Langit Senja Dan Jingga

Langit Senja Dan Jingga
Seharian Di Rumah Langit


__ADS_3

Setelah makan siang, kini Lusi, Langit dan Senja sedang duduk di ruang keluarga menonton TV. Sedangkan Albert kembali ke kantor.


"Bun kak Teor mana?" tanya Senja penasaran karena sedari tadi dia tak melihat kakak Langit yang bernama Meteor Alvaro Graham.


"Ohh kakak mu lagi ke kampus dia ngurus wisuda nya" jawab Lusi.


"Ohh kak Teor dah mau wisuda ya?" tanya Senja lagi.


"Iya" jawab singkat Lusi.


"kak Teor pulang nya jam berapa biasanya bunda?" tanya Senja lagi.


"Biasanya sih sebelum magrib dah pulang" jawab Lusi.


"Ohh gitu" ujar Senja kembali meng fokuskan pandangannya pada layar televisi.


Senja tetap dekat dengan keluarga Langit walau mereka sudah lama tak bertemu tapi kehangatan nya masih sama. Mereka masih dekat seperti saat Senja dan Langit masih kecil. Tak ada yang berbeda tentang sekarang ataupun tentang saat dulu.


Senja menganggap keluarga langit adalah keluarga kedua nya sedari dulu. Dulu saat dia kecil dia sering menginap di rumah Langit. Tak jarang juga Senja bersikap manja kepada Langit, Albert ataupun Meteor.


Kedua orang tua mereka juga sangat dekat. Kedua orang tua mereka sudah bersahabat sebelum mereka lahir. Dulu orang tua mereka dekat karena teman kuliah, dan kini anak nya juga bersahabat.


Jika bertanya mengapa Jingga tak mengenal Langit sebagai teman kecil nya? Maka jawabannya karena Jingga dan Langit tak terlalu dekat saat kecil bahkan mereka seperti orang yang tak kenal.


Jingga saat kecil selalu bermain bersama Biru. Jingga dan Biru dulu sama dekatnya seperti langit dan senja. Jingga juga tak jarang menginap di rumah Biru.


Sampai saat ini pun Jingga dan Biru masih dekat seperti dulu. Tapi pasti ada yang berbeda di antara mereka. Ada salah satu di antara mereka yang menyimpan perasaan. Dan itu adalah Biru. Dia selalu menyimpan perasaannya karena tak ingin merusak persahabatan mereka.


Biru selalu menunjukan perhatiannya untuk Jingga walau terkadang itu tak dianggap oleh Jingga. Dia selalu menjadi pendengar setia untuk Jingga jika Jingga sedang ingin bercerita kepadanya.


Jika Senja menjadikan Bintang sebagai teman ceritanya, maka lain lagi dengan Jingga yang menjadikan Biru sebagai teman ceritanya. Terkadang hal yang di ceritakan Jingga membuat sakit hati karena Jingga membahas tentang lelaki yang ia sukai.


Saat ini Senja dan Lusi sedang berada di taman belakang. Setelah bosan menonton TV Senja dan Lusi pergi ke taman belakang untuk melihat tanaman yang Lusi tanam.


Senja dan Lusi asik mengobrol di taman belakang hingga lupa akan waktu. Saat melihat jam tangan ternyata sudah menjelang sore. Mereka pun masuk dan berjalan menuju ke dapur.


Mereka masak untuk makan malam. Mereka memasak beberapa menu makanan rumahan untuk menu makan malam kali ini.


Setelah selesai Lusi menyuruh Senja untuk mandi.


"Senja kamu mandi dulu gih!" pinta Lusi.


"Tapi Senja gak bawa baju ganti bunda. Gimana donk?" tanya Senja.


"Ya udah kamu pinjem baju Langit aja" ujar Lusi.

__ADS_1


"Gapapa bunda?" tanya Senja.


"Gapapa. Udah sana pergi ke kamar Langit terus mandi sekalian di kamar Langit aja" ujar Lusi.


"Iya bunda. Senja ke atas dulu ya" pamit Senja berjalan meninggalkan dapur setelah mendapat anggukan dari Lusi. Senja berjalan menuju ke kamar Langit.


Saat sampai di kamar Langit dia mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada jawaban dari dalam. Karena telah berkali-kali mengetuk tetap tak ada jawaban Senja pun membuka pintu yang ternyata tidak di kunci oleh Langit.


Saat memasuki kamar Langit pandangan pertama yang ia lihat adalah Langit yang tengah tertidur pulas. Senja mendekati Langit berniat membangunkan Langit tapi ia urungkan untuk membangunkan karena melihat begitu pulasnya Langit tidur membuatnya tak tega.


