
Setelah selesai makan malam Albert dan Meteor berjalan menuju ke ruang keluarga. Lusi dan Senja tetap berada di dapur sedang membereskan sisa makanan dan mencuci piring. Sedangkan Langit ia kembali ke kamar nya entah apa yang ia lakukan di dalam kamar.
Setelah menyelesaikan urusan di dapur, Lusi dan Senja berjalan menuju ke ruang keluarga.
"Dimana Langit?" tanya Senja dan mendudukan dirinya di samping Meteor.
"Ke kamar" jawab Meteor.
"Ohh" jawab Senja menatap ke layar televisi.
Sejenak suasana menjadi hening, semua sibuk menonton TV. Lusi dan Albert beranjak ingin kembali ke kamar mereka.
"Senja bunda sama ayah pergi ke kamar ya?!" pamit Lusi kepada Senja.
"Ohh iya bunda" jawab Senja mengalihkan pandangannya ke arah Lusi.
"Nanti kalo mau pulang minta anterin Langit ya. Gak usah pamit sama ayah bunda juga gapapa ya?!" ujar Albert.
"Iya ayah" jawab Senja beralih menatap Albert.
Albert dan Lusi pun berjalan meninggalkan Senja dan Meteor. Senja melihat handphone nya ingin mengabari orang tuanya kalo dia akan pulang agak malam dan Meteor kembali menonton TV.
"Kak Senja mau tanya" ujar Senja mengalihkan pandangannya ke arah Meteor.
"Tanya apa?" tanya Meteor tak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Kata bunda kak Teor udah mau wisuda ya?" tanya Senja.
"Iya" singkat Meteor.
"Kapan" tanya Senja lagi.
"Dua minggu lagi" jawab Meteor masih fokus ke layar televisi.
"Kakak ngambil jurusan apa?" tanya Senja.
"Guru olahraga" jawab Meteor.
"Loh kok gak ngambil jurusan bisnis?" tanya Senja penasaran.
"Gak seru kalo bisnis mending jadi guru kan seru" jawab Meteor.
"Terus yang nerusin bisnis ayah siapa?" tanya Senja lagi.
"Kan ada Langit" jawab Meteor masih fokus pada layar televisi.
"Lah kan kakak yang paling tua, kok di serahin ke adek nya sih?" ujar Senja mengalihkan pandangannya ke layar televisi.
"Ya gapapa. Papa juga ngebolehin kok kalo mau jadi guru" sahut Meteor.
__ADS_1
"Ohh gitu" singkat Senja.
Beberapa saat mereka menjadi hening, meng fokuskan pandangan mereka ke layar televisi. Hingga sampai Senja bertanya lagi kepada Meteor.
"Kakak punya pacar gak sih?" tanya Senja menatap Meteor.
"Gak punya" jawabnya melirik sekilas ke arah Senja.
"Masa sih" ujar Senja tak percaya.
"Gak percaya?" tanya Meteor menatap Senja.
"Enggak" jawab Senja.
"Ya udah kalo gak percaya" ucap Meteor mengalihkan pandangannya kembali ke layar televisi.
"Ishh kak senja tanya serius ini. Kakak udah punya pacar belum?" tanya Senja masih penasaran.
"Di bilang enggak juga kok gak percaya" jawab Meteor.
"Ishh" ucap Senja beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Meteor menatap Senja yang beranjak.
"Kamar langit" jawabnya melangkah meninggalkan Meteor sendirian.
Sesampainya di depan pintu kamar Langit, Senja langsung membuka pintu nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pandangan pertamanya adalah Langit yang sedang duduk di meja belajarnya sambil bermain game.
"Lagi main game" jawab Langit tanpa melihat Senja.
"Ngapain kesini?" tanya Langit fokus pada game nya.
"Kenapa? Gak boleh ya?" tanya Senja murung.
"Ya bukan gitu tadi kan loe lagi asik sama kak Meteor" jawab Langit masih tak melihat ke arah Senja.
