
Roof, ditempat itu sekarang Basara berada, gadis itu menatap lurus ke depannya, melihat pemandangan Bandung yang indah. lagi dan lagi luka memar dia dapatkan di pelipisnya dan bibirnya... ini semua ulah sang papa yang selalu membela Tasya—si adik tiri yang tak pernah dianggap oleh Basara. gadis itu terkekeh geli membayangkan kejadian kemarin malam dirumahnya, sedetik kemudian kekehan itu berubah menjadi sebuah tertawaan...yah Basara menertawai nasibnya... menjadi anak kandung yang berasa jadi anak tiri.
"ck ck ck gue yang anaknya tadi gue yang dirusak mental dan juga raganya...hebat sekali kamu Surya." seru Basara dengan tatapan kosong. sedetik kemudian suara tertawa kembali terdengar kali ini lebih keras dari pada tertawaan yang tadi, suara tertawa itu perlahan sirna dan hanya terdengar kekehan kecil.
suara telapak kaki memenuhi indra pendengaran Basara, gadis itu menoleh lalu tersenyum saat melihat seseorang yang memang ditunggu yah tadi. dan itu adalah alasan Basara berada disana disaat murid lain sedang memutuskan untuk mengisi perut mereka di kantin sekolah.
"akhirnya kamu datang juga, nih." Basara memberikan sebuah roti kemasan kepada Alaska, yah Alaska.
"kamu pasti belum makan kan?" tebak Basara.
Alaska melewati Basara dan berdiri di pembatas roof.
"sok tamu kamu." ucap Alaska tanpa menoleh kearah lawan bicaranya itu. kekehan keluar dari bibir tipis Basara, lalu gadis itu berjalan berdiri di sebelah Alaska yang sedang memandangi pemandangan Bandung didepan nya itu.
"buat apa kamu nyuruh saya kesini?" tanya Alaska yang masih enggan menoleh kearah si gadis yang diajak bicara.
"mau curhat boleh?" tanya Basara, beberapa saat kemudian Alaska menoleh dan melihat wajah gadis itu yang penuh dengan luka lebam, mau bertanya takut dibilang lancang, jadi Alaska memutuskan untuk diam saja dan menunggu gadis didepannya itu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"aku mau curhat ini, boleh enggak? eh malah bengong dia nya." Basara tersenyum melihat Alaska yang mengangguk merespon ucapannya tadi.
helaan nafas terdengar sangat gusar, gadis berambut panjang itu melihat lurus ke depan, matanya menyiratkan kekosongan.
"menurut kamu...anak kandung apa anak tiri yang seharusnya di sayang dan di percaya?" tanya gadis itu yang masih menatap lurus kedepan.
Alaska mengerutkan keningnya lalu berujar
"Menurut aku harus adil sih, gak boleh di banding-bandingin, emangnya kenapa kok tanya gitu?" Basara terdiam sejenak adil yah? batin Basara.
"enggak papa cuma nanya aja." ucap gadis itu sambil tersenyum.
Alaska nampak berpikir sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang bijak.
"menurut ku ketiga-tiganya salah." ujar Alaska
"kenapa?" tanya Basara.
__ADS_1
"yah karena ketiga-tiganya sama-sama egois, si anak tiri salah karena memancing amarah si anak kandung, dan si anak kandung juga salah karena terlalu mudah untuk di pancing, dan si papanya juga salah karena tidak mau mendengar penjelasan si kandung dan memiliki membela tanpa mau mendengarkan siapa yang memulai nya duluan." ujar bijak
Alaska, Basara hanya manggut-manggut,
bener juga yang di bilang Alaska, seharusnya aku tak muda di pancing, aish. batin Basara menyesali keegoisannya karena terlalu mudah untuk dipancing ke marahnya itu.
"makasih yah Ka." Basara tersenyum manis.
"makasih? buat?" tanya Alaska
"makasih atas pencerahannya."
KRINGGGG
"eh udah masuk, ayok balik ke kelas." ajak Basara mengalihkan pembicaraan, Alaska mengangguk, keduanya pergi menuju kelasnya.
gimana ceritanya? nyambung tidak?
__ADS_1
typo maklumi aja