
Senja dan Langit berjalan melewati koridor sekolah sambil mengobrol. Raut wajah mereka masih terkesan dingin dan cuek. walau mereka masih terkesan dingin sebenarnya mereka sedang melepas rasa rindu mereka dengan mengobrol.
"Senja gue kangen banget sama loe" ucap Langit menengok ke arah Senja.
"Gue juga kangen sama loe" ucap Senja menengok ke arah langit dengan sedikit senyum.
"Ya sejak dulu gue pindah ke Bandung kita gak ada komunikasi lagi" ucap Langit.
"Hhmm iya gue juga gak bisa menghubungin loe" ucap senja.
"Dulu emang susah banget buat menghubungin loe atau pun orang-orang yang ada di sini. Awalnya gue pindah kesini juga buat nyari loe" ucap Langit.
"Seriously?" ucap Senja
"Ya serius lah. Gue sempet ke rumah lama loe tapi ternyata loe pindah udah gak disana lagi" kata Langit
"Ya dulu gak lama setelah loe pindah gue juga ikut pindah" kata Senja
"Pantes dah gak ada siapa-siapa di rumah lama loe" kata Langit
"Terus loe tau gue sekolah disini?" tanya Senja
"Gue gak tau kalo loe sekolah disini, makanya tadi gue kaget banget saat ngeliat loe. Loe gak ada perubahan dari SD sampe sekarang tetep cantik" ucap Langit sambil tersenyum ke arah Senja.
"Loe juga gak berubah, muka loe gak berubah cuma loe tambah tinggi aja sekarang" ucap Senja membalas senyum kepada Langit.
"Tambah ganteng gak gue? " tany Langit dengan pede nya.
"Pede banget loe" ucap Senja terkekeh.
"Harus donk klo pede mah" ucap Langit dengan pede nya
"Iya deh, yaudah yuk masuk gue mau nyari buku buat gue pinjem" ajak Senja memasuki ruang perpustakaan.
"Emang mau minjem buku apa?" tanya Langit terus mengikuti Senja
"Buku sejarah" ucap Senja
"Ohhhh" ucap Langit
__ADS_1
Senja berkeliling mencari buku sejarah yang ingin dia pelajari. Dan Langit tetap mengikuti Senja dari belakang hingga Senja menemuka buku yang ia cari. Tapi sayang buku tersebut terletak di rak paling atas. Melihat Senja yang kesulitan untuk mengambil buku tersebut, Langit pun membantu mengambilkan buku yang ingin Senja pinjam.
"Makasih" ucap Senja.
"Hhmm" jawab langit dengan deheman.
Senja berjalan menuju meja peminjaman buku. Langit terus mengikuti Senja. Dia tak berniat untuk meminjam atau pun membaca buku, dia hanya ingin mengikuti Senja saja.
Selesai meminjam buku mereka berjalan menuju kelas, melewati koridor demi koridor untuk menuju ke kelas mereka. Tak ada obrolan sepanjang perjalanan mereka. Langit yang fokus terhadap handphone nya dan Senja yang sibuk membaca buku nya.
Setelah sampai di kelas mereka menuju ke kursi masing-masing. Tak lama setelah mereka duduk bell masuk berbunyi.
Senja menengok kesamping tempat Jingga duduk. Terlihat bangku itu masih kosong. Senja berfikir apakah Jingga masih berada di kantin? Tak lama Senja melihat Embun yang masuki kelas sendirian. Ia pun bertanya kepada Embun dimana Jingga.
"Embun, Jingga mana?" tanya Senja saat Embun telah duduk di bangkunya
"Ohh dia tadi mau ke toilet dulu katanya" kata Embun
"Ohhh gituu" kata Senja
Tak berselang lama Jingga pun masuk kedalam kelas.
Pelajaran berjalan lancar sampai waktu istirahat tiba. Guru memberikan tugas kelompok kepada seluruh siswa.
"Baik ibu akan membagi kelompok kalian, satu kelompok ada 6 orang. Kelompok pertama Senja, Jingga, Langit, Fajar, Embun, dan Biru. Kelompok kedua ada Matahari, Aurora, Pelangi, Rindu, Alex, dan Rey. Kelompok ketiga ada Cinta, Laura, Bunga, Lexi, Max, dan Brian. Dan kelompok keempat ada Citra, Maya, Rendy, Riska, Mawar, dan Vero"
"Tugas kalian adalah menganalisis teks biografi dan setelah kalian analisis nanti kalian jelaskan di depan kelas. Paham semua?" ucap bu mega, guru yang mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia.
"Paham bu" jawab semua siswa-siswi dikelas
"Baiklah. Sampai jumpa minggu depan" ucap bu Mega meninggalkan kelas
Semua murid berhamburan keluar kelas dengan berbagai tujuan. Ada yang pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong dan ada juga yang pergi ke perpus ataupun ke taman sekolah. Kali ini Senja, Jingga dan Embun pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka setelah pembelajaran tadi.
Saat mereka sampai di kantin, mereka memesan makanan dan mencari meja kosong untuk mereka. Tapi sayang sekali, semua meja telah terisi dan hanya tersisa meja milik Langit, Fajar dan Biru.
"Yah udah penuh semua gimana dong?" ucap Jingga yang melihat semua meja telah terisi.
"Kita ke bangku Fajar aja itu masih kosong" ucap Embun yang melihat meja tempat Fajar masih ada bangku yang kosong.
__ADS_1
"Yaudah yuk kesana aja" ucap Jingga sambil menarik tangan Senja dan Embun berjalan menuju ke meja Langit, Fajar, dan Biru.
"Ya gak usah narik-narik juga kali Jingga" protes Senja yang tak suka jika di tarik-tarik seperti ini oleh Jingga.
"Ih biar cepet, soalnya loe jalan nya lama" Jingga menjawab protes dari Senja dengan terus menarik tangan Senja dan Embun menuju meja Langit.
"Fajar kita boleh duduk sini kan?" tanya Jingga kepada Fajar sesaat setelah mereka samapai di meja Langit.
Semua yang ada dimeja tersebut menoleh kepada tiga gadis yang tengah berdiri didekat meja mereka menunggu jawaban dari Fajar.
"Ohh boleh silakan duduk" ucap Fajar menjawab pertanyaan Jingga.
Senja duduk dekat dengan Langit. Dia sempat menengok kearah Langit yang sedang menatapnya juga. Langit tersenyum saat Senja membalas tatapan nya dan hanya dibalas dengan senyum tipis oleh Senja.
"Loe murid baru itu ya?" tanya Jingga mengawali obrolan mereka.
"Iya gue murid baru" jawab Langit kepada Jingga.
"Langit kan nama loe. gue Jingga Kaira Alfahri kembarannya Senja" ucap Jingga memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya kepada Langit.
"Iya gue Langit" jawab Langit dan menerima uluran tangan Jingga.
"Embun Fransiska Williams" ucap Embun sambil mengulurkan tangan nya kepada Langit.
"Langit" menyambut uluran tangan Embun.
Senja tidak memperkenalkan diri karena dia sudah mengenal Langit jauh lebih lama dari mereka.
"Loe gak kenalan sama Langit, Senja?" tanya Biru karena dari tadi dia tak mendengar dan melihat Senja berkenalan dengan Langit.
"Udah kenal" jawab Senja.
"Udah kenal? kapan? " tanya Jingga penasaran.
"Tadi" jawab Senja singkat.
"Oh" ucap mereka berbarengan.
Tak lama setelah acara pengenalan tadi makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka langsung menyantap makanan mereka tanpa ada pembicaraan lagi.
__ADS_1