Last Twilight With Alaska

Last Twilight With Alaska
ketulusan


__ADS_3

Malam harinya, disebuah jembatan didekat pelabuhan, seorang gadis dengan mantel hujan berwarna biru sedang melihat hamparan lautan didepan nya.


Basara...gadis dengan luka yang tak pernah menumpahkan segala rasa sakitnya


"Sakit banget yah, punya orang tua yang gak sayang sama gue, mama udah gak ada, papa lebih menyukai Tasha yang berstatus sebagai anak tirinya." helaan nafas terdengar sangat lelah, seakan tak mampu menahan beban yang akan Tuhan berikan padanya.


Ingin menangis tapi tak bisa, karena air matanya sudah kering tak ada sisa yang bisa ia tumpahkan, bahkan jika ia menangis...apa ada yang akan menghiraukan nya? apa ada yang memedulikan dirinya, atau sekedar bertanya 'kamu kenapa?' oh tentu saja tidak ada, karena Basara hanya seorang diri tanpa ada yang mendampingi.


"aku benar-benar sendiri sekarang." Lirih Basara


brukkkk~


Sebuah tangan mendarat di bahu Basara, gadis itu menoleh melihat seseorang disampingnya.


"Lo gak sendirian karena gue ada buat Lo, dan nemani lo, Basara." Pria dengan paras tampan tersenyum tulus pada Basara.


"Yusuf, sejak kapan Lo disini?" tanya Basara pada laki-laki bernama Yusuf itu. Yusuf berdiri tepat disamping kanan Basara.

__ADS_1


"Barusan, tadi gue gak segaja lewat, terus menggeliat Lo, jadi gue samperin deh." jelas Yusuf diakhiri cenggiran. Basara mengangguk merespon nya.


"Lo sendiri ngapai ke jembatan hujan-hujan gini?" tanya Yusuf lagi.


"gak ngapa-ngapain, cuma pengen kesini aja." jawab singkat Basara. Kening Yusuf mengerut. "gak jelas Lo Ra." Basara acuh tak acuh dengan ucapan Yusuf tadi.


Keduanya sama-sama terlibat keheningan yang berkepanjangan, hingga akhirnya Yusuf kembali membuka suara.


"Ra." gadis bernama Basara hanya berdehem menjawab panggilan Yusuf tadi.


"Lo punya masalah yah? kalau misalnya Lo punya masalah, gue siap kok jadi tempat curhat Lo, jadi seseorang yang bisa mendengar keluh kesah Lo." ujar Yusuf, Basara hanya terkekeh mendengarnya ucapan Alaska.


'seberapa pandai nya Lo menutup luka, tapi gue bisa merasakan kesedihan di mata Lo Ra, gue sama kayak Lo, sama-sama memendam luka sendirian, Lo gak disayang sama ayah Lo, gue pun sama, di rumah gue cuma dianggap sebagai anak pembawa sial, seorang anak yang tak diinginkan kehadiran nya, Ra, gue gak punya sandaran sama sekali, hingga akhirnya gue ngelihat Lo, dan saat itulah, gue merasa gue dan Lo cocok, sama-sama terluka dan sial nya mereka yang kita sayang yang membuat luka di hati kita, Ra' batin Yusuf sambil menatap seduh gadis dihadapannya itu.


"udah ah Suf." Basara menghentikan kekehannya.


"Gue capek, jadi gue mau pulang dulu yah." Basara ingin melangkah meninggalkan Yusuf, tapi nihil, tangan kekar Yusuf menghentikan langkah.

__ADS_1


"Gue anterin pulang." Yusuf menarik tangan Basara.


Yusuf dan Basara sekarang dalam perjalanan pulang.


"Ra pegangan." suruh Yusuf, Basara dan Yusuf pulang dengan menaiki motor besar milik Yusuf.


"Gak ah." sahut Basara sedikit berteriak.


"Pegangan Ra, kalau Lo jatuh gue gak tanggung jawab yah." Kesal Yusuf.


Basara tidak menghiraukan ucapan Yusuf, gadis itu memilih diam sambil menatap jalanan yang sepi yang diguyur hujan.


Sebuah tangan menarik tangan Basara, Basara sedikit kaget disaat Yusuf menarik tangan nya dan melingkarkan di perut nya.


"pegangan, gue gak mau Lo jatuh." Basara tertegun mendengar ucapan tegas Yusuf, namun dibalik ucapan tegas Yusuf, terdapat ketulusan yang mampu menggetarkan hati Basara.


#jika typo maklumi aja, baru pemula .

__ADS_1


like komen vote favorit jika suka


see you


__ADS_2