Langit Senja Dan Jingga

Langit Senja Dan Jingga
Demi Jingga


__ADS_3

Pagi menjelang, sinar matahari masuk melalui celah kendala kamar menyinari dua insan manusia yang masih tidur dengan berpelukan. Senja terbangun lebih dulu, dia mencoba melepaskan pelukan Bintang tapi pelukan Bintang sangat erat.


"Kak Bin bangun" ucap Senja membangunkan Bintang.


"Hemm" jawab Bintang.


"Kak Bin pelukannya lepasin dulu aku mau turun" ujar Senja sedang berusaha melepaskan pelukan Bintang.


Bukannya melepaskan pelukannya Bintang malah mempererat pelukannya. Dia nyaman dengan pelukan itu. Karena udara sangat dingin membuat Bintang tak mau melepaskan pelukannya.


"Ishh kak Bin bangun dulu aku mau turun" ucap Senja.


"Kak ini udah siang nanti kalo Senja telat gimana" lanjut Senja dan terus berusaha melepaskan pelukan Bintang.


"Kak aku susah nafas nihh" ucap Senja pura-pura tak bisa bernafas.


Bintang yang mendengar perkataan Senja barusan pun langsung membuka matanya dan melepaskan pelukannya. Dia menatap Senja yang sudah duduk dan baik-baik saja , dia pun bangkit dari tiduran nya.


"Kamu bohongin kakak ya?!" tanya Bintang dan mencubit hidung Senja.


"Hehe iya gapapa lah bohongin kakak dari pada aku gak lepas dari pelukan kakak terus telat sekolah gimana?!" jawab Senja dengan cengengesan.


"Emang jam berapa sih?" ucap Bintang menengok ke arah jam weker di atas meja samping tempat tidurnya. Ternyata sudah jam 06.15 pantas saja Senja sibuk membangunkannya.


"Ya udah gih mandi" ucap Bintang mengelus kepala Senja.


"Iya. Ya udah Senja mandi dulu ya" ucap Senja bangkit dari duduk nya.


Senja berjalan menuju pintu, saat ingin membuka pintu dia berbalik dan berjalan kembali menuju Bintang.


cup


"Morning kiss" ucap Senja mencium pipi Bintang.


Senja kembali melangkah meninggalkan kamar Bintang. Bintang yang mendapat kecupan dari Senja pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Senja yang dia kenal adalah Senja yang manja berbeda dengan Senja yang orang lain kenal. Karena Senja yang orang lain kenal adalah Senja yang dingin dan irit bicara.


Bintang pun bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi nya.


-o0o-


15 menit berlalu Senja telah selesai dengan mandi nya. Saat ini Senja sedang duduk di meja belajarnya memasukkan buku pelajaran hari ini.


Senja keluar dari kamar nya dan berpapasan dengan Jingga yang juga baru keluar dari kamar miliknya.


"Ja loe semalem tidur dimana?" tanya Jingga penasaran karena tadi malam dia tak melihat Senja tidur di kamar nya.


"Loe tau dari mana gue gak tidur di kamar?" ujar Senja balik bertanya.


"Semalem gue gak liat loe ada di kamar makanya gue tanya" jawab Jingga.


"Ohh gue semalem tidur di kamar Kak Bintang" Jawab Senja terus berjalan menuju tangga.


"Kok loe bisa tidur di kamar Kak Bintang?" tanya Jingga.


"Gue tadi malem ngobrol bentar sama Kak Bintang ehh ketiduran ya udah tidur disana, sama Kak Bintang nya aja gak di pindahin ya udah sampe pagi deh gue tidur disana" jawab Senja panjang lebar.


Mereka terus berjalan menuruni anak tangga sampai mereka tiba di meja makan. Di meja makan sudah ada kedua orang tua mereka dan Bintang. Setelah menyapa orang tua dan kakak mereka kemudian Senja dan Jingga duduk di tempat mereka masing-masing.


Mereka sarapan dengan kesunyian karna itu adalah adab mereka, ketika sedang makan jangan ada yang berbicara atau memainkan ponsel. Hanya ada bunyi dentingan sendok dan piring yang mengiringi sarapan pagi mereka.


