
Pagi menjelang, cahaya matahari mulai memasuki kamar yang sedang ditiduri seorang gadis cantik yaitu Senja. Senja mulai terganggu dengan sinar matahari yang masuk.
Senja mulai membuka matanya, menyesuaikan matanya dengan sinar matahari. Beberapa saat kemudian Senja merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Mengedarkan pandangannya menatap kamar yang begitu asing baginya.
Senja mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Setelah ingat bahwa dia tertidur dikamar Langit, Senja mulai bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Sekitar 15 menit dikamar mandi, Senja telah selesai dengan ritual mandinya. Senja keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi milik Langit, yang terlihat kebesaran jika di pakai Senja.
Senja berjalan menuju lemari baju Langit. Dia mengambil hoodie dan celana pendek milik Langit. Kemudian Senja kembali masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai Senja berjalan keluar kamar menuju ke dapur. Di dapur telah ada Lusi yang sedang membuat sarapan. Senja berjalan mendekati Lusi yang sedang memotong bawang merah.
"Pagi bunda" sapa Senja.
"Loh Senja? Kirain bunda udah pulang kemarin" ujar Lusi heran masih melihat Senja, seingatnya kemarin Senja telah pamit padanya.
"Iya bunda, kemarin ketiduran di kamar Langit pas lagi nungguin Langit" jawab Senja.
"Oh terus Langit tidur dimana?" tanya Lusi.
"Gak tau bunda" ujar Senja.
"Mungkin di kamar tamu kalo gak di kamar meteor" ujar Lusi melanjutkan memotong bawang.
"Bunda mau masak apa?" tanya Senja berjalan lebih dekat ke arah Lusi.
"Mau masak nasi goreng aja yang simpel" ujar Lusi.
"Senja bantu ya bunda" tawar Senja.
"Gak usah gapapa"ujar Lusi beralih menyiapkan nasi yang akan ia goreng.
"Mending kamu bangunin Meteor sama Langit" ujar Lusi dengan menatap Senja.
"Ya udah Senja ke atas dulu ya bunda" pamit Senja dan berjalan menuju tangga setelah mendapat anggukan dari Lusi sebagai jawaban.
Senja berjalan menuju kamar Meteor terlebih dahulu. Senja masuk ke kamar Meteor tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena dia tau sang pemilik kamar belum bangun. Dan tebakan Senja tidak salah, dia melihat Meteor masih tertidur pulas di kasur kesayangannya.
__ADS_1
Senja berjalan menuju jendela dan menbuka gorden supaya cahaya matahari masuk kedalam kamar. Setelah membuka gorden Senja berjalan menuju ke arah Meteor dan mencoba membangunkan Meteor dengan menggoyangkan bahu Meteor.
"Kak bangun?" ujar Senja mencoba membangunkan Meteor.
"emhh" jawab Meteor dengan deheman dan menarik selimut serta membelakangi jendela agar sinar matahari tidak mengusiknya.
"ishh" Senja berdecak kesal, dia bertolak pinggang memandang Meteor yang semakin pulas dalam tidurnya. Senja mencoba berfikir mencari ide untuk membangunkan Meteor.
Senja tersenyum dengan memandang Meteor setelah mendapatkan ide untuk membangunkan kakak dari Langit tersebut. Dia berjalan mendekat ke nakas dan mengambil remot ac dan menambah suhu agar terasa lebih dingin. Senja juga membuka jendela kamar agar udara pagi masuk ke dalam kamar. Setelah itu dia kembali mendekati Meteor dan menarik selimut yang melilit tubuh Meteor.
Senja mundur beberapa langkah, memandang Meteor yang mulai kedinginan. Senja memegang selimut yang di pakai Meteor.
Meteor yang mulai kedingin dia mencari selimut yang biasa dia pakai. Merasa tak menemukan sama sekali selimutnya dia mulai menggerutu.
"Ishh siapa sih yang ngambil selimut gue" gerutu Meteor dengan mulai merubah posisinya menjadi duduk. Ia menyesuaikan terlebih dahulu matanya dengan cahaya dalam kamarnya. Setelahnya Meteor mengedarkan pandangnnya mencari siapa yang mengambil selimutnya dan juga membuka jendela serta menaikkan suhu ac di kamarnya.
