Langit Senja Dan Jingga

Langit Senja Dan Jingga
Jingga Dan Langit


__ADS_3

Jingga dan Langit sedang berjalan mengelilingi mall untuk mencari barang yang ingin Jingga beli. Saat mereka memasuki kawasan toko buku, Jingga mengelilingi rak mencari novel yang ia cari sedangkan Langit hanya mengikuti dengan sekali-kali melihat buku yang ada.


Setelah menemukan buku yang ia cari, Jingga berjalan menuju ke kasir dan membayar buku tersebut. Mereka pun keluar dari toko dan lanjut untuk berkeliling.


Lelah berkeliling Langit mengajak Jingga untuk pergi ke sebuah restoran.


"Loe mau pesen apa?" tanya Langit membuka buku menu yang baru saja di berikan oleh pelayan.


"Terserah loe deh" jawab Jingga.


"Mas pesen yang favorit di sini ya dua" ucap Langit memberikan buku menunya kembali kepada pelayan.


"Baik kak. Ditunggu sebentar" ujar sang pelayan meninggalkan Langit dan Jingga.


"Loe suka banget ya baca novel?" tanya Langit pada Jingga.


"Banget. Bukan hanya gue Senja juga baca buku. Bahkan gue sama Senja sering berburu novel baru. Apalagi novel tentang kisah romantis gue sama Senja seneng banget" jawab Jingga dengan antusias.


"Berarti koleksi novel loe banyak donk?" tanya Langit lagi.


"Gak hanya banyak. Bahkan di rumah ada ruang baca sendiri yang papah gue buat untuk gue sama Senja kalo mau baca novel. Soalnya klo di taruh kamar gak muat banyak banget." jelas Jingga.


"Ohh berarti hobby kalian sama ya?" tanya Langit.


"Iya ada beberapa kesamaan gue sama Senja dari dulu. Makanan favorit kita juga sama." jawab Jingga.


"Emang apa makanan favorit kalian?" tanya Langit penasaran.


"Kami sama-sama suka makanan pedes. Apapun makanan nya harus pedes, kecuali cake" jawab Jingga.


"Ya kaliii cake pedes, mana ada cake kayak gitu" ujar Langit.


"Hahaha makanya kan gak enak kalo cake rasanya pedes" ucap Jingga tertawa pelan.

__ADS_1


"Terus apa lagi yang sama dari kalian?" lanjut Langit masih penasaran.


"Gak ada lagi sih kayak nya. Cuma itu dari dulu sifat dan kelakuan kita beda" jawab Jingga.


"Ohh iya ya ya" ucap Langit menganggukkan kepala.


Tak lama makanan yang mereka pesan sampai di meja mereka. Mereka menikmati makanan yang tersaji dengan keheningan. Tak ada obrolan yang terjadi selama mereka makan.


Setelah makan Jingga dan Langit pergi berjalan pulang. Selama perjalanan mereka mengobrol dengan di selingi candaan.


Sesampainya di rumah Jingga, Langit menghentikan motornya di depan gerbang rumah Jingga tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam rumah.


"Mau mampir dulu gak Lang?" tanya Jingga.


"Nggk deh gue langsung pulang aja" jawab Langit.


"Beneran gak mau mampir dulu?" tanya Jingga lagi.


"Nggk deh udah sore juga soalnya" jawab Langit lagi.


"Santai aja gak perlu makasih" ucap Langit.


"Ya udah gue balik dulu" pamit Langit sambil memasang helm.


"Iya hati-hati ya" ucap Jingga.


Langit tak mengucapkan sepatah katapun dia hanya mengacungkan jempol kearah Jingga dan berjalan meninggalkan rumah Jingga. Setelah motor Langit tak terlihat lagi Jingga baru memasuki rumah.


Saat memasuki rumah Jingga langsung bertemu dengan Senja yang sedang menonton tv bersama Bintang.


"Baru pulang? Dari mana?" tanya Bintang saat Jingga telah duduk tepat di samping nya.


"Iya, abis cari novel" jawab Jingga.

__ADS_1


"Sama siapa" interogasi Bintang.


"Sama Langit" jawab Jingga.


Seketika Bintang menatap ke arah Senja yang sedang menatap nya dengan tersenyum manis. Kemudian Bintang menatap Jingga lagi.


"Cuma cari novel?" tanya Bintang lagi.


"Iya lah. Ini novel nya yang aku pengenin banget untung gak kehabisan" jawab Jingga antusias.


"Ya udah sana mandi bau asem tau gak" Ucap Senja memerintahkan Jingga untuk mandi.


"Enggk ya gue mah selalu wangi'' ucap Jingga setelah mencium bau badan nya sendiri.


" Bau tau. Udah sana mandi" ucap Senja lagi.


"Ihh gue itu nggk bau" ucap Jingga.


"Udah udah berantem mulu. Jingga mandi dulu gihh abis itu makan malem sama-sama'' ucap Bintang menengahi perdebatan antara Jingga dan Senja.


" Ya udah iya iya Jingga ke atas dulu kak" ujar Jingga bangkit dari duduk nya, dan melangkah menuju lantai atas ke arah kamar nya.


Setelah kepergian Jingga, Bintang menatap ke arah Senja yang sedang asik menonton tv. Dia mendekat ke arah Senja dan merangkul adik tersayang nya.


"Adek gak apa-apa kak" ujar Senja mengerti maksud dari tingkah Bintang.


"Kakak tau kamu bohong sama kakak. Mulut kamu bisa bilang gak kenapa-napa tapi kakak tau hati kamu sakit kan?" ujar Bintang.


''Hiks aku harus kuat kak demi Jingga, aku harus relain Langit buat dia. Aku harus belajar ikhlas" ucap Senja dengan air mata yang telah mengalir. Bintang semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar suara tangisan Senja.


"Iya kakak tau kamu itu adik kakak yang paling kuat" ucap Bintang.


"Sabar ya adek pasti bisa ngelewatin nya" lanjut Bintang menenangkan Senja.

__ADS_1


"Iya kak" ucap Senja semakin mengeratkan pelukan nya kepada Bintang.


Bintang pun tersenyum dan membalas pelukan Senja tak kalah erat. Bintang tau saat adik kesayangan nya ini manja berarti sedang banyak pikiran. Dan dia hanya mampu menenangkan nya dengan pelukan.


__ADS_2