10 menit berselang, sarapan pagi mereka telah selesai. Satu per satu dari mereka pergi untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Sebelum pergi Senja dan Jingga tak lupa mencium punggung tangan dan pipi kedua orang tuanya.


Senja dan Jingga berangkat di antar oleh Bintang. Sesampainya di sekolah Senja dan Jingga langsung berjalan menuju ke kelas mereka. Di kelas sudah ada sahabat mereka yakni Embun.


"Morning Embun" sapa Senja dan Jingga.


"Morning" ucap Embun balik menyapa dan menatap Senja dan Jingga.

__ADS_1


Senja dan Jingga duduk di bangku mereka. Tak berselang lama bell masuk berbunyi dan guru masuk ke dalam kelas. Pelajaran berjalan lancar seperti biasanya.


Bell istirahat berbunyi semua murid berhamburan ke luar kelas. Dengan tujuan yang berbeda-beda ada yang ke kantin, ke perpustakaan, ataupun ke taman sekolah.


Kali ini Senja dan Jingga juga Embun pergi ke kantin. Seperti biasa kantin kali ini sangat ramai dan tak ada lagi meja yang masih kosong kecuali meja Langit dkk karena banyak yang tak enak jika duduk di meja mereka padahal mereka biasa-biasa saja jika ada yang mau makan satu meja dengan mereka.


Senja dkk berjalan menuju meja Langit dkk. Setelahnya mereka langsung duduk tanpa meminta persetujuan dari mereka yang telah duduk terlebih dahulu.


"Tumben langsung duduk biasanya kalian izin dulu!" sindir Fajar pada Senja dkk.


"Ohh gak boleh ya kalo gak izin dulu. Ya udah yuk kita pergi aja" ujar Jingga merasa tersindir oleh ucapan Fajar. Kemudian mereka bangkit dari duduk nya.


"Ya gak gitu juga laki Ga. Gak usah pergi, di sini aja!" cegah Fajar.


Senja dkk pun tak jadi pindah dari bangku Langit dkk. Mereka kembali duduk di posisi awal.


"Kalian mau pesen apa biar gue pesenin?!" tanya Embun pada Senja dan Jingga.


"Kayak biasa aja Bun!" ucap Jingga.


"Samain sama pesenan kamu aja Bun!" ucap Senja.


"Kalian mau sekalian gak?" tanya Embun pada Langit dkk karena ia tak melihat mereka sudah memesan makanan.


"Gue samain sama punya Senja aja!" ujar Langit dingin dan jelas.


"Kalo gue samain sama punya Fajar aja!" ujar Biru.


"Gue bantu loe pesen aja!" ucap Fajar bangkit dari duduk nya.


Embun dan Fajar berjalan menuju ke warung tempat menjual makanan yang mereka ingin pesan. Fajar berjalan menuju ke tempat jual makanan sedangkan Embun berjalan menuju tempat jual minuman.


Selesai memesan mereka kembali ke meja dan duduk di tempat semula. Banyak canda dan tawa memenuhi meja mereka. Keceriaan Jingga dan Embun meramaikan meja mereka, tak mau kalah Fajar dan Biru juga menunjukan kekonyolan mereka dan mengundang tawa semua orang di meja.


Selama di kantin Jingga selalu mencuri pandang pada Langit yang hanya menampakkan wajah dingin dan cueknya. Langit hanya memainkan handphone nya, terkadang dia tersenyum tipis melihat kekonyolan teman-teman nya. Begitu juga dengan Senja.

__ADS_1


Jingga tak jemu memandang Langit, walau yang ia lihat hanya wajah dinginnya. Dan yang di pandang pun tak menunjukan reaksi apapun. Langit tak menyadari jika dia sedari tadi di pandangi oleh Jingga.


Senja yang melihat Jingga selalu mencuri pandang kepada Langit pun merasa sakit. Tetapi dia harus melupakan semua rasa suka nya pada Langit demi Jingga. Dia harus merelakan Langit demi kebahagiaan Jingga walau harus merelakan kebahagiaannya juga.


__ADS_2