
Kau tahu, Alaska adalah manusia tampan yang mampir mendekat kata 'sempurna' IQ nya diatas rata-rata, wajah tampan dengan binar mata yang sangat memabukkan jika dipandang oleh lawan jenis, tapi aneh kenapa dia dianggap cupu di sekolah, apa karena jarang berbicara dan bersosialisasi dengan lingkungan sekolah, atau karena pakaiannya yang sangat sederhana, mungkin karena dia siswa beasiswa! Ah manusia memang seperti itu melihat orang dari luar nya saja...apa kalian pernah mendengar pepatah seperti ini
'jangan menilai buku dari sampulnya, tapi dinilai dari isinya' begitu kira-kira pepatahnya. Dan begitu dengan seorang Alaska, laki-laki irit bicara itu bukanlah cowok cupu yang dinilai disekolah nya itu, mereka tak tahu saja jika seorang Alaska memakai kaos putih dengan celana jeans hitam, apa lagi dengan gaya rambut belah tengah, itu sangat tampan bukan? Apa lagi Alaska memiliki kulit putih dengan wajah tampan sedikit imut itu.
*
*
*
Warung nasi Padang hari ini sepi, mungkin karena hari Minggu, tidak ada pesanan ketering dari perusahaan dan kantoran karena mereka libur.
"Nak Al." Panggil seorang ibu-ibu yang menjabat menjadi salah satu pelayan di warung nasi Padang itu, buk Lastri namanya.
Alaska berbalik dan melihat siapa yang memanggil nama nya tadi, dia tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Ada apa buk?" Tanya sopan Alaska.
"Ini buat nak Al." Buk Lastri memberikan sebuah kotak makanan.
Alaska menerimanya lalu berterimakasih pada wanita itu.
"Ouh yah kamu juga udah boleh pulang, udah di izinin sama Bu bos, warung juga sepi." Ujar wanita itu. Alaska mengangguk lalu pamit pulang duluan.
*
*
*
"SUKA BANGET YAH KAMU NYARI MASALAH." maki pria berahang tegas itu yah siapa lagi kalau bukan Surya ayah kandung dari Basara.
__ADS_1
"BERAPA KALI PAPA BILANG JANGAN NYARI PERKARA SAMA ADIK KAMU, DIA LAGI SAKIT PARAH, BASARA." Basara hanya bisa menundukkan kepalanya, wajahnya tertutup dengan rambut yang dileraikan. mata Basara sudah memerah...entah menahan amarah atau karena dentuman keras yang terasa didalam dadanya. bibir nya gak bisa dia gunakan untuk mengucapkan suara, seakan peluh untuk melempar sebuah frasa. ingin sekali dia menumpahkan frasa yang selama ini di tanah untuk diucapkannya.
"BASARA, KALAU PAPA LAGI NGOMONG LIHAT PAPA, JANGAN NGENUNDUK KEK @NJING PELIHARAAN KAMU." yah hati Basara seakan di sayat dengan sebuah pisau lalu di beri air perasan lemon. dalam tundukkan kepalanya Basara menyugihkan senyum miringnya. perlahan Basara bangkit dari duduknya lalu ditatap binar tajam milik sang papa.
"Basara anjing? kalau Basara anjing berarti papa ayah anjing dong." Basara melepaskan senyum miris dengan binar mata yang kehilangan cahaya nya. sudah sepuluh tahun lamanya dirinya harus menahan luka sendiri, dihina dan dimaki oleh sayang ayah yang lebih memilih sang anak tiri, dirinya yang anak kandung seakan dianggap sudah mati. dimakin dicaci cuma karena sang papa lebih menyukai sang putri tiri—Tasya, dirinya yang berhakikat sebagai anak kandung sudah tersingkirkan akibat buaian manis sang istri dan anak tiri.
PLAKKKK
tamparan keras dari tangga besar Surya mendarat mulus di pipi sang putri, pipi Basara panas, di kepalnya tangannya erat-erat supaya amarahnya tak meledak disaat itu juga, dicoba dikendalikan dirinya dari amarah yang sudah naik sampai pinggang.
"B@jingan kamu...dasar anak tak tahu di untung." maki Surya dengan wajah memerah karena marah.
"terserah." Basara memilih untuk segera pergi meninggalkan rumah nya. dirinya sebenarnya ingin sekali meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi istana tapi rumah Basara seakan-akan seperti neraka itu, dua iblis didalam rumahnya semakin merajalela, setiap saat mereka menghasut sang papa untuk menganiayanya dirinya. iblis yang dimaksud adalah Tasya dengan sang Mama Sera.
like komen vote favorit
__ADS_1