Senja pun beranjak mendekati lemari pakaian Langit untuk mencari pakaian yang cocok untuk ia pakai. Setelah menemukan pakaian yang cocok, Senja pun masuk ke kamar mandi di kamar Langit.


Lima belas menit berlalu Senja telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia masih melihat Langit yang tertidur pulas. Senja pun mendekati Langit untuk membangunkannya karena ini sudah sore waktunya Langit untuk bangun.


"Langit bangunn" ucap senja membangunkan Langit dengan menggoyangkan tubuh Langit.


"Heemm" jawab Langit masih memejamkan matanya.


"Bangun udah sore" ujar Senja masih berusaha membangunkan Langit.


"Iya bentar lagi masih ngantuk" jawab nya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Bangun udah mau magrib" ujar Senja lagi.


"Lima menit lagi" ucap Langit.


"Hem iya" jawab Langit tetap memejamkan matanya.


"Iya tapi mata masih nutup. Gimana sih" ujar Senja menarik tangan Langit untuk bangun.


"Langit cepet bangun" ujar Senja masih menarik tangan Langit agar Langit terduduk.


"Ishh iya iya. Ini gue bangun" ujar Langit dengan posisi duduk dan mulai membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya.


"Ya udah gih mandi gue mau turun dulu" ujar Senja beranjak meninggalkan Langit.


"Ohh iya gue pinjem baju loe ya" ucap Senja sebelum hilang dari pandangan Langit.


Langit pun beranjak menuju kamar mandi. Sekitar Sepuluh menit Langit keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Kemudian ia melangkah menuju ke lemari pakaian nya dan mengganti pakaian nya.


Setelah itu ia pergi keluar dari kamar menuju ke lantai bawah. Menuju ke ruang keluarga untuk menonton TV sembari menanti Senja dan Lusi yang masih menata makanan di meja makan.


"Assalamu'alaikum" terdengar seseorang masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam" jawab Langit menatap orang yang baru saja masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Lagi ngapain loe?" tanya orang tersebut duduk di samping Langit.


"Loe gak liat kak gue lagi nonton" jawab Langit agak ketus.


"Wihh selow donk jawabnya" ujar orang tersebut yang tak lain adalah Meteor.


"Bunda mana Lang?" tanya Meteor lagi.


"Di dapur kayaknya" jawab Langit masih fokus ke layar televisi.


"Ohh ya udah gue mau ke atas dulu ya!" pamit Meteor.


"Hemm" jawab Langit dengan deheman.


Meteor pun beranjak dan berjalan menuju ke kamar nya.


Malam pun datang, saat ini semua sudah berada di meja makan kecuali Meteor. Sedari tadi Meteor belum turun untuk makan.


Menunggu selama lima menit, sudah terlihat Meteor turun dan berjalan menuju ke meja makan. Tatapan nya fokus pada satu sosok yaitu Senja. Meteor pun duduk di tempat nya biasa duduk.


"Siapa?" tanya Meteor menatap ke arah Senja.


"Coba tebak siapa!" ujar sang mama.


"Ishh orang nanya malah suruh nebak. Gimana sihh" ujar Meteor kesal.


"Kak Teor dah ngelupain Senja ya" lirih Senja menundukkan kepalanya dan menekuk wajahnya.


Hal itu membuat Meteor menengok ke arah Senja dan mengernyitkan keningnya. Meteor mencoba mengingat nama Senja.


"Senja?" gumam Meteor mencoba mengingat Senja.


"Ohh Senja adek kecil kakak?" tanya Meteor menatap Senja yang ada di sampingnya.


"Yeyy kak Teor inget Senja" ujar Senja kegirangan.


Meteor pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Senja. Setelah di hadapan Senja Meteor langsung memeluk Senja erat dan di balas oleh Senja.


"Uhh kangen nya" ujar Meteor masih memeluk Senja.


"Kangen jugaa" ujar Senja dalam pelukan Meteor.


Sedangkan Langit menatap kesal ke arah Senja dan Meteor yang masih berpelukan. Sepersekian detik kemudian dia mengalihkan pandangannya dari Meteor dan Senja.


"Udah dulu pelukannya sekarang makan dulu" ujar Lusi setelah melihat wajah tak suka yang di tunjukan Langit.

__ADS_1


"Iya" jawab Senja dan Meteor kompak. Mereka pun melepas pelukannya dan melanjutkan makan.


__ADS_2