Lakon

Lakon
AKU BUKAN TUMBAL - Punggung Pegal


__ADS_3

Aku terbangun dengan lesu. Akhir-akhir ini aku tak bisa tidur nyenyak. Tidur pun aku selalu mimpi buruk. Ini semua karna Klara yang meceritakan khayalan yang tak masuk akalnya itu.


"Tri, di panggil Doro," Bi Tumiyem memanggilku.


Aku merasa sebal dengan perempuan setengah baya itu. Dia selalu menatapku dengan tajam. Aku yakin dia yang mengerjai diriku.


"Jeh, Bu, kulo,"


"Iki buat kamu. Di makan cepetan, nanti tak di lalerin. Bawa sana," Bu Ajeng memberiku sepotong ayam lagi.


"Suwun, Bu."


Ayam yang masih hangat, tercium sangat wangi dan menusuk perutku. Rasa laparku mulai bergejolak. Cacing di perutku terdengar tak sabar untuk mencerna sepotong ayam ini. Tapi tunggu dulu, aku penasaran. Bagaimana Bi Tumi menukar makananku dengan makanan busuk. Aku harus menjebaknya. Aku ingin tau bagaimana jahatnya dia.


Aku menaruh sepotong ayam itu di meja kamarku. Aku berpura-pura pergi dan sembunyi di balik lemari jauh di depan kamarku. Aku mengawasi dengan pasti bagaimana Tumi menukar ayamku.


Hampir satu jam aku duduk menunggu. Tapi Tumi tak kunjung datang juga. Aku sampai ngantuk. Mataku sepat tak mengalihkan pandangannya dari kamarku. Aku merasa sebal.


"Tri, ngapain duduk di situ," ucap Tumi mengagetkanku.


Aku tak tau sudah berapa lama dia berdiri di belakangku. Yang jelas, aku seperti orang bodoh yang menunggu dia masuk ke kamarku.


"Eh, enggak. Cuman duduk doang,"


Aku kembali ke kamarku karna kesal. Percuma saja, dia gak akan menukar ayamku. Wong dia sudah pergoki aku. Sampai di pintu kamar, aku tertegun saat mencium bauk busuk sama persis seperti waktu itu.


"Huekk,,"


Kali ini lebih busuk. Aku masuk dan melihat ayam di atas mejaku. Benar saja, ayam itu kembali di penuhi belatung.


"HUEKK!!"


Aku tak tahan dengan bauknya. Benar-benar menyiksa hidung. Bi Tumi menghampiriku, tanpa sepatah kata pun, dia meraih ayam dalam piring itu dan pergi tanpa pamit. Aku yang kesal menyusulnya. Aku menghentikan langkahnya dengan tidak sopan.


"Tumi, mau kamu bawa kemana ayam itu?! HUEKKK!!"

__ADS_1


"Kalau di kasih makanan. Cepat makan, atau di buang saja kalau gak lapar. Jangan di biarkan sampai busukan," tutur Tumi.


"HUEK,"


Aku tak sempat membalas ucapan Tumi. Bauk busuk itu membuatku terus mual. Apa sebenarnya maksud perkataan Tumi itu. Padahal dia sendiri yang menukar ayam itu.


Aku terus kepikiran akan hal itu. Aku jadi tak nyenyak tidur. Aku lelah. Aku jadi halusinasi hal-hal yang aneh. Aku seperti mendengar orang menertawakanku, memanggilku, bahkan mengikutiku.


Malam ini aku merasa sangat capek. Punggungku seperti di cengkram benda tajam. Apa aku akan datang bulan?! Aku capek sekali.


"Kenapa Mbak?!" tanya Bu Ajeng yang sudah berdiri di belakangku.


"Punggungku pegel, Bu. Mungkin akan datang bulan,"


"Ya, sudah istirahat sana,"


"Jeh, Bu, maaf,"


Bu Ajeng melempar senyuman manis ke arahku. Aku jadi merasa tak enak. Tapi punggungku, benar-benar pegal. Mataku juga amat ngantuk. Ingin sekali aku tidur.


Terasa baru sebentar aku memejamkan mata. Qku terganggu dengan jendela yang ada di ujung diding hadapanku. Aku merasa ada sesuatu yang mengawasiku dari balik jendela itu. Tapi apa?!


Aku menyadarinya, aku ingin ke jendela itu. Aku ingin melihat ada apa di sana. Tapi tubuhku terasa berat, terasa begitu lemas dan malas. Aku seperti melayang. Aku seperti di sebuah ruangan yang tak asing bagiku. Ini ranjangku, tapi ini bukan di kamarku. Aku di mana?!


