Langit Senja Dan Jingga

Langit Senja Dan Jingga
Ke Rumah Langit


__ADS_3

Hari telah berganti, kini di kediaman Alfahri tengah melakukan sarapan pagi. Seperti biasa sarapan di keluarga Alfahri dilakukan dengan keheningan hanya ada suara dentingan sendok dan piring.


Selesai melakukan sarapan Senja pergi ke kamar nya untuk bersiap pergi ke rumah Langit.


15 menit berlalu Senja telah siap, ia keluar dari kamar berjalan menuju ruang keluarga tempat biasa keluarganya berkumpul setelah sarapan pagi.


Sesampainya di ruang keluarga Senja berniat berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Mah pah Senja mau keluar bentar ya?!" pamit Senja kepada orang tuanya.


"Mau kemana sayang?!" tanya Suci kepada sang anak tengah nya.


"Mau ke tempat temen mah" jawab Senja.


"Siapa? Embun?" tanya Jingga menatap sang kembaran.


"Bukan" sahut Senja.


"Terus siapa?!" tanya Jingga mengintrogasi.


"Ada deh" jawab Senja tak ingin memberi tahu Jingga.


"Ishh loe mah gitu" ucap Jingga menekuk wajahnya.


Senja hanya terkekeh melihat Jingga yang merajuk padanya hanya karena tak ia beritahu mau kemana.


"Mau kakak anter?!" tawar Bintang.


"Enggak usah tadi Senja udah pesen taksi online" jawab Senja menolak.


"Udah sampe mana taksi nya?" tanya Romy.


"Kayaknya udah deket deh. Senja mau nunggu di depan aja ya?!" pamit Senja.


"Ya udah hati-hati ya" ucap sang mama.


"Iya mah Senja pergi dulu. Assalamu'alaikum" pamit Senja setelah mencium punggung tangan dan kedua pipi orang tuanya. Tak lupa juga kedua pipi Bintang dan Jingga.


-o0o-


Saat ini Senja telah sampai di depan rumah keluarga Graham. Senja memencet bell beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam yang dia kenal itu suara Langit.


Saat pintu terbuka tampaklah diri Langit yang tengah tersenyum kepada nya.


"Di tungguin dari tadi" ucap Langit menatap mata Senja.


"Lama ya nunggu nya?" tanya Senja tak enak hati kepada Langit yang telah menunggu nya.


"Enggak juga. Yuk masuk" ujar Langit mempersilahkan Senja untuk masuk.


"Bunda di rumah?" tanya Senja melangkah memasuki rumah Langit.


"Ada tuhh di dapur" jawab Langit menunjuk ke ruang dapur.


"Ya udah gue kesana ya loe tunggu sini aja" ujar Senja meninggalkan Langit sendiri di ruang tamu.


Senja berjalan menuju ke ruang dapur. Saat di dapur ia melihat Lusiana 'ibu Langit' sedang membuat berbagai jenis kue.


"Assalamu'alaikum" ucap Senja memberikan salam sebelum masuk ke dalam dapur.


"Waalaikumsalam" jawab Lusi menengok ke belakang.


"Temennya Langit ya?" tanya Lusi memastikan.


"Bunda lupa sama aku?" bukannya menjawab pertanyaan Senja malah balik bertanya kepada Lusi.


"Bunda?" gumam Lusi. Dia mencoba mengingat siapa orang yang memanggilnya bunda, karena tak ada teman-teman Langit ataupun Meteor yang memanggilnya bunda. Yang ia ingat adalah seorang gadis kecil yang sering memanggilnya bunda dulu sebelum pindah ke Bandung.

__ADS_1


"Bunda beneran gak inget sama aku" ucap Senja dengan menunjukan wajah yang sedih.


"Bentar kamu itu Senja ya?!" ucap Lusi menebak.


"Akhirnya bunda inget juga sama aku" ucap Senja tersenyum manis.


"Ya Allah ini beneran Senja nya bunda yang kecil itu" ucap nya memandangi Senja dari atas sampe bawah.


"Hehe iya bunda" ujar Senja berjalan mendekati Lusi.


"Udah gede ya. Udah jadi anak gadis" ujar Lusi memandang dan memutar tubuh Senja.


"Bunda mau sampe kapan aku di puter-puter. Pusing nih di puter terus. Mendingdi peluk aja!" ucap Senja mulai pusing karena di putar-putar.


"Hehe maaf sayang. Sini bunda peluk" ucap Lusi menarik Senja masuk kedalam pelukannya.


"Kangen bundaaaa" ujar Senja masih di dalam pelukan Lusi.


"Bunda juga kangen" sahut Lusi memeluk erat Senja hingga beberapa saat.


"Bunda masih lama ini mau di peluk nya" ujar Senja masih di dalam pelukan Lusi.


"Hehe maaf sayang kelamaan ya meluknya" ujar Lusi melepas pelukan mereka.


"Gak papa bunda. Bunda lagi buat apa?!" tanya Senja melihat ke bahan masakan Lusi.


"Bunda mau buat kue sayang" ujar Lusi memutar badan nya menghadap ke bahan kue yang ingin ia buat tadi.


