
Alaska hanya duduk diam dikursi rumah sakit, tatapannya kosong melihat kedepan, sudah dua jam dia menunggu dokter keluar dari ruangan ICU namun tidak ada tanda-tanda bahwa dokter itu akan keluar hingga akhirnya
Celek~
pintu ruangan ICU terbuka lebar, menampakkan seorang dokter dengan pakaian medisnya. Alaska, Miranda dan Dirga bangkit dari duduknya, menghampiri dokter yang sedang melepaskan masker nya.
"gimana keadaan Nika dok?" Alaska bertanya dengan raut wajah khawatir nya.
"gimana keadaan putri saya dok?" lanjut Dirga yang bertanya, Miranda hanya menunjukkan ekspresi wajah khawatir berharap putrinya baik-baik saja.
"nona Nika berhasil melewati masa kritis nya, sekarang kondisinya sudah stabil, hm nona Nika harus dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari." jelas dokter perempuan yang menangani Nika.
"lakukan yang terbaik untuk putri saya dok!" Miranda mengengam tangannya dokter itu, memohon tepatnya.
dokter itu tersenyum ramah. "kami akan berusaha, nyonya dan tuan bantu doa nya ya?!" Ketiga manusia itu mengangguk.
"saya akan memindahkan nona Nika keruang rawat dulu, permisi." dokter itu pergi.
sementara disisi lain... suasana kelas MIPA 1 sangatlah berisik, yah kelas yang tadinya sunyi berubah menjadi pasar ikan karena tadi para guru yang mengajar pergi mengikuti rapat bersama kepala sekolah.
dipojok dekat dengan jendela. Basara, gadis cantik itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
'dia kemana? Kenapa gak masuk? apa terjadi sesuatu sama Lo Ka, gue khawatir' kira-kira seperti itulah isi pikiran Basara saat itu.
''WOI.'' teriak melengking seorang gadis, Basara melihat siapa yang berteriak barusan.
"kenapa Lo Sa?" gadis itu duduk di sebelah Basara, merangkul pundak Basara.
"Lo tau enggak kenapa Alaska gak masuk?" terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya Basara.
"widih Lo suka sama si bisu Sa?"
"jaga omongan Lo yah!" Basara bangkit dari duduknya, rahangnya mengeras, ia tak terima Alaska dibilang bisu.
"emang dia bisu Sa.'' santai gadis itu tanpa ada rasa bersalah. Basara menarik kerah baju Della gadis yang barusan menghina Alaska.
"wow Lo nge-belain si bisu Ra."
BRUKKKK
Satu pukulan dilayangkan Basara kewajah cantik Della, gadis itu tersungkur dilantai, ujung bibir gadis itu nampak memar dan mengeluarkan cairan merah, jangan main-main dengan Basara, gadis pemegang sabuk hitam.
"sekali lagi Lo hina Alaska, mati Lo ck." setelah frasa itu dilontarkan Basara pergi dari sana.
__ADS_1
*
*
*
*
Basara menikmati terpaan angin yang menusuk pori-pori kulit nya, roof adalah tempat yang menenangkan diri, melihat Kota Bandung dari atas memasang sangat indah, masih asri dan hijau.
"Si Della benar-benar mancing emosi gue, berani-beraninya dia ngehina Alaska gue." Basara mengepalkan tangannya.
"gue Basara...adu bacot bukan tipe gue, adu tonjok kalau berani, gak tahu dia gue siapa! pemegang sabuk hitam dilawan." adu bacot memang bukan tipe Basara, tapi kalau udah kesel mulutnya gak bisa diam, ngomel-ngomel sendiri jadinya.
"Lo kenapa?" seseorang menyentuh pundak Basara dan itu membuat sang empunya terkejut, lalu membalikkan badannya melihat siapa yang berbicara.
"Lo?!" Basara mengerutkan keningnya, pasalnya dia tak kenal laki-laki dihadapan nya itu. laki-laki tampan namun sayangnya tubuhnya pendek, gak pendek-pendek amat sih cuma tingginya setara dengan tinggi badan Basara, mungkin hanya beda beberapa sejengkal.
"gue Yusuf, ketos disini." menjulurkan tangannya ingin berkenalan. Basara menjabat tangannya laki-laki yang namanya sudah disebutkan tadi.
"Basara Senjaya." Basara memperkenalkan diri.
__ADS_1