Aku melihat sebuah pintu biru keputihan jauh di ujung kakiku sana. Di sebelah pintu itu ada pintu kayu dengan plitur yang udah usang. Tepat di samping ranjangku, ada sebuah ruangan dengan pintu seng yang hampir sebagian karatan. Di dalam sana seperti ada yang mengawasiku. Tapi apa?? Siapa?!!


Aku ingin bangun, tapi aku tak bisa. Aku hanya sendiri di ruangan itu. Kembab, dingin, remang, seperti ada ribuan mata yang mengawasiku. Aku juga seperti mendengar riuk pikuk suara tertawa kepuasan. Tapi siapa?! Aku ingin bangun, aku ingin melihatnya. Tapi tubuhku, begitu sangat lemas.


Aku terbangun dengan suara burung dan motor yang lewat di samping kamarku. Aku terkejut saat melihat ke arah jendela.


"Ya Allah sudah pagi!!"


Aku tersentak bangun dan meraih ponselku. Aku melihat jam berapa sekarang. Hah, aku tertipu. Ternyata ini masih jam 2 pagi. Aku melihat ke luar jendela, ternyata masih petang. Sorot terang dari jendela ternyata sorot dari lampu luar.


Aku bergegas mengambil Wudhu. Menenangkan diriku dengan jujud kepada Sang Ilahi. Berpasrah diri, meminta perlindungan dan rejeki.

__ADS_1


......................


"KLARAAAA!!!"


"Klaraaaaa!!"


Aku mencari Klara kesana-kemari. Tapi perasaan Klara memanggil dan menyuruhku untuk mencarinya.


"Mbakk! Hi hi,,"


Aku melihat Klara naik ke lantai atas. Aku berjalan ke arah tangga itu. "Klara jangan kesana, nanti kelpesettt!!" teriakku dari lantai dua.


"Siniiiiii! Siniiiiii,," panggil Klara.


Dengan kesal aku naik mengikutinya. Aku juga penasaran bagaimana pemandangan dari lantai atas. Saat aku naik, aku terheran dengan lantai 3. Ternyata itu masih bangunan yang luas. Aku pikir hanya sepetak ruang untuk menaruh toren dan antena.


"Klaraa.."


Aku memanggil Klara untuk mencarinya. Sunyi dan tidak ada siapa-siapa. Aku penasaran dengan isi bangunan di depanku ini. Apa ini di sewakan orang? Tapi kenapa terlihat kumuh tak terawat?!


Aku melihat ada teras kecil yang panjang di sisi belakang bangunan. Aku penasaran, apa ada tangga di ujung sana. Pasti iya, kalau tidak, di mana letak tangga yang sering di gunakan Klara naik dan turun ke lantai 3 ini.


Berlahan tapi pasti, aku menyelusuri teras yang terlihat kumuh tak terawat itu. Aku memperhatikan sekelilingku. Tinggi, suram, dingin, dan pengap.


"Klaraa,"


"Klara.."


Aku memanggil lirih Klara. Nanum tak terdengar sedikit pun keberadaannya. Aku penasaran, ruangan apa di dalam ini. Setiap jendela tertutup dengan triplek. Tak ada cela untukku mengintip. Aku melihat jauh ke bawah. Aduh, kepalaku berkunang-kunang. Ini tinggi sekali.


Jauh di bawah sana, aku melihat Bi Tumi yang terpatung melihat ke arahku. Sial, aku kepergok naik ke atas sini. Ya, aku hanya mencari Klara. Aku merasa tak enak dengan Bi Tumi, tapi aku masa bodo dengannya. Toh aku kesini untuk menjaga Klara. Aku terus memanggil Klara dengan pasti. Sampai di ujung teras, tak ada apa-apa di sana. Hanya teras samping sempit yang terhalang tembok. Hemm, aku pikir ada tangga. Jadi di mana letak tangganya?!


Saat aku ingin berbalik, baru beberapa langkah. Aku lihat Bi Tumi masih mematung melihat ke arahku. Aku penasaran, apa yang dia perhatikan. Kenapa dia melihatku seaneh itu?!


Aku membalas tatapan Bi Tumi. Dari kejauhan, ku lihat raut muka terkejut yang penuh dengan ketakutan. Aku memperhatikan sekitarku. Tak ada siapa-siapa di sini selain diriku. Lalu, apa yang Bi Tumi lihat?! Kenapa mukanya ketakutan seperti itu?!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2