
Setelah selesai makan Senja berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Saat di tangga Senja bertemu dengan Jingga yang sudah rapi dengan baju perginya.
"Jingga loe mau pergi kemana?" tanya Senja kepada Jingga.
"Gue mau ke supermarket depan mau beli cemilan. Cemilan kita udah abis semua. Loe mau nitip sesuatu?" jawab Jingga.
"Emm gue nitip es krim aja deh, yang kayak biasanya. Sama cemilan yang kayak biasanya" ujar Senja.
"Oh itu aja?" tanya Jingga memastikan tidak ada lagi yang mau Senja titipkan padanya.
"Iya itu aja" jawab Senja
"Ya udah gue pergi dulu ya" pamit Jingga dan menuruni anak tangga.
"Iya hati-hati ya. Kalo ada apa-apa kabarin aja ya" ujar Senja sambil memperhatikan punggung Jingga yang menjauh. Dan Jingga menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya ke atas.
Kemudian Senja melanjutkan langkahnya menuju kamar. Setibanya di kamar Senja langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama Senja telah terlelap menjemput mimpinya.
-o0o-
Di sisi lain Jingga sedang berjalan menuju ke supermarket. Setelah tiba di supermarket Jingga masuk. Jingga mengambil keranjang untuk berbelanja. Jingga berjalan menuju ke rak cemilan favorit nya dan Senja. Dia memilih beberapa cemilan dan setelahnya dia pergi ke lemari pendingin mencari es krim pesanan Senja. Setelah itu dia berjalan menuju ke kasir dan membayar semua belanjaan yang dia beli.
Jingga berjalan keluar dari supermarket. Saat ingin berjalan menuju jalan raya tak sengaja Jingga menabrak dada bidang seseorang. Saat ia melihat siapa yang ia tabrak ia sedikit terkejut.
"Langit?" panggil Jingga pada orang yang ia tabrak.
"Oh Jingga ya. Lagi ngapain di sini?" tanya Langit
"Abis beli cemilan. Loe sendiri lagi ngapain di sini?" ujar Jingga belik bertanya kepada Langit.
"Gue baru mau beli cemilan juga. Loe sendiri?" ucap Langit.
"Iya. Loe juga sendiri?" ujar Jingga.
"Tadi sih sama Fajar dan Biru sekarang sendiri mereka pada balik" jawab Langit.
"Ohh gitu" ujar Jingga.
"Loe jalan kaki kesini?" tanya Langit.
"Iya" singkat Jingga.
"Mau bareng gue? Tapi nunggu bentar gapapa?" tawar Langit.
"Gak usah gapapa gue jalan aja gak jauh kok" tolak Jingga.
"udah gapapa, tunggu bentar ya gue mau masuk dulu. Tunggu sini jangan kemana-mana" ujar Langit kemudian berjalan masuk ke supermarket.
__ADS_1
Mau tidak mau Jingga harus menunggu Langit. Tak berselang lama Langit telah kembali menemui Jingga. Setelah itu mereka berjalan menuju parkiran dimana motor Langit berada.
Setelah Jingga naik ke motor, Langit melajukan motornya menuju rumah Jingga dengan kecepatan normal. Selama perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka. Mereka hanya diam membisu.
Sesampainya di depan rumah, Jingga turun dari motor Langit.
"Masuk dulu yuk" ajak Jingga pada Langit.
"Gak usah deh gue mau langsung pulang aja" tolak Langit.
"Udah masuk dulu aja yuk" paksa Jingga.
"Ya udah deh kalo maksa" ujar Langit pasrah atas paksaan Jingga. Langit memasukkan motornya ke halaman rumah Jingga setelah Jingga membuka gerbang depan.
"Yuk masuk" ajak Jingga dan mereka pun berjalan masuk kedalam rumah.
"Duduk dulu ya gue bikinin minum dulu" ujar Jingga.
"Eh gak usah bikin minum" tolak Langit.
"Udah gapapa, tunggu bentar ya" ujar Jingga dan berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan Langit minuman.