"Mau minta anterin pulang" ujar Senja berjalan mendekati Langit.
"Loe duduk dulu deh nanti kalo gue udah selesai main game nya gue anterin" ujar Langit melirik sekilas ke arah Senja.
"Ya udah deh" ujar Senja berjalan ke ranjang Langit dan membaringkan tubuhnya di ranjang Langit.
Dua puluh menit Langit bermain game dan pada akhirnya dia pun menang. Ia letakkan handphone nya di atas meja dan berjalan ke kamar mandi tanpa melihat Senja. Saat di dalam kamar mandi dia baru sadar bahwa ada Senja di kamarnya.
Saat keluar kamar mandi Langit melihat Senja yang tertidur di ranjangnya. Ia melihat ke jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan jam 21.30. Ia tak tega untuk membangunkan Senja, Langit pun mengambil handphone Senja dan menghubungi orang tua Senja.
"Halo Senja kamu dimana sayang? Kok belum pulang? Ini udah malem loh!" ujar Suci tanpa menunggu jawaban dari Langit.
"Halo tan ini Langit" ujar Langit.
__ADS_1
"Langit? Yang mana ya? Setau tante gak ada temennya Senja yang namanya Langit" ujar Suci mencoba mengingat Langit.
"Langit temen kecil nya Senja tante" ucap Langit mengingatkan Suci.
"Ohh yang dulu pindah ke Bandung ya? Anaknya Albert sama Lusi kan?" tanya Suci memastikan.
"Iya tan" jawab Langit.
"Kapan balik ke Jakarta nya?" tanya Suci.
"Udah dua minggu di Jakarta tan" jawab Langit.
"Ohh gimana kabar mama sama papa kamu?" tanya Suci lagi.
"Baik tan. Tante sama om gimana kabarnya?" Langit bertanya balik.
"Baik juga" jawab Suci.
"Ini ngomong-ngomong Senja nya mana kok kamu yang nelfon tante?" tanya Suci.
"Ohh Senja nya tidur tante, tadi mau nganterin ehhh malah tidur orangnya" ujar Langit melirik ke dalam kamar melihat Senja yang tertidur pulas.
"Ohh tidur" ujar Suci.
"Iya tan makanya Langit telfon mau ngabarin kalo Senja tidur di rumah Langit. Nanti kalo gak di kabarin takutnya tante nyariin" ujar Langit.
"Ohh kalo Senja nya udah tidur ya udah. Udah malem juga kasian kalo di bangunin" ujar Suci.
"Iya tan. Tante udah mau tidur ya? Langit ganggu tante ya?" tanya Langit takut mengganggu Suci.
"Enggak tante belum tidur. Tadi masih kepikiran Senja yang belum pulang makanya belum tidur, sekarang udah tau kalo Senja gak pulang tante bisa tenang" ujar Suci.
"Sekarang tante udah mau tidur ya?" tanya Langit.
"Enggak belum kalo mau ngobrol masih bisa kok" jawab Suci.
"Ehh bener tan gapapa?" tanya Langit tak enak.
"Iya gapapa tante juga masih mau ngobrol sama kamu" ujar Suci.
"Tante mau nanya apa? " tanya Langit.
"Banyak" jawab Suci terkekeh geli Langit pun ikut terkekeh.
Langit dan Suci pun masih lanjut mengobrol. Sampai sekitar satu jam mereka mengobrol. Begitu banyaknya obrolan mereka.
Setelah selesai menelfon Langit masuk ke dalam kamarnya. Kemudian menaruh handphone Senja di atas nakas dekat tempat tidur.
Sebelum keluar Langit membenarkan selimut Senja hingga menutupi Seluruh tubuh senja. Setelahnya dia keluar berjalan menuju ke kamar tamu.
__ADS_1
Langit akan tidur di kamar tamu dan membiarkan Senja tidur di kamarnya.