
Bell masuk kembali berbunyi, semua masuk kedalam kelas. Tak butuh waktu lama, guru yang mengajar sudah masuk kedalam kelas, dan memulai pelajaran.
Dua jam berlalu, pelajaran telah berakhir dan bell istirahat kedua pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Tak terkecuali untuk Jingga dan Embun. Mereka keluar kelas menuju taman sekolah.
Sedangkan Senja dia tetap berada di dalam kelas. Di dalam kelas hanya ada Senja seorang. Senja membaca novel yang dia bawa dari rumah.
Senja adalah seorang pecinta novel apalagi novel tentang kisah anak sekolahan. Menurutnya cerita dalam novel sangat bagus walau itu hanya fiktif belaka.
Saking asiknya membaca sampai Senja tak sadar seseorang telah duduk di sampingnya. Orang tersebut terus memandangi Senja yang sedang asik membaca. Hingga dia bertanya kepada Senja.
"Serius amat bacanya?!" tanya nya masih memandangi Senja.
"Astaghfirullah" pekik Senja menatap sebal pada lelaki yang telah mengejutkannya.
"Ishh ngagetin aja" ucap Senja memukul lengan Langit.
Yups, orang yang sedari tadi memandangi Senja adalah Langit.
"Gitu aja kaget" ucap Langit.
"Ya kaget lah orang loe dateng tiba-tiba" ujar Senja melanjutkan membaca.
"Tiba-tiba apanya orang udah dari tadi disini" ucap Langit.
"Kok gue gak tau?!" ucap nya menatap ke arah Langit.
"Ya loe serius banget baca buku nya. Baca apaan sih?!" Tanya Langit penasaran dan merampas novel tersebut dari tangan Senja.
"Baca novel" ucap Senja ketus.
"Biasa aja donk jawabnya" ujar nya sambil membaca novel Senja.
"Ishh orang masih kesel juga" ujar Senja menekuk wajahnya dan memajukan bibirnya beberapa senti.
"Jangan di monyong-monyongin tuh bibir, minta di iket apa" ucap Langit melihat Senja memajukan bibir nya.
"Biarin" ujar nya ketus.
"Ya udah maaf kalo gue ngagetin loe" ucap Langit menatap Senja.
"Hemm" jawab Senja dengan deheman.
"Di maafin gak?" tanya Langit terus memandang Senja.
__ADS_1
"Iya udah maafin kok" ucap Senja membalas tatapan Langit.
"Gak ikhlas ya maafin nya" ucap Langit sendu.
"Ikhlas kok kata siapa gak ikhlas" ucap Senja masih menatap Langit.
"Gak ada senyumnya berarti gak ikhlas" ujar Langit menunggu senyum Senja.
Senja mendengus kemudian menatap langit dengan senyuman.
"Tuh udah senyum" ucap Senja masih tersenyum.
"Nah gitu donk kan cantik" ucap nya mencubit pipi Senja.
"Ishh sakit Langit" pekik Senja kemudian melepaskan tangan Langit dari pipinya.
"Pasti merah kan pipi gue" ucap Senja terus mengelus pipinya yang memerah.
"Sakit banget?" tanya Langit mengelus pipi Senja yang dia cubit tadi.
"Gak juga sih" ujar Senja terus memandangi Langit yang mengelus pipinya.
"Masih sakit?" tanya Langit menatap ke arah Senja dan tatapan mereka bertemu.
Langit pun kembali duduk dengan tegap seperti semula. Dia melanjutkan lagi membacanya. Dan Senja dia menyibukan diri dengan menulis di buku nya.
"Kapan main kerumah?" tanya Langit masih fokus dengan novel yang dia baca.
"Minggu kan nanti kerja kelompok di rumah loe?!" jawab Senja.
"Ishh itu beda lagi" ucap Langit menatap sebal ke arah Senja.
"Apa bedanya?!" tanya Senja membalas tatapan sebal Langit dengan tatapan bingung.
"Ya beda lah kan itu kerja kelompok bukan main" ucap Langit yang melanjutkan membaca novel Senja.
"Sama aja. Sama-sama kerumah loe ini" ujar Senja yang juga melanjutkan menulisnya.
"Ya beda lah. Emang loe gak kangen sama mama gue kan loe dah lama gak ketemu sama mama gue" ucap Langit masih fokus pada novel Senja.
"Ya kangen lah. Tapi emang bunda masih inget sama gue?" tanya Senja menatap ke arah Langit yang masih sibuk membaca novelnya.
"Ya inget lah" ucap Langit yang tetap fokus pada novel yang ia baca.
__ADS_1
"Ya udah deh. Besok kan sabtu gue ke rumah loe deh nanti" ucap Senja melanjutkan menulis.
"Bener ya?!" tanya Langit memastikan.
"Iya" ucap Senja masih fokus menulis.
"Mau gue jemput gak besok?!" ucap Langit menatap Senja.
"Gak perlu gue bisa sendiri ke rumah loe" jawab Senja tanpa melihat Langit.
"Ja gue belum punya nomor HP loe. Minta donk!" ucap nya menyodorkan handphone nya kepada Senja.
Senja menerima handphone Langit dan mulai mengetik nomor handphone nya di dalam handphone Langit. Setelah selesai ia mengembalikan lagi kepada Langit.
"Nihh!" ucap Senja menyodorkan handphone Langit.
"udah?!" tanya Langit.
"udah" jawab Senja.
Beberapa saat mereka saling terdiam dan membisu. Saling sibuk dengan kegiatan masing-masing. Langit yang sibuk membaca novel yang ia rebut dari Senja tadi. Dan Senja yang sibuk menulis entah apa yang ia tulis.
Tak lama berselang bell masuk telah berbuny kembali. Langit berdiri dari duduknya dan berjalan menuju bangkunya dengan pandangan masih terfokus pada novel Senja.
Senja menatap Langit yang berdiri dan berjalan menuju bangkunya dengan membawa novelnya tadi.
"Langit novelnya jangan di bawa" ucap Senja menatap ke arah Langit.
"Pinjem dulu nanti gue balikin lagi" ujar langit yang telah duduk di bangkunya dan tanpa melihat ke arah Senja yang sedang menatapnya.
"Ishh gue kan belom selesai bacanya" ujar Senja masih menatap Langit.
"Nanti loe bisa lanjut lagi. Ini gue nanggung banget udah setengah" ucap Langit masih fokus membaca novel Senja.
"Ishh nyebelin" umpat Senja membalikan badan nya.
"Gak usang ngedumel" ucap Langit yang mendengar umpatan Senja tadi.
Senja hanya bisa mendengus dan melanjutkan kegiatan nya.
Tak lama kemudian para murid mulai memasuki kelas. Dan tak berselang lama setelah para murid memasuki kelas guru yang mengajar pun memasuki kelas.
Pelajaran berjalan lancar sampai bell pulang berbunyi. Setelah guru yang mengajar keluar kelas, para murid berhamburan keluar kelas.
__ADS_1