Tak membutuhkan waktu lama Jingga telah berjalan kembali ke ruang tamu dimana Langit sedang menunggu nya. Jingga membawa beberapa cemilan yang ia beli tadi.
"Di minum dulu" ujar Jingga pada Langit.
"Gak ngerepotin kok, anggep aja sebagai rasa terimakasih gue karna loe udah anterin gue tadi" ujar Jingga.
"Rumah loe kok sepi. Nyokap loe kemana?" tanya Langit penasaran karena memang rumah Jingga sepi tak ada siapa pun.
"Oh nyokap gue lagi ke kantor bokap" jawab Jingga.
"Oh. Loh terus Senja dimana?" tanya Langit lagi.
"Lagi tidur kayak nya mah. Biasanya jam segini dia lagi tidur" jawab Jingga.
"Ohh gitu" ujar Langit.
Obrolan mereka masih berlanjut. Hingga tak sadar mereka telah mengobrol selama satu jam. Mereka masih terus mengobrol hingga Senja turun.
Senja berjalan menuruni tangga dan berjalan menuju ke ruang tamu karena dia penasaran ada siapa di ruang tamu. Senja mendengar ada yang mengobrol di ruang tamu sejak dia bangun dari tidurnya tadi.
"Jingga apa ada tamu" tanya Senja pada Jingga sambil terus berjalan mendekat.
Jingga yang mendengar pertanyaan dari Senja pun menengok ke asal suara.
"Iya ini ada Langit" jawab Jingga.
__ADS_1
"Oh Langit. Udah daritadi ya?" tanya Senja pada langit sambil mendudukkan dirinya di sofa samping Jingga.
"Udah dari satu jam yang lalu kalo gak salah" jawab Langit sambil melihat jam tangan yang ia pakai di tangan kanan nya.
"Iya Senja dari tadi kita ngobrol tapi loe gak turun-turun padahal kan kita dari tadi nungguin loe" ujar Jingga menghadap ke Senja.
"Ya gimana gue kan tidur" ujar Senja.
"Loe tidur lama banget deh Ja" ujar Jingga menatap Senja dengan tatapan mengejek.
"Kayak gak tau gue aja loe mah" sahut Senja atas ejekan yang dilayangkan oleh kembarannya.
"ehem" dehem Langit yang merasa di abaikan oleh Jingga dan Senja.
"Eh sampe lupa kalo ada Langit. Sorry ya?!" ujar Jingga yang lupa akan kehadiran Langit.
"Iya gapapa. Btw gue balik dulu ya udah sore nih" pamit nya.
"Ya udah gue anter sampe depan deh. Loe tunggu sini aja ya Ga!" ujar Senja.
"Iya deh" ujar Jingga sambil menyender di punggung sofa.
Senja mengantarkan Langit sampai depan gerbang.
"Gue pulang ya Ja?!" pamit Langit.
"Iya hati-hati ya" ujar Senja.
Setelahnya Senja masuk ke dalam setelah tak melihat motor Langit. Saat di ruang tamu dia melihat Jingga yang masih setia duduk disana. Senja kemudian berjalan ke arah Jingga dan mendudukkan dirinya di samping Jingga.
"Senja ternyata Langit orangnya asik ya baik lagi" ujar Jingga saat Senja telah duduk di sampingnya.
"Lah emang Langit baik kan?!" ujar Senja
"Bukan gitu maksudnya. Yang gue liat di sekolah dia tuh dingin banget kayak loe, tapi setelah kenal dia lebih jauh dia orangnya hangat juga" ujar Jingga.
"Kan loe baru kenal hari ini sama Langit" ujar Senja menatap Jingga yang ada di sampingnya.
"Iya sih tapi gue kayak udah nyaman sama dia" ujar Jingga membalas tatapan Senja.
"Ohh loe suka sama dia?" tanya Senja.
"Kayak nya sih iya" jawab Jingga menatap lurus ke depan.
Degg
Tiba-tiba hati Senja terasa sakit dan jantungnya berdetak lebih cepat saat mendengar ucapan Jingga yang mengatakan bahwa dia menyukai Langit. Detik itu juga dia diam mematung tanpa kata sama sekali.
__ADS_1