban. Karna ...


...AKU BUKAN TUMBAL...

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2