Last Twilight With Alaska

Last Twilight With Alaska
Basara-Alaska


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantik Basara, rambut panjang nya berserakan akibat angin, binar bening Basara telah redup, tatapannya kian kosong. Jembatan di sanalah sekarang Basara berada, setelah kejadian adu argumen dengan sang papa beberapa jam yang lalu dirinya memutuskan untuk pergi menenangkan diri nya, dan jembatan adalah tempat yang akan dirinya kunjungi disaat kehancuran mulai menghampiri.


Helaan nafas terdengar sangat berat seakan banyak sekali beban diatas pundaknya sekarang. Ingin sekali Basara menangis dan meraung sekeras mungkin...tapi itu hanya kata 'ingin' hanya kata 'ingin', dirinya tak boleh lemah disaat seperti ini karena dia tahu hanya dirinya yang ada, tak ada sesiapa yang akan mendengarkan keluh kesah nya, tak ada seorang yang bisa dijadikan sandaran jikalau dirinya sedang hancur seperti sekarang, sungguh hanya dirinya seorang diri. Diusapnya wajah kusutnya.


"Kamu harus kuat jika harus bertahan Basara. Kamu bukan gadis lemah yang akan menangis dan akan bunuh diri untuk meningkatkan masalah didalam hidup, kamu harus bertahan sampai akhir jika ingin menjadi pemenang nya." Ucap semangat itu dilontarkan Basara untuk dirinya, Basara akan bertahan walaupun semua menyuruhnya untuk menyerah.


Basara itu Alaska, dan Alaska itu adalah Basara, keduanya sama, sama-sama menderita, tapi ada perbedaan diantara keduanya, dan contohnya, Basara tak akan menangis jika dirinya sedang hancur dan bedanya dengan Alaska, lelaki itu akan menangis jika dia lelah...hanya menangis untuk menumpahkan luka bukan berniat untuk berlarut dalam air mata dan penderitaan...


"Tuhan... izinkan saya untuk bahagia, saya lelah untuk selalu terluka dan menderita, jika naskah takdir saya hanya untuk terluka maka saya mohon datanglah seorang yang bisa menemani saya disaat luka itu datang, yang bisa menyemangati saya disaat saya benar-benar terluka dan lelah untuk bertahan." Frasa teresebut keluar begitu saja tanpa dipikirkan dahulu.

__ADS_1


Keesokan harinya di sekolah. Pagi-pagi sekali Basara sudah datang kesekolah, dirinya telah selesai meletakkan tas nya di kelas lalu beranjak menuju satu tempat...


"Hei, udah lama nunggu gue?" Tanya Basara saat kakinya tiba di Roof...yah roof tempat yang dituju gadis itu.


Lelaki dengan wajah tampan tersenyum kearah Basara.


"Gak kok, gue baru saja sampai." Jawab lelaki bernama lengkap Yusuf Danuarta itu. Basara membentuk huruf 'O' dengan mulutnya. Keduanya duduk bersebelahan di sofa bekas di roof.


Kedua anak manusia itu sama-sama bungkam dengan pikirannya masing-masing, mencari topik yang pas untuk dibahas supaya tak canggung. Yusuf menoleh kearah Basara yang berada disamping nya, betapa terkejutnya dirinya saat mendapatkan wajah sang sahabat tepatnya di pipi dan pelipis, muka gadis itu memar, sungguh Yusuf baru ngeh. Di tangkup nya kedua pipi sang sahabat.

__ADS_1


"Ra pipi sama pelipis Lo kenapa? Kok biru-biru gitu?" Tanya Yusuf penuh selidik.


"Lo di pukul! Sama siapa? Beritahu gue siapa yang mukul Lo!?." Tuding Yusuf masih dengan nada khawatir nya. Sedetik kemudian terdengar kekehan dari Basara. Yusuf mengerutkan keningnya, menurut nya tak ada yang lucu disini, malah dirinya sedang khawatir.


"Lo kenapa, kok ketawa, gue lagi serius nanya nih." Protes Yusuf


"Lo khawatir sama gue Suf?" Tanya Basara yang masih terkejeh. Yusuf langsung menarik kedua tangannya yang menangkup pipi Basara.


"Gue khawatir? Yah jelas anying, Lo Sabahat gue, mana ada sahabat yang kagak khawatir kalau ngelihat sahabat nya babak belur kayak begini.." oceh Yusuf sekali tarikan nafas.

__ADS_1


like komen vote favorit


__ADS_2