Kemudian tatapannya bertemu dengan mata Senja yang sedang menatap dirinya dengan menyilangkan tangannya di dada dengan memegang selimut milik Meteor. Kini Meteor sudah tahu siapa yang berani-beraninya mengganggu tidur nyenyak nya.
"Hei apa maksudmu mengganggu tidur ku?" tanya Meteor dengan menatap tajam Senja.
"Kak Teor ini sudah pagi, kenapa masih tidur?" jawab Senja.
"Ya emang harus gini ya cara banguninnya?" tanya Meteor.
"Kalo gak gini kakak gak bangun-bangun nanti" jawab Senja berjalan menuju pintu.
"Sekarang kakak mandi terus turun" lanjut Senja keluar dari kamar Meteor, tidak lupa ia menutup pintu kamar Meteor.
Meteor yang di perlakukan seperti itu oleh Senja hanya bisa mendengus kesal dan segera bangkit menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Senja kini telah berada di depan kamar tamu, tempat Langit tidur malam ini. Ia membuka pintu kamar tamu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Saat memasuki kamar Senja melihat kamar yang masih berantakan dan pengguna kamar masih tidur. Senja berjalan mendekat ke jendela dan membuka gorden kamar.
Saat berbalik Senja menatap Langit yang sedang memejamkan mata dengan kening berkerut. Sepertinya Langit terganggu dengan sinar matahari yang masuk.
Dan dengan jahilnya Senja menutupi cahaya matahari yang mengenai wajah tampan Langit dengan bayangannya. Setelah itu ia bergeser kembali agar sinar matahari bisa menyinari wajah tampan Langit. Senja terkekeh melihat kening Langit yang berkerut. Senja mengulang kegiatannya hingga beberapa kali hingga Langit terganggu.
__ADS_1
Langit benar-benar terganggu dengan kegiatan Senja yang mengerjai nya pun mulai membuka matanya secara perlahan. Dia mengedarkan pandangannya meneliti kamar tamu di rumah nya.
Kemudian tatapan Langit vertemu dengan mata teduh milik Senja. Langit merasa senang orang yang pertama ia lihat saat bangun adalah orang yang ia sayang. Ini adalah pertama kali nya setelah sekian lama ia tak pernah merasakan hal ini.
Senja berjalan mendekat kearah Langit berada, "morning" ucapnya saat telah berada tepat di hadapan Langit.
Langit tersenyum lebar, "morning juga" sahut Langit dengan wajah yang ceria.
"Mandi gihh udah di tungguin di bawah, nanti juga harus anterin gue pulang" ujar Senja masih berada di hadapan Langit.
"Mau pulang pagi ini?" tanya Langit menatap mata Senja.
"Iya lah kalo gak pagi ini kapan lagi. Kan nanti siang mau kerja kelompok, gue pasti kesini lagi" ujar Senja dengan merapihkan rambut Langit yang berantakan.
"Gak nanti aja sekalian abis kerja kelompok?" tanya Langit dengan terus memperhatikan wajah Senja yang sedang membenarkan rambutnya.
"Kan gue gak bawa buku nanti mau belajar pake apa?" ujar Senja mulai menjauhkan tangannya dari rambut Langit.
"Ya nanti suruh bawa Jingga aja kan dia nanti kesini" ujar Langit.
"Gak enak lah masa suruh Jingga bawa buku gue. Lagian juga gue mau ganti baju, masa iya gue pake baju loe terus" ucap Senja mendudukkan dirinya di samping Langit.
"Ya gapapa kalo mau pake baju gue terus" sahut Langit.
"Ishh gak bisa gitu lah" ujar Senja.
"Kenapa gak bisa?" tanya Langit heran.
"Ya gak bisa Lah, masa iya gue pake baju cowok. Kegedean lagi" ujar Senja dengan wajah yang di tekuk.
"Iya deh serah loe, nanti gue anterin kalo mau pulang. Udah jangan di tekuk lagi mukanya" ujar Langit.
"Yaudah sekarang loe mandi sana. Loe bau" ujar Senja mulai bangkit dari duduknya.
"Mana ada gue bau. Gue nihh klo bangun tidur wangi" ucap Langit tak terima di bilang bau.
"Udah deh sana mandi terus turun" ujar Senja berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Langit masih menatap punggung Senja hingga punggung itu tak nampak lagi tertelan oleh daun pintu yang kini telah tertutup. Setelah pintu benar-benar tertutup, Langit mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.