
...Happy reading 🍒...
Langit luas terbentang dengan warna kelabu, sepertinya sebentar lagi hujan akan membasahi tanah Bandung.
Rintihan hujan mulai berjatuhan, Alaska dengan segera mencari tempat untuk berteduh, dia berhenti disebuah halte, Alaska mendudukkan tubuhnya diatas kursi. Hujan mulai deras, angin juga ikut berhembus dengan kencangnya, dingin nya mulai menerobos masuk seakan menusuk pori-pori kulit putih Alaska. di kosoknya telapak tangan guna untuk membuat kehangatan.
"Hujan nya lebat banget, gimana pulang nya yah?!" Alaska sedikit cemas, mungkin karena hari sudah mulai senja.
hujan mengguyur bumi asri kota Bandung, pepohonan mulai bergoyang akibat hembusan angin, tetesan demi tetasan jatuh dari atap halte.
pikiran Alaska tiba-tiba saja kosong dengan sendirinya, tatapannya menatap lurus kedepan, sebelum akhirnya pukulan pelan dirasakan di bagian bahu. Alaska, laki-laki itu menoleh melihat siapa yang memegang bahunya itu, laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"hi." sapa sang gadis yang tadi berperan sebagai oknum yang menepuk pundaknya, gadis itu duduk disebelah Alaska.
"gue Basara." ucap gadis tersebut memperkenalkan diri nya sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Lo yang tadi disebelah meja gue kan?" tanyanya kepada sang lawan bicara.
Alaska hanya mengangguk meng'iya tanpa ada niatan untuk memperkenalkan diri nya.
"nam Lo?" Gadis itu kembali membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Alaska!" singkat Alaska.
"singkat amat dah." sindir Basara.
Hening~
setelah frasa terakhir yang dilontarkan Basara, tidak ada lagi percakapan dari keduanya, Alaska sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Basara melihat wajah tampan milik laki-laki didepannya itu. karena merasa risih dilihat seperti itu, Alaska pun bersuara.
"jangan lihat saya seperti itu." frasa itu keluar begitu mudah dari mulut Alaska, sedangkan yang gadis hanya memperlihatkan senyum termanis nya.
"Lo beruntung banget punya wajah yang tampan, gue aja sampai gak bisa berkedip karena terhipnotis oleh aura Lo." jujur Basara. sedangkan Alaska sendiri memutuskan menghiraukan Basara, dia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan orang yang tak dikenalnya.
ah, Basara baru ngeh saat melihat Alaska yang masih mengunakan seragam sekolah lengkap.
"orang ditanya tuh dijawab, jangan diam mulu, ke mayat hidup tau gak." ketus Basara. gadis itu kesal karena sedari tadi terus di cuekin oleh Alaska.
Hujan telah berhenti, Alaska segera bangkit dari duduknya, dan pergi menjauh dari halte, jujur dia sudah sangat muak mendengarkan ocehan Basara tadi.
"woi anjir bener tuh orang hufhth." Basara hampir saja emosi tapi untungnya bisa diredam kan.
"kalau gak karena muka Lo ganteng, mungkin udah gue bonyokkin tuh muka." ucap Basara entah pada siapa, pasalnya Alaska sudah sangat jauh dari tempatnya duduk.
Basara, gadis itu bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan halte itu juga.
__ADS_1
''pulang kerumah kuburan lagi gue." ucap Basara melangkah pergi. kerumah kuburan yang dimaksud Basara adalah bahasa kias yang bisa digunakan oleh Basara untuk mengatakan rumah nya yang sepi bak kuburan.
POV Alaska
laki-laki tampan itu barusaja selesai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, sekarang laki-laki itu sedang berjalan menuju dapur kosannya, hendak memasak makan malam untuk diri nya.
mie instan adalah makanan malam Alaska setiap hari. dia tahu itu tidak sehat, tapi yah mau gimana lagi, uang dari hasil bekerja Alaska hanya cukup untuk membeli mie, jarang-jarang Alaska bisa makan nasi. Alaska hanya bisa bersyukur karena masih bisa makan, masih banyak manusia diluar sana yang tidak bisa makan.
...'Alaska putra cakrawala, laki-laki dengan sejuta talenta namun tak pernah merasakan apa yang dimaksud dengan bahagia'...
^^^like^^^
^^^komen^^^
^^^vote^^^
^^^favorit^^^
^^^typo maklumi^^^
__ADS_1