"Mau buat kue apa bunda?!" tanya Senja yang sudah di samping Lusi.


"Bunda mau buat cheesecake sayang" jawab Lusi.


"Senja bantu ya bunda?!" tawar Senja.


"Ya udah yuk mulai buat" ujar Lusi.


Seperti biasa saat jam makan siang Albert 'ayah Langit' akan pulang untuk makan siang di rumah.


"Assalamu'alaikum" ucap Albert memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" jawab Langit yang tengah berada di ruang keluarga sedang menonton TV.


"Mama kamu mana Langit?" tanya Albert duduk di samping Langit.


"Di dapur" jawab Langit terus fokus menonton TV.


"Ohh" ucap Albert berdiri dari duduknya dan melangkah menjauhi Langit.


"Mau kemana pah?" tanya Langit menatap sang ayah yang berdiri dan ingin berjalan menjauhi dirinya.


"Ke dapur lah" jawab Albert.


"Disini aja lah ngapain ke dapur mau gangguin mama masak" ucap Langit.


"Ya udah deh" ujar Albert mendekati Langit kembali dan mendudukan dirinya di samping Langit.


Mereka berdua sangat asik menonton TV sampai Lusi memanggil mereka untuk ke ruang makan.


"Langit papah makan dulu" teriak Lusi memenuhi seluruh rumah.


Langit dan sang ayah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Sebelum ke ruang makan tak lupa Langit mematikan TV terlebih dahulu.


Sesampainya di ruang makan Langit langsung duduk di tempat biasa dan memandangi Senja yang tengah menata makanan di atas meja. Sedangkan sang ayah juga menatap Senja dengan tatapan bingung.


"Siapa Lang?" tanya Albert kepada Langit membuat Langit mengalihkan pandangannya dari langit ke sang ayah.


"Yang mana?" tanya Langit.

__ADS_1


"Itu yang sama mama kamu" ujar Albert terus menatap Senja.


"Oh itu. Temen" ujar Langit kembali mengalikan pandangannya ke arah Senja yang sedang sibuk di dapur.


"Tumben kamu bawa temen cewe" ucap Albert memandang sang putra yang tengah memandang Senja.


"Dia yang mau katanya kangen sama mama sama papa" ucap Langit masih memandang Senja.


"Kangen sama mama papa?" tanya Albert bingung.


"Iya. Emang papa gak kangen sama dia?" tanya Langit menatap sang ayah.


"Kok kangen kan gak pernah ketemu gimana bisa kangen?!" ujar Albert masih bingung.


"Dia Senja papa, temen Langit kecil dulu. Kan dulu dia sering main ke rumah" ucap Langit menjawab kebingungan sang ayah.


"Senja? Yang mana papa lupa?" tanya Albert lupa dengan Senja.


"Itu loh temen Langit pas di rumah lama sebelum pindah ke Bandung" jawab Langit.


"Ohh" ujar Albert sepersekian detik kemudian ia membelalakan matanya menatap Senja yang berjalan menuju meja makan.


"Senja" panggil Albert saat Senja sampai di meja makan dan menaruh piring yang ia bawa.


"Ya?" tanya Senja menoleh ke arah Albert.


"Ya Allah ini beneran Senja kecil itu" ujar Albert mendekat ke Senja.


"Iya" jawab Langit sebelum Senja menjawab.


"Ya Allah udah gede ya. Makin cantik" ujar Albert bersiap ingin memeluk Senja.


"Etss jangan asal peluk pa" sungut Langit yang melihat Albert ingin memeluk Senja.


"Loh emang gak boleh?" tanya Albert menatap sang anak.


"Ya enggak lah" sahut Langit.


"Lah emang kenapa gak boleh?" tanya Albert lagi masih bingung dengan sikap sang anak.


"Ya gak boleh aja" jawab Langit.


"Ishh orang mau meluk putrinya sendiri gak boleh" ujar Albert menatap Langit.


Sedangkan Senja hanya bisa terkekeh melihat Langit yang tidak memperbolehkanya untuk memeluk Albert.


"Gapapa lah peluk aja kangen ini" ujar Albert mendekati Senja.


"Senja sini ayah peluk" ujar Albert lagi menunggu Senja memeluk nya.


Senja pun mendekat ke Albert dan masuk ke dalam dekapan pria paruh baya itu.


"Uhhh kangen nya" ujar Albert memeluk Senja.


"Kangen juga sama ayah" ujar Senja membalas pelukan Albert dengan erat.


"Loh pa kok malah tetep di peluk sihh" ujar Langit kesal menatap Senja yang di peluk Albert.


"Gapapa" ujar Senja masih dalam pelukan Albert.


"Ishh" ujar Langit mengalihkan pandangannya dari Albert dan Senja.


"Ini sampe kapan mau peluk-pelukan nya?" tanya Lusi berjalan mendekati meja makan dan menaruh piring yang ia bawa.


Senja dan Albert pun langsung melepas pelukan mereka dan duduk di kursi masing-masing. Senja duduk di samping Langit yang masih memasang muka murung nya.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dengan keheningan.

__ADS_1


